
Kringgggggg....
Bel pulang akhirnya berbunyi. Siswa siswi berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing. Mereka yang tadinya lesu, langsung semangat dan berlari keluar. Berbeda dengan Jihan. Dengan langkah gontai Jihan menenteng tas ranselnya keluar dari kelas.
Fela dan Ria dengan setia berjalan di samping Jihan. Mereka penasaran, apa yang telah ketua OSIS itu lakukan pada Jihan, sehingga membuat Jihan terlihat sangat lemas dan lesu.
"Emang lo di apain sih, Sama kak Tampan? " tanya Fela penasaran.
Jihan tak menjawab, ia terus menunduk, berjalan lemes menuju parkiran.
"Ihhh Jihan, lo kaya gak makan seminggu tahu gak sih" geram Fela menarik lengan Jihan yang sejak tadi hanya diam saja.
"Aduhh Fela, gue benar-benar lemes Fela. Si ketos itu nyuruh gue keliling lapangan Basket 50 kali Fela" jawab Jihan dengan nada lemes, kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju parkiran. Di sana Lea sudah tidak sabaran menunggu.
"Wahh... Kak tampan ternyata sadis juga yah" gumam Fela tak percaya. Sedangkan Ria hanya menghela nafas, kemudian berjalan menyusul Jihan.
"Ehhh tunggu!!! " teriak Fela tersadar dari lamunannya, kedua sahabat nya sudah meninggalkan nya sendiri.
"Etsss.... Fela" cegat Babas menahan lengan Fela.
"Aduhh apaan sih, nyentuh nyentuh gue" ucap Fela menarik tangannya dari tangan Babas.
"Sorry sayang" kekeh Babas tersenyum kikuk.
"Sayang sayang bapak lo peyang!!!! " sungut Fela kesal, lalu pergi meninggalkan Babas begitu saja.
"Aduhh ya Allah, tangannya aja harum banget" gumam Babas mencium tangannya yang memegang tangan Fela tadi.
"Hahahahaha kena tolak kan lo" ucap Albi menertawakan Babas.
"Biarin, dari pada elu" cibir Babas.
"Gak berani deketin Ria" lanjutnya lagi.
"Iya juga sih" ucapAlbi sbari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sampai saat ini, ia masih belum berani menyapa Ria.
...****...
"Yuk kak Jalan" ajak Jihan setelah masuk ke dalam mobil, ia merebahkan tubuhnya ke jok mobil, kemudian memejamkan mata. Sumpah Demi apapun, baru kali ini Jihan menjalani hukuman seberat ini, apalgi dirinya belum makan apapun kecuali nasi goreng yang bundanya bungkuskan tadi pagi. Dan itu hanya cukup untuk mengganjal perutnya hingga jam 10 pagi.
"Lo capek banget yah? " Lea menatap iba kepada adiknya. Ia merasa bersalah karena tidak bisa membantu adiknya.
Lea menyalakan mobil, kemudian melaju meninggalkan perkarangan sekolah yang mulai terlihat sepi.
Di balik tembok, tak jauh dari parkiran, Lili dan Jejei berdiri sembari mengawasi Jihan. Mereka semakin yakin, Jihan memiliki hubungan kusus dengan Lea.
"Kita harus lapor sama Lika" gumam Jejei, lili mengangguk setuju. Kemudian mereka masuk ke dalam mobil masing masing.
"Bunda!!! Jihan pulang! " teriak Jihan dengan suara yang masih sedikit lemas. Kebiasaan ini masih belum hilang dari diri Jihan, ketia ia memasuki rumah.
"Masih aja kaya anak kecil" ledek Lea.
Jihan tak menggubris, ia terus melangkah menuju ruang tengah. Di mana bunda dan Ayahnya sedang mengobrol.
"Eh anak bunda udah pulang" ujar Tia mengulurkan tangannya ketika Jihan dan Lea salim.
"Bunda masak apa? " rengek Jihan manja. Ia duduk di samping ayahnya yang menatap kedua putrinya dengan senyum.
"Laper banget keliatan nya" ujar Burhan mengusap pipi chubby Jihan.
"Tadi tu, Jihan dapat hukuman dari Arvan"
"Huh? bagaimana bisa? " tanya Tia kaget.
"Yah bisa lah bun, orang dia baru sehari masuk sekolah, malah buat ulah"
Jihan tak membantah, ia sudah tidak memiliki tenaga untuk menyangkal apa yang kakak nya katakan.
"Ya ampun, pasti anak Bunda lelah sekali" gumam Tia langsung bangkit dan berjalan cepat menuju dapur. Kemudian kembali lagi ke ruang keluarga dengan membawa segelas sirup dingin di tangannya.
"Wahhh seger nih bun, " ujar Lea tersenyum lebar. Ia berpikir jika bundanya membawakan es sirup rasa Jeruk itu untuk nya.
"Ehh ini untuk adik kamu" tepis Tia ketika Lea hendak mengambil gelas sirup itu, lalu memberikannya kepada Jihan.
"Makasih bun.... " ucap Jihan sengaja memanas manasi Lea.
Setelah bercanda ria dengan ayah dan bunda. Jihan memilih ijin masuk ke dalam kamarnya. Ia memutuskan untuk mandi dan kemudian, kembali turun untuk makan bersama.
Sedangkan di lain tempat, Alviro turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah dengan santai. Ia terlihat acuh dengan ada atau tidak ada nya orang tua di rumah.
"Alviro! " panggil Leni.
Alviro berhenti di pertengahan anak tangga, dengan malas ia memutar tubuhnya.
"Ada apa ma? " tanya Alviro malas.
Leni menaiki anak tangga agar bisa dekat dengan putranya. Kemudian, tanpa Alviro duga, Leni menarik paksa tangan putranya dan menyeretnya ke ruang keluarga.
"Aduh ma, ngapain bawa Al, ke sini sih" sungut Alviro mencoba untuk bangkit kembali. Namun, Leni tidak membiarkannya.
"Nak, coba cerita sama mama. Kenapa kamu bisa berubah menjadi seperti ini" ucap Leni selembut mungkin. Ia berharap, Saran dari Tia berhasil membuat putra semata wayang nya berbicara dan kembali seperti dulu.
"Aduh ma, Al udah dari dulu seperti ini. Berubah apanya sih ma"
Leni menggeleng cepat, air mata nya sudah mulai terkumpul di pelupuk matanya. Leni benar-benar merindukan kehangatan rumah, ketika Alviro dan suaminya menjalin hubungan yang baik. Tidak seperti sekarang, setiap kali bertemu, mereka selalu berdebat.
"Mama rindu, seperti dulu. Kita tertawa dan mengobrol bareng. hiks... Kenapa semuanya berubah nak"
Leni menunduk, menangkupkan kedua telapak tangannya pada wajahnya, lalu menumpahkan tangisnya di sana.
Alviro menghela nafas berat, ia sebenarnya iba melihat mamanya menangis. Namun, Alviro juga tidak bisa melawan hatinya. Ia sudah terlanjur menjadi seperti ini.
"Sudah lah ma, Alviro akan ke atas sekarang" pamit Al, sembari bangkit dari duduk nya.
"Al.... Mama harap kamu kembali seperti dulu" ujar Leni mematap punggung Alviro, membuat Alviro berhenti sejenak, kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
Mama selalu merindukan mu yang dulu nak, apapun itu, mama akan menyelidiki semuanya. Mama berjanji akan membuat Alviro Reiyen Nugra kembali.
Alviro menutup pintu kamar nya pelan, kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Di tatap nya langit langit kamarnya yang berwarna abu-abu.
Wajah sedih mamanya terukir jelas di matanya. Alviro menghela nafas dalam, kemudian memejamkan matanya. Tak menunggu waktu uang lama, Alviro akhirnya terlelap.
...----------------...
"Kak Yen!!!!!!!! Kak yen jahat!!!! kak yen jahat!!!!!! "
"Tidak! tapi kamu yang jahat! aku sudah tahu semuanya!! " ucap anak laki-laki itu membentak anak perempuan itu.
"Apa? aku salah apa kak, kenapa kak Yen bersikap seperti ini huh? "
Seorang anak perempuan yang berumur 10 tahun menangis sembari memukul mukul dada anak laki-laki itu. Mereka sedang berada di sebuah taman bermain. Di sana hanya ada mereka berdua, suasana siang yang sangat terik, membuat taman bermain itu sepi.
"Diam!!!! aku benci kamu! mulai hari ini, kamu tidak perlu bertemu dengan ku lagi!!! " bentak anak laki-laki itu, ia menatap anak perempuan itu dengan tatapan kebencian.
"Apa? aku gak lakukan itu kak!!, aku tidak pernah melakukan nya!!! " anak perempuan itu membela diri, ia berusaha meyakinkan anak laki-laki itu. Namun, anak laki-laki itu tidak mau mendengarkan penjelasan nya.
"Tapi aku melihat nya!!! "bentak anak laki-laki itu lagi. Ia mendorong anak perempuan itu agar menjauh darinya, hingga anak perempuan itu terjungkal dan terhenyak di tanah. Kesabaran nya sudah habis, anak perempuan itu bangkit dari tempat ia terjatuh. Kemudian menghapus air matanya kasar.
Di tatapannya anak laki-laki itu dengan tatapan kecewa, hatinya terasa perih. Laki-laki yang sangat ia sayang malah tidak mau mendengar kan nya. Bahkan anak laki-laki itu tidak memikirkan apa kah ia melakukan kesalahan atau malah hanya sebuah fitnah.
" Baik, aku tak akan muncul lagi di hadapan mu! tapi! " anak perempuan itu menjeda ucapannya. Ia melangkah sedikit lebih dekat dengan anak laki-laki yang sedang menatapnya.
"Ketika kamu menemukan kebenaran nya, di saat semua jelas di mata mu! "
"Kamu akan menyesalinya! "
"Kamu akan kehilangan semuanya! " ucap anak perempuan itu dengan suara pelan, namun penuh penekanan dan tekat.
Setelah mengatakan semuanya, tidak ada lagi air mata yang mengalir di matanya. Wajah nya yang tidak memberi ekspresi apa pun. Ia berbalik, kemudian melangkah tanpa pernah menoleh lagi kebelakang.
Sementara anak laki-laki itu terdiam, antara merasa bersalah dan marah. Ia tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Perasaan kecewanya, membuat dirinya buta untuk sesaat.
...----------------...
Halo guys, maaf waktu up nya lama. Soalnya author juga lagi kerja.
jangan lupa like,komen dan vote yah. Aku sayang kalian. ikutin terus perjalanan Alviro dan Jihan🤗🤗