I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 130



"Jangan lakukan itu lagi" ucap Zidan.


Lidia menegakkan tubuhnya, menatap Zidan yang masih menunduk. Suasana terasa sangat tegang, apalagi suara Zidan terdengar datar.


"Jangan lakukan hal itu lagi, aku mohon.


Aku tidak mau kamu mengorbankan nyawa mu demi aku! " Zidan mengangkat wajahnya, menatap ke manik mata Lidia.


"Kamu belahan hati ku, aku tidak mau kamu kenapa kenapa.


Biarkan aku yang melindungi mu, bukan kamu yang melindungi aku"


Lidia masih tetap diam, ia tidak tahu harus berkata apa apa. Hanya air mata haru yang menjawab setiap ucapan yang keluar dari bibir Zidan.


"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kak, kamu sudah melakukan apapun demi aku selama ini.


Aku sudah tahu semuanya kak, karena itu aku rela mengorbankan nyawa ku demi kamu" Lidia mulai terisak.


"Tetap saja, kamu gak boleh melakukan nya. Kamu tahu, aku pikir kamu tak akan kembali lagi ke sisi ku,


Aku pikir, kamu sudah pergi dari hidup ku!


Aku.. -"


"Sstttt.... " Lidia meletakkan telunjuknya pada bibir Zidan.


"Sudah kak, sekarang aku di sini. Bersama kakak" kata Lidia. Air mata sudah mengalir deras di kedua pipi mereka.


"I love you" kata tulus yang lolos keluar dari bibir Zidan, kata yang berasal dari hatinya yang paling dalam.


Zidan memeluk Lidia secara hati hati, ia tidak mau membuat Lidia merasakan sakit karena ulahnya.


"I love you too" jawab Lidia membalas pelukan Zidan.


Mereka pun larut dalam perasaan masing-masing. Ada rasa yang tak dapat di ungkapkan di lubuk hati masing-masing.


Hari yang di tunggu tunggu oleh Zidan akhir nya tiba juga. Ia merasa doa doa yang selalu ia rapalkan terkabul.


...----------------...


Di lorong rumah sakit Jihan menggenggam tangan Alviro kuat. Ia merasa ketakutan setiap kali melihat orang orang menatap padanya.


"Aku tidak mau periksa, lebih baik kita pulang sekarang! " kata Jihan menatap was was pada mereka yang melirik kepada nya.


"Tidak sayang, aku mau kamu di periksa dan sembuh dari trauma" bujuk Alviro memegang bahu istrinya dan meyakinkan bahwa tidak ada yang harus di khawatirkan selama ia bersama dengan nya.


"Ayo.. " Alviro kembali menuntun istrinya ke psikolog.


Dengan berbagai bujukan akhir nya, Jihan selesai di periksa. Mereka akan segera pulang, namun tiba-tiba Jihan teringat dengan Lidia.


"Kemarin kamu bilang Lidia di rawat di rumah sakit, apa aku boleh melihat nya? " tanya Jihan.


Alviro mengangguk lembut, tentu saja ia boleh melihat Lidia. Apalagi tadi Alviro mendapat kabar dari Rasya bahwa Lidia sudah siuman.


"Terimakasih" seketika Jihan menjadi senang, akhirnya ia bisa bertemu dengan seseorang yang sudah menyelamatkan dirinya.


Alviro dan Jihan masuk ke dalam lift, di dalamnya hanya terdapat mereka berdua.


Setelah Alviro menekan nomor lantai yang akan mereka tuju, pintu lift pun segera tertutup.


Ketika pintu lift belum tertutup sempurna, Jihan melirik ke luar lift.


"Aaaakkk!!!!! " teriak Jihan tiba-tiba, membuat Alviro langsung panik.


"Sayang kamu kenapa? " tanya Alviro pada Jihan yang sudah berhamburan ke pelukannya. Jihan memeluk erat tubuh Alviro seolah ingin menyembunyikan dirinya pada tubuh Alviro.


"Gak ada apa apa sayang, di sini hanya ada kita berdua! " kata Alviro menenangkan Jihan.


"Gak!!! " teriak Jihan. Ia menatap manik mata Alviro lekat.


"Dia ada di sini, aku mohon bawa aku kabur!! " mohon Jihan, tubuhnya bergetar hebat. Keringat dingin mulai bercucuran di tubuhnya. Air mata nya terus mengalir deras di peluk matanya.


Apa yang Jihan lihat, apa orang yang menyakiti nya ada di sini?


Alviro menatap istri nya yang membenamkan wajahnya di dada Bidang miliknya.


ting~


Pintu lift pun terbuka, dengan penuh waspada Jihan keluar dari lift bersama Alviro. Banyak dari pengunjung rumah sakit menatap aneh pada Jihan. Karena Jihan selalu menempel pada Alviro.


Kini mereka tiba di kamar inap Lidia, Jihan langsung mengunci pintu kamar Lidia dan berjalan cepat mendekat pada Lidia yang kaget melihat kehadiran Jihan.


"Jihan! " gumam Lidia. Zidan tak kalah kagetnya dengan Lidia, ia kaget melihat adik nya ada di rumah sakit. Di tambah lagi penampilan Jihan sedikit acak acakan.


"Ada apa ini? " tanya Zidan melirik Alviro.


"Lidia, kamu gak apa apa? . Kita harus pergi dari sini Lidia!! " kata Jihan ketakutan.


"Maksud kamu apa Jihan? " ujar Lidia bingung, ia melirik pada Alviro dan juga Zidan. Kemudian kembali menatap pada Jihan.


"Dia di sini Lidia. Dia pasti mencari gue. Dan juga lo untuk balas dendam. "


"Aku mohon, ayo pergi bersama ku!! " ujar Jihan memohon pada Lidia.


"Siapa yang kamu maksud Jihan? " Zidan menarik adiknya dan mengarahkan tatapan mata Jihan fokus ke pada dirinya.


Sementara Alviro mengotak atik ponselnya, entah apa yang ia lakukan tidak ada yang tahu.


"Kak, dia ada di sini. Dia melihat gue masuk ke dalam lift. Senyum mengerikan ia tunjukkan kepadaku.


Aku yakin dia akan menangkap ku lagi!! " Jihan terus bergerak gelisah, air mata terus mengalir di pelupuk matanya.


"Iya Jihan, tapi siapa yang kamu maksud? " tanya Zidan semakin bingung. Lidia mencoba mengingat siapa yang Jihan maksud.


"Kak, mungkin yang di maksud Jihan adalah orang yang menculiknya" kata Lidia. Membuat fokus Alviro dan Zidan langsung tertuju kepadanya Lidia.


Alviro langsung mendekat pada Lidia, ini saatnya ia menanyakan pada Lidia siapa yang sudah melakukan hal ini kepada Jihan.


"Siapa yang sudah melakukan ini pada Jihan? " tanya Alviro.


"Aku tidak tahu siapa dia, tapi.. Aku pernah melihat laporan dari anak buah ku tentang lo yang mengalahkan pria itu dalam balap liar! " jelas Lidia mencoba mengingat ingat.


"Anji? " ujar Alviro secara spontan. Memang Alviro tadi melihat anji di sekitar rumah sakit.


"Arrrkkkkk!!!!!! " teriak Jihan spontan ketika mendengar nama anji di sebut.


Alviro langsung memeluk istrinya, jadi benar anji yang melakukan semua ini. Alviro mulai teringat dengan penjelasan Jihan kemarin. Ada mobil balap, pertandingan. Jadi ini kaitan nya.


"Siapa pria itu? " tanya Zidan yang tidak tahu siapa yang di maksud oleh Lidia dan Alviro.


"Pria itu adalah musuh bebuyutan ku kak, ketika awal Jihan pindah ke Indonesia, Anji sempat bertemu dengan Jihan ketika gue balapan dengannya yang membuat dirinya masuk penjara." Jelas Alviro.


"Cari orang nya! " titah Zidan.


Jihan menangis ketakutan di pelukan Alviro, ia takut jika Anji kembali dan menangkap dirinya.


"Pria brengsek itu hampir menodai Jihan, ia sempat memberikan Jihan obat perangsang dosis tinggi" ujar Lidia.


"Bangsat, akan gue pastikan dia mendapatkan yang setimpal! " gumam Zidan penuh penekanan.