
Ria dan Fela tiba di depan rumah Jihan, mereka berhenti tepat di samping mobil Alviro yang sudah terparkir di samping gerbang.
"Itu pasti mereka" ujar Fela, mereka turun dari mobil, lalu menghampiri mobil Alviro. Belum sempat mereka dekat dengan mobil Alviro, pintu kaca nya terbuka.
"Udah, masuk aja langsung" ucap Ringgo atas perintah Alviro. Membuat Ria dan Fela terhenti dan mengerut bingung.
"Maksudnya? " gumam Fela. Ria menghela nafas, ia menarik tangan Fela untuk kembali ke mobilnya.
"Aduh, dosa apa,,,,,gue bisa punya temen oon kaya lo Fela"Gumam Ria.
" Ihh Ria, kok ngomong gitu sih. Bersyukur kek, punya temen cantik kek gue" Sungut Fela memanyunkan bibirnya. Mereka masuk kembali ke dalam mobil, lalu menjalankannya masuk ke gerbang rumah Jihan. Dari belakang mobil Alviro mengikuti mobil Fela masuk. Mereka parkir tepat di depan rumah Jihan.
Mereka semua turun dari mobil masing-masing, kemudian berkumpul di depan pintu rumah Jihan yang masih tertutup.
"Kira-kira kak Lea di rumah gak yah? " tanya Fela khawatir, ia tidak bisa membayangkan jika Lea mengetahui niat mereka.
"Udah, lo tenang aja. Semua nya akan baik baik aja kok" bujuk Ria menenangkan Fela.
Tuk!!!!
Tuk!!!!
"Eh bego, ada bel, ngapain lo ngetok pintu" ujar Fela memukul lengan Babas pelan.
"Aduh, ayang beb. Kok gue di pukul sih" balas Babas mengusap bahunya yang di pukul oleh Fela dengan ekspresi teraniaya.
"Ampun deh ah, kalian berdua. Gue nikahin baru tahu! " ucap Eldi geram, setiap bertemu berantem, yang satu bucin, yang satu jutek. Selalu aja bikin rusuh dengan sikap yang tidak jelas.
"Teman lo tu, ganjen! " balas Fela. Padahal ia dan Babas sudah resmi pacaran.
Alviro menggelengkan kepalanya, kemudian memberikan isyarat pada Ringgo untuk menekan bel rumah Jihan.
Ting. Tong....
Ting... Tong...
Sudah dua kali Ringgo menekan bel rumah Jihan, namun tidak ada tanda tanda penghuni rumah keluar.
"Masa gak ada orang sih" ujar Liem. Karena tidak melihat tanda tanda ada orang yang mendengar suara bel dan melihatnya ke depan.
"Apa mereka tidak memiliki pembantu? kenapa gak ada yang datang sih" gumam Eldi.
"Tau ih, rumah sebesar ini masa gak punya pembantu" sahut Albi.
"Mereka memang gak punya pembantu, mereka cuma memanggil pembantu untuk membersihkan rumah dan mencuci baju saja. Setelah pekerjaan nya selesai mereka sudah di perbolehkan pulang" jelas Alviro.
"Ohh begitu, sayang banget yah Orang kaya tapi gak punya pembantu" sambung Babas, matanya memperhatikan setiap area rumah Jihan. "Mana rumah nya bagus lagi"
"Dasar, katrok" ledek Fela.
"Ihh kalian ini berisik banget deh" Omel Ria.
"Mau apa kalian ke sini? "
Deg..
Seketika tubuh mereka menegang, perlahan menatap ke arah Lea yang berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Lea menatap tajam pada mereka, membuat Babas dan Fela langsung beringsut kebelakang, mereka berdua bersembunyi di belakang Ria dan Albi.
"Kak-" ucap Ringgo ingin menjelaskan, namun Lea malah melotot padanya, membuat Ringgo menghentikan ucapannya. Lea beralih menatap Alviro, cowo itu bersandar pada dinding rumah Lea, ia menunduk tak berani menatap pada Lea. Bukan takut, tapi,,, entahlah. Alviro hanya merasa bersalah atas semua yang terjadi pada Jihan. Ia merasa paling bertanggung jawab atas semua ini.
"Ngapain lagi lo ke rumah gue!! jangan harap lo bisa deketin Jihan lagi! " bentak Lea.
"Kak, " sela Ria, ia memberanikan diri angkat bicara. Ria harus bisa membantu Jihan dan Alviro. Ini semua demi Jihan, meskipun ia tahu jika Alviro adalah cowo di masa lalu Jihan.
"Kenapa? lo mau bela dia? . Kalian semua kesini merencanakan sesuatu kan!! " tuding Lea melotot.
"Gak kak, kita kesini buat ngerjain tugas kelompok. " ucap Ria mencoba meyakinkan Lea.
"Lo pikir gue bodo? "
"Gak kak, kita tahu kakak pasti gak suka lihat Alviro bertemu dengan Jihan. Makanya kita datang bersama. " balas Ria, tangannya bergetar menahan rasa gugup menghadapi Lea.
"Iya kak, pak Johan membagi kelompok setiap kelompok 2 orang. Dan Alviro satu kelompok dengan Jihan. Karena kakak pasti tidak mengijinkannya, maka kami datang untuk menemani mereka kak" sambung ringgo.
"Percuma kalian jelasin panjang lebar, gue gak akan percaya sama kalian" ucap Lea, matanya melirik tajam pada Alviro.
"Kakak bisa hubungi pak Johan, kalau tidak percaya pada kami" usul Babas. Alviro dan yang lain langsung menoleh padanya. Mereka melempar tatapan penuh tanya, bagaimana jika Lea benar-benar menghubungi pak johan. Tamat lah riwayat mereka.
Fela dan Ria melotot pada Babas. Namun, ia hanya membalasnya dengan senyum polos.
Hanya 3 menit Lea berbicara dengan pak Johan di telfon, kemudian Lea kembali menatap pada mereka.
"Loh, Lea. Ini teman tekan Jihan yah. Kok gak di bawa masuk sih" ucap Tia kaget.
"Iya tante.. " balas mereka nyengir.
"Iya bun, ini di suruh masuk kok" balas Lea sembari memberikan kode pada mereka agar mereka masuk.
"Terimakasih tante" ucap mereka bersamaan.
Mereka pun dibawa ke ruang tamu, lalu di persilahkan duduk di sofa. Sementara Lea, masih saja berdiri seperti seorang pengawas yang mengawasi delapan orang tersebut.
" Lea, kamu tidak boleh bersikap seperti itu" tegur Tia. Namun Lea tidak mendengarkannya, ia tetap saja menatap mereka semua dengan tatapan tidak bersahabat. Tia hanya bisa menggeleng melihat sikap putrinya.
"Kalian mencari Jihan yah? " tanya Tanya Tia lembut.
"Iya tante, kita datang ke sini untuk mengerjakan tugas kelompok tante" jelas Eldi.
"Oh begitu, yaudh langsung aja ke kamar Jihan. Dia ada di kamarnya" ujar Tia.
"Gak bunda, masa cowok cowok ikut masuk juga" cegat Lea.
"Lea, kamu ini gimana sih. Kan bukan Jihan sendiri yang cewe. Mereka ada bertiga. Lagian kita kan ada di rumah juga. Gak mungkin lah mereka melakukan sesuatu yang tidak pantas" jelas Tia.
"Tapi bun.. "
"Udah lah Lea, kamu lebih baik belajar, sebentar lagi ujian kan? " potong Tia.
"Gak, Lea mau mengawasi mereka. Apalgi ada.. " tolak Lea melirik Alviro tajam.
"Lea!! kamu gak boleh gitu nak, Alviro itu sangat baik. Kamu tidak boleh bersikap seperti ini! " tegur Tia.
"Tapi bun"
"Gak ada tapi tapian, baru tadi bunda jelasin. Eh malah bersikap seperti ini lagi"omel Tia.
Teman teman jihan dan geng wolf merasa tidak enak. Mereka merasa sudah keterlaluan menyusun rencana seperti ini, apalagi melihat perdebatan antara Lea dan bundanya.
" Buat kalian, pergi aja ke kamar jihan. Alviro tahu tu, yang mana kamarnya Jihan" ucap Tia.
Mereka cukup kaget mendengarnya, penuturan bunda Jihan. Jika Alviro sudah tahu kamar Jihan, itu artinya Alviro sudah pernah masuk ke sana.
"Yaudah deh tante, kita ke kamar Jihan dulu" pamit Ria, mereka semua langsung berdiri dari duduknya, kemudian beranjak menuju ke lantai atas mengikuti Alviro yang berjalan lebih dulu.
Lea tidak bisa berkata apa apa lagi, bundanya menahan tangannya agar tidak mengikuti teman-teman Jihan.
Mereka tiba dikamarnya Jihan, Alviro mencoba mengetuk pintu kamar Jihan. Namun tidak ada sahutan atau tanda tanda ada orang di dalam.
"Jihan tidur kali yah? " ujar Fela.
Benar saja, Jihan tertidur di sofa balkon dengan ponselnya yang masih menyala. Sekarang bukan Jihan lagi yang menonton di ponselnya, tetapi ponsel lah yang menonton dirinya sedang tertidur.
"Jihan!!!! " panggilan dari kuar. Namun tidak membuat tidur Jihan terganggu.
Tuk!!!! Tuk!!!!
Ringgo dan Alviro bergantian mengetuk pintu kamar Jihan, namun tidak ada sahutan.
"coba telfon ponselnya" usul Liem.
"Oh iya" Ria langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Kemudian menghubungi nomor Jihan!.
Drrtt!!!!!
Drtttt!!!!
"Gak di angkat" ujar Ria.
Mereka jadi tidak karuan, berkerumun di depan kamar Jihan. Di tambah lagi mereka takut keburu Lea naik ke atas.
Alviro melirik ke kiri dan kanan. Ia mencari sesuatu yang bisa membantu mereka masuk ke dalam kamar Jihan.
"Nah itu dia! " gumam Alviro dengan mata berbinar, membuat teman temannya mengerut bingung.
...----------------...