I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 20



Dag Dig Dug.


Jantung Jihan terus berdetak cepat, posisinya dengan Alviro sangat dekat. Tangan Alviro masih setia membekap mulut Jihan, dan tubuh mereka agak menempel, karena Alviro masih mengintip di lobang kunci.


Alviro tersadar, perlahan ia mengalihkan pandangan matanya pada wajah Jihan. Terasa hembusan hangat dari nafas Jihan yang menerpa kulit lehernya.


Cukup lama mereka dalam posisi seperti itu, Jihan maupun Alviro tidak berniat untuk beranjak dari posisinya. Hingga suara gaduh di toilet menyadarkan keduanya.


Cepat cepat Alviro kembali mengintip di balik lobang kunci. Terlihat di sana Mirna sudah tidak ada lagi.


"Minggir" cicit Jihan sedikit memberikan dorongan pada dada bidang Alviro.


"Eh iya"


Mereka berdua keluar dari bilik toilet, setelah di pastikan Mirna benar-benar sudah pergi oleh Alviro. Kedua nya dalam keadaan sama sama merasa canggung. Alviro yang notabene nya seorang cowo brandal, terlihat salah tingkah di depan Jihan. Sejak tadi ia bingung mau melakukan apa, yang ia lakukan hanya menggaruk telinganya saja.


Sementara Jihan menatap bosan melihat tingkah pria di depannya. Jihan memilih untuk keluar dari toilet. Karena pekerjaan nya sudah selesai.


"Mau kemana? " tanya Alviro. Dan ini terdengar konyol oleh Jihan.


"Lo bego? atau emang bego" cibir Jihan.


"Jangan memancing yah" balas Alviro, wajah juteknya sudah kembali. Alviro berhasil mengendalikan diri nya.


"Yah pertanyaan lo aneh, sudah jelas gue bakal ke ruang OSIS, masih juga di tanya. Emang lo mau di sini sampai pulang? gue sih engga" ucap Jihan panjang kali tinggi. Kemudian kembali melanjutkan langkah nya.


"Bener juga, kok gue malah nanya itu ke dia" gumam Alviro menonyor kepalanya sendiri. Kemudian, ia menyusul Jihan keluar dari toilet.


Keduanya berjalan beriringan menuju ke ruang osis. Ketika di depan ruang OSIS, Jihan melihat kakaknya.


"Kak Lea" panggil Jihan sembari berlari lari kecil kearah Lea.


Lea menoleh ke sumber suara, ia kaget melihat Jihan yang tengah berlari kecil ke arahnya. Namun, bukan Jihan yang membuat Lea kaget, tetapi Alviro yang berjalan mengikuti adiknya.


Mereka sudah akur? apa mereka sudah saling menyadari?.


"Kak! " panggil Jihan lagi, menyadarkan Lea dari lamunannya. Lea menatap Alviro bingung.


"Gue sama bocah tengil ini mendapat hukuman yang sama" ujar Alviro mengerti arti dari tatapan mata Lea.


"Oh Kebetulan sekali" ucap seseorang. Lea, Jihan dan Alviro lamgsung menoleh ke sumber suara.


"Kak Arvan" ujar Jihan.


Alviro tampak biasa saja, ia malah menatap Arvan dengan malas. Sementara Lea beringsut hendak kabur. Namun sayang dikali sayang, sama dengan cinta. Arvan menahan lengan Lea, sehingga gadis itu tidak bisa kabur.


"Alviro, Jihan. Apa kalian sudah membersihkan toilet nya sampai bersih? "


"Huh? Jihan membersihkan toilet? " kaget Lea.


"Benar, apa ada masalah?. Jihan telat dan gue ngasih dia hukuman" jelas Arvan.


"Tidak ada, tapi. Aneh aja, seorang tuan putri membersihkan toilet" Gumam Lea menahan tawanya. Jika di sini hanya ada dirinya dan adiknya. Maka akan Lea pastikn ia akan tertawa keras.


"Udah yah Kak, gue mau cabut! " ucap Jihan kesal.


Arvan mengangguk, dan mempersilahkan Alviro dan Jihan untuk pergi. Namun tidak dengan Lea. Arvan malah menarik Lea menuju parkiran.


"Aduh, udah deh ketua OSIS yang terhormat. Jangan narik narik gue lagi! " protes Lea. Ia berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Arvan.


"Tidak akan, sebelum lo ikut sama gue! " balas Arvan tersenyum menyeringai.


"Aduh, kemana sih. Gue harus pulang. Besok ada ujian Arvan! " gerutu Lea, masih berusaha untuk melepaskan diri.


"Lo harus temenin gue ke desa tempat tujuan kita mengadakan kegiatan Bansos" jelas Arvan, ia mendorong tubuh Lea agar masuk ke dalam mobilnya. Kemudian memasangkan sabuk pengaman agar Lea tidak kabur.


"Berani kabur, berani menanggung resiko" ancam Arvan setelah memasangkan sabuk pengaman untuk Lea, kemudian ia menutup pintu mobilnya dan berjalan mengitari mobilnya menuju ke pintu sebelah kemudi.


Arvan tersenyum, Lea masih duduk di bangku penumpang sebelah kirinya. Sebenarnya jika Lea kabur, Arvan tidak akan melakukan apapun padanya. Lea gadis yang unik, bar bar tapi tetap tegas, anggun. Best lah pokoknya di mata Arvan. Hanya saja Lea lebih mudah di taklukkan oleh Arvan. Di beri ancaman sedikit, Lea sudah menurut padanya.


Mobil Arvan melaju meninggalkan area parkir, senyum manis menghiasi si ketua OSIS kejam itu. Sebenarnya, teman Arvan ke lokasi Mutia, bukan Lea. Karena Mutia tahu Arvan memiliki rasa dengan Lea, jadi ia memutuskan untuk mengutus Lea untuk pergi bersama Arvan.


Sementara Jihan dan Alviro, mereka tidak langsung masuk ke dalam kelas. Mereka berdua malah pergi ke kantin.


"Gak perlu, duit gue bejibun. Gak butuh sedekah dari lo" tolak Alviro begitu saja.


Mereka duduk di meja anak anak wolf. Ibu kantin dan beberapa pegawainya menatap heran ketika melihat Alviro dan Jihan masuk beriringan. Bahkan mereka memesan makanan bersama.


"Bu, kenapa liatinnya begitu? " tanya Jihan heran.


"Ibu kaget aja neng, lihat kalian akur" Jawa ibu kantin jujur. Jihan dan Alviro saling melirik, kemudian saling membuang muka berlawanan arah.


"Dalam mode Damai Bu" jawab Alviro asal.


"Bu, saya mesan es jeruk sama bakso pedasnya yah"


"Siap neng! " balas ibu kantin.


"Saya mau alpokat nya Bu, sama nasi goreng di campur sosis yah Bu" ucap Alviro memesan makanan.


"Siap den" jawab ibu kantin, kemudian bergegas pergi menyiapkan pesanan Jihan dan Alviro. Sekarang jam masuk, jadi mereka bisa menyiapkan pesanan Alviro dan Jihan dengan cepat.


Ria dan Fela merasa bosan duduk di depan kelas. Mereka berdua merasa tenggorokan nya sudah mengering.


"Kantin yuk Fela, haus ni" ajak Ria.


"Yuk, gue juga harus banget. Mana cuacanya panas banget lagi" balas fela.


Kedua siswi itu berjalan beriringan menuju kantin, mereka sudah tidak memilih Jihan lagi. Fela dan Ria sangat yakin jika Jihan tidak masuk sekolah hari ini. Terbukti, sampai detik ini gadis itu masih belum menampakkan diri.


"Fela, gue gak salah lihat kan? " ujar Ria menghentikan langkahnya di pintu masuk kantin.


"Apaan sih? lo liat apa? " tanya Fela semangat, ia mengikuti arah pandang mata Ria.


"OMG, gue merasa demam Ria" pekik Fela tertahan, karena tangannya sudah menutup mulutnya ketika melihat pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


"Seperti nya, dugaan lo bener Ria" ujar fela lagi. Mereka melangkah cepat mendekati satu satunya meja yang berisi.


"Jihan? "


Jihan dan Alviro kaget, keduanya langsung mendongak ke arah sumber suara.


"Hah.... Syukurlah" lenguh Jihan bernafas lega. Ia pikir tadi anak anak OSIS yang memergokinya.


"Lo bolos bareng Si GTB? " tanya Fela dengan ekspresi tidak percaya.


"Jihan, lo lagi sakit? " ujar Ria memeriksa suhu tubuh Jihan di bagian jidat nya.


"Aduhhh Fela, Ria. Kalian kenapa sih! " gerutu Jihan kesal.


"Kita tuh lagi memastikan Jihan, apakah lo masih aman, atau sudah gawat darurat" sahut Fela. Membuat Jihan mencebik seketika.


"Kok bisa sih, kalian bolos bareng. Udah gak cekcok lagi? " tanya Fela penasaran, ia duduk di antara keduanya yang saling berhadapan. Fela juga menatap lekat wajah Alviro yang dengan santai memakan nasi goreng nya.


"Udah deh, gak usah mikir yang gak gak. Kita tu tadi telat, dan di hukum sama ketua OSIS lebay itu" jelas Jihan menyelesaikan dugaan dugaan liar fela dan Ria.


"oh gitu, tapi. " ucap Ria terjeda.


"Apa lagi? " dengus Jihan, pertanyaan dari kedua sahabat nya tidak habis habisnya.


"Kenapa kalian bisa makan bersama seperti itu? bukannya kalian musuh? atau sudah Damai? "


"Kita mode Damai. Sebentar lagi akan habis masa berlakukan nya" jawab dan jelas Alviro. Ia kembali melanjutkan menyuap nasi goreng ke mulutnya.


"Bisa gitu yah? " gumam Fela dan Ria tersengih. Alviro hanya mengangguk pelan.


"Dan kalian! , kenapa bisa ada di luar?. Bukannya pak johan yang masuk? "


"Yang iya sih Jihan, tapi kita di usir dari kelas. Katanya berisik. Padahal kita cuma bincangin soal lo doang" jelas Ria. Fela mengangguk setuju. Jihan hanya mengangguk pelan, ia tak lagi menanyakan apapun, begitu juga dengan kedua sahabat nya. Mereka melahab makanan masing-masing.


Setelah di rasa perut sudah kenyang, Jihan dam kedua sahabat nya kembali ke kelas. Walaupun sekarang lagi jam istirahat, mereka memilih untuk nongkrong di dalam kelas saja. Sementara Alviro? mereka tidak tahu kemana. Setelah menghabiskan makanan nya, Alviro pergi begitu saja.


...----------------...