
Jihan pulang ke rumah, tepat pukul 22.30 Fela dan ria mengantarnya. Meskipun di kawal oleh anak anak wolf dari jauh.
"Makasih ya, kalian harus hati hati" ucap Jihan pada kedua teman temannya.
"Tenang aja ji, babang tampan ada di belakang " sahut Ria.
"Yeeee udah pandai pula lo bilang bilang abang tampan" celetuk Fela, yang di balas dengan leletan lidah dari Ria.
"Udah ah, sana sana pulang gih! " usir Jihan pada kedua temannya. Ia menatap sembari melambaikan tangannya. Setelah memastikan teman teman nya sudah pergi, barulah Jihan masuk ke dalam rumah.
Ceklek.
"kok gak bisa di buka?? " Jihan berulang kali mencob menekan knop pintu besar rumahnya dan mendorong kuat.
"Yah, kok di kunci? "
"Bunda!!!!! Bunda!!!!! " teriak Jihan dari luar, ia menggedor pintu sekeras mungkin, agar bundanya segera membuka pintu.
Jihan hampir menangis, rumah nya terlalu besar. Bundanya yang ada di kamar pasti tidak akan mendengar panggilan dari nya. Jihan merutuki orang tuanya yang tidak menyewa pembantu untuk tinggal di rumah. Mereka hanya menyewa beberapa art yang mengerjakan tugas rumah saja.Ketika malam datang, mereka akan pulang ke rumah masing-masing.
"Bunda!!!!! Ayah!!!! hhaaa.... Bukain dong!!! " teriak Jihan lagi.
"Eh bego, lo punya HP" maki Jihan pada dirinya sendiri. Ia sempat gak kepikiran buat nelfon ayah maupun bundanya. kalo kak Lea, gak usah di telfon. Kebiasaan Lea kalo tidur HP di matiin.
Tuttttttt.........
Tuuttttrr.... ..
"Gak di angkat lagi" gumam Jihan, ia kembali mencoba menghubungi bundanya.
"Astaga, baru juga jam 22.30. Udah ngunciin pintu" gerutunya sembari menunggu panggilan nya di angkat oleh bundanya.
Ceklek.
Jihan yang membelakangi pintu langsung berbalik. Terlihat Lea dengan mata ngantuk nya berdiri di balik pintu.
"Lama banget sih" gerutu Jihan sembari melangkah masuk.
"Gak tahu terimakasih banget, udah di bukain, malah marah marah sama orang" balas Lea. Ia kembali mengunci pintu.
Suasana rumah Jihan sudah gelap, kebiasaan mereka ketika malam hari, sebelum mereka tidur, lampu rumah semua di matikan, kecuali kamar Jihan.
Jihan berjalan menaiki anak tangga, ia menyalahkan flash ponselnya.
"Kok baru pulang? biasanya jam 9 udah sampe rumah lo" tanya Lea, ia mengekor Jihan dari belakang.
"Gak sadar tadi, pas ngumpul" jawab Jihan singkat. Lea hanya mangut mangut mendengar jawab adiknya. Lalu mereka berpisah di ujung tangga, kemudian masuk ke kamar masing-masing.
Setibanya di dalam kamar, Jihan langsung masuk ke kamar mandi, kemudian mengganti pakaian nya ke baju tidur.
"Huaaamm..... Malam yang melelahkan" gumam Jihan, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Baru beberapa menit saja, Jihan sudah merangkak ke alam mimpinya.
...----------------...
Ke esokan paginya.
Jihan berlari di lorong koridor sekolah. Ia merapalkan doa doa sembari berlari cepat. Semoga pak johan belum masuk. Itu terus yang Jihan ucapkan.
Hari ini adalah hari ujian harian, setelah materi telah habis, sebelum masuk ke materi baru, pak johan selalu memberikan ujian kepada mereka.
Streeeet...
Tubuh Jihan tiba-tiba melayang di tarik oleh seseorang. Awalnya Jihan kaget dan ingin berteriak. Tetapi, setelah melihat siapa yang menariknya, Jihan jadi bernafas lega.
"Jangan lewat sana, ada anak OSIS yang sedang patroli" bisik Alviro.
"What?? mereka gak masuk emang? "
"Lo gila, orang itu anak istimewa, 25 menit di awal pelajaran free untuk mereka" jelas Alvaro masih dengan suara pelan.
"Ayo lewat sini" ucap Alviro menarik tangan Jihan. Mereka mengendap endap di belakang kelas.
"Emang nya lewat sini gak ada anak OSIS? " tanya Jihan penasaran.
"Ekhem!!! "
Langkah Alviro dan Jihan Terhenti, Mereka yang membungkuk langsung menegakkan tubuhnya.
Alviro menoleh pada Jihan yang berdiri di samping nya. "Gue belum jawab tadi kan? " Jihan menggeleng.
"Di sini tentu ada anak OSIS" jawab Alviro lirih.
"Benarkah? "
Alviro mengangguk, kemudian membalikkan tubuhnya, di ikuti oleh Jihan.
"Tuh anak OSIS nya"
Arvan berdiri menatap mereka dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tatapannya tertuju pada tangan Alviro yang menggenggam erat tangan Jihan.
Alviro melepaskan tangan Jihan, kemudian berjalan mendekati Arvan. Membuat Arvan menatapnya bingung.
"Kak, tolong lepasin kita yah, masa kakak tega sih nangkap orang yang lagi bahagia"
Alis Arvan terangkat, berusaha mencerna ucapan Alviro barusan. Jihan pun ikut bingung, bahagia apa yang di maksud Alviro.
"Maksud lo? "
"Gue baru Damai kak, dan merasakan adanya puing puing... " jelas Alviro lucu.
"What? " kaget Jihan.
"Dasar adik kurang akar, gue belum dapet kakaknya. Jangan lo tikung dapetin adiknya" gerutu Arvan.
Jihan yang mendengar pembicaraan Alviro dan kakak seniornya itu melebarkan matanya.
"Jadi kak Arvan beneran menyukai kak Lea" batin Jihan, dengan angkuhnya ia melangkah lebih dekat pada kedua kakak beradik itu. Jihan juga baru tahu, kalau Arvan dan Alviro saudara.
"Jadi kak Arvan menyukai kak Lea? " tanya Jihan songong.
"Jangan berharap lo bisa lepas dari gue dengan alasan kakak lo" balas Arvan tersenyum miring. Jihan langsung cemberut. Bisa bisanya Arvan menebak rencananya.
Sementara di dalam kelas IPA 1, seluruh murid tampak tegang. Pak Johan dengan tegasnya berdiri di depan menatap satu persatu siswa siswi yang tengah menunduk menatap serius soal soal matematik yang pak Johan baru saja bagikan.
Albi dan Babas menatap nanar satu persatu soal yang terlihat seperti rambut keriting. Albi tidak mengerti di antara semua soal itu.
"Gimana mau jawab" kelu Albi setengah mendesah. Ia melirik ke sebelah kirinya, melihat babas yang terlihat sama seperti dirinya.
"Stt.. " kode Albi. Babas langsung menoleh.
"Lo udah jawab berapa? " bisik Albi.
Dengan ekspresi teraniaya, Babas menjawab dengan gelengan kepala.
"Lo pikir otak gue encer? "
"Babas!!!!! Albi!!!! mau lanjut atau keluar!! " tegas pak Johan menatap sangar ke arah mereka berdua.
"Lanjut pak" jawab mereka kompak.
"Kalo begini mah, mendingan gue keluar. Toh hasilnya sama aja" pikir Albi pasrah.
Ria dan Fela menghembuskan nafas, mereka saling, melirik mendengar grasak grusuk meja di sebrang belakang mejanya.Tanpa sepengetahuan pak Johan, Ria menuliskan beberapa jawaban di kertas coret coret nya, tidak semuanya, setidaknya beberapa soal yang muda.
Ketika pak Johan menatap ke arah lain, Ria langsung melempar kertas buram nya tepat ke atas meja Albi. Membuat pria itu kaget dan langsung menutup gumpalan kertas itu dengan lembaran soalnya.
"Lo ngasih tu cowo contekan? " tanya Fela. Ria pun mengangguk, membuat Fela menatapnya tidak percaya. Selama ini Ria paling anti dengan yang namanya menyontek.
"Udah, kerjain aja soal lo" jawab Ria sembari kembali fokus menjawab beberapa soal yang belum ia jawab.
Fela melirik ke arah ringgo, Liem dan Eldi. Mereka terlihat santai dan fokus menjawab soal soal ujian harian ini. Kemudian, Fela sedikit menoleh ke belakang melihat Babas. Ada secercah rasa kasihan ketika melihat wajah frustasi dari cowo menyebalkan yang selalu mengganggu dirinya.
Hufff...
Akhirnya Fela memutuskan untuk menulis beberapa jawaban di kertas kosong, kemudian meremas nya menjadi gumpalan kecil.
Bruk... gumpalan kertas mengenai kepala Babas, membuat dirinya kaget. Pak Johan menoleh padanya, karena Albi menyadari apa yang terjadi pada Babas, Albi langsung melempar pulpen nya ke lantai. Mengalihkan perhatian pak Johan.
Babas langsung menyembunyikan gumpalan kertas itu.
"Hati-hati dong" bisik Albi pada Babas.
"Gue kaget tadi, ternyata ayang Fela peduli sama gue" kekeh Babas menatap gumpalan kertas yang sudah ia bentang di atas mejanya, matanya berbinar.
"Lo udah bisa jawab belum? " bisik Babas pada Albi. Ia tidak tahu jika Ria sudah lebih dulu memberikan jawaban pada Albi.
"Gue udah sejak tadi" kekeh Albi bangga.
"Sialan lo" umpat Babas.
Jam pun berlalu, waktu ujian pun telah selesai. Pak Johan mengambil satu persatu lembar jawaban setiap siswa.
"Untung bisa jawab setengah dari soal " gumam Babas bernafas lega. Ia tersenyum lebar mengingat siapa yang sudah memberikan jawaban kepadanya.
"Baiklah anak anak, untuk hari ini kita cukupkan sampai di sini. Selamat siang" ucap pak Johan menutup pertemuan materi. Lalu pak Johan berlalu meninggalkan kelas sembari membawa soal serta lembar jawaban nya.
Bersamaan dengan itu bel istirahat pun berdering.
Jihan dan Alviro masih bernaung di ruang OSIS. Mereka menunggu Arvan selesai rapat OSIS, baru setelahnya Arvan memutuskan untuk memberikan hukuman apa kepada mereka berdua.
...----------------...
Halo semua, karena keterlambatan author up, maka hari ini. Author akan up hingga 4 atau 5 episode. Dalam kurun waktu yang tidak menentu. maksudnya, sebelum jam 10 malam, episode akan terupdate.
Pastikan kalian terus mengikuti dan terus mendukung author yah TERIMAKASIH 😘😘😘