I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 126



Rasya sudah pulih, ia sudah kembali ke ruang ICU untuk melihat keadaan Lidia. Mereka semua sudah berkumpul di depan ruangan ICU menunggu hasil dari pemeriksaan dokter.


Rasa ikut duduk di samping Fela dan Ria, mereka sama sama menunggu dengan perasaan khawatir. Mereka juga memiliki harapan yang sangat besar untuk keselamatan Lidia.


Di samping Liem, Eldi mencuri curi melirik pada Rasya. Ia mengulum senyum melihat Rasya baik baik saja.


Alviro yang berdiri di depan mereka menangkap tingkah aneh Eldi. Ia mengikuti arah pandang mata Eldi.


"Suuttt.... " desis Alviro membuat Eldi langsung mengalihkan arah pandang matanya, ia tidak mau ada yang melihat jika dirinya sedang memperhatikan Rasya.


Cling....


Alviro_Wolf.


Gue tahu apa yang baru saja lo liat!


Sebuah pesan singkat yang membuat Eldi langsung melirik pada Alviro. Wajah nya terlihat sangat malu tertangkap basah oleh Alviro.


Padahal seharusnya Eldi biasa saja, apa yang ia lakukan bukanlah sesuatu yang salah.


Alviro tersenyum membalas tatapan mata Eldi yang langsung di alihkan nya.


Ceklek..


Pintu ruangan ICU terbuka, mumun lah seorang dokter dari dalam.


Mereka semua langsung bergerak mendekat pada dokter,, terutama Zidan.


"Bagaimana dok, apa Lidia baik baik saja? " tanya Zidan tidak sabaran.


"Berkat transfusi darah tepat waktu, dan darah tersebut sangat cocok dengan tubuh pasien. Sehingga pasien berhasil melewati masa kritisnya" jelas sang dokter.


Zidan dan yang lainnya bernafas lega.


"Syukur lah Lidia berhasil selamat" gumam Eldi. Ia sempat cemas, jika Lidia kenapa kenapa pasti Rasya akan sangat sedih. Dan Eldi tidak mau hal itu terjadi.


"Pasien akan di pindahkan ke ruangan rawat inap, kalian bisa mengunjungi nya nanti.


Saya permisi dulu" pamit sang dokter sopan.


Zidan ambruk di lantai, apa yang ia takutkan tidak terjadi. Kini, mereka tinggal menunggu Lidia di pindahkan dan juga menunggu Lidia untuk siuman.


"Akhirnya kamu selamat juga Lidia" gumam Zidan bersyukur.


Setelah Lidia di pindahkan ke ruangan VVIP Zidan tidak pernah beranjak sedikit pun dari sisi Lidia. Ia terus menatap wajah polos Lidia yang terlihat tidur dengan tenang.


Kata dokter Lidia sudah baik baik saja, hanya menunggu gadis itu untuk sadar saja.


"Lia, buka mata kamu. Lihat, aku ada di sini menunggu kamu. Wanita itu sudah tidak ada lagi Lia, dia sudah aku tangkap dan aku beri pelajaran. " Lirih Zidan terus mengajak Lidia berbicara meskipun tidak ada respon.


Di dalam ruangan yang terlihat seperti kamar pribadi nan mewah, hanya terdapat Alviro, Rasya dan Eldi. Teman teman yang lain sudah di suruh pulang oleh Alviro untuk beristirahat. Termasuk Burhan dan Brian.


"Kak... " Lirih Alviro.


"Jangan katakan apapun, aku hanya ingin berada di dekat Lidia" potong Zidan tanpa menoleh.


"Gue gak akan mengganggu lo kak, hanya saja gue ingin mengatakan soal Jihan" lirih Alviro lesu.


Zidan langsung mengalihkan pandangannya dari Lidia, ia menatap Alviro yang menunduk lesuh.


"Adik gue kenpa? " tanya Zidan.


Alviro mengangkat wajahnya, menatap Zidan yang terlihat sangat khawatir. Alviro sebenarnya tidak mau mengatakan pada Zidan, takut membuat pikiran Zidan bertambah.


"Jihan mengalami trauma kak, ia takut di dekati oleh laki-laki" jelas Alviro.


"Orang itu memberikan Jihan obat perangsang dalam dosis tinggi" kata Rasya.


"Apa? " Zidan berdiri dari duduknya.


"Lo tau dari mana? " kilatan kemarahan tergambar jelas di mata Zidan.


"Dokter yang memeriksa kondisi tubuh Jihan ketika kami berhasil membawa Jihan sampai di rumah" jelas Rasya.


Kedua tangan Alviro mengepal, ia benar-benar marah mendengar apa yang terjadi pada istrinya.


"Keparat!!!! aku akan menemukan biadap itu!!! " geram Zidan.


"Tahan kak, kita tidak perlu repot repot mencari orang nya. Kita hanya butuh penjelasan dari Lidia. Karena hanya Lidia yang tahu kronologi yang Jihan alami." ujar Alviro.


"Benar kak, apa yang di katakan oleh Alviro. Hanya Lidia yang bisa mengungkap nya. Batu kita bisa menangkap dan memberi pelajaran kepada bajingan itu" sahut Rasya.


Eldi menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal, ia merasa menjadi orang bodoh yang tidak bisa memberi tanggapan apapun. Eldi tidak tahu tentang kasus Jihan ini.


"Baiklah, kita akan menunggu Lidia siuman" Zidan kembali menatap kekasihnya.


"Gue juga yakin kak, Jihan hanya bisa berkomunikasi dengan Lidia. " Ujar Rasya lagi.


Alviro menarik tangan Rasya, sehingga gadis itu menoleh kepadanya.


"Maksud lo? "


"Ketika tenang, Jihan terus menanyakan keadaan Lidia, ia terlihat sangat khawatir dengan ke selamatan Lidia.


Jihan juga bersikeras ingin menyelamatkan Lidia" jelas Rasya lgi.


Eldi masih setia mendengar pembicaraan mereka. Hingga sebuah kesimpulan mendarat di benaknya.


"Itu artinya, Jihan hanya mendapat trauma akibat tekanan pikiran yang membuat dirinya kalut dan histeris. Jihan hanya histeris ketika mengingat kejadian yang mungkin sangat ia tidak ingin kan. Karena itu membuat Jihan menjadi stres dan tidak bisa mengontrol pemikiran nya. "


"Eldi benar" sahut Rasya.


"Itu artinya, kita harus membuat Jihan melupakan kejadian itu" gumam Zidan.


"Tapi, kenapa Jihan takut pada ku? " ujar Alviro.


"Itu karena Jihan merasa sangat takut sehingga fokusnya terganggu, Jihan melihat setiap laki-laki sama seperti ia melihat orang yang telah melakukan pelecehan kepadanya" jelas Rasya lagi.


"Aaargggggg!!! awas saja jika aku menemukan orang nya. Aku pasti akan membunuhnya dengan tangan ku sendiri! " emang Alviro.


Sementara di rumah besar Rafier, Burhan dan Brian kembali dengan wajah lesuh. Mereka menatap Jihan yang sedang tidur dengan posisi meringkuk.


Sungguh kehidupan Jihan terlihat sangat menyedihkan. Burhan kembali menutup pintu kamar putrinya dan mereka kembali ke ruangan keluarga.


"Aku tidak tega melihat nya" lirih Leni menangis di dalam pelukan Tia.


"Tenang aja ma, Lea yakin kok Jihan pasti bisa melewati ini semua"


"Tapi lihat lah, dia baru bisa tidur setelah meminum obat penang" sahut Tia.


Mereka tak bisa berkata kata lagi, Arcan sudah mencoba melacak setiap lokasi yang terlibat dalam permasalahan mereka. Namun tidak ada satu pun bukti yang menunjukkan pelaku yang telah membuat Jihan menjadi seperti ini.


Di lokasi pertama, tempat Jihan di sekap. Semuanya sudah bersih dan terlihat tidak ada tanda tanda orang berperang di sana. Bahkan bekas darah pun sudah tidak ada.


Hal itu lah yang membuat mereka menjadi heran dan merasa aneh. Mirna sudah di tangkap dan seperti keterangan anak buah Lidia yang berhasil membawa Jihan kabur.


Lidia menyelamatkan Jihan bukan dari tangan Mirna, tetapi dari orang lain yang sama kuat nya seperti Mirna. Namun, karena kedatangan mereka yang mendadak membuat mereka tidak sempat meminta bantuan dan mampu di lumpuhkan oleh Lidia.