
Zidan menoleh dengan santai bersama senyum manis mengiringi pergerakannya.
"Jadi ini benar benar kak Zidan? "
"Hai" sapa Zidan.
Tidak ada kata kata yang bisa Lidia ucapkan selain isak tangis penyesalan. Selama ini ia telah salah, bukan Zidan yang salah tapi Mirna. Wanita itu sengaja menjauhkan mereka karena takut Lidia tidak bisa memerangi Zidan kelak. Karena Zidan adalah bagian dari keluarga Rafier.
"Long time no see" Zidan berdiri dan mendekat pada Lidia.
"Kak.. Aku mau jelasin semuanya. Kak Zidan jangan pergi dulu yah" Lidia langsung menahan lengan Zidan, ia berpikir jika Zidan akan pergi dan meninggalkan nya. Padahal Zidan tidak berniat pergi, tapi mendekat padanya. Permainan untuk Lidia sudah selesai, Zidan tidak akan pergi lagi padanya.
Pletak~
"Awh... " Lidia menatap Zidan tidak percaya, tiba-tiba saja pria itu menjitak dirinya.
"A-apa yang kau lakukan! " bentak Lidia sembari memegangi keningnya.
"Gadis nakal! kenapa lama sekali pintarnya! " gerutu Zidan, lalu merengkuh tubuh Lidia ke dalam pelukan nya.
Lidia semakin kaget dengan apa yang Zidan lakukan padanya secara tiba-tiba.
"Kak... "
"Udah diem! " potong Zidan yang semakin mengeratkan pelukannya pada Lidia, seakan takut kehilangan gadis itu kembali.
Meskipun Zidan tampak acuh pada gadis yang sudah menyakiti hatinya. Namun tidak ada yang tahu bahwa di sekeliling Lidia adalah orang orang suruhannya. Mereka memang tidak di utus untuk melindungi Lidia, namun hanya memantau pergerakan gadis itu. Karena itulah Zidan bisa melakukan semuanya untuk membuka mata Lidia.
"Kak, aku butuh penjelasan! " cicit Lidia lagi.
"Kau sudah tahu semuanya. Buat apa aku menjelaskan lagi hm" balas Zidan. Lidia tak membalas lagi, ia membalas pelukan Zidan. Pelukan yang sangat ia rindukan. Sebelum mengenal Rasya, Zidan merupakan orang pertama yang membuat Lidia merasakan artinya kehidupan.
"Ada apa ini? " tegur seseorang.
Zidan Dan Lidia langsung melepaskan pelukan mereka. Zidan menatap seorang gadis yang tidak asing di matanya.
"Kamu siapa? " tunjuk Rasya pada Zidan dan menarik Lidia ke belakang tubuhnya.
"Rasya, dia orang baik. Tidak jahat kok" ucap Lidia menjelaskan pada sepupunya.
"Benarkah? apa yang bisa aku percaya? " ujar Rasya, ia tidak boleh muda percaya pada orang lain.
Zidan tersenyum ramah, mengulurkan tangannya pada Rasya.
"Zidan, Abang sepupu Jihan Aisyah Rafier"
Rasya melirik ke arah Lidia untuk memastikan kebenaran yang pria itu ucapkan. Setelah melihat Lidia mengangguk, barulah Rasya mau menjabat tangan Zidan.
"Rasya, sepupunya Lidia"
Oh jadi dia keluarga Lidia yang mereka maksud. Bagus, dia memang benar-benar dari keluarga baik.
Setelah berjabat tangan dan saling memperkenalkan diri, mereka pun duduk di meja yang tadi Lidia tempati.
"Sorry, tadi gue salah menuduh lo orang jahat" ucap Rasya.
"It ok, bagus kok tidak muda percaya sama orang, karena bisa saja orang itu pura-pura baik dan akan mencelakai kita"
"Betul, papa gue sering mengatakan hal itu" balas Rasya membenarkan ucapan Zidan. Lidia mendeliki, bukannya Rasya dulu sangat mudah mempercayai dirinya.
"Apa? " ketus Rasya menangkap Lidia menatap aneh kepadanya.
"Perasaan, kemarin kemarin lo deh yang mudah percaya sama gue"
"Iss, itu karena ada feeling persaudaraan di antara kita! " sangkal Rasya.
"Humm.. Anggap aja iya" ujar Lidia mencibir.
Zidan mengulum senyum, akhirnya ia melihat Lidia merasakan kehangatan keluarga.
Sementara itu, di apartemen nya Jihan dan Alviro tengah berperang habis habisan. Jihan merasa sangat marah karena Alviro membawanya pergi dari rumah. Padahal dirinya masih ingin memeluk bundanya.
"Aku gak tahan sama kamu, kamu jahat! " ketus Jihan menghempaskan tangan suaminya.
Tidak akan menyerah begitu saja, Alviro kembali mencekal tangan Jihan kemudian menggendong nya dan membawanya masuk ke dalam kamar.
"Lepasin bodoh!!! " teriak Jihan memukul mukul punggung Alviro.
Blam~
Alviro menghempaskan tubuh Jihan ke ranjang empuk milik mereka. Sehingga Jihan tidak akan merasakan sakit ketika di hempaskan.
Alviro juga ikut naik ke atas ranjang, ia tidak akan memberikan kesempatan untuk Jihan melarikan diri.
"Aduhh Aduh.... "
Alviro yang berada di atas Jihan langsung melompat turun dan memeriksa istri nya yang mengadu kesakitan.
"Yang mana sakit, ayo katakan! " tanya Alviro panik.
"Di sini... Sini... dan di sini... " tunjuk Jihan pada perutnya, dadanya dan bibirnya. Ia sengaja mengerjai suaminya yang seenaknya melempar dirinya jatuh ke ranjang.
"Benarkah, Baiklah aku akan mengobati nya"
Deg.
Berniat ingin mengerjai, kini malah ia yang di kerjai. Dengan cepat Alviro kembali menaiki ranjang dan menyerang bagian tubuh yang Jihan katakan sakit tadi.
Erangan demi erangan terdengar menggemaskan di kamar sepasang suami istri muda itu.
...----------------...
Fela dan Babas berjalan di sebuah mall, semenjak pernikahan mereka Fela menjadi lebih dewasa dan tidak bar bar seperti dulu lagi. Babas yang playboy tidak pernah melirik ke cewe bohay lagi. Karena menurutnya istrinya jauh lebih bohay dan sexy.
"Beb, aku mau makan di sana" tunjuk Fela pada sebuah restauran seafood.
Babas mengangguk setuju, ia tidak akan menolak apapun yang istrinya minta. Apalagi hanya makan di sana. Fela minta keliling dunia pun, pasti akan Babas kabulkan. Uang bukan lah apa apa baginya, kebahagiaan Fela adalah no 1 bagi Babas.
Mereka masuk ke restauran yang di pilih Fela tadi, lalu memilih tempat duduk yang sedikit ke sudut. Katanya agar tidak terlalu bising.
Setelah duduk, seorang pelayan menghampiri mereka untuk menanyakan pesanan mereka.
"Permisi tuan dan nyonya. Mau pesan apa? " tanya pelayan itu ramah.
"Beb, mau makan apa? " tanya Babas. Fela tampak berpikir pikir melihat semua menu yang menggugah selerah.
"Yaudah deh, saya pesan ini, ini dan ini yah" ujar Fela menunjuk 3 jenis makanan pada pelayan itu.
"Oh baiklah nyonya, tuan? " pelayan itu beralih pada Babas.
"Saya gak usah, pesanan istri saya saja" balas Babas. Ia tahu pasti Fela itu makannya tidak banyak. Pasti nanti ia juga yang akan menghabiskannya. Babas tidak akan mau masuk ke lobang yang sama kecuali lobang Fela, hihihihi.
"Baiklah nyonya dan Tuan. Silahkan tunggu beberapa menit untuk pesanan anda" pelayan itu membungkuk hormat, kemudian berlalu pergi.
"Kamu kok gak pesan sih beb, kalo tahu gitu aku pesen banyak" lirih Fela.
"Gak papa beb, nanti aku pasti akan kenyang" kekeh Babas. Alis Fela mengernyit.
"Maksudnya? "
"Aku tahu, makan kamu gak sebanyak makanan yang kamu pesan. Nanti ujung ujungnya aku yang makan, jadi dari pada mubazir mending aku gak usah pesan" jelas Babas. Fela menunduk malu, apa yang Babas katakan memang benar. Fela paling suka memesan semua makanan kesukaannya namun perutnya itu kecil, tidak bisa menghabiskan makanannya.
...----------------...
Brak~
"Aaakkk Siak!!! "
"Gadis bodoh itu sudah mengetahui semuanya!!! Tidak masalah, kau yang menginginkan hal ini terjadi! "
Mirna mengertakan rahangnya, matanya menatap tajam ke dapan. Ruangan kerja yang tadi rapih, kini sudah berantakan bak kapal pecah. Hal ini terjadi karena kekesalan yang ia rasakan setelah melihat video yang anak buahnya kirim. Di sana terlihat Lidia tersenyum bahagia bersama keluarga nya.