
Jihan duduk termenung di sebuah kamar hotel. Zidan, abang sepupunya membawanya jauh dari kota tempat tinggalnya. Hal itu sengaja di lakukan oleh Zidan agar Jihan merasa tenang dan bisa menenangkan dirinya dari kekalutan yang sedang melanda.
*Kenpa semua ini terjadi pada ku?
Kenapa?
Tidak cukup kah selama ini aku menderita*?
Jihan menghapus tetesan air mata yang terus saja mengaliri pipi mulus nya. Jihan merasa sangat hancur, hatinya sakit. Luka itu kembali terbuka.
Drrttttttt....
Drrrtt....
Ponsel yang tergeletak di atas kasur terus saja bergetar. Namun, pemiliknya tak berniat untuk melihat nya.
Jihan menatap kosong ke depan, Zidan memasuki kamarnya pun ia tidak menyadarinya.
Huff..
Helaan nafas Zidan semakin berat, adik nya masih seperti kemarin. Matanya, melirik ke nakas di samping ranjang. Makanan yang kemarin ia bawa masih belum tersentuh.
Perlahan, Zidan mendekati adiknya. Memeluknya dari samping.
"Dek, lo harus makan. Jika tidak lo bisa sakit"
"Gue gak laper" blas Jihan singkat.
"Lo harus makan dek, " bujuk Zidan lagi, ia harus bisa memaksa Jihan makan, walaupun hanya sedikit.
Zidan mengambil bungkusan makanan yang ia bawa, lalu memberikannya pada Jihan.
"Makan, gue gak akan pergi sebelum lo makan"
"Gue gak laper"
"Tapi lo gak makan sejak kemarin Jihan! gue gak mau lo sakit! " ucap Zidan sedikit membesarkan suaranya.
Jihan terisak, membuat Zidan langsung merasa bersalah karena sudah membentak adiknya.
"Maaf, bukan maksud gue membentak lo" sesal Zidan.
"Iya gue tahu, " lirih Jihan pelan.
"Tapi lo harus makan Jihan, ingat, kesehatan lo"
Drrrrttt...
Zidan menoleh ke ponsel Jihan yang bergetar, ia meraihnya dan melihat siapa yang menghubungi adiknya.
"Ini dari temen lo, mereka pasti khawatir sama lo"
Jihan menerima ponselnya yang diberikan Zidan, ia menatap layar ponselnya yang memaparkan nama Ria.
"Ayo angkat" desak Zidan karena Jihan tak kunjung menjawab panggilan itu. Jihan menghela nafas, lalu menggeser tombol hijau.
"Halo"
"Ya ampun Jihan, lo kemana aja? kita cape tau nyari nyari lo. Kita khawatir banget! "
"Iya gue baik baik aja" balas Jihan.
"Sekarang lo di mana? " terdengar suara telah berganti. Itu adalah suara Fela, si pengantin baru.
"Gue baik baik saja, kalian tenang aja" Jihan hendak memutuskan panggilannya, namun Zidan buru buru merebut ponsel itu.
"Kalian bisa kesini sekarang juga, nanti akan gue kirimkan alamat nya" ucap Zidan.
"Baik kak" sahut Fela di sebrang sana.
Panggilan pun terputus. Zidan memberikan ponselnya kembali ke pemiliknya.
"Ria dan Fela akan menemani lo, gue harap lo bisa semakin lebih baik" kata Zidan, lalu ia keluar dari kamar Jihan.
2 jam kemudian.
Ria dan Fela sudah sampai di hotel yang Zidan sebutkan. Beruntung mereka bisa mendapatkan penerbangan tercepat menuju ke kota itu. Jika tidak, mungkin mereka tidak akan bisa tiba di hotel itu secepat ini.
Sesuai dengan informasi yang Zidan berikan kepada mereka, Ria dan Fela mengetuk pintu salah satu kamar hotel.
Tuk!!!
Tuk!!
Tak ada sahutan atau gerakan orang membuka pintu. Fela kembali mengetuk nya. Hingga pintu terbuka begitu saja.
Jihan berdiri dengan tatapan kosong. Setelah membuka pintu ia langsung berjalan ke dalam, di ikuti olehRia dan Fela.
"Jihan" Fela memeluk Jihan.
"Lo pasti hancur banget, maafin kita gak ada di sisi lo ketika lo dalam keadaan terpuruk" Ria ikut memeluk fela yang tengah memeluk Jihan.
"Lo jangan sedih lagi Jihan, kita ada buat lo"
"Iya Jihan, lo harus bangkit"
Jihan menggeleng, air mata terus mengaliri pipinya.
"Gue gak tahu lagi, gue bingung Fela Ria. "
"Di saat gue mulai membuka hati, di saat gue menutup pahit kenangan lama. Di saat itu pula gue kembali merasakan sakit"
"Apa gue gak pantas bahagia? " lirih Jihan. Ria dan Fela menggeleng.
"Lo gak boleh berpikir seperti itu Jihan, lo pantas bahagia, lo hanya butuh waktu untuk memahami semua ini. Lo harus berpikir menggunakan hati lo Jihan" Fela memegang kedua bahu Jihan, menatap lekat ke mata gadis yang tidak henti hentinya mengeluarkan air mata.
"Jihan, lo harus liat realita yang lo jalani selama ini. Lo harus bandingin dari sikap Alvaro sama lo"
Jihan terdiam, alisnya menaut. Otaknya mulai mencerna apa yang baru saja Fela katakan.
Ria menarik ujung baju Fela agar ia berhenti berbicara sebelum ia keceplosan mengatakan semuanya. Ria tidak mau Jihan salah paham kepada mereka yang sudah mengetahui sejak awal siapa Alvaro.
"Maksud lo apa Fela? " menghapus air matanya.
"Umh.. Ya-menurut Gue Alviro sangat menyayangi lo, gue gak melihat adanya niat jahat atau ingin menyakiti darinya" Fela terbata.
Alviro memang tidak berniat jahat kepadanya, namun apa yang di lakukan oleh Alviro di masa lalu benar-benar membuat hati Jihan terluka. Ia sudah sangat mencintai Alviro dengan seluruh hatinya, menyayangi nya tanpa rasa meminta balasan. Namun Alviro dengan seenaknya mengecewakan nya.
Tidak, Jihan tidak menerima semua ini. Rasa sakit itu terbuka kembali.
"Gue mengartikan lain ucapan lo Fel" lirih Jihan, tangannya menjauhkan tangan Fela yang memegang bahunya.
Ria memejamkan matanya, Fela menggeleng, semua ini bukan seperti yang Jihan pikirkan.
"Gue merasa kalian seperti sudah mengetahui siapa Alviro sebenarnya? " Kata Jihan menatap lekat Fela dan Ria. Keduanya bungkam.
"Jawab gue Fela, Ria"
"Huh.. " Melihat kedua sahabat nya tidak bisa menjawab pertanyaan nya, menandakan bahwa semua yang ia pikirkan benar.
"Gue gak tahu harus ngomong apa" air mata kembali membanjiri pipi tembam Jihan. Ia kembali merasakan kekecewaan yang mendalam.
"Gue pikir kalian adalah sahabat sejati gue, yang rela melakukan apapun demi gue. Ternyata gue salah"
"Gak Jihan, bukan seperti itu" potong Ria.
"Bukan apa?? Lo dan Dia tahu siapa sebenarnya pria itu! tapi, apa yang kalian lakukan?? "
"Apa?? " Jihan berdiri, menatap nya kang kedua sahabat nya sembari menunjuk pintu.
"Keluar!! gue gak mau ketemu sama kalian lagi! "
"Ji, semuanya bisa kita jelasin" Fela mencoba untuk membujuk Jihan, namun gadis itu sudah terlanjur kecewa. Ia tidak mau mendengar apapun lagi dari mereka.
"Keluar!!!! " teriak Jihan. Mau tidak mau Fela dan Ria keluar dari kamar Jihan.
"Baiklah, kami keluar. Tapi lo harus ingat, kita sahabat, dan kami berdua akan melakukan apapun untuk lo"
Jihan memalingkan wajahnya, ia tidak mau mendengar apapun lagi.
Setelah kedua temannya keluar dari kamarnya, Jihan pun ambruk di lantai. Tangisnya semakin pecah, ia merasa hidup sendiri saat ini. Semua orang sudah mengecewakan nya. Semua orang tahu siapa Alviro. Namun, tidak ada yang memberi tahunya. Malam itu kembali Jihan habiskan dengan menangis hidupnya.
Di lorong hotel, Fela dan Ria berjalan dengan lesuh. Zidan yang baru ingin ke kamar Jihan, ia kaget melihat kedua sahabat Jihan malah berada di luar dengan ekspresi sendu.
"Loh, Fela, Ria. Kalian kok ada di luar? Jihan ada di kamar kan? "
"Ada kak, Jihan mengusir kita" jawab Ria.
Zidan Kaget, kenapa Jihan malah mengusir kedua sahabat nya.
"Jihan sudah mengetahui bahwa kita udah tahu siapa Alviro sejak lama." Lenguh Fela.
Mata Zidan melotot, "Trus bagaimana? "
"Yah dia sangat marah, Jihan merasa sangat kecewa sama kita"
"Astaga, kenapa sampai seperti ini. Jihan pasti akan merasa sangat tertekan dan berpikir semua orang tidak ada yang menyayanginya. "Pikir Zidan khawatir.
" Baiklah, kalian boleh istirahat. Pilih saja kamar yang ingin kalian tempati. Nanti kalian akan di arahkan oleh pelayan"
Ria dan Fela mengangguk, kemudian langsung menuju ke meja resepsionis untuk melakukan pemesanan kamar.
Sedangkan Zidan pergi ke kamar Jihan untuk memeriksa keadaan adik sepupunya itu.
Ketika membuka pintu yang tidak terkunci oleh Jihan dari dalam, Mata Zidan seakan meloncat dari tempatnya.
"Jihan!!!!!! "
...BERSAMBUNG...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...