
"Gak mandi? " ujar Jihan pada Alviro. Namun tidak di sahuti oleh suaminya.
"Hei... " Jihan menggoyang goyangkan tangannya di depan wajah Alviro, namun tetap saja Alviro todak bergeming. Ia malah menatap wajah Jihan tanpa berkedip.
"Kamu kenapa sih? kesambet? " ujar Jihan.
Mereka kini duduk bersebelahan di sofa, mata Alviro masih menatap pada Jihan. Membuat gadis itu sedikit merasa salah tingkah. Ia paling tidak suka jika di perhatikan seperti ini.
"Kami kenapa sih" dengus Jihan lagi.
"Kamu cantik" gumam Alviro, tamgannya bergerak merapikan anak rambut Jihan yang sedikit berantakan.
Deg.
"Ayolah Jihan, jangan sampai baper. Ini hanya sebuah perjodohan, tidak ada yang bisa di jadikan jamin jika dirinya akan selama nya menjadi milik kamu! " batin Jihan berusaha menyadarkan dirinya agar tidak terpesona dengan wajah tampan Alviro yang kini tersaji beberapa centi dari wajahnya.
Wajah Alviro semakin dekat dengan wajah Jihan. Mereka karut dalam suasana dan posisi yang bagus.
Dekat semakin dekat, hanya tersisa beberapa centi lagi.
Ting Tong....
"Ada tamu" ujar Jihan tersadar, ia langsung menjauhkan wajahnya dari Alviro, kemudian beranjak melihat siapa yang bertamu ke rumah nya.
"Astagaaaa,,,,,, Siapa sih yang bertamu di saat seperti ini" geram Alviro, ia memukul mukul sisi sofa melampiaskan kekesalannya.
"Loh, nak Alviro. Kamu kenapa? " tanya Tia heran.
Mendengar suara bunda mertuanya, Alviro langsung menegakkan tubuhnya dan memasang wajah tersenyum.
"Eh bunda, " sapa Alviro sesopan mungkin. Ia menyesali dirinya yang sempat memaki orang yang mengganggu dirinya dan Jihan, Ternyata itu adalah mertuanya sendiri.
"Ayah juga ada Alviro! " ujar Burhan membuat Alviro merasa sedikit malu.
"Iya ayah" Alviro langsung mencium punggung tangan Tia dan Burhan secara bergantian.
Jihan tersenyum tipis, tingkah Alviro terlihat sangat lucu dan menggemaskan di mata Jihan.
"Sepertinya pria yang sangat baik dan bertanggung jawab. Apakah aku harus membuka hati untuk nya? dia terlihat tulus pada ku" batin Jihan.
"Nak" panggil Tia, Jihan menoleh pada bundanya. Mereka sekarang berada di dapur.
"Iya bun"
"Kamu memikirkan apa? kenapa melamun hm? " tanya Tia.
"Gak ada bun, Jihan hanya berpikir jika sebaiknya Jihan mulai membuka hati untuk Alviro" jawab Jihan jujur.
"Itu sesuatu yang baik nak, mencintai suami yang sudah sah untuk kamu. Bunda yakin, Alviro pria yang berbeda dengan pria lain. " ujar Tia. Jihan juga mengakui hal itu, ia juga merasakan kasih sayang yang tulus dari Alviro.
"Tapi bun... Jihan masih bel-" ucap Jihan terpotong oleh perkataan bundanya.
"Nak, masa lalu biarkan berlalu. Sekarang kamu berada di masa depan. Dan masih ada lagi masa yang belum kita lalui. Biarkan air sungai mengalir sesuai dengan jalurnya nak. " nasihat Tia.
Jihan memeluk bundanya, di saat seperti ini Jihan hanya butuh bundanya.
"Ya ampun, adegan seperti ini kok gak bawa mama sih Jihan" ucap Leni, ia malah ikut berpelukan dengan kedua sahabat dan mantunya itu.
"Mama kapan kesini? " kaget Jihan.
"Barengan bunda kamu tadi. Tapi, mama mampir ke apartemen Lea dan Advan terlebih dulu untuk mengajak mereka berkumpul di sini. " jelas Leni.
"Berkumpul??? " pekik Jihan dalam hati.
Gawat, ini sangat gawat. Jihan langsung celingak celinguk ke ruang tamu. Ia mencari sosok Zidan di sana, Jihan tidak ingin ada keributan di saat mereka berkumpul.
"Kamu mencari siapa sayang? " tanya Tia menatap heran pada Jihan, ia pun ikut menatap kearah ruang tamu mengikuti tatapan mata putrinya.
"Ma, bun. Apa ada Zidan di depan? "
"Tidak nak, Zidan pergi mengantar tante Rama ke bandara. Ada urusan yang sangat penting yang harus tante Rama urus di Amerika" jelas Tia.
"Huh? tante udah pergi lagi? dan tante tidak menemuiku terlebih dulu??? " Jihan merasa sangat kaget, ia belum bertemu dengan tantenya selama tantenya berada di Indonesia. Dan sekarang tantenya sudah kembali lagi ke Amerika.
"Tapi, Zidan gak pergi kok sayang" bujuk Tia mengusap bahu putrinya. Tia memaklumi kesedihan Jihan, karena selama ini Rima lah yang berada di sisinya ketika ia mengalami keterpurukan.
"Jihan gak butuh Zidan, Jihan butuh tante" jawab Jihan mulai terisak.
"Aduhh kok malah nangis" kaget Leni, ia malah menjadi bingung melihat reaksi Jihan yang berbeda dengan yang terlihat dari sikap Jihan.
Jihan di lihat dari penampilan fisik, orang tidak akan pernah mengira Jihan akan menangis hanya karena Rima tidak mengunjunginya sebelum berangkat ke Amerika.
"Loh, kok Jihan nya nangis? " tanya Lea kaget, ia datang ke dapur apartemen Jihan karena Arvan membutuhkan air putih hangat.
"Dia marah karena tante Rima tidak pamit padanya" jelas Leni.
"Lah, lo bodoh yah dek. Udah gede masih aja bersikap seperti anak kecil begini" ledek Lea.
"Apaan sih, pergi sana" usir Jihan kesal, ia masih meneteskan air matanya.
Alviro melirik ke arah dapur, ia malah heran. Setiap yang datang ke dapur, mereka malah tidak balik lagi ke ruang tamu. Ada apa sebenarnya di dapur.
Karena sangat penasaran, akhirnya Alviro pergi ke dapur.
"Ada ap-... Ya ampun sayang, kamu kok nangis? siapa yang jahatin kamu sayang. Bilang sama aku" bujuk Alviro. Ia langsung mengangkat tubuh Jihan yang berjongkok di lantai.
"Dia nangis, karena tante Rima kembali ke Amerika tanpa memberitahu nya" jelas Lea.
"Sudah sayang, kita bisa kok jenguk tante Rima. Kami jangan nangis yah" Alviro membujuk Jihan layaknya membujuk anak kecil berumur 5 tahun.
"Janji yah, bakalan ajak jumpa tante Rima" ujar Jihan memastikan Alviro tidak berbohong.
"Iya sayang, aku gak akan bohong sama kamu. Nanti setelah libur sekolah, kita akan pergi menemui tante dan berlibur di sana"
Jihan langsung berhenti menangis, ia memeluk Alviro dengan sangat erat. Karena sangat bahagia dengan bujukan Alviro, Jihan sampai lupa jika mereka di tonton banyak orang.
"Ekhem... " dehem Lea.
Jihan malah kaget dan semakin menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alviro. Jihan tidak berani mengangkat wajahnya, ia terlalu malu untuk menatap bunda, mama dan juga kakaknya Mereka pasti akan meledeknya, pikir Jihan.
"Bawah aku kabur" bisik Jihan pada Alviro.
"Baiklah tuan putri"
Alviro membawa Jihan masuk ke dalam kamar, mereka malah menghabiskan waktu bersama di dalam kamar dengan penuh kemesraan. Bahkan mereka telah melupakan di apartemen mereka sedang ada tamu dari para orang tua.
Alviro tidak terlalu mengkhawatirkan hal itu, ia malah berpikir keluarganya akan mengerti.
"Walah walah, tuan rumah malah kabur masuk kamar" ujar Brian menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak dan menantunya.
"Ya sudah lah, kita balik saja" sahut Tia.
"Iya nih, kita juga mau balik. Masa Alviro sama Jihan aja yang enak enak" celetuk Arvan asal. Membuat kedua pipi Lea langsung memanas.
"Kamu kok bilang seperti itu" tegur Lea merasa malu pada ke empat orang tua mereka.
"Hahaha... Anak muda zaman sekarang, gak ada malu malunya" kekeh Tia.
"Bundaaaa.... " lirih Lea. Ia semakin malu sekarang. Semua ini karena ulah suaminya yang berbicara sembarangan.
"Gak usah malu sayang, kita emang bakalan enak enak kok" ujar Arvan tertawa renyah melihat rona merah di wajah istrinya, membuat Arvan langsung mengecupnya.
"Aduhhhh, berasa pengen muda lagi" sorak Leni.
"Sayang!!! " tegur Lea, ia kaget Arvan malah mencium nya secara tiba-tiba.
"Ahk." pekik Lea kaget. Suaminya tampa memberikan aba aba langsung menggendong nya dan menarikan ke apartemen nya. Karena takut jatuh, Lea mangalungkan lengannya di leher suaminya.
"Buatin mama dan bunda cucu yang lucu yah!!! " teriak Leni.
"Siap ma.... Bun... " sahut Arvan sebelum masuk dan menutup pintu apartemen nya.
"Ah dasar pengantin baru" gumam Tia. Burhan dan Brian hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah keturunan nya.