
Arvan mengantar Lea pulang ke rumah. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Sebenarnya Arvan tidak mau mengantar Lea pulang, ia masih ingin bersama Lea lebih lama lagi. Namun, Lea bersikeras minta di antar pulang, ia tidak mau ayah dan bundanya khawatir.
Setelah Arvan mengantarnya, Lea langsung masuk ke dalam rumah. Ia sudah menawarkan Arvan untuk mampir masuk ke dalam. Namun Arvan menolaknya, ia merasa papa nya sudah menunggu di rumah.
Lea melenggang santai memasuki rumah hendak ke kamarnya. Tiba-tiba suara ayah nya terdengar dan menghentikan langkah kakinya.
"Lea" panggil Burhan. Lea berbalik, ia melihat ayahnya tengah duduk di ruang Tv sendirian.
"Ayah, kok sendirian di sini? " Lea mendekat dan duduk di sofa samping sofa yang di duduki ayahnya.
"Kamu dari mana aja Lea? ayah menunggu kamu sejak tadi" ujar Burhan, ia bergerak meraih remit TV dan mematikannya.
Deg.
Pikiran Lea kembali melayang pada ucapan Advan ketika di apartemen nya tadi. Ayah pasti akan membicarakan soal perjodohan ini.
"Kenapa ayah? apa ada sesuatu yang akan ayah bicarakan sama Lea? " tanya Lea pura-pura tidak tahu.
"Iya Lea, ayah ingin membicarakan sesuatu sama kamu. Tapi gak di sini"
Burhan beranjak menuju ke ruang kerjanya. Mau tidak mau Lea dengan jantung berdegup kencang mengikuti ayah nya ke ruang kerja. Lea menerka nerka apa yang akan ayahnya bicarakan padanya. Apakah persis seperti yang Advan katakan, atau malah hal lain?.
"Lea! " panggil Burhan membuyarkan lamunan Lea.
"Iya ayah? " kaget Lea menatap lurus pada ayahnya.
"Ayah memiliki rencana untuk menikahkan kamu sama Arvan dalam waktu dekat. Apa kamu setuju? " tanya Burhan tanpa basa basi.
Deg. Benar apa yang Arvan katakan, ayahnya memang memiliki pemikiran itu.Tapi, apakah ayahnya tidak mau berbasa-basi terlebih dulu, ayah malah langsung to the poin Saja.
Burhan mengerut melihat putrinya malah melamun dengan wajah kesal.
"Lea, kamu kenapa? bibirnya kok manyun seperti itu? " heran Burhan. Lea langsung merubah ekspresi nya.
"Gak papa yah, sebenarnya Lea udah mendengar kabar ini dari Arvan" jelas Lea jujur.
"Bagus, semoga kalian tidak mengecewakan ayah" ujar Burhan mengusap bahu putrinya. Lea menggeleng pelan, ia dan Arvan memang tidak memiliki permasalahan, namun ada satu yang menjadi permasalahan mereka.
"Lalu, bagaimana dengan jihan? apa ayah juga berniat akan menikahkan dia seperti Lea? " tanya Lea menatap ayahnya dengan penuh rasa penasaran.
"Hem.. Iya Lea, tapi Jihan tidak semudah seperti kamu. Dia memiliki berbagai misteri di pikirannya" Burhan menghabiskan nafas gusar, ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi putri bungsunya.
"Lea takut yah, jika jihan tahu siapa Alviro sebenarnya. Lea gak mau Jihan sedih lagi yah, dia pasti akan sakit hati banget yah. Lea takut, Jihan pergi lagi" terlihat di raut wajah Lea kekhawatiran yang besar untuk adiknya.
"Kamu tenang yah sayang, ayah dan om Brian akan mengatasi semuanya. Kita akan membuat permasalahan Alviro dan Jihan cepat selesai dan mereka bisa berdamai dengan masa lalunya"
Lea mengangguk pelan, kemudian memeluk ayahnya yang terasa begitu nyaman. Antara Jihan dan Lea, yang paling dekat dengan Burhan adalah Lea, sifat mereka juga sangat mirip. Namun, Jihan lebih dekat dengan bundanya, akan tetapi sifat mereka tidak sama. Jihan lebih mirip dengan sikapnya dengan Rima. Bukan karena tinggal bersama rima, tetapi memang ketika hamil Jihan, Tia begitu ingin dekat dengan adiknya.
...----------------...
Di sudut cafe cuanlo, terlihat Albi, Babas, Ria dan Fela duduk di satu meja.
"Kalian nyangka gak sih, Alviro dan Jihan bermusuhan dari kecil? " gumam Fela.
"Iya, gue juga gak nyangka" sahut Albi.
"Dunia itu memang sempit yah" imbuh Ria. Mereka semua mengangguk.
"Kebayang gak sih, kalo Jihan mengetahui siapa Alviro? " seru Fela.
"Perang Dunia ke empat terjadi" sahut Babas.
"Awh... " Babas mendelik pada kekasihnya. Fela tiba-tiba melayangkan jitakan nya.
"Kenapa ayang beb, kenapa lo malah jitak gue" sungut Babas.
"Loh sih, ngomong ngasal gitu"
"Ehhh udah udah! berisik lo" lerai Ria memukul kepala Fela dan Babas.
"Kok lo malah mukul kita sih" sungut Babas dan Fela kompak.
"Udah udah diem, kita lagi bicarain masalah Jihan, kok malah kalian yang berantem sih" dengus Albi.
"Jika Jihan tahu kebenaran nya, maka kita juga bakalan kena imbasnya!. Jihan pasti akan sangat marah sama kita. Dia pasti kecewa sama kita" ujar Ria.
Mereka semua terdiam untuk sementara waktu, tanpa mereka sadari, seseorang tersenyum penuh arti mendengar pembicara mereka. Orang itu sengaja menutup wajahnya dengan buku menu, sesekali ia mengintip dan menyeringai.
"Jadi, kita harus bagaimana? apa yang harus kita lakukan? gak mungkin kan kita ngasih tahu Jihan yang sebenarnya! " ujar Babas bingung.
Pletak~
Lagi lagi Fela mendaratkan jitakan tangannya pada kepala Babas. Dan lagi lagi babas mengerut kesal.
" Lo ini bagaimana sih, gak mungkin lah kita bilang sama Jihan. Bisa bisa Jihan makin ngamuk. " Timpal Fela.
"Makanya gue nanya baby ku sayang" babas menahan kekesalan pada kekasihnya.
"Au ah, gue pusing sama kalian berdua. " Ria bangkit dari duduknya.
"Mau kemana? " tanya Fela.
"Mau pulang" jawab Ria tampa menoleh.
"Sayang tunggu" Albi menyusul Ria.
"Yah, malah ninggalin" ujar Fela menatap kepergian Ria dan Albi. Kini tinggal dirinya dan Babas yang menghuni meja sudut. Sekarang mereka malah bingung.
"Sekarang kita mau ngapain? " gumam Babas, menatap lurus pada Fela. Ia tampak berfikir sejenak. Kemudian tersenyum lebar pada Babas.
"Gimana kalo kita nonton? masih jam 7 malam nih" usul Fela melirik jam tangannya.
"Boleh, yuk" sahut Babas.
Mereka pun beranjak meninggalkan Cafe Cuanlo. Namun, beberapa meja dari meja yang mereka tempati tadi. Tiba-tiba seseorang tidak sengaja menubruk Fela.
"Aduh maaf gue gak sengaja" ujar orang itu, kemudian buru buru pergi begitu saja tanpa menunggu balas dari Fela.
"Siapa sih gadis itu, aneh banget" gerutu Fela, lengan sebelah kirinya terasa sakit.
"Bagian mana sakit? " tanya Babas khawatir.
"Udah gak papa kok, sakit biasa" jawab Fela. Mereka kembali melanjutkan niat nya keluar dari cafe Cuanlo.
Fela dan Babas masuk ke dalam mobil, kemudian melaju meninggalkan perkarangan cafe. Mereka sudah kembali bermesraan seperti tidak pernah bertengkar sebelumnya. Itulah mengapa Ria merasa kesal dengan sikap Fela dan Babas. Ingin rasanya Ria meneriaki mereka berdua, namun ia juga berpikir hal itu percuma saja. Setelah bertengkar, mereka akan kembali akur. Jadi, percuma saja mereka di marahi.
...----------------...
Hallo guys, bagaimana? makin seru atau makin membosankan? tolong kasih sarannya dong. Jangan lupa, like, komen dan juga votenya. Share ke teman teman kalian, jika kalian suka sama alur ceritanya.
Bantu author yahπππbiar semakin semangat nulisnya. π