I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 132



"Sial! Ternyata gadis itu masih selamat! " umpat Anji. Ia sudah mencoba mencari tahu tentang Lidia. Namun seakan ada tembok, gadis itu sangat sulit di lacak.


Sekarang tiba-tiba ia dengan mudah nya mendapat kan infitentang gadis itu. Setelah pulang dari rumah sakit, Anji merasa sangat bahagia karena ia melihat Jihan di rumah sakit.


"Gue pasti akan mendapatkan lo Jihan! " ucap Anji penuh tekat, masih terngiang di benaknya bagaimana rasanya mencumbui gadis itu.


"Boss" Salah satu anak buah Anji datang menghadap, ia membawa sebuah map yang ntah apa isinya.


Anji menatap anak buahnya dengan tatapan tidak bersahabat.


"Ada apa? "


Anak buah nya langsung mendekat dan memberikan map coklat itu ke hadapan Anji.


"Semua tentang gadis itu ada di dalam map ini Bos" jelas anak buahnya.


Anji langsung mengambil map itu dan membuka nya. Seketika senyum licik terbit di bibir nya.


"Bagus, ini yang selalu aku tunggu dari kalian! "


Anak buah Anji langsung bernafas lega, mereka berhasil membuat mood boss nya kembali pulih.


"Siapkan semuanya, kita akan menyerang gadis itu" titah Anji. Ia merasa senang karena Lidia merupakan adik dari Mirna yang sudah di hancurkan oleh Alviro, musuh bebuyutannya.


Brak!


"Anji!!!! " Seorang pria baru baya menghempaskan pintu ruangan Anji, ia terlihat sangat marah sekarang.


Anji dan anak buah nya terperanjat marah.


"Ada apa papa? " tanya Anji ketakutan, namun ia berusaha menyembunyikan nya.


"Ada apa, ada apa. Berapa kali papa bilang sama kamu. Jangan ganggu keluarga Rafier lagi, mereka terlalu kuat untuk di lawan! "


Anji tidak setuju dengan papa nya, ia merasa kelompok papa nya lebih kuat dari mereka.


"Aku tidak setuju, aku yakin anak buah yang sudah aku didik lebih kuat dari mereka"


"Anak bodoh! " papa Anji langsung memukul Anji dengan kuat.


"Papa kenapa sih, aku tidak salah kan" Anji terus menghindar setiap pukulan dari papanya.


"Karena akibat perbuatan mu, Semua perusahaan mencabut investasi nya pada perusahaan kita!.


Kamu tahu. Perusahaan kita terancam bangkrut! "


Anji tercekat, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja di katakan oleh papa nya.


"Pa, bukannya papa memang ada masalah dengan mereka"


"Iya, papa memang membenci mereka. Tapi papa tidak sebodoh kamu! " papa Anji menatap marah pada putranya. Ia sudah mengajarkan segala trik agar putra nya mengerti bagaimana cara menghadapi musuh.


"Sudah lah! aku peringatkan kamu agar tidak berbuat gegabah lagi! "


Anji mengangguk pelan, meskipun ia tidak sependapat dengan papanya.


Setelah papa nya pergi, Anji tetap memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk menjalankan misi yang ia perintah kan.


"Boss, apa kita tetap akan melakukan nya? "


"Tentu saja, Lidia tidak ada hubungan nya dengan keluarga Rafier" jawab Anji yakin.


Ia harus membalaskan dendam nya pada Lidia yang membuat dirinya hampir saja terbunuh.


Sementara itu, di waktu yang sama dengan tempat yang berbeda. Alviro dan Zidan merencanakan sebuah perangkap untuk menghabisi Anji.


Mereka sudah memberikan peluang pada Anji untuk mendapatkan informasi tentang Lidia.


"Gua yakin, mereka sudah masuk ke dalam perangkap kita" ujar Alviro.


"Tentu saja, bajingan bodoh itu tidak akan menyadari semua ini" sahut Zidan.


Jihan bergelung ketakutan di atas ranjang dengan Lea memeluk diri nya. Rencana ini di susun sangat rinci, tidak ada cela bagi kesalahan untuk bernaung.


Burhan dan Brian sudah mematahkan langkah papa Anji. Dengan sengaja Brian membuat masalah sehingga seluruh perusahaan memulai hubungan dengan keluarga Anji.


"Mas... Apa ini akan baik baik saja? " ucap Tia khawatir.


"Tidak apa apa sayang, kita semua akan baik baik saja. Dengan kita berkumpul di sini, kami bisa fokus di satu titik saja" balas Burhan.


Semua keluarga sudah di kumpulkan di salah satu apartemen yang tidak di ketahui oleh siapa pun jika itu adalah milik keluarga Rafier.


"Baiklah, kalau begitu kami pergi sekarang " kata Alviro.


"Hati-hati nak" ujar Leni.


Alviro mengangguk, ia menghampiri Jihan dan memberikan kecupan hangat kepadanya.


Begitu juga dengan Zidan, ia melakukan hal yang sama pada Lidia.


"Kamu hati hati yah" pesan Lidia memeluk Zidan.


"Iya sayang, doakan aku"


Lea melepas pelukan adiknya, kemudian beranjak memeluk Arvan.


"Tolong selamat demi aku" lirih Lea.


"Tentu saja, tidak akan ada yang berani menyentuh ku. Kecuali kamu" kata Arvan menolak hidung Lea.


"Jangan sombong! " decak Lea kesal.


"Baiklah kami akan pergi sekarang" seru Alviro menatap semua keluarga nya.


Yang ikut pergi menangkap Anji adalah Alviro, Zidan dan Arvan. Mereka berjuang demi keluarga yang sangat mereka cintai.


Selain pasukan dari keluarga Rafier dan Nugrah, ada pasukan lain yang ikut membantu. Yaitu dari keluarga rasya.


~.


Di sebuah rumah, sesuai yang sudah di beberkan anak buah Alviro, agar Anji terpancing dan mengejar Lidia di sana.


Lokasinya berada di pinggir kota, sehingga jika terjadi pertempuran antar geng Mafia tidak terlalu di ketahui oleh masyarakat. Apalagi perkarangan perkarangan nya luas.


Di sana Alviro dan yang lainnya masuk ke dalam sebuah kamar. Mereka menatap layar monitor yang merekam semua lokasi yang ada di rumah itu.


Cukup lama mereka menunggu, akhirnya sebuah mobil masuk ke perkarangan rumah itu. Senyum miring tercetak di bibir Alviro. Ia berhasil menjebak Anji masuk ke dalam perangkapnya.


Dari layar monitor itu terlihat jelas Anji mulai masuk ke dalam rumah yang memang sengaja tidak di kunci.


"Oke, bersiap lah semuanya! " seru Alviro.


Ketika Anji menaiki anak tangga, dan kemudian mencapai lantai 2. Ketika itu lah, pintu masuk rumah tertutup dengan sendirinya.


Brak~


"Siaga!! " teriak Anji. Mereka langsung bersikap was was.


"Ini jebakan bos!!! " kata salah satu anak buah Anji yang melihat banyak nya orang keluar dari setiap ruangan di lantai dua itu.


"Sial! " umpat Anji. Ia terlanjur membawa sedikit anak buah, karena ia pikir gadis itu tinggal sendiri dengan anak buah yang sudah musna oleh Mirna.


Anak buah Alviro dan Zidan mulai mengepung anak buah Anji yang hanya berjumlah 30 orang.


Prok!!!!


Prok!!!


Anji memutar tubuhnya, ia menatap Alviro yang muncul di balik deretan anak buahnya. Bukan hanya Alviro, Ada Arvan dan juga Zidan. Mereka tersenyum sinis pada Anji.


"Cih, ternyata pria pengecut ini" decak Anji. Ia berusaha tidak terlalu panik, karena ia tidak boleh terlihat takut pada Alviro.


"Lo itu yang pengecut, berani nya main di belakang! " hentak Alviro penuh Amara.


"Jadi lo sudah tahu, hmmm... Bagus juga jika lo sudah tahu. Gimana? apa istri tercinta lo itu nyariin gue?


Apa dia ketagihan bermain bersama gue? "


Anji terus memancing emosi Alviro.


"Diam kau biadap!!!!! " teriak Alviro mengangkat senjata nya.


"Akan gue pastikan, hari ini adalah hari terakhir lo liat matahari!! " tekan Alviro menahan gejolak emosi nya.


Dor!!!


Dor!!


Dengan dua kali tembakan di udara dan ke kaki Anji, sama dengan pernyataan bahwa pertarungan telah di mulai.


Anak buah Alviro langsung mengangkat senjata dan mulai membidik setiap anak buah Anji yang bergerak untuk melawan.