I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 133



Curhat bentar yah!!


Aku sebagai penulis kadang merasa bingung, kalian suka gak sih sama tulisan aku??


yang baca banyak, tapi yang like cuma beberapa aja.


Kadang suka sedih, pernah juga terpikir untuk berhenti menulis. Karena aku pikir kalian gak suka sama tulisan aku.


Aku mohon banget sama kalian pembaca Jihan dan Alviro. Jika kalian suka cerita ini, tekan tombol like nya, please.


Boleh kan jika aku meminta penghargaan dari kalian dari like yang kalian berikanπŸ™πŸ™πŸ™


Terimakasih, maaf terlalu banyak bacot. Tapi beneran sedih banget. Berasa gak di hargai gitu, aku sebagai penulis πŸ˜”πŸ˜£πŸ˜£πŸ˜¨


...----------------...


Sudah tersisa 5 anak buah, Anji mulai kewalahan. Ia mengedarkan pandangannya mencari cari keberadaan Alviro dan musuhnya yang lain. Sejak tembakan itu, Alviro langsung menghilang.


Dor!!


Dor!!!


Anji menatap nanar semua anak buah nya jatuh dan meregang nyawa.


"Heh! bangun!


Kalian belum boleh mati sebelum mengalahkan mereka! " bentak Anji marah pada anak buahnya.


"Bagaimana Anji, apa lo menyerah sekarang? " tutur Alviro dengan nada mengejek.


Cuihh


Anji meludah kesamping, sampai ia mati sekali pun ia tidak akan mau menyerah begitu saja.


"Kau pikir, aku akan menyerah begitu saja? " balas Anji tersenyum penuh arti, ia mengangkat pistolnya, lalu menodongkan ke arah Alviro.


"Jika gue habis, lo juga harus ikut habis! "


Bersamaan itu sebuah peluru menghantam tangan Anji yang hendak menarik pelatuk pistol nya.


"Akkk!?? " Anji mengerang kesakitan sembari memegangi tangan nya yang terkena tembakan.


Benar apa yang di katakan papa nya, melawan mereka sama saja bunuh diri. Anji mulai merutuki dirinya yang tidak terlalu teliti membaca ini informasi yang di dapati oleh anak buahnya dengan sangat mudah.


"Bagaimana Anji? masih mau melawan? " kini Zidan yang angkat bicara. Ia melangkah mendekati Anji yang bertekuk lutut di lantai safi menahan sakit di tangannya.


Bug!


"Ini buat lo yang udah nyakitin Jihan"


Bug!


"Ini buat lo yang udah buat jihan trauma"


Bug!


"Ini buat lo yang udah nyentuh adik gue!! "


Zidan terus memberikan bokem terkuat nya pada Anji yang sudah terkapar di lantai. Nafas Anji tersengat menahan setiap pukulan dari Zidan.


"Cih... Meskipun lo bunuh gue sekarang, Jihan tetap akan mengingat gue, " kata Anji di akhiri dengan tawa bejat nya.


Zidan ingin memberikan pukulan lagi pada Anji, namun Alviro dan Arvan menahan nya.


Zidan menatap keduanya dengan tatapan bertanya.


"Kak, biar kita yang beri pelajaran sama bajingan ini." ujar Arvan.


"Jangan kotori tangan kakak hanya untuk pria ini" sahut Alviro.


Zidan pun melepas kerah baju Anji, kemudian bangkit dan membiarkan Arvan dan Alviro yang memberinya pelajaran.


"Mungkin lo akan merasa sangat senang jika lo di bunuh sekarang. " Kata Alviro, ia berjongkok di hadapan Anji yang mengerang kesakitan.


"Tapi sayang nya, gue gak akan beri kesenangan itu untuk lo! "


Slesss~


Sebuah sobekan tercetak di lengan Anji.


"Aakkkkmm!!!!!! " teriak Anji menahan sakit di lengan nya.


"Bagaimana? apa kah ini sudah mampu mengalahkan rasa sakit di hati Jihan? " ujar Alviro, matanya berkabut.


Tentu saja belum adik ku sayang, Jihan masih belum puas!! " sahut Arvan tersenyum Devil.


Anji menggeleng kuat, ketika ia melirik Arvan membawa beberapa jeruk nipis.


"Akkk!!!!!" teriak Anji lagi, ia benar-benar merasakan sakit di sekujur tubuhnya ketika perasan jeruk nipis itu mengenai tubuhnya. Apalagi di bagian lengannya.


Alviro dan Arvan merasa sudah cukup menyiksa Anji. Kini mereka menyerahkan kepada anak buah nya agar menahan Arvan di sebelah sel Mirna.


Mereka pergi begitu saja setelah membuat Anji mengemis untuk di bunuh.


"Urus mereka! " titah Arvan.


"Baik bos! " sahut mereka serempak, dengan segera mereka menyeret tubuh Anji dan membawanya bersama mereka.


Tidak bisa melawan, Anji sudah terlalu pasrah. Sakit ini sungguh tak tertahan kan, bahkan Anji tadi memohon pada Alviro agar segera membunuh nya.


Namun, Alviro dan Arvan tidak akan memberikan apa yang ia minta. Mereka akan selalu menyiksa Anji sampai kapan pun sebagai balasan telah melukai keluarga nya.


Mereka bertiga kembali ke apartemen, baru saja tiba di basement nya. Arvan mendapat telfon dari salah satu anak buah nya.


Arvan menghentikan langkahnya untuk menjawab panggilan itu.


"Ada apa? " seru Arvan datar.


"Boss, Anji sudah tiada. Setiba nya di sel, pria ini tidak bernyawa lagi! " balas suara di sebrang sana.


"Terlalu lemah" decih Arvan, ia masih belum puas menyiksa pria itu.


"Ya sudah, pastikan dia benar-benar tidak bernyawa. Lalu kirim pada orang tuanya bersama rekaman dia menyerang benteng kita" titah Arvan.


Alviro yang mendengar pembicaraan kakaknya menjadi penasaran.


"Ada apa? " tanya Alviro ketika Arvan kembali bergabung padanya.


"Anji sudah tiada. Akh menyuruh anak buah ku untuk mengirim nya pada orang tua nya" jelas Arvan.


"Bagus lah" sahut Zidan menghela nafas.


"Ayo" ajak Zidan lagi, mereka pun bergegas masuk ke dalam lift.


Hanya 3 menit saja, mereka langsung sampai ke lantai tempat keluarga nya berkumpul.


Ketika memasuki apartemen nya, Jihan dan Lidia langsung menyambut kedatangan mereka.


Lidia berjalan pelan menghampiri Zidan, ia senang kekasih nya kembali tanpa ada yang terluka.


"Aku senang kamu kembali" ujar Lidia tersenyum senang, kemudian memeluk Zidan.


"Alviro!!! " teriak Jihan, ia memang sejak tadi mencari keberadaan Alviro. Ia benar-benar khawatir pada suaminya.


"Kamu kemana aja, aku sudah mencari kamu kemana mana!! " omel Jihan memukul mukul dada bidang Alviro.


"Sayang, aku tadi membalaskan dendam kami sama Anji. Sekarang pria itu sudah tiada. Ia tidak akan mengganggu kamu lagi! " jelas Alviro sembari menunjukkan foto Anji yang tidak bisa apa apa lagi.


"Terimakasih" ucap Jihan senang, ia tidak perlu merasa takut lagi.


"Kamu aman sekarang sayang" Alviro memeluk istri nya dengan sangat erat.


Lea dan Arvan meresa sangat senang, akhirnya semua masalah mereka berhasil di selesai kan.


"Sekarang kita bisa kuliah dengan tenang" ujar Lea.


"Tentu saja sayang"


Cup~


Arvan mengecup bibir istri nya secara tiba-tiba. Lea langsung kaget, ia melirik pada semua orang yang ternyata memperhatikan mereka.


"Aaaaa Sayang, kamu kenapa cium aku di depan mereka semua!! " teriak Lea histeris, ia memukul mukul dada bidang suaminya yang sembarangan menciumnya.


"Alah padahal suka" cibir Jihan. Membuat mereka semua langsung tertawa terbahak bahak.


Brian dan Buruan menghela nafas, akhirnya mereka dapat bernafas lega setelah semua masalah yang bertahun tahun tidak terselesaikan.


Perusahaan mereka sekarang sudah terselamatkan, tidak ada lagi orang yang akan mencoba menghancurkan bisnis mereka.


Mirna sudah di lumpuhkan, musuh musuh kecil sudah sangat ketakutan ketika mendengar keluarga Rafier dan Nugrah bersatu. Di tambah lagi keluarga Rasya ikut bersekutu.


Mereka menjadi Mafia terkuat di dunia dan menjadi pengusaha terkaya di dunia.


Meskipun mereka merupakan keluarga mafia, namun usaha yang mereka jalan kan tidak ada yang bernaung di pasar gelap.


Namun, mereka sangat memiliki pengaruh besar dalam perkembangan pasar gelap.


Itulah hebatnya keluarga mereka yang memiliki kekompakan yang kuat. Seperti kata pepatah.


Jika kita bersatu, maka apapun macam bahaya dan bencana yang di hadapai pasti akan terlewatkan. Semua masalah pasti akan selesai.


Itulah mereka, tidak akan mengganggu jika mereka tidak terganggu. Tidak akan membunuh, jika tidak di serang lebih dulu.


Melindungi diri itu merupakan sebuah kewajiban. Jadi mereka tidak memiliki kesalahan apabila seseorang terbunuh di tangan mereka karena mereka lebih dulu menyerang nya.