I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 14



Jihan dan kedua sahabat nya memasuki kantin, mereka langsung berjalan menuju ibu kantin.


"Ada apa aja bu? " tanya Jihan sopan, sembari melihat apa apa aja menu yang tersaji.


"Nak Jihan mau yang mana? ada batagor, ada bakso, ada Minas, ada mie goreng aja, ada nasi goreng aja. Ada.. -"


"Mau bakso nya aja bu" jawab Jihan cepat, menghentikan ibu kantin dalam menjelaskan semuanya.


"Sama yah bu, saya mau bakso juga. Tapi yang pedas" sahut Ria.


"Kalo saya mau batagor aja bu" ucap Fela.


"Siap, tunggu sebentar yah" jawab ibu kantin, sembari mengerahkan anak buah nya untuk membantu nya. Ada sekitar 10 pelayan yang membantu ibu kantin. Sehingga pergerakan pemesanan menu makanan yang begitu banyak bisa di sajikan dalam sekejap.


"Bakso untuk nak Jihan, Nak Ria dan batagor untuk nak Fela" ucap bu kantin menyebut nama mereka satu persatu.


"Wahh, Ibu tahu nama kami? padahal kami baru disini" ujar Fela kagum.


"Heh dodol, liat tu yang menempel di baju lo" cibir Jihan menunjuk tagname terkait di baju sebelah dada kiri Fela.


"Oh iya, pantesan" ucap Fela, ia lupa jika ada tagname di baju nya. Sementara ibu kantin hanya terkekeh pelan melihat tingkah lucu ketiga gadis ini.


Jihan dan kedua sahabat nya memegangi nampan berisi mangkok makanan masing-masing. Mereka mengedarkan pandangan keseluruh isi ruangan. Tidak ada meja yang kosong.


"Waduh, gimana ini? pada penuh semua" gumam Fela.


"Fela!!!! Ria!! " panggil Albi.


Fela dan Ria menoleh ke sumber suara, kening mereka mengerut ketika melihat Albi dan babas melambaikan tangannya.


"Ngapain tu cunguks manggil kalian" tanya Jihan penasaran. Ia melihat ke arah gengs wolf berkumpul.


"Eh eh... " pelik Fela dan Ria bersamaan ketika tiba tiba Albi dan babas menarik tangan mereka yang masih memegangi nampan. Tak lupa, pula Babas juga menarik Jihan.


"Kalian gabung aja sama kita, masi muat kok" ucap Albi.


"Eh kok kalian ajak mereka sih! " protes Alviro tidak suka.


"Gak papa lagi Al. Kasian juga mereka gak ada tempat untuk makan" ujar Liem angkat bicara. Ia tersenyum manis pada Jihan.


Jihan awalnya tidak mau bergabung dengan Alviro. Tetapi, melihat penolakan dari Alviro, membuat Jihan dengan senang hati berada di sana. Entah mengapa Jihan senang jika melihat wajah bengek Alviro mengekspresikan kekesalan padanya.


"Kalo lo gak suka, silakan pergi! " ucap Jihan santai. Ia dengan santainya mulai melahap bakso nya.


Posisi duduk mereka adalah, Ria di depan Albi, Fela di depan Babas, dan Jihan di depan Alviro yang duduk bersebelahan dengan Liem.


Ringgo dan Eldi sebagai pengamat. Mereka berdua saling pandang ketika melihat tingkah Liem yang terlihat jelas tertarik pada Jihan. Liem sejak tadi hanya tersenyum sembari menatap lahap nya Jihan makan.


Alviro berdecak kesal, ia menghentikan kegiatan makannya. Matanya menatap nyawang pada Jihan, meskipun gadis itu terlihat acuh.


"Apa begini cara lo di Amerika mengambil kursi seseorang? " tanya Alviro dengan nada, menyindir.


Jihan tak merespon, ia terus saja melanjutkan aksi makannya. Fela dan Ria sudah menatap Jihan dengan tatapan was was. Mereka tengah menantikan reaksi Jihan yang terus di pancing oleh Alviro.


Semakin Jihan diam, Alviro semakin menjadi jadi memancing emosi Jihan.


"Huh, seperti nya lo kurang, belajar sopan santun! " ujar Alviro lagi.


"Lo bisa diam gak! pernah di ajarin gak, kalo makan itu gak boleh ngomong! " balas Jihan sinis. Ia sudah mulai jengah mendengar ocehan tak berguna dari Alviro sejak tadi.


Semua yang ada di meja itu mendadak diem, mereka hanya melirik Jihan dengan tatapan penasaran. Wajah Jihan santai, tapi ucapan yang keluar dari bibirnya pedas.


"Huh, pintar menjawab juga lo! "


"Udah deh, mending lo pergi atau kuah bakso ini membasahi tubuh busuk lo itu! " ucap Jihan menatap Alviro sinis. Semakin di diamkan, Alviro semakin menjadi.


"Emang lo pikir gue takut? " tantang Alviro.


Burr...


Seketika kuah bakso di mangkok Jihan melayang membasahi baju Alviro bagian depan.


"What? " pekik Anak Wolf. Jihan benar-benar melakukan apa yang ia katakan.


Anak anak yang ada di kantin juga kaget, melihat Jihan tiba-tiba menyiram baju Alviro begitu saja.


Alviro menggertak kan giginya, menahan gejolak emosi yang semakin memuncak. Di tatapnya Jihan dengan tatapan kebencian.


"Lo berani banget nantangin gue! "


"Lo yang lebih dulu nantangin gue" balas Jihan santai.


Alviro berdiri dari duduknya, bersiap ingin membalas Jihan. Namun Arvan datang dan menghentikan niatnya.


"Ada apa ini? " tanya Arvan. Ia melirik pada pakaian Alviro dan juga mangkok bakso yang ada di tangan Jihan yang sudah kosong.


"Oh itu kak, Jihan tadi mau antar......mangkok baksonya ke ibu kantin... Tapi.." jelas Fela bingung mau jelasin apa lagi.


"Tapi, kakinya tersangkut bangku Fela kak. Jadi tumpah deh kuah nya ke baju Alviro" sambung Babas membantu Fela.


"Ha iya kak" sahut Fela tersenyum kikuk, sembari mengangguk pelan.


"Benar itu Alviro? " tanya Arvan memastikan pada Alviro. Karena wajah Alviro tidak mengekpresikan persis seperti yang mereka jelaskan.


Jihan menatap lekat pada Alviro, begitu juga dengan anak wolf lainnya. Mereka berharap Alviro mau berkerja sama. Jika tidak, maka mereka semua akan mendapat hukuman dari OSIS dan juga BK.


Alviro masih belum menjawab, ia masih sangat kesal pada Jihan. Bukan hanya Jihan, tetapi anak wolf juga. Mereka ikutan berbohong demi membela Jihan. Tidak, Alviro tidak akan membiarkan Jihan terselamatkan.


Alviro hendak mengatakan yang sejujurnya pada Arvan, tetapi tiba-tiba ada yang menginjak kakinya.


"Hupmmm.. " teriak Alviro tertahan menahan sakit di kakinya.


"Kenapa Alviro? apa yang mereka katakan bohong? " desak Arvan.


"Benar kak, ini hanya kecelakaan" jawab Alviro dengan wajah merah pasih menahan sakit.


"Oh baiklah, gue juga ikut senang melihat kalian berdua akur" ujar Arvan, kemudian berlalu dari sana. Ia hanya berniat membelikan teman teman OSIS nya minuman. Karena seperti nya rapat akan berlangsung lama. Sekalian Arvan akan membelikan Lea batagor. Arvan dapat mendengar obrolan cacing di Perut Lea ketika rapat tadi.


Setelah memastikan Arvan benar-benar sudah keluar dari kantin, Alviro kembali melotot pada Jihan.


"Lo kok injak kaki gue sih! "


"Salah sendiri, lo mau bilang kita boong kan sama kak Arvan" tuduh Jihan.


"Kalo iya kenapa? " jawab Alviro menantang.


"Ya, itu akibatnya buat lo yang sok gentle. Tapi..... " ucap Jihan menggantung ucapannya.


"Gtb dong" kekeh Fela melanjutkan ucapan Jihan. Mereka bertiga tertawa keras. Membuat Alviro semakin kelas pada Jihan. Ingin sekali ia mengacak acak wajah menyebalkan Jihan.


"Gue udah ni guys, yuk cabut" ucap Jihan pada kedua teman teman nya.


"Yuk, gue juga udah" sahut Ria dan Fela. Mereka segera bangkit dan beranjak dari meja anak Wolf.


"Makasih yah Babas, lo udah minjemin meja sama bantuin gue ke kak Arvan tadi" ucap Fela sembari mencubit pipi Babas. Kemudian beranjak menyusul Jihan dan Lia.


"Albi... Gue gak mimpi kan?? " gumam Babas berasa dirinya sedang bermimpi.


"Lo gak mimpi nyet" sahut Albi kesal, Babas mengganggu acara makannya.


"Dah mulai gila ni anak" ujar Eldi menggeleng menatap Babas yang senyum senyum seperti orang gila.


"Memang sudah gila" ujar Alviro kesal.


"Gue mau cabut dulu, bersihin ni baju" ujar Alviro bangkit dari duduk nya, kemudian beranjak menuju toilet.


"Yoi bro" sahut anak anak wolf. Mereka kembali melanjutkan acara makan yang sempat tertunda.


...----------------...


Di sudut kamar, tepatnya di depan jendela kamar yang menghadap ke taman belakang rumah besar milik keluarga yang bermarga Nugra. Leni tengah menatap bunga bunga bermekaran melalui jendela kamarnya. Bukan cuma menatap bunga itu saja, Leni sekarang sedang menunggu Tia selesai mandi. Ia ingin berbicara dengan Tia soal anak nya.


Dttttt.....


Drrrtt......


Ponsel Leni kembali bergetar. Dengan segera, Leni menjawab panggilan dari Tia. Mungkin saat ini Tia sudah selesai mandi.


"Halo Tia? " sapa Leni.


"Iya Leni, ada apa? " tanya Tia di sebrang sana.


"Tia, aku mau bilang sama kamu. Seperti nya kita mesti membuat acara perkumpulan keluarga lagi Tia" usul Leni tiba tiba. Membuat Tia cukup kaget mendengar nya.


"Loh, kenapa tiba-tiba Leni? bukannya kita sudah sepakat, hanya orang tua yang melakukan perkumpulan. Lagi pula, anak anak kita sudah besar besar Leni. Mereka tidak akan mau menghadiri acara seperti itu" ujar Tia.


"Iya Tia, aku tahu. Tapi ini masalahnya lain Tia".


" Masalah apa Leni? jelaskan lebih rinci. Jangan membuat aku khawatir" desak Tia.


"Aku akan datang kerumah mu nanti, dan kita akan membahas semuanya di sana" ucap Leni.


"Baiklah, aku akan menunggu mu" balas Tia.


Leni menutup panggilan nya, kemudian bersiap siap untuk pergi ke rumah Tia. Leni merasa ia harus segera menyelesaikan permasalahan ini.


"Mama akan membuat kamu kembali nak! " gumam Leni penuh tekat.


...----------------...


Fix 3 episode dengan kata yang banyak setiap babnya.


Jangan lupa tetap dukung Author yah🤗🤗🤗Biar makin semangat up nya.