
Dua mobil balap sedang melaju saling memacu. Alviro terus menginjak pedal gas nya semaksimal mungkin. Ia tidak akan kalah dari Anji. Alvieo tidak akan membiarkanJihan jatuh ke tangan Anji.
"Lo harus hati hati Al" ujar Ringgo yang duduk di samping Alviro. Ia berfungsi sebagai pemberi arahan pada Alviro. Karena yang bisa balapan hanya mereka berdua.
"Gue gak akan kalah Go, Jihan bakal jatuh ke tangannya jika gue kalah! " balas Alviro tanpa menoleh, ia terus memutar stir ketika jalur berbelok.
"Gue percaya sama lo! " ujar Ringgo.
Di belakang mobil balap Alviro, Anji terus berusaha memacu nya. Ia harus memenangkan pertandingan ini. Membuat seorang Alviro bertekuk lutut di hadapannya. Terlebih lagi, Anji ingin merampas apa yang menjadi milik Alviro. Ia yakin, wanita yang bersama Alviro tadi sangat berharga bagi Alviro.
Jihan bergerak gelisah, ia khawatir terjadi sesuatu pada Alviro dan Ringgo. Jika di lihat dari sikapnya, Anji bukan lah pemain yang jujur.
"Udah ji, lo tenang aja. Alviro pasti menang kok! " ucap Liem menenangkan Jihan. Sejak tadi ia memperhatikan Jihan yang bergerak gelisah.
"Iya ji, Ringgo dan Alviro adalah pembalap profesional, jadi mereka tidak akan kalah" sahut Babas.
"Huaaa huaaa.... Kalo mereka kalah gimana dong? gue gak mau jadi pemuas mereka" rengek Fela mencak mencak.
"Udah sayang, gue gak bakal biarin hal itu terjadi" bujuk Babas.
"Ihhh lo sama aja seperti mereka! " ucap Fela mendorong Babas menjauh darinya.
"Fela, udah deh. Gak usah berisik. " serga Ria. Gadis ini terlihat tenang dan kalem, tapi bukan berarti dia tidak khawatir. Ria juga merasakan hal yang sama dengan Fela, namun, Ria sedikit lebih pintar dalam mengendalikan diri di bandingkan Fela.
Tangan Ria masih menaut dengan tangan Albi, seakan takut lepas, Ria menggenggam erat tangan Albi. Dapat pria itu rasakan jika Ria sangat khawatir sekarang.
Drrrrrtttttt..... Drrtttt.....
Eldi meronggoh saku jaketnya. Ia mengambil ponselnya yang bergetar, kemudian menggeser tombol hijau ke atas ketika melihat siapa yang menelfon.
"Halo El, lakukan rencana kita sekarang. Gue udah di jalur satu" titah Alviro di sebrang sana.
"Baik, pastikan kalian menang" balas Eldi.
Jihan yang mendengar pembicaraan Eldi langsung menoleh ke arahnya.
"Dari siapa? " tanya Jihan penasaran. Eldi tak menjawab, ia melirik Liem, Babas dan juga Albi. Mereka mengangguk tanda mengerti.
"Ihh kalian merencanakan apa? " tanya Jihan.
"Diam lah Jihan, nanti mereka dengar" bisik Eldi pelan, sembari melirik ke anak buah Anji yang berdiri di seberang mereka. Jihan dan kedua sahabat nya mengangguk mengerti. Meskipun mereka merasa sangat penasaran sekarang.
Eldi langsung mengetikan beberapa nomor di layar ponselnya. Kemudian secara diam diam, mengambil foto anggota Anji.
Senyum miring tercetak di bibir Eldi, ia segera mengirim foto dan alamat arena balapan liar kepada pihak kepolisian.
Sikap anak wolf biasa saja, mereka pura-pura acuh kemudian perlahan berbaur dan para penonton yang sama sama menunggu kedatangan Alvaro dan juga Anji.
Di dalam mobilnya, Alvido terus melaju. Ia tidak memberikan Anji kesempatan untuk melampaui nya. Karena jalur satu, maka akan sulit bagi Anji untuk memacu Alviro.
"Kena lo sekarang" gumam Alvin. Sekali tikungan lagi, mereka akan mencapai garis Finish. Alvin menginjak pedal gas semaksimal mungkin, membuat Anji sedikit tertinggal lebih Jauh.
"Tancap terus Al" Sorak Ringgo senang, mereka akan memenangkan pertandingan ini.
"Ayo" ucap Eldi memberi kode pada teman temannya. Dengan gerak cepat, mereka langsung masuk ke dalam mobil. Lalu menancap gas ketika memastikan Ringgo dan Alviro mencapai garis Finish.
Eldi mengendarai mobil Ringgo bersama Liem, dan babas. Sementara Albi, mengendarai mobil Fela bersama ketiga gadis itu.
"Kenapa kita harus pergi dari sini? bukannya kita harus menertawakan mereka" gerutunya Fela.
"Udah deh Fela gak usah ribut. Nanti kita tanyain sama Eldi" jawab Ria geram dengan sikap sahabat nya yang sejak tadi berisik.
"Benar Fela, semua ini adalah rencana Alviro. Mereka sengaja menerima tawaran Anji malam ini, karena ingin membuktikan siapa yang selama ini melakukan balapan liar. " jelas Albi.
Jihan mengangguk pelan, sejujurnya ia merasa senang melihat Alviro menang. Ia tidak sabar ingin berterimakasih pada Alviro.
"Trus kita mau kemana? " tanya Jihan.
Albi tak menjawab, ia hanya terus mengendarai mobil Fela menuju tempat yang sudah di janjikan oleh Alviro.
"Yah mulai bisu. Gue meragukan Ria sama lo" cibir Fela, membuat Ria langsung melotot padanya.
"Apa? " Balas Fela melotot juga pada Ria. entah mengapa Fela lebih berisik malam ini, ia lebih jutek dan kerjaannya menggerutuuuuuu terus.
...----------------...
"Kau ini, aku bilang sabar yah sabar. Ini tidak semudah yang kamu bayangkan! Semuanya akan rumit jika kau berada di sini sekarang! "
Mirna memijat pelipisnya, adiknya benar benar membuatnya pusing. Mirna memutuskan panggil begitu saja. Adiknya selalu saja mendesaknya, sementara Mirna belum menyelesaikan misi nya.
Mirna Adi utomo. Guru cantik dan terkenal killer berusia 35 tahun. Karena ambisi dan dendam yang ia miliki. Mirna rela menikah dengan seorang pria tua, kemudian membunuhnya secara perlahan. Sehingga seluruh harta pria itu jatuh ke tangannya.
Setelah suaminya meninggal, Mirna membawa lari adik nya ke London. Meninggalkan adiknya sekolah di sana. Sementara itu, Mirna memilih kembali ke Indonesia dan berusaha untuk menjadi seorang guru di salah satu sekolah ternama di kota itu.
Menjadi guru bukanlah tujuan utama baginya, itu hanya sekedar menutupi identitas nya yang sebenarnya. Karena Mirna berada di dalam kandang musuh.
Malam itu, Mirna menghabiskan malamnya di ruang kerjanya. Karena sebentar lagi ujian kelas tiga akan di mulai, maka Mirna harus mempersiapkan beberapa materi. Meskipun hanya kepalsuan, Mirna tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang guru.
"Kau akan menerima akibatnya!! " gumam Mirna menatap pada sebuah poster keluarga yang di tempel pada dinding ruang kerjanya. Poster itu terdapat puluhan goresan dan tusukan anak panah yang selalu Mirna lempar untuk melampiaskan kekesalannya.
Dulunya Mirna adalah anak dari pejabat tinggi, Keluarga nya sangat terhormat. Hingga semuanya hilang begitu saja. Tiba-tiba perusahaan papa nya bangkrut. Membuat Papa dan mama Mirna stres, kemudian memilih untuk mengakhiri hidupnya.
Tinggallah Mirna dan adiknya yang hidup sebatang kara. Sejak itu, Mirna bertekat akan membalaskan dendam papa nya pada seseorang yang membuat perushaan papanya bangkrut dan menghancurkan kehidupan Mirna.
...----------------...
Lea bergolek golek di atas ranjang kingsize nya, perkataan Advan ketika berada, di ruang tamu kemarin masih terngiang ngiang di telinga Lea.
"Ketos lebay itu serius gak sih? atau ia hanya mau mainin gue? " batin Lea penasaran.
Tringg~~
"Eh copot gila!! " pekik Lea secara spontan melempar ponselnya begitu saja. Lea kaget mendengar dering ponselnya.Lalu beberapa detik kemudian, ia kembali histeris, tersadar dengan apa yang telah ia lakukan.
"Ponsel gue!!! " teriak Lea histeris, ia kembali memungut ponselnya yang tergeletak di lantai, tepatnya di depan pintu kamarnya.
Ketika Lea hendak menunduk mengambil ponselnya, tiba-tiba seseorang lebih dulu memungutnya.
"Untung ponsel mahal, jika tidak. Sudah pasti rusak parah" gumam Arvan.
Lea mengerutkan keningnya, lalu mengucek ngucek mata. "Gue gak lagi mengkhayal kan? "
Lea masih belum yakin dengan pandang matanya, ia mendekati Arvan untuk memastikan ini imajinasi nya atau beneran Arvan.
"Ih Asli" Gumam Lea kaget. Matanya membulat ketika tiba-tiba wajah tampan Arvan begitu dekat dengannya. Aneh nya, bukannya segera menghindar, Lea malah diam membisu menatap wajah tampan Arvan.
"Lo lagi mikirin gue? " goda Arvan tersenyum menyeringai.
"Perasaan Kalo khayalan gak bisa ngomong deh" Gumam Lea lagi, ia masih mengira ini khayalan nya.
Arvan berjalan pelan, ia mengikis jarak di antara dirinya dan Lea. Hingga tinggal beberapa centi lagi, Arvan menundukkan kepala nya mensejajarkan dengan wajah Lea. Masih tidak ada respon dari garis itu.
Cup.
Seketika mata Lea membulat, ia sadar. Bahwa ini bukanlah khayalan.
"Sialan, ini beneran ketos alay" pekik Lea di dalam hati. Ia hendak mendorong tubuh Arvan jauh dari nya, tapi tangan Arvan lebih dulu menarik tubuh lea hingga menempel semakin rapat padanya. Arvan tersenyum dalam aksinya, sembari menekan tengkuk Lea untuk memperdalam kecupan nya.
Tangan Lea bergerak memukul mukul dada bidang Arvan, namun di tahan oleh Arvan. Ia tidak memberi Lea kesempatan untuk melawan, Arvan terus mengecapi bibir Lea hingga gadis itu lelah dan pasrah.
"Lea bodoh!! Lea bodoh!! Kenapa lo gak sadar kalau ini ketos lebay yang asli" maki Lea pada dirinya. Ia memejamkan matanya, membuat Arvan semakin leluasa menjalankan aksinya.
Awalnya Arvan hanya ingin mengerjai Lea, namun. Rasa manis bibir Lea membuat dirinya tidak mau berhenti hanya sekedar mengecup saja.
"Sial! bibirnya manis banget" batin Arvan. Ia tidak rela melepas bibir Lea begitu saja. Arvan ingin lebih dan lebih. Kini tangan Lea sudah mengalung di leher Arvan, membuat pria itu lebih leluasa menikmati bibir manis Lea
"Ahh.. " Lenguh Lea ketika Arvan menggigit kecil bibir bawah Lea, hingga Lea membuka bibirnya.
Adegan panas itu tidak berlangsung lama. Lea memukul mukul bahu Arvan, agar pria itu segera melepaskan pangutannya. Oksigen di paru paru Lea sudah menipis, ia merasa begitu sesak sekarang.
Keduanya terengah, Arvan masih memeluk pinggang Lea. Deru nafas Lea terasa meniup niup leher jenjang Arvan.
...----------------...