
"Gue hamil! " gumam Jihan, matanya menatap lurus pada Alviro, wajahnya tidak memberikan ekspresi apapun.
"Iya sayang, sebentar lagi kita bakalan punya anak"
Jihan menggeleng, lalu melangkah, lebih dekat lagi dengan Alviro.
"Bukan kita, tapi gue! "
"Gak ji, kita. Itu kan anak aku juga" bantah Alviro tidak terima Jihan mengatakan itu hanya anaknya sendiri.
"Tapi gue yang hamilin" kata Jihan lagi. Wajahnya mulai memberikan ekspresi tidak mau kalah dari Alviro
"Tapi gue yang buat ji, gue yang sirami" balas Alviro tak mau kalah pula.
Suasana yang tadi menegang mendadak berubah menjadi kejengahan. Lea menarik nafas dalam kemudian di hembuskan secara paksa melihat kelanjutan perdebatan suami istri teroon di muka bumi ini menurut Lea. Sementara Arvan dan para orang tua hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Mereka bernafas lega karena Jihan terlihat tidak menolak kehadiran buah hati mereka.
"Tapi ini dalam perut aku, yah bayi aku lah"
"Gak ji, itu kan aku yang coblos"
"Yah kan milik aku"
"Gak, pokoknya kita"
"Enak aja! "
Mereka terus saja berdebat dan tidak memperdulikan apa yang mereka ucapkan, bahkan mereka lupa jika di ruang tamu bukan diri mereka saja.
Merasa Alviro tidak mau ngalah, Jihan pun mendengus mendekati bundanya.
"Bun... Bilang sama dia bun. Ini anak aku kan! "
Tia jadi gugup, ia tidak tahu harus jawab apa sama Jihan.
"Sayang, kan kalian suami istri"
"Tapi kan dia jahat bun, udah bohongin Jihan"
"Sayang, kan kamu tahu bagaimana Alviro menyayangi kamu. Apa kamu gak mau dengerin alesan Alviro dulu? " bujuk Tia berusaha untuk membuat putrinya menerima keadaan ini.
"Tapi bun, dia itu udah jahat. Masa bunda belain dia"
"Bukan sayang, bunda gak belain siapa siapa"
"Tu bunda bela dia" Jihan melipat kedua tangan di depan dada. Memang yah, kalo ibu hamil tu mesti memiliki kesabaran yang Estra menghadapi nya. Apalagi ibu hamilnya gadis labil seperti Jihan.
Melihat Jihan yang terus cemberut, Alviro malah semakin geram. Di tariknya tangan Jihan dan di angkatnya secara paksa tubuh Jihan.
"Eh eh, mau di bawa kemana!!!! " teriak Jihan meronta ronta ketika Alviro melarikan dirinya.
Para orang tua hanya bisa menatap apa yang Alviro lakukan. Mereka yakin Alviro bisa menyelesaikan semua ini.
"Yahhh malah di bawa" kata Lea.
"Biarkan mereka menyelesaikan semua ini" jawab Arvan. Lea pun mengangguk mengerti. Tia dan Leni menghela nafas lega, akhirnya Alviro ambil tindakan.
"Anak kamu gercep juga yah" kekeh Burhan melirik Brian.
"Oh jelas lah" balas Brian bangga. Lalu mereka tertawa bersama.
Sementara itu, di tempat lain Zidan tengah menunggu kedatangan anak buahnya ke ruangan kerja nya.
"Boss, ini mereka yang kemarin bos suruh" kata Jodi. Zidan bangkit dari duduknya, ia mendekati mereka yang menunduk hormat.
"Bagaiamana hasilnya?" tanya Zidan dengan nada suara terdengar mengerikan.
"Siap boss, gadis itu menerima pancingan yang kami berikan. Lalu tanpa di duga gadis itu berhasil mendapatkan sesuatu yang lebih dari yang kita bayangkan. Dia sudah mengetahui siapa dirinya dan sipa Mirna sebenarnya" jelas salah satu dari ketiga pria itu. Seperti nya dia adalah ketua dari mereka.
"Bagus"
"Satu lagi bos" kata satu pria yang berdiri di samping ketuanya. Zidan menatap padanya menunggu kata yang akan pria itu keluar kan.
"Katakan! "
"Gadis itu memilih tempat yang tepat untuk lari, dia menemukan keluarga nya. Hendi Suraja adalah ayah nya dari Rasya. Ternyata adalah Kakak dari Handoko yang tidak memakai nama keluarga di belakang nya. "
Senyum Zidan semakin melebar, semuanya berjalan seperti yang ia harapkan. Kini tinggal satu langkah lagi.
"Bagus, kalian bekerja sangat keras. Jodi, urus semua bagian untuk mereka bertiga" titah Zidan pada Jodi yang sejak tadi hanya diam mendengar semua perbincangan boss nya dengan ketiga pria itu.
"Baik boss" jawab Jodi. Lalu mereka pun keluar dari ruangan Zidan.
"Bagus, akhirnya kamu bisa keluar dari Zona hitam itu" Senyum penuh arti terukir di bibir Zidan. Matanya menatap liris ke sebuah foto berbingkai di atas mejanya. Telunjuk kirinya terulur mengusap wajah gadis itu
Cling~
Suara ponsel membuyarkan lamunan Zidan yang masih menatap foto kebersamaannya dengan gadis itu.
Zidan membuka ponselnya, di sana terpapar jelas pesan singkat dari Jodi yang memberikan beberapa informasi.
"Bagus"
Dengan senyum semakin melebar, Zidan bergegas pergi dari ruangan kerja yang tak pernah lama ia huni. Mungkin hanya beberapa Jam saja.
Zidan pergi ke sebuah restauran. Di sana ia melihat seorang gadis yang sudah lama mencarinya.
Zidan tidak menghampiri gadis itu, seperti biasa ia akan memancing gadis itu untuk mengejarnya.
Lidia, yah gadis itu adalah Lidia. Gadis jahat yang selalu ingin menghancurkan setiap kebahagiaan yang menghinggapi kehidupan Jihan. Gadis yang sudah membuat mama Fela meninggal. Setidaknya seperti itulah yang di pikirkan oleh siswa siswi di sekolah nya.
Namun Lidia tidak pernah menyangkalnya, ia tetap diam dan membiarkan orang orang berbuat sesuka nya. Tidak ada lagi Lidia yang dulu. Sekarang hanya ada Lidia yang rapuh dan lembut. Sejatinya itulah jati diri Lidia sebelum Mirna merubahnya.
Semua itu di ketahui oleh Zidan, ia tahu seluk beluk keluarga Lidia. Awalnya ia merasa sangat sakit hati ketika mengetahui Lidia sudah membohongi nya dan malah mengkhianati nya yang sudah terlanjur mencintai gadis itu.
Beruntung Jodi memberikan sebuah informasi yang janggal di mata mereka. Hingga akhir nya Zidan memutuskan untuk menyelidiki siapa Lidia sebenarnya. Bahkan ia kaget mengetahui kakak Lidia adalah Mirna. Ia menjadi tahu penyebab Alviro menyakiti hati Jihan.
Kalian ingat gak? orang yang memantau Lidia ketika ia baru pindah ke perumahan elit tetapi sederhana.
Orang itu adalah Zidan, ia selalu memantau pergerakan Lidia. Ia tidak ikut campur tetapi ia pasti akan terus ada di setiap pergerakan Lidia. Zidan menunggu waktu yang tepat untuk mendekati Lidia yang sudah rapuh.
Lidia duduk sendiri yang berjarak 2 meja dari Zidan. Ia masih belum menyadarinya, entah menunggu siapa Lidia tampak mulai kesal dan bosan.
"Kemana sih, lagian siapa coba yang ngajak jumpa tapi gak datang datang" gerutunya.
Lidia mengedarkan pandangannya ke samping. Tiba-tiba tubuhnya mendadak menegang melihat siapa yang sedang duduk di meja samping dirinya.
Lidia berdiri dari duduknya, mulut nya mulai bergetar menahan sesuatu yang ingin meledak di hatinya.
"Kak Zidan... "
Air matanya semakin mengalir deras ketika orang itu menoleh padanya.