I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 102



Ternyata dia adalah orang yang selama ini gue benci. Seseorang yang membuat gue jauh dari keluarga gue.


Kenapa???


Kenapa????


Kenapa semua ini menghampiri hidup gue?? mengapa di saat gue mulai mencintai seseorang yang sudah gue kubur dalam dalam di lubuk hati gue.


Jihan terus memacu kakinya menyusuri trotoar jalan raya. Di belakang nya terdengar suara Alviro memanggil namanya. Namun, Jihan tidak mau menoleh lagi kebelakang. Sudah cukup selama ini Alviro membohongi nya.


"Jihan!!!!! "


"Jihan!!!! "


Jihan mengambil jalan pintas, ia menyebrangi jalan dengan cepat sebelum lampu merah berubah menjadi hijau.


"Jihan!!! " teriak Alviro. Lampu merah sudah berganti menjadi Hijau, Alviro tidak bisa langsung menyusul istrinya. Ia menarik rambutnya kasar karena kehilangan jejak Jihan. Istrinya sudah tidak terlihat lagi. Lampu hijau masih sangat lama berubah ke lampu merah.


"Sial! " umpat Alviro.


Jihan pergi ke sebuah taman yang cukup jauh dari Cafe Cuanlo. Karena efek hati sakit dan kesedihan yang teramat, membuat Jihan tidak sadar bisa berjalan sejauh itu. Kaki terus melangkah memacu aliran air mata yang terus mengalir tanpa henti dari mata nya.


Dari arah depan, Zidan kaget melihat adik sepupunya setengah berlari tanpa memperhatikan jalannya.


Bruk


Zidan menangkap tubuh Jihan yang menabrak tubuhnya. Di tatapannya wajah Jihan lekat, matanya sudah sembab, pipinya sudah basah di banjiri oleh air mata.


"Jihan.. " gumam Zidan.


Merasa namanya di panggil, Jihan pun mengangkat wajahnya, tangisnya semakin pecah.


"Kak.... " Jihan memeluk tubuh Zidan erat.


"Kamu kenapa? hei...Kok nangis gini? sipa yang udah buat adik kesayangan gue nangis gini? "


Jihan tak menjawab, ia sudah tidak sanggup lagi mengeluarkan suara selain isak tangis.


"Udah, diem. Lo aman sama gue. Sudah yah jangan menangis lagi" Bujuk Zidan mengusap punggung adiknya.


Sementara di tempat yang sama, dengan jarak yang tidak jauh dari tempat Zidan dan Jihan berpelukan.


"Jadi, Jihan dan Zidan saling kenal? bahkan gadis itu adik nya Zidan?? " Lidia menggeleng kuat, ia kecolongan. Ia tidak tahu selama ini Jihan bersaudara dengan pria yang selama ini sangat ia cintai.


"Gak, gak mungkin. Apa karena ini kak Mirna menentang hubungan gue sama Zidan?? tidak!!! gue harus menanyakan hal ini pada Mirna. "


Lidia memutuskan untuk pergi dari sana, ia harus memastikan sesuatu yang baru saja ia ketahui. Mirna tidak boleh melakukan semua ini kepada dirinya.


Jihan sudah mulai tenang, Zidan menghapus jejak air mata pipi adik sepupunya.


"Udah enakan? " Zidan menatap wajah Jihan, gadis itu cegukan.


"Kak.. Bawa gue pergi, gue gak mau di sini. Gue gak mau!! " ucap Jihan dengan nada memohon.


Zidan menautkan alisnya, seperti nya sesuatu telah terjadi pada adiknya. Apa mungkin karena fakta tentang siapa Alviro?. Zidan menggeleng, tidak mungkin karena hal itu. Zidan yakin Jihan tidak akan mengetahuinya kecuali Lidia yang memberitahu nya.


"Kenapa ji? kenapa kamu mau pergi? "


"Alviro jahat kak! dia Iyan. Dia sudah membohongi aku kak!!! Aku sangat kecewa kak. Di saat aku mulai membuka hati dan melupakan masa lalu, malah semua nya kembali menghantui ku hikss... " Zidan kembali memeluk tubuh Jihan yang kembali terisak.


Dugaan Zidan benar, ternyata karena fakta Alvido. Tapi siapa yang sudah memberitahu nya? apa mungkin Lidia? atau Alviri yang sudah mengakuinya?.


"Bawa aku pergi kak... Aku mohon... Aku tidak sanggup di sini lagi... " lirih Jihan.


Zidan tidak tega melihat kesedihan adik kesayangan nya. Soal siapa yang memberitahu Jihan nanti akan di ia cari tahu, kini yang terpenting bagi Zidan ketenangan Jihan.


"Ayo ikut aku, aku akan membawa mu ke tempat yang menenangkan"


Zidan pun membawa jihan masuk ke dalam mobilnya, mereka melaju meninggalkan taman itu.


...----------------...


Alviro kesana kemari mencari keberadaan Jihan, ia menghubungi semua orang menanyakan apakah Jihan menemui mereka. Tapi, tidak satu orang pun yang Jihan temui. Alviro merasa semakin khawatir, Jihan pergi kemana?. Jika sesuatu terjadi pada Jihan, maka orang yang bertanggung jawab adalah dirinya.


Alviro tiba di rumah mertuanya, ia langsung berlari masuk ke dalam rumah.


Tia yang sedang minum teh bersama Leni kaget, melihat Alviro masuk dengan sangat tergesa gesah.


"Alviro ada apa nak? kenapa kamu terlihat panik begitu? " tanya Tia.


"Iya nak, ada apa? " sahut Leni. Mereka berdiri di depan Alviro. Wajahnya terlihat sangat panik dan gelisah.


"Jihan Ma, bun. Jihan... " gumam Alviro tersendat karena nafasnya yang memburu.


Mendengar nama putrinya di sebut, Tia langsung menjadi panik.


"Jihan kenapa nak, Apa yang terjadi sama putri bunda? "


"Jihan kabur bun, dia sudah tahu semuanya. Alviro khawatir bun, ma"


"Tahu apa alviro, kamu yang jelas kalo ngomong! " desak Leni.


Alviro mengatur nafasnya, lalu menjelaskan secara perlahan agar kedua wanita paru baya itu mengerti.


Tia terduduk di sofa, kaki nya terasa menggigil sekarang. Leni melihat Ria syok, ia langsung memeluk dan menenangkan sahabat nya.


"Ya ampun. Kemana putri bunda Alviro hikss.. " tangis Tia. Alviro menghela nafas, ia gagal menjaga Jihan, ia gagal membahagiakan Jihan.


"Alviro tidak tahu Jihan pergi kemana Ma, bun. Alviro sangat takut, Jihan pergi lagi. Semua ini karena alviro ma, bun.. "


"Ini semua karena alviro!!!! " teriaknya memaki diri sendiri.


"Mama, Bunda! " Panggil Lea, dari luar ia masik ke dalam rumah bersama suaminya Arvan. Ia mendapat kabar dari Alviro bahwa Jihan sudah mengetahui semuanya dan kini menghilang.


"Lea... " Tia beralih memeluk putri sulung nya.


"Bunda" balas Lea.


"Jihan pergi lagi Lea, tolong bawa adik kamu pulang. Bunda gak mau Jihan jauh lagi dari kita"


Lea mengusap punggung bundanya pelan, berharap dengan begitu bundanya menjadi lebih tenang.


"Bunda tenang aja yah, Jihan baik baik aja kok. Dia sekarang bersama Zidan. "


"Apa? jadi Jihan menemui Zidan? " Alviro merasa bodoh karena tidak kepikiran untuk menghubungi Zidan.


"Iya, Zidan sedang menenangkan Jihan. Saat ini kondisinya sangat buruk. Jihan merasa sangat kecewa sama lo! " jelas Lea.


Arvan berdiri di samping adiknya, ia tahu bagaimana perasaan Alviro saat ini.


"Lo harus kuat Al, cepat atau lambat ini pasti akan terjadi. " menepuk bahu Alviro.


"Makasih kak" balas Alviro mengangguk pelan. Ia memang harus kuat, ia harus mendapatkan Jihan kembali. Ia tidak akan menyia nyiakan wanita yang sangat ia cintai. Alviro juga tahu, Jihan sangat mencintai nya. Jihan pasti kembali pada nya, Alviro sangat yakin.


"Sekarang, kamu di sini saja dulu nak. Istirahat di kamar Jihan. Kamu pasti capek mencari istri kamu kemana mana"


"Tidak bun" tolak Alviro pelan. "Alviro tidak bisa berdiam diri saja, Al harus meyakinkan Jihan dan membawa istri Al pulang"


Lea tidak setuju, "Tidak Alviro, saat ini Jihan sedang berada pada masa yang paling buruk. Dia kecewa untuk kedua kalinya. Lo harus memberikan Jihan ruang untuk sendiri. Biarkan dirinya memahami keadaan dulu"


"Lea benar nak, kamu harus tenang. Sekarang kan Jihan sudah aman bersama Zidan. " Sahut Leni setuju dengan pendapat menantunya.


"Udah Al, lo nurut aja. Istirahat gi" ucap Arvan.


"Baiklah" Alviro berjalan menaiki anak tangga, menuruti ucapan keluarga nya yang menatap iba kepadanya.


Lea menghela nafas, dulu ia memang sangat membenci Alviro. Menganggap Alviro tidak becus menjaga adiknya. Namun, setelah di beri penjelasan oleh Arvan dan mengetahui semua tentang Alviro. Membuat Lea paham akan posisi adik ipar nya.


Tidak tahu mau menyalahkan siapa, mereka memang harus lebih berhati-hati. Mata mata Arvan mencium jejak Mirna masih di negara ini. Di tambah lagi lawan bisnis yang merupakan ketua mafia yang termasuk salah satu murah keluarga Nugrah. Arvan harus lebih ekstra dalam melindungi keluarga nya.


"Semoga Jihan segera memahami semua ini, smeoga Zidan mampu menjelaskan pada Jihan. " batin Lea penuh harapan besar.


...----------------...