
Pelajaran sudah hampir selesai, Alviro dan teman temanya masih belum memperlihatkan batang hidungnya.
Kemana Alviro? udah mau pulang masih belum masuk juga.
Jihan menatap kursi kosong di samping nya, dan juga kursi anak anak wolf yang masih kosong.
"Ssttt.... "
Jihan menatap lurus, kearah sumber desisan yang ternyata berasal dari Fela. Gadis itu sedilit menoleh ke belakang untuk melihat kearah Jihan.
"Apa? " bisik Jihan berbisik pelan, takut bu Sukma mendengar nya.
"Anak anak pada kemana? " tanya Fela.
"Mana gue tahu, lo pikir gue emaknya" balas Jihan Acuh.
"Yeeee, gitu doang sewot" cibir Fela kembali menghadap ke depan. Mereka kembali fokus pada materi yang sedang di jelaskan oleh bu sukma di depan.
Kringggggggg!!!!!!
"Huhhh,,,, "
"Akhirnya"
Lenguhan kelegaan terdengar dari bibir siswa yang sejak tadi menunggu waktu ini. Mereka langsung merapikan buku bukunya dan bersiap pulang setelah bu Sukma mengakhiri pelajaran hari ini.
"Yuk ji" ajak Fela menyandang tas ranselnya. Jihan mengangguk pelan. Setelah merapikan buku bukunya, ketiga hadis itu langsung bergegas keluar dari kelas.
"Lo di jemput ji? " tanya Ria.
Jihan mengangguk, ia tidak membawa mobil, ataupun bareng Lea. Karena akhir akhir ini Lea sibuk dengan ujiannya dan juga beberapa kesibukan dari Arvan. Jihan gak ngerti, entah mengapa Arvan telihat sangat over ke pada kakaknya.
"Yaudah yuk kita temenin nunggu supir lo" ujar Fela. Dengan senang hati Jihan mengangguk.
Cukup lama mereka berdiri di halaman sekolah, supir Jihan tak kunjung datang.
"Eh, kalian belum pada pulang? "
Jihan dan kedua sahabat nya menoleh pada bu guru yang cantik. Mirna dengan senyum tipisnya berjalan menghampiri ketiga siswi itu.
"Eh bu Mirna" balas Ria.
"Iya ni bu, kita lagi temenin Jihan nunggu supirnya" ujar Fela.
Mirna mengangguk pelan, ia menatap Jihan. " Bagaimana jika kamu bareng ibu saja? " tawar Mirna.
"Eh tidak usah bu, Jihan tidak mau. Dia tetap mau menunggu supirnya" tolak Ria cepat.
"Kalo dia mau, sudah sejak tadi kami antar dia pulang" sambung Fela. Mereka masih ingat, Albi dan Babas melarang mereka bertiga untuk dekat dekat dengan Mirna. Entah apa alasannya, namun tetap mereka patuhi.
Mirna mengutuk di dalam hatinya, ia melirik sebentar pada kedua teman Jihan, kemudian kembali menatap pada Jihan.
"Bagaimana Jihan? apa kamu mau? "
"Maaf bu, Jihan tidak bisa" tolak Fela memawakili Jihan.
Jihan masih diam, ia memperhatikan kedua temannya dan bu Mirna yang seperti berperang melalui matanya.
"Saya tanya sama Jihan yah, bukan sama kamu" ucap Mirna sedikit memberikan tekanan, membuat Jihan mengerutkan kening nya. Kenapa Mirna terlihat begitu ingin membawa Jihan.
"Maaf buk, saya tidak bisa. Terimakasih atas tawarannya" ucap Jihan, dan sangat kebetulan sekali, supir Jihan datang di waktu yang tepat.
"Nah, itu supir Jihan!! " seru Ria tersenyum menang. Ia semakin yakin jika larangan Albi dan Babas ada benarnya, Mirna terlihat terobsesi pada Jihan.
"Maaf non, tadi mobil mogok" sesal pak supir tak enak hati. Lalu membukakan pintu untuk Jihan.
"Gak papa pak" balas Jihan tersenyum tipis.
"Saya duluan bu"
Jihan masuk ke dalam mobil yang langsung di tutup oleh pak supir.
"Dahhh Jihannnn" Fela dan Ria melambai pada Jihan sembari melirik Mirna yang tampak memerah menahan emosi.
"Duluan yah bu" ucap Ria dengan nada meledek.
"Sial! " umpat Mirna geram, ia menatap tajam ke arah mobil Fela dan Ria yang melaju meninggalkan pekarangan sekolah.
Anak anak itu bisa menghalangi rencana ku, aku harus melakukan sesuatu untuk mereka.
Mirna melajukan mobilnya meninggalkan perkarangan sekolah.
Cling~
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Mirna, tanpa menunggu lama, Mirna langsung membuka ponselnya.
"Sial!!!! "
"Arrrggghhh!!!!!!!! "
"Kenapa anak bodoh itu malah mengakui semuanya pada Alviro!!!! "
Mirna melempar seluruh benda benda yang ada di dekatnya ke sembarangan arah. Ia merasa sangat kesal, pasti akan sulit untuk melancarkan rencana nya jika Alviro sudah mengetahuinya. Bocah itu pasti akan mengacaukan semuanya.
...----------------...
"Bundaaaaaa, Jihan pulang!!! "
Suatu kebiasaan bagi Jihan untuk berteriak setiap kali memasuki rumahnya.
"Dasar bocah, udah segede ini masih saja berteriak seperti itu" cibir seseorang.
Jihan menghentikan langkahnya, ia menatap Alviro duduk di sofa rumah nya dengan santai.
"Heh, apa yang lo lakuin di rumah gue?"
"Aduh sayang, kenapa teriak teriak sih" ucap Tia yang baru saja dari Dapur. Ia membawakan Alviro sirop.
Dengan senyum mengembang Alviro menyambut minuman yang dibawakan oleh calon mertuanya.
"Makasih bunda.. "
Jihan melotot, Alvido memanggil bundanya apa??
"Eh, bengek. Kenapa lo manggil bunda gue dengan panggilan bunda! " protes Jihan.
"AAduh Sayang, kok kamu teriak teriak sih" Tia menarik anaknya duduk di sebelahnya.
"Ihh bunda kok malah belain dia" rajuk Jihan tidak terima bundanya lebih memilih membela Alviro ketimbang dia putri nya sendiri.
Tia tersenyum, kemudian mengusap pipol putri nya lembut.
"Sayang, gak boleh seperti sama calon suami kamu" jelas Tia. Bukannya membuat Jihan tenang, Tia malah membuat Jihan semakin melebarkan matanya.
"Apa bun? calon suami??? " bunda Jangan becanda deh!!! "
Jihan melipat kedua tangannya di depan dada, ia menatap Alviro dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Lo gak usah senyum gitu! sampai kapan pun, gue gak akan mau nikah sama lo! " ujar Jihan, kemudian ia bangkit dari duduknya dan berlari menuju ke kamarnya.
"Maaf yah nak Alviro, Jihan emang agak manja" ujar Tia tidak enak hati pada Alviro.
"Iya tante, gak apa apa. Wajah Jihan seperti itu, kami juga tidak terlalu akur, apalagi jika... "
"Sudah nak, tidak usah di bahasa. Yang jelas, kamu terus berusaha untuk membuat Jihan kembali suka sama kamu" potong Tia.
Alviro mengangguk pelan, ia kembali melirik kearah kamar Jihan yang tidak terlihat sama sekali dari ruang tamu.
Lo harus jadi milik gue Ji. batin Alviro tersenyum tipis.
"Eh lo di sini Al? "
Lea yang baru saja pulang dari sekolah cukup kaget melihat Alviro ada di rumah nya. Setahu Lea Alviro tadi bolos sekolah di jam pelajaran terakhir.
"iya kak, gue lagi ngobrol sama Bunda" jawab Alviro jujur.
"Bunda? " Lea mengerut, ia menoleh pada bundanya yang hanya mengangguk saja.
"Bicarain apa? " tanya Lea penasaran, ia mengambil posisi duduk di samping Bundanya.
"Hm Bunda, Alviro ke atas dulu yah. Mau bujuk Jihan" ujar Alviro seraya bangkit dari duduknya.
"Loh, kok pergi. Gue kan lagi nanya sama lo bengek?!! "
"Sorry kak, gue gak ada waktu" kekeh Alviro, ia sengaja mengusili Lea.
"Ihhhh Dasar!! adik Abang sama saja!!! " geram Lea. Semakin geram lagi ketika melihat bundanya malah ikut tertawa bersama Alviro yang sudah melesat pergi.
...----------------...