
Note!
Jangan lupa ya guys, untuk ngasih bintang di Novel INI HATE YOU, BUT I LOVE di Carnival toon. Terimakasih.
Happy Reading!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alviro tiba di rumah, ia tergesa-gesa masuk ke dalam.
"Ma, bun. Di mana Jihan? " tanya Alviro dengan nafas tersengal.
Belum sempat Tia dan Leni menjawab, teriakan dari anak tangga menganlgetkan mereka.
"Alviro!!! " teriak Jihan. Ia berjalan cepat menuruni anak tangga dan berlari kearah Alviro. Jihan berhambur ke pelukan sang suami.
"Alviro!! tolong aku. Kenapa kamu lama sekali datang nya. " Jihan mulai terisak di dalam dekapan Alviro.
"Mereka membawaku, mereka- " Jihan tersendat oleh tangis nya, ia melepaskan pelukan nya pada Alviro dan mulai menceritakan bagaimana siksaan itu datang menghampiri nya.
Selangkah demi selangkah Jihan mundur menjauhi suaminya.
"Jangan dekati aku Alviro, aku sudah kotor. Aku tidak pantas untuk mu"
"Tidak Jihan, kamu tidak bersalah. Kamu adalah istri ku. Maaf aku terlambat menolong mu" ucap Alviro yang ikut menangis melihat istri nya yang terus histeris mengatakan dirinya sudah kotor.
Leni dan Tia tidak sanggup melihat nya, mereka saling memeluk untuk menguatkan hati masing-masing.
"Aku kotor, aku gak bisa jaga kehormatan aku sebagai istri" Jihan terus berteriak, tangannya mulai mencakar cakar tubuh nya lagi.
"Jihan hentikan. Jangan sakiti diri kamu lagi, Sadar Jihan. Aku tidak akan meninggalkan mu, kamu adalah belahan hati aku.
Stop mengingat itu Jihan, hentikan semua ini yah" Alviro menarik paksa tubuh Jihan dan kembali memeluknya.
"Aku kotor Alviro, aku kotor... hiks.. hiks.. "
"Gak sayang, kamu masih suci. Kamu sangat suci di mata aku... lupakan yah" ucap Alviro berusaha menenangkan hati Jihan yang masih menangis.
"Kasian banget dia" lirih Lea ikut menangis, mereka yang ada di sana seakan merasakan kesedihan yang Jihan rasakan. Hati mereka hancur melihat keterpurukan wanita yang baru saja tumbuh dewasa tapi, malah menghadapi hal seberat ini.
"Aku janji sama kamu, aku tidak akan pernah meninggalkan kami. Kamu jangan kek gini lagi yah"
"Tapi,.. Aku gak pantes lagi bersama mu" balas Jihan terisak.
"Siapa yang bilang seperti itu sayang. Tidak ada yang mampu menggantikan Jihan Aisya Rafier di hati aku. " seru Alviro meyakinkan Jihan.
Jihan tidak membalas lagi, ia menangis di pelukan Alviro. Kilasan itu masih terngiang di benaknya. Beruntung nya ia tidak melihat Alviro seperti Anji.
Tangis Jihan mulai reda, semua orang juga mulai tenang melihatnya. Namun Jihan masih memeluk Alviro yang perlahan menggendong nya dan membawanya duduk di atas sofa.
Alviro memangku Jihan yang duduk menghadap padanya dan memeluk erat lehernya. Mata Jihan terpejam, tangisnya sudah tidak ada. Hanya cegukan akibat dari menangis terlalu lama yang terdengar bertahap.
"Apa dia tidur? " tanya Lea.
Alviro melirik kebawah untuk melihat wajah istri nya.
"Seperti nya begitu" jawab Alviro tidak pasti, karena ia masih merasakan sesegukan Jihan.
Alviro merasa lega, ia sudah bisa menenangkan istrinya. Tidak seperti dulu, setidaknya Jihan menjadikan dirinya tempat berlindung bukan sebagai tempat yang ia takuti.
Alviro yakin, istri nya pasti mampu melewati semua ini.
"Nak, apa tidak sebaik nya Jihan di pindahkan ke kamar? " usul Leni.
"Iya, jika tidur seperti itu akan membuat leher dan punggung nya sakit" sambung Tia.
"Iya bun, ma. Alviro akan membawa Jihan ke kamar"
Secara perlahan Alviro bergerak untuk bangkit agar tidur istri nya tidak terganggu.
Belum sempat berdiri, Jihan kembali histeris. Matanya masih terpejam tetapi mulut nya terbuka dan berteriak sekencang kencangnya.
"Tidak!!!!!!
Jangam lakukan itu!!! Aku mohon!! "
"Jihan, sayang. Ini aku, kamu aman bersama ku! " Alviro berusaha menyadarkan Jihan yang mungkin mengigau.
Jihan tidak merespon, tangisnya kembali pecah. Ia semakin memeluk Alviro erat.
Deg.
jantung Alviro terasa seakan mau copot, siapa sebenarnya yang membuat Jihan merasa ketakutan seperti ini.
Lea dan kedua wanita baya itu juga merasakan hal yang sama. Mereka kaget mendengar rancauan mulut Jihan.
"Tolong aku Alviro, jangan biarkan dia membawa ku. Aku mohon... "
"Gak sayang, aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyentuh kamu. Istri ku" kata Alviro yakin, nada bicaranya terdengar tidak main main. Sorot matanya juga mengilat memperlihatkan kemarahan.
"Akan aku pastikan orang itu mati di tempat! " Seru Alviro.
"Kamu janji? " Jihan menegakkan tubuhnya, ia menatap Alviro yang juga menatap wajahnya.
"Aku bersumpah untuk itu sayang, katakan padaku siapa yang telah melakukan hal ini kepada mu? " tanya Alviro. Bertepatan saat itu Advan, Brian dan Burhan memasuki rumah. Mereka baru saja pulang dari Kantor. Mereka kaget melihat Jihan yang sudah mau di dekati Alviro, dan bahkan ingin menceritakan siapa yang sudah melakukan semua ini pada mereka.
Advan dan kedua pria baya itu langsung mendekat.
Jihan mulai mengingat siapa pria yang menghancurkan hidup nya, yang membuatnya trauma seperti ini.
"Aku tidak tahu siapa dia, tapi aku merasa pernah bertemu dengannya di suatu tempat" Jihan memegangi kepala nya yang mulai terasa pusing.
"Ada mobil, kamu dan juga teman teman ki. Aku tidak bisa mengingat yang lain. Akk.. " Jihan meringis kesakitan. Alviro langsung memeluknya.
"Susah, jangan terlalu memaksa. Kamu istirahat saja, aku pasti akan menemukan orang nya dan menghabisinya di hadapan mu! " cetus Alviro berjanji untuk istri nya.
"Siapa pria brengsek itu" gumam Arvan, ia mendekat pada istri nya dan memeluknya.
"Apa sebenarnya yang terjadi" tanya Arvan.
Lea membalas pelukan suaminya.
"Jihan mulai membaik, secara perlahan pikiran nya mulai tenang dan sudah tidak menganggap setiap pria sebagai penjahat" jelas Lea.
Jihan gemetar ketakutan ketika seringaian Anji terngiang di benak nya. Tangannya memeluk erat tubuh suaminya untuk menekan dirinya agar tetap tenang dan berusaha agar tidak histeris.
Jihan berusaha untuk mengontrol dirinya, ia berusaha meyakinkan pikirannya bahwa dirinya sudah terbebas dan tidak dalam kurungan Anji.
"Sayang... " Lirih Jihan, ia mengingat sesuatu selain kamar kurungan dan siksaan mental.
"Aku di sini sayang" sahut Alviro.
"Lidia, di mana dia? " tanya Jihan, ia langsung turun dari pangkuan Alviro dan bergerak gelisah mencari Lidia.
"Aku harus membantu Lidia, dia pasti sudah di tangkap mirna! Pa, Ayah. Tolong bawa semua anak buah Ayah dan papa untuk menyelamatkan Lidia. " mohon Jihan mendekati Ayah dan mertuanya.
"Sayang.. " Alviro mendekat pada istri nya. Menarik tubuh Jihan dan menghadapkan padanya.
"Lihat aku. Kamu jangan kalut seperti ini yah, kamu harus tetap tenang"
Jihan menggeleng kuat, ia tidak bisa tenang jika Lidia masih belum selamat.
"Aku tidak akan bisa tenang, Lidia dalam bahaya. Kita harus menyelamatkan Lidia! "
"Dek... " Lea mendekat pada Jihan, memeluk adiknya erat.
"Kamu jangan khawatir, Lidia sudah berhasil kami selamat kan. Mirna juga sudah di tangkap" kata Lea.
Jihan langsung menatap wajah kakaknya, ia takut salah mendengar.
"Benar sayang, kamu jangan khawatir lagi yah" sahut Alviro.
Jihan beralih menatap semua orang, dan mereka semua mengangguk membenarkan ucapan Lea.
"Lalu dimana dia sekarang? " tanya Jihan.
"Sekarang Lidia di rawat di rumah sakit, di sana juga ada Rasya dan Zidan yang menjaga nya" jawab Alviro.
Jihan bernafas lega, ia beralih memeluk Alviro dan meminta nya untuk menggendong nya ke kamar.
Dengan senang hati Alviro melakukan apa yang Jihan minta. Setidaknya Jihan sudah berangsur normal. Meski kadang-kadang trauma itu menghampiri dirinya dan membuat ia kembali histeris.
Memang tidak akan mudah untuk menyembuhkan luka yang yang tergores sangat dalam di hidup Jihan.
Tapi, oa memiliki suami yang dengan sepenuh hati berada di sisi nya dan akan selalu seperti itu untuk menjaga Jihan dan buah hatinya.