I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 65



Siang itu, Leni dan suaminya pergi ke rumah keluarga Rafier. Mereka sudah membuat janji dengan mereka. Dan pertemuan ini, sengaja di lakukan sebelum anak anak mereka pulang sekolah.


Setibanya di rumah keluarga Rafier, Leni dan Brian di sambut hangat. Tia dan Burhan sudah menunggu kedatangan mereka.


"Astaga Leni, aku menunggu mu sejak tadi. Kenapa kalian lama sekali"


Mereka membawa Leni dan Brian ke ruang keluarga, karena hubungan mereka sudah lebih dari keluarga.


"Tadi, jalanan nya sangat macet" jawab Leni. Tia memutar bola matanya jengah, ini sudah kesekian kalinya Leni menggunakan alasan itu.


"Oh percaya lah sayang, aku benar-benar tidak beralasan" ujar Leni menggoda Tia. Mereka pun tertawa bersama mendengar godaan Leni.


"Dasar istri genit ku" gumam Brian menggeleng melihat tingkah lucu Leni dan Tia ketika sudah bertemu.


"Jadi Brian, apa kita langsung kan saja rencana kita kemarin? " ucap Burhan.


Tia dan Leni langsung, menoleh, mereka tidak mengerti dengan ucapan Burhan. Ada sesuatu perencanaan di belakang mereka. Kedua wanita itu menatap suaminya masing-masing dengan tatapan intimidasi.


Biran dan Burhan sadar akan perubahan ekspresi istri mereka.


"Jangan marah dulu sayang, kita berkumpul di sini untuk membicarakan ini" jelas Burhan cepat sebelum istri nya mengamuk.


"Iya sayang, kami akan menjelaskannya" sambung Brian menatap istri nya.


"Cepat jelaskan!" desak Leni. Brian dan Burhan meneguk salivanya susah payah. Istri mereka benar-benar terlihat sangat mengerikan ketika marah. Pantes saja anak anak mereka memiliki tingkat kesangaran yang berlebihan, ternyata turun dari induknya.


Brian dan Burhan pun menjelaskan rencana yang sudah mereka rancang beberapa hari ini. Mereka sudah lelah memikirkan semua masalah yang terjadi si antara keempat anak anaknya. Di tambah lagi Mirna melarikan diri, mereka yakin wanita jahat itu pasti akan kembali lagi untuk mengganggu keluarga mereka.


"Aku setuju dengan rencana mas" ujar Tia tersenyum senang. Begitu juga dengan Leni, ia merasa sangat senang. Keduanya saling berpelukan.


...----------------...


Jihan memasuki area kantin, terlihat di meja ujung tempat biasa dirinya dan teman temannya duduk.


Lea menghampiri Jihan, ia melirik kebelakang tubuh Jihan. Mencari cari keberadaan Alviro, Lea yakin jika Jihan terlambat ke kantin karena menemui Alviro. Lea tidak asal tuduh, karena hanya Alviro yang tidak ada di antara teman temannya.


"Kakak cari siapa? " tanya Jihan ikut menoleh ke belakang.


"Tidak ada, lo udah makan? " tanya Lea mengalihkan pembicaraan. Jihan pun menggeleng, ia memang belum makan apapun selain nasi goreng di pagi hari tadi. Sekarang perutnya sangat lapar


"Tau belum makan, kenapa gak langsung, ke kantin bersama teman teman lo? " omel Lea menarik Jihan menuju ke meja tempat pemesanan makanan.


"Cepat, pesan makanan dan makanlah bersama gue"


"Baiklah" jawab Jihan tersenyum lebar membalas ucapan kakaknya Ia bersyukur kakaknya tidak curiga, ia juga bersyukur karena kakaknya tidak over lagi.


Setelah selesai memesan, Lea membawa Jihan duduk dan bergabung bersama teman teman Jihan dan Alviro.


Anak anak wolf dan juga kedua sahabat Jihan merasa sangat, canggung. Sebelum Jihan datang, mereka semua bergerak gelisah karena Lea bergabung bersama mereka sembari menunggu adiknya.


"Dari mana aja lo? " tanya Fela pada Jihan yang mengambil posisi duduk di samping nya. Jihan hanya membalas ucapan Fela dengan senyuman.


"Makan cepat! " tegur Lea.


Mereka makan dalam keadaan diam, tidak ada yang berani membuka mulut. Termasuk babas yang notabene nya perusuh di genk Wolf. Ketika ada, Lea, babas tidak berani mengeluarkan suaranya.


Sebelum keluar dari kantin, Jihan menyempatkan diri untuk membeli roti dan minuman untuk Alviro. Senyum mekar di wajahnya ketika kilasan bayangan Alviro mengungkapkan perasaan padanya.


"Dasar, cowo ane" gumam Jihan menatap roti yang masih terbungkus di dalam kantong plastik yang ia jinjing.


"Kok lo bawa bekal ke kelas? " tanya Fela menatap kantong plastik di tangan Jihan.


"Lo belum kenyang? " imbuh Ria, ia ikutan merasa heran pada Jihan.


"Ihh Ria Fela, kalian apaan sih. Gue udah makan sebanyak itu gak mungkin gak kenyang! " sangkal Jihan.


"Lalu ini buat apa? gak mungkin kan bekal buat di rumah lo" Ria melihat isi kantong plastik yang Jihan tenteng.


"Ihhh Ria, Fela. Ini tu buat Alviro. Gue yakin to cowo belum makan" jelas Jihan kembali merebut kantong platnya dari tangan Ria.


"Oooo, gitu kan jelas. Jadi kita gak perlu menebaknya" ujar Fela.


"Dasar kalainnya aja yang tidak mengerti gue! " dengus Jihan merajuk, ia berjalan duluan meninggalkan kedua sahabat nya.


"Yah, tu bocah ngambek" ujar Fela, sembari mengejar Jihan yang sudah berjalan lebih jauh dari mereka.


"Jihan tunggu!!! " teriak Fela. Namun Jihan tetap berjalan lurus tanpa memperdulikan panggil dari kedua sahabat nya.


Jihan dan Kedua sahabat nya sudah tiba di dalam kelas. Mata Jihan mengedar menatap seluruh isi ruangan, namun ia tidak melihat apa yang sedang ia cari.


"Kok, Alviro belum masuk sih. Kemana pria itu?. Padahal teman teman nya ada di kelas semua. "batin Jihan, ia mulai mengkhawatirkan Alviro Walau bagaimana pun Alviro adalah penyelamat nya, ia harus berterimakasih atas bantuan dari nya.


" Alviro baru keluar ji, bentar lagi juga kok. " ujar Liem menyadari tingkah Jihan yang seperti sedang mencari seseorang.


"Siapa yang nyari dia" sangkal Jihan, ia berlalu menuju ke kursinya, kemudian meletakkan kantong plastik tntang ia bawa ke dalam laci.


Zg"Dah ketahuan, tapi gak mau jujur" Ringgo.


"Ih apaan sih Ringgo " balas Jihan sewot, ia dapat, mendengar apa yang genk Alviro katakan, meskipun mereka mengucapkannya secara pelan.


"Busettt, sepekan itu dia dengar" gumam Eldi mendelik pada Jihan.


Tak berapa lama, Alviro pun masuk ke dalam kelas. Ia berjalan santai memasuki ruang kelas dan langsung duduk di samping Jihan.


"Kenapa lo liatin gue? " protes Jihan merasa risih di lihat begitu dekat Dati Alviro.


"Lo cantik banget" balas Alviro menggoda Jihan. Wajah mungil Jihan langsung, mendadak memerah akibat merasa malu pada Alviro.


Jihan mengambil kantong plastik yang ia simpan di bawah meja.


"Ini untuk lo" ujar Jihan menyerahkan bekal yang ia bawakan untuk Alviro tadi.


"Ini untuk gue? " heran Alviro, tidak biasanya Jihan seperti ini.


"Hemm... Tumben lo perhatian banget sama lo" Gumam Alviro menatap was was pada Jihan Ia takut jika Jihan merencanakan sesuatu yang membuatnya.


...----------------...