
"Berhenti!!!! "
Deg.
Alviro dan Jihan langsung menghentikan langkah kakinya. Secara perlahan mereka berbalik, menatap Arvan yang berdiri bersama dua orang anak OSIS yang ikut patroli bersamanya.
"Kalian lagi! " Arvan mendengus pelan, ia sudah bosan menangkap kedua adiknya. Ia pikir setelah menikah, Alviro maupun Jihan tidak akan terlambat lagi.
Namun, apa yang mereka harapkan pupus seketika. Tukang telat menikah dengan tukang telat. Jika dibuatkan rumus untuk mereka berdua. Alviro + Jihan \= telat berjamaah. Tidak akan ada yang berubah di antara keduanya.
"Kok kak Arvan masih masuk sih, Ujian kan sudah selesai" kata Alviro.
"Itu bukan urusan lo. Sekarang, silakan kelilingi lapangan basket luar sebanyak 50x" titah Arvan.
"What? " mata Jihan melebar.
"Kak, mikir dikit dong. " protes Alviro.
"Protes, hukuman di tambah" timpal Arvan. Kedua anak OSIS lainnya hanya menggeleng pelan.
"Udah udah, ayo"
Alviro dan Jihan langsung berlari menuju lapangan basket. Mereka segera melaksanakan hukuman dari Arvan, sebelum pria es batu itu kembali menambah nya.
Banyak siswa siswi mengintip di balik jendela, hanya untuk melihat Jihan dan Alviro.
"Gila, king and queen telat bersamaan"
"Ya ampun, mereka itu pasangan yang serasi gak sih. "
"Gue yakin, mereka jika nikah bakalan punya anak yang lucu lucu banget"
Setiap siswa siswi membicarakan Alviro dan Jihan yang sedang ke kelelahan. Masih tersisa 20 putran lagi.
Dari kelas 2 IPA satu Ria dan Fela menepuk jidat menonton Jihan dan Alviro dari dalam kelas.
"Gue pikir bakalan seperti Negatif kali negatif jadi positif. Eh malah jadi Negatif tambah Negatif. Hasilnya tetap Negatif! " ucap Fela.
"Behh ayang gue pinter banget" sahut Babas, ia menatap kagum pada Fela. Namun, malah membuat Fela risih.
"Emang lo pikir gue bodoh. Gitu? "
Babas gelagapan, "Gak gitu sayang, gue gak maksud begitu"
"Udah ah, pergi sana! " usir Fela.
"Selamat siang semua nya! " Sapa pak Kio memasuki kelas. Babas langsung beranjak ke tempat duduknya. Ia menyiapkan seluruh siswa siswi untuk memberi hormat ke pada guru.
"Baik anak anak, Hari ini kita tidak perlu berganti pakaian, karena kita bakalan masuk ke materinya saja" jelas pak Kio. Semua murid mengangguk dan fokus memperhatikan padanya.
"Sebelum kita mulai masuk ke materinya, bapak mau memperkenalkan seseorang pada kalian"
Seketika siswa siswi berbisik bisik dan mengungkap rasa penasaran. Siapa yang akan pak Kio perkenalkan kepada mereka.
"Masuk! " titah pak Kio. Seseorang yang sudah berdiri di luar pun masuk ke dalam kelas. Ia berdiri di samping pak Kio, senyuman nya melebar menatap pada seluruh teman teman barunya.
"Wahh, cantik banget! "
"Iya, cantik banget yah"
"Cihuiiii, semakin semangat ni gue! "
Godaan demi godaan di lontarkan oleh siswa dari bangkunya. Mereka menatap kagum pada gadis cantik yang berstatus siswi baru di sekolah mereka.
"Siapa dia? " gumam Fela.
"Kok gak ada info nya? " bingung Ria.
"Perkenalkan dirimu! " titah pak Kio. Gadis itu pun tersenyum dan menunduk memberi hormat pada pak Kio. Lalu, gadis itu mengedarkan pandangan nya menyapu seluruh isi kelas.
"Halo semuanya, perkenalkan nama aku Lidia. Pindahan dari London. Senang bertemu dengan kalian! " Lidia kembali menunduk hormat.
"Seperti nya baik, murah senyum lagi"
"Bener banget, walaupun tak secantik jihan! "
Lidia melirik siswi yang baru saja membandingkan dirinya dengan wanita lain. Ada rasa marah yang ia rasakan, namun Lidia harus menahannya.
"Kamu silakan duduk di.... " pak Kio mencari tempat yang kosong untuk Lidia.
"Di samping ringgo saja" putus pak Kio.
"Baik Pak terimakasih" ucap Lidia sopan, lalu beranjak ke meja yang pak guru tunjuk tadi.
"Maaf Pak telat! " Alvido dan Jihan masuk ke dalam kelas, nafas mereka sama sama memburu.
"Kalian lagi! " dengus pak Kio, ia tidak berani memarahi keduanya. Karena pemilik sekolah ini adalah ayah Alviro. Walaupun sebenarnya Brian tidak pernah meminta mengkhususkan putra putranya di sekolah ini.
"Akhirnya gue bisa lihat lo lagi" batin Lidia.
"Lo jadi duduk gak! " ujar Ringgo membuyarkan lamunan Lidia.
"Eh iya" Lidia langsung duduk di bangkunya. Ia tersenyum Rama kepada Ringgo dan anak anak wolf lainnya yang tampak biasa saja kepadanya.
"Sebuah keberuntungan, gue duduk di dekat teman teman Alviro" pikir Lidia tertawa senang.
Sementara itu, Jihan dan Alviro duduk bersebelahan di meja mereka sembari mengipas kipas kan buku tulisnya. AC yang ada di kelas tidak terasa apa apa. Aroma parfum yang sudah Jihan semprot, kini telah di gantikan oleh Arima acem keringat yang keduanya keluarkan.
Fela menoleh ke belakang, ia melirik Jihan dengan tatapan yang sulit di artikan. Alviro yang juga melihat nya, ikut bingung.
"Kenapa wajah lo? " tanya Jihan.
"Kalian udah lakuin belum? "tanya Fela tanpa filter.
" Lakuin apa? " tanya Jihan Pura-pura tidak tahu.
"Fela!!!!! ngapain kamu menghadap ke belakang? apa guru mu ada di belakang? " bentak pak Kio.
"Enggak pak, maaf" jawab Fela takut.
Lidia mencuri curi pandang ke arah Alviro, gerakannya begitu nyata. Sehingga Ringgo bisa membaca karakter gadis itu.
"Dia sangat berbahaya" pikir Alviro. Ia mengeluarkan ponselnya, kemudian membuka akun whatsapp dan mengirim sebuah perintah pada Eldi.
Ringgo_Wolf
[Cari tahu tentang gadis ini, gue merasa dia sangat berbahaya]
"What? " kaget Eldi membaca pesan dari Ringgo, ia juga merasakan ada yang aneh pada gadis itu. Tapi ia berusaha untuk mengabaikannya, apalagi cara gadis itu melihat Alviro.
Setelah dua jam belajar mendalami materi bersama pak Kio, akhirnya bel istirahat pun berbunyi.
"Yeyy... " Sorak Fela.
"Yuk ji, ke kantin. Pengantin baru harus mentraktir" ujar Babas dengan suara yang sangat pelan mengatakan pengantin barunya.
"Eh gak gak, gak ada perjanjian nya! " tolak Jihan.
"Ih, kok lo pelit sih Ji. Padahal ni yah, harta kalian tu udah berlimpah ruah. Bersedekahlah pada kamu! " sambung Albi membantu Babas. Mereka bertos riah. Jika sudah soal makan dan gratis, Albi dan Babas sangat kompak.
Mereka bersiap hendak beranjak ke kantin, tiba-tiba si anak baru menghampiri mereka.
"Hai, apa kalian mau ke kantin? " tanya Lidia sopan.
"Menurut lo? kita mau ke pasar gitu? " balas Fela jutek. Dari awal ia sudah tidak suka pada Lidia.
"Eh Fela gak boleh gitu! " tegur Jihan. Ia tersenyum pada Lidia.
"Lo anak baru yah, gue Jihan. Dan ini kedua teman gue Ria dan Fela" ucap Jihan memperkenalkan diri dan juga teman temannya Tidak ada rasa curiga sedikit pun di pikiran Jihan. Ia terlalu polos untuk menilai seseorang.
"Salam kenal Jihan" bakal Lidia tersenyum.
"Udah ah yuk" ajak Fela menarik lengan Ria dan Jihan. Sementara anak wolf, hanya mengekori ketiga gadis itu.
Alviro yang sejak tadi diam melirik aneh pada anak baru itu, ia menaruh curiga. Alviro merasa pernah melihat gadis itu, tapi dimana? ia lupa.
"Semakin menarik, gue harus segera melancarkan rencana pertama" batin Lidia menatap kepergian segerombolan teman sekelasnya.
Kini kelas telah sepi, hanya ada Cio dan Lidia di sana.
Cio menghampiri Lidia yang hendak keluar dari kelas, ia mengetahui siapa gadis itu. Bu mirna pernah tidak sengaja melakukan video call di depan Cio.
"Lo, Adeknya bu Mirna kan! " ucapan Cio menarik lengan Lidia.
Lidia pun kaget, mengapa cowo cupu ini bisa mengetahui penyamaran nya.
"Lo gak usah sok tahu deh! " balas Lidia ketus.
"Lo gak akan bisa melakukan apapun di sini! gue bakalan bilang sama Alviro dan Jihan! " ucap Cio hendak keluar dari kelas. Ia berniat akan mencari Alviro dan mengatakan kebenarannya.
"Jangan coba coba! " teriak Lidia mulai marah! "
"Lo pikir gue takut? " balas Cio berani. Meskipun penampilan nya sangat norak, akan tetapi Otak Cio sangat cerdas.
"Benarkah? " Lidia tersenyum menyeringai, satu tangannya memilin milik rambutnya yang tergerai, ia mendekat pada cio.
"Bagaimana jika di balas dengan kematian ibu dan adik lk? " ancam Lidia dengan senyum liciknya. Cio tak lagi bergeming, lututnya seketika bergetar ketakutan. Ia tidak mau keluarga nya hancur, tapi cio juga tidak mau berbuat jahat lagi.
"Jika lo bisa membungkam mulut lo dengan baik, maka keluarga lo akan selamat. " Lidia menepuk bahu Cio pelan, ia mulai ragu sekarang. Antara benda mahal dan keluarga nya.
...----------------...