
Di rumah sakit, Jihan terbaring lemah. Rasa takut masih menghantuinya. Setelah di pindahkan ke ruangan VVIP, Jihan sudah sempat sadar, namun suster kembali memberinya suntik penenang. Karena Jihan histeris dan ketakutan.
"Jihan benar-benar syok karena kejadian ini" gumam Lea menatap adiknya yang terbaring di atas brankar. Teman teman Jihan dan juga anak Wolf sudah pulang sejak tadi. Di rumah sakit hanya ada keluarga Jihan dan Alviro saja.
Lea terus duduk di sisi samping kiri Jihan bersama bundanya, mereka tak henti hentinya meneteskan air matanya.
Sementara Alviro hanya bisa menatap Jihan dari jauh, Lea tidak membiarkan Alviro mendekat pada adiknya.
"Kalian bertiga, istirahat lah. Besok kalian akan sekolah. Apalagi Arvan dan Lea, kalian besok ada ujian" ujar Brian kepada mereka.
"Alviro akan tetap di sini menjaga Jihan" jawab Alviro kekuh dengan pendirian nya. Walaupun Lea sudah mengusir Alviro dari sana.
Mendengar jawaban Alviro, Lea langsung bangkit dari duduk nya. Ia menghampiri Alviro, di tariknya tangan Alviro dan di seret nya ke arah pintu ruangan Jihan.
"Gue kan udah bilang sama lo!!! Jangan deketin adik gue lagi!!!!! " teriak Lea, membuat Tia langsung mendekati putrinya.
"Sayang, ini rumah sakit. Jangan berteriak"ujar Tia menenangkan putri sulung nya.
" Gak bun, Lea gak mau Jihan kenapa kenapa hanya karena Alviro mendekati nya!! sudah cukup selama ini Jihan jauh dari kita, sekarang lihat! Jihan mendapat bencana karena pria itu! " tunjuk Lea pada Alviro.
Leni memeluk suaminya, mereka tidak bisa berbuat apa apa lagi. Semua ini memang kesalahan dari keluarga nya, Jihan di celaka itu Mirna karena gadis itu merupakan kelemahan Alviro.
"Gue minta maaf Lea, tapi gua bakal jaga Jihan"
"Sudah cukup!, Gue gak mau denger apapun dari lo! Kakak Abang dama saja! kalian berhenti mendekati kami!! " teriak Lea sembari mendorong Alviro lagi.
"Lea, lo gak boleh gini dong" protes Arvan, ia berjalan mendekati Lea. Kemudian berdiri di depan Lea yang menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.
"Kenapa? lo keberatan? atau lo, belum puas lihat kami menderita? "
Arvan tak bisa berkata apa apa lagi, Lea benar-benar tersulut emosi.
"Jawab!!!! Apa lo belum puas lihat kita menderita Hu!!!! jawab gue!!!! " Lea mencengkram kerah baju Arvan, matanya mengkilap.
"Lo dan adek lo, silakan pergi dari sini!! gue gak mau lihat kalian mendekati keluarga gue lagi!!! "
"Lea... " lirih Tia agar menghentikan ucapannya. Namun Lea tida memperdulikan nya, ia malah mendorong Arvan pada Alviro.
"Pergi sekarang!!!! " usir Lea.
"Lea!! " bentak Burhan, ia sudah tidak tahan lagi melihat sikap anak nya.
"Kenapa Ayah? ayah mau membelanya. Ayah tidak tahu, gara gara dia Jihan celaka
" Balas Lea.
Burhan menghela nafas, ia tidak tahu apa yang akan ia katakan lagi untuk menenangkan putrinya.
"Sudahlah Al, Ar, kita pulang dulu. " bujuk Leni.
"Tidak Ma, Al akan tetap ada di sini" jawab Alviro lagi.
"Gue bilang pergi yah pergi!!! dasar Bajingan!! " teriak Lea semakin emosi. Ia hendak menghajar Alviro lagi.
"Sudah Lea, ini rumah sakit. Adik mu juga sedang istirahat! " ucap Tia.
Brian dan Leni membawa kedua putra nya ke luar dari ruangan Jihan di rawat. Meskipun secara paksa, tetapi Brian dan Leni berhasil membawa keduanya.
Setibanya di luar, Alviro malah duduk di kursi tunggu, ia tidak akan mau di bawah pulang sebelum ia bisa bicara dengan Jihan.
"Alviro! kamu jangan keras kepala, keadaan sekarang sedang buruk, tolong dengerin mama Alviro! " ucap Leni dengan nada memohon. Ia tidak mau Lea kembali mengamuk dan mengusir mereka.
"Ia Al, besok kita akan kesini lagi" sahut Arvan.
"Tidak, gue akan tetap di sini" tolak Alviro.
"Alviro! jika kamu tetap bersikap seperti ini, kamu akan kehilangan kesempatan tetap bersama Jihan. Biarkan mereka tenang dulu" ujar Brian angkat bicara. Sikap keras kepala putranya membuat kepalanya sakit.
"Tidak pa, Al mau jaga Jihan di sini"
"Tapi Pah, "
"Tidak ada tapi tapi. Sekarang kita pulang, urusan menjaga Jihan. Anak buah papa yang akan menjaga di rumah sakit ini! " ujar Brian lagi. Mau tidak mau Alviro terpaksa menuruti apa yang papanya katakan. Memang benar, tubuh Alviro juga terasa remuk sekarang. Lengan sebelah kanan Alviro terasa nyeri, ketika hendak menghidupkan lampu tadi, salah satu anak buah Mirna berhasil menggoreskan pisaunya ke lengan Alviro.
"Ayo nak pulang" ajak Leni, ia menggandeng kedua lengan putra nya.
...----------------...
Ke esokan harinya, SMA Arya Jaya mulai heboh dengan berita yang sudah tersebar ke seluruh penjuru sekolah.
"Gue gak nyangka yah, bu Mirna tega melakukan hal itu"
"Iya, ada hati yang busuk di balik wajah cantiknya"
Sekelompok siswa siswi membicarakan tentang berita yang tersebar. Salah satu dari mereka tersenyum lebar ketika Lika dan kedua temannya melewati mereka.
"Oh astaga, bukan hanya bu Mirna yang lebih hot guys" ujar siswi itu sengaja mengeraskan suaranya ketika Lika melewati mereka.
"Apaan tu... " sahut temannya yang mengerti apa yang di maksud oleh siswi itu.
"Kepala sekolah kita di pecat"
"What?? kok bisa? " ucap mereka pura pura kaget. Lika yang mendengar ucapan mereka langsung menghentikan langkahnya. Lalu ia berbalik menghadang sekelompok siswi yang membicarakan ayahnya.
"Kalian gak punya kerjaan lain apa? selain membicarakan orang lain" bentak Lika.
"Aduhhh Lika lika, lo pikir posisinya sudah sama? sekarang lo bukan siapa siapa lagi" balas mereka menata Lika dengan tatapan mengejek. Dulu mereka hanya menahan geram, karena Lika berkuasa atas ayahnya yang menjadi kepala sekolah di sekolah ini. Namun sekarang, ayah lika sudah di pecat. Ayahnya ternyata korupsi dan juga melalaikan tugasnya.
"Cih, sampah seperti lo lebih baik pergi dari sini! " ucap mereka sinis. Lika tak bisa menjawab apa apa lagi, ia lebih memilih pergi dari sana.
"Lika?!! " teriak Lilie dan Jejei mengejar lika.
"Awas kalian!!!! " ancam Lilie sebelum berlalu mengejar Lika.
"Dulu lo memeng kuat, tapi sekarang, lo hanya sampah! " gumam mereka menatap ke pergian Lika dan kedua temannya.
Sementara itu Fela dan Ria duduk di kelas sembari menatap bangku Jihan. Mereka merasa rindu dengan Jihan, walaupun baru kemarin mereka bertemu.
"Gue kasihan banget sama Jihan, nasibnya sangat buruk. Hidupnya sudah tidak beruntung sejak kecil" Gumam Fela.
"Aduh Fela, lo gak boleh ngomong gitu" sela Ria.
"Tapi Ria, semua itu memang benar. Dia sejak dulu udah merasakan kepahitan, dan sekarang malah merasakan trauma. Gue sangat kasihan sama dia" ujar Fela lagi.
"Yah, mau bagaimana lagi Fela, sudah nasibnya begono" sahut Albi. Membuat kedua gadis itu langsung mendongak padanya. Entah sejak kapan dua cunguk itu ada di depan mereka.
"Udah ah, itu gak penting" balas Babas.
"Nanti kita mau jenguk Jihan ke rumah sakit, apa kalian mau ikut? " ajak Albi.
"Tentu saja, kami pasti mau lah" jawab Ria cepat. Albi dan Bahwa tersenyum lebar, mereka sudah seperti sahabat lama. Genk Jihan dan anak anak Wolf sudah bersatu, meski pun ketua mereka masih sering bertengkar.
Ketika mereka sedang membicarakan tentang menentukan waktu ke berangkatkan ke rumah sakit, Tiba-tiba Cio menghampiri mereka. Raut wajah Cio terlihat sangat murung. Ia menyesal sudah menerima tawaran Mirna untuk menjadi anak buahnya. Cio terpaksa menerima nya karena Mirna menawarkan uang dan juga beasiswa untuk dirinya. Cio membutuhkan uang untuk keperluan sekolah adik adanya dan juga buaya pengobatan ibunya yang sedang sakit.
"Heh mau apa lo! " bentak Ria.
"Tau ih, belum puas lo mau celakain Jihan! " sambung Fela.
"Gue cuma mau tahu kabarnya Jihan itu aja, bukan mau mencelakai nya" balas Cio menunduk, ia tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatap mereka.
"Lo gak perlu tahu keadaan Jihan sekarang, gue peringatkan sama lo untuk menjauh dari Jihan dan kita semua! " ucap Babas memperingatkan cio.
"Tapi gu.. "
"Udah lah, gue dah muak liat muka lo! " bentak Ria sembari mendorong tubuh Cio.
...----------------...