I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 30



Alviro dan anak anak wolf berlari ke sana kemari mencari keberadaan Jihan. Mereka sudah mencari ke seluruh penjuru sekolah, namun Jihan tetap tidak ada di mana pun.


Fela dan Ria tak henti hentinya memanggil nama Jihan. Merka sangat khawatir dengan keadaan Jihan, berbagai kemungkinan menghantui pikiran mereka.


"Sebenarnya, Jihan kemana sih? semua tempat sudah kita cek, tapi Jihan tetap tidak ada" ujar Eldi.


"Coba telfon kakak nya deh, siapa tau Jihan lagi sama kakak nya" usul Ringgo.


Fela dan Ria mengangguk setuju, mereka hendak menghubungi Lea. Namun, panggilan seseorang membuat pergerakan Ria terhenti.


"Hai Ria, Fela. Kalian gak balik? atau gak denger pengunguman? " Lea berdiri di hadapan semua teman teman Jihan. Kening Lea mengerut, melihat semua teman teman Jihan diam tanpa respon.


"Kita denger kok kak, hmm... " Ria sedikit ragu untuk menanyakan Jihan kepada kakaknya. Mereka yakin, jika Lea menghampiri mereka pasti untuk mencari Jihan.


"Kenapa Ria? oh iya? Jihan mana? " tanya Lea bingung. Ia tidak melihat adik nya di antara teman teman Jihan. Semuanya ada, termasuk Alviro. Hanya Jihan yang tidak ada di sana.


"Fela, Ria, kok Jihan gak sama kalian? "


"Itu kak... Hem... " Ria kebingungan, ia tidak tahu bagaimana cara memberitahu pada Lea. Ia takut, Lea marah besar pada mereka.


"Kenapa Ria? Jihan mana? kok kalian pada diam sih. Atau... Jihan" Lea mulai menebak.


"Jihan hilang kak, sejak dari ruang OSIS, Jihan tidak terlihat lagi" jelas Alviro. Lea terkejut, bagaimana mungkin Jihan menghilang. Padahal ia meninggalkan Jihan bersama Alviro tadi di ruang OSIS. Sekarang, sekolah sudah di bubarkan karena ada rapat dewan sekolah yang di adakan secara mendadak. Tapi adik nya? tidak ada.


"Kalian jai bercanda deh, ini gak lucu! " ucap Lea mulai kehabisan kesabaran, ia berpikir teman teman Jihan mengerjai nya. Sisi posesif Lea sudah mulai terlihat. Tidak ada senyum atau air muka bersahabat dari Lea.


"Ini beneran kak, kita kita udah mencari Jihan di seluruh penjuru sekolah. Tapi, Jihan tidak terlihat dimana pun! " jelas Ringgo tenang, ia tidak mau Lea salah faham pada mereka.


"Kemana Jihan! " gumam Lea, ia mulai menetralkan emosi nya.


"Kalian yakin, sudah mencari keseluruh tempat di sekolah ini? " tanya Lea lagi, ia memastikan tidak ada tempat yang tidak mereka periksa.


"Sejujurnya ada satu yang tidak kita periksa" celetuk Babas, membuat Lea dan yang lain menatap ke arahnya.


"Di mana? " tanya Alviro cepat.


"Toilet cewe, hanya itu yang belum kita periksa"


"Tapi, toilet cewe itu kan rusak. Eh tapi... " Albi ragu di akhir kalimat nya. Ia baru sadar, ada keganjalan dari informasi ini. Sebelumnya tidak pernah terjadi kerusakan toilet, karena penjaga sekolah sangat sigap, hal yang tidak biasa jika ini terjadi.


"Alviro!! " panggil Lea, dan yang lain juga kaget. Melihat Alviro tiba-tiba berlari begitu saja.


Sementara di dalam ruang yang gelap, tidak ada secercah cahaya yang menerangi penglihatan Jihan. Gadis itu sudah duduk bersandar pada pintu toilet yang tiba-tiba tertutup rapat dan terkunci dari luar.


Jihan merasa sangat takut, ia sudah tidak kuat untuk ngapa ngapain lagi, tubuhnya terlalu lemah sekarang. Nafas Jihan juga susah mulai tersengal sengal seperti orang kehabisan oksigen.


Jihan berharap seseorang menolongnya, air mata yang mengaliri pipinya sudah bercampur dengan aliran keringat yang bercucuran besar dari pelipis Jihan.


Bunda.... Jihan takut. Ayah... Tolong Jihan!!


Ia terus memohon di dalam hatinya, agar seseorang datang dan menyelamatkan dirinya. Ruangan itu benar-benar gelap, Jihan tidak bisa melihat apapun sekarang. Nafasnya semakin sesak, tubuhnya semakin melemah.


Jihan tidak mampu menahan tubuhnya yang kian terasa tak berdaya, hingga tubuh lunglai itu tumbang ke samping. Samar Samar Jihan mendengar seseorang memanggil namanya.


Kak yen, selamat kan aku...


Entah apa yang Jihan pikirkan, ia teringat dengan nama yang sudah lama ia kubur jauh di dalam lubuk hatinya.


"Jihan!!!!! Jihan!!! "


Senyum tipis terukir di wajah Jihan, ia merasa senang mendengar suara uang sangat ia kenali. Bukan suara Alviro, melainkan suara kak yen. Jihan mendengar seperti kak yen nya yang memanggil dirinya.


Aku tahu, kamu pasti akan menyelamatkan ku


Jihan menutup matanya, ia sudah tidak kuat lagi. Sementara di luar toilet, Alviro menendang palang yang menyatakan bahwa toilet sedang dalam perbaikan.


"Jihan!!! Jihan!!! " teriak Alviro mengendor ngendor pintu toilet. Ia berharap Jihan membalas panggilan nya.


"Astaga, lampunya mati" teriak Ria histeris ketika melihat ke jendela kaca yang berada hampir mendekati loteng. Tidak ada cahaya terpancar di sana.


"Alviro, cepat buka pintu nya! " titah Lea tidak sabaran, ia sangat khawatir pada adiknya. Jihan sangat takut gelap.


"Hidupin lampunya Ria!! " titah Lea menunjuk kontak lampu yang tak jauh dari Le berdiri.


Dengan gerak cepat, Ria langsung menekan kontak lampu, jendela kaca tinggi itu pun langsung bercahaya.


"Ini kunci nya Al, jika lo dobrak. Takutnya Jihan ada di sekitaran pintu" ujar Liem sembari memberikan kunci cadangan toilet. Mereka tidak sadar jika sejak tadi Liem menghilang, ternyata pria ini menyempatkan diri untuk mengambil kunci pada penjaga sekolah.


Alviro mengambil kunci dari tangan Liem, ia mulai mencoba membukanya. Lea sudah tidak sabaran, ia tidak sadar air matanya sudah mengalir deras.


Ceklek...


Pintu terbuka, mereka melotot melihat tubuh Jihan terbaring di samping pintu. Wajahnya pucat pasi, baju Jihan terlihat basa karena keringat. Matanya sembab, mungkin karena menangis ketakutan.


"Jihan!!! " teriak Lea histeris. Ia langsung menghampiri adiknya.


Mereka semua masuk ke dalam toilet itu, Alviro mengangkat kepala Jihan, lalu meletakkannya ke atas pahanya. Ia berusaha untuk membuat Jihan sadar.


"Jihan.... Jihan... " panggil Alviro sembari menepuk pelan pipi Jihan.


"Dek, kakak di sini, lo jangan takut yah" gumam Lea menenangkan Jihan.


Jihan bergerak, ia menggeleng pelan. Mata Jihan terbuka sedikit. Samar Samar ia melihat wajah seseorang yang selama ini sangat ia rindukan.


"Kak yen.... " lirih Lea pelan, ia tidak melihat seorang Alviro, melainkan kak Yen. Pria yang sudah ia anggap mati dan menguburnya di dalam kenangan masa lalu.


"Ji... Ini gue.. Lo yang kuat ya. Lo aman sekarang" balas Alviro.


"Seperti nya Jihan syok. Cepat bawa ke rumah sakit. UKS pasti sudah tutup" ucap Fela.


Alviro langsung mengangkat tubuh Jihan ala Bridstyle. Kemudian membawanya cepat ke parkiran.


Alviro membawa Jihan menggunakan mobilnya, Lea ikut bersamanya. Ringgo dan Liem duduk di kursi depan. Sementara Alviro memangku Jihan di belakang, dan Lea di samping nya.


"Buruan Ringgo!!! lebih cepat bawa mobilnya!! " Desak Alviro. Membuat Ringgo langsung mengeluarkan bakat pembalap nya.


Sementara Di gerbang sekolah, Arvan kaget melihat mobil Alviro dan mobil teman Jihan melaju melewati pintu gerbang. Bukan hanya kecepatan nya, tetapi karena mereka yang baru keluar. Padahal sekolah di bubarkan sejak 1 setengah jam yang lalu. Tapi, Alviro dan teman temannya baru keluar.


"Kenapa mereka baru keluar? " gumam Arvan pelan, namun terdengar oleh pak satpam yang berbincang dengan nya tadi.


"Nona Lea juga belum pulang dengan, bapak lihat tadi mobilnya masih ada di parkiran. " jelas pak Satpam.


Bukan ke palang, Arvan sangat merasa kaget. Lea sudah sejak tadi pamit pulang pada nya. Arvan semakin bingung, ia merasa ada sesuatu yang terjadi.


"Oh yauda pak, saya cek dulu" ujar Arvan menunduk pelan pada pak satpam yang membalas menunduk padanya.


Arvan melangkah menuju ke parkiran. Benar saja, Mobil Lea masih ada di sana. Bahkan mobil teman Alviro juga ada.


"Apa mereka semua berada di dalam dua mobil tadi? " pikir Arvan menerka nerka. Tapi, bagaimana dengan Lea? tidak mungkin rasanya gadis itu ikut bersama mereka. kecuali ada sesuatu yang terjadi pada Jihan.


Arvan memutuskan untuk Mwnghubgi Lea. Ia menempelkan benda pipi itu ke daun telinga nya.


Cukup lama menunggu, akhir Lea menjawab panggilan dari nya.


"Hallo, Arvan hikss"


Deg. tubuh Arvan seketika menegang, ia Berpirasat buruk sekarang. Suara Lea terdengar bergetar.


"Lo kenapa Lea? sekarang di mana? "tanya Arvan mulai panik. Lea tak kunjung menjawabnya, yang terdengar hanya isak tangis nya saja.


" Lea?! are you oke? "


"Arvan, Jihan.... Seseorang telah berbuat jahat sama Jihan"


"Lo di mana sekarang? "


"Kita menuju ke rumah sakit" jawab Lea lagi.


"Oke, gue ke sana sekarang"ucap Arvan sembari berlari ke mobilnya. Ia tidak memutuskan panggilan telfonnya dengan Lea.


...----------------...


Aduhhh maaf banget yah semuanya, aku up cuma 3.soalnya hari ini hujan deras banget. petir lagi. Aku takut megang HP. jadinya cuma bisa up 3 episode.


Tapi aku akan usahain up lebih banyak lagi besok. Tetap dukung aku yah. like, vote, komen yang positif, dan shere.....


...----------------...