
Rasya, Fela dan Ria tiba di rumah sakit. Terlihat Babas sudah menunggu di depan.
"Babas.. " panggil Fela, ia berlari dan langsung memeluk suaminya. Fela bersyukur suaminya baik baik saja.
"Kamu baik baik saja kan? "
"Iya sayang aku baik baik saja" balas Babas tersenyum hangat.
"Bas, di mana yang lain? " tanya Ria.
Babas melepas pelukan nya pada istrinya. Ia melirik Ria dan juga Rasya.
"Mereka ada di depan ruang UGD, menunggu dokter menangani Lidia" kata Babas.
"Yuk ke sana" seru Rasya.
Babas pun mengangguk, ia menuntun ketiga wanita itu masuk ke dalam rumah sakit hingga bergabung dengan yang lain.
Bertepatan saat itu, pintu ruang UGD terbuka. Seorang dokter keluar dari sana sembari membuka sarung tangannya.
"Keluarga nya nona Lidia yang mana yah? " tanya sangat dokter.
"Saya dok, calon suaminya Lidia" ujar Zidan bergerak cepat ke hadapan Dokter.
"Bagaimana kondisi Lidia dok? " tanya Zidan tidak sabaran.
"Peluru yang menembak ke punggung nona Lidia sudah berhasil kami keluarkan. Namun, beliau kekurangan banyak darah. "
Dokter menghela nafas dalam.
" Nona Lidia harus segera menerima transfusi darah secepatnya " ujar Dokter lagi.
"Apa Golongan darah nya dok? " tanya Liem.
"Golongan darah pasien O-, di rumah sakit ini tidak memiliki persediaan golongan darah O-" Jawab Dokter.
"Astaga, itu golongan darah yang langkah" gumam Babas.
"Ya ampun" Fela merasa sangat cemas.
Golongan darah O- merupakan golongan darah yang langkah. Karena, golongan darah ini hanya bisa menerima transfusi darah dari golongan yang sama. Akan tetapi, golongan darah O- bisa di tranfusikan ke golongan darah lain.
"Dokter, saya memiliki golongan darah yang sama. O-" ujar Rasya.
"Baiklah, kalau begitu mari ikut saya. Kita akan melakukan pengecekan kondisi tubuh anda" jawab dokter, kemudian pergi bersama Rasya ke ruangan lain.
Zidan masih terdiam, ia merasa sangat bersalah pada Lidia. Gara gara dirinya Lidia mengalami hal ini.
Dari kaca ruangan UGD Zidan dapat melihat tubuh Lidia sedang di bersihkan setelah melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru itu.
Lidia akan di pindahkan ke ruangan ICu, kondisi Lidia sekarang masih sangat kritis.
"Lidia!! sayang!! " panggil Zidan ketika suster membawa Lidia keluar dari ruangan UGd. Ia mengejar Lidia hingga kembali tertahan di luar karena ia tidak boleh masuk ke ruangan ICU.
Kondisi Lidia saat benar-benar sangat kritis, dalam waktu 2x24 jam harus menerima transfusi darah. Jika tidak, kemungkinan tertolong nya sangat kecil.
"Lo yang sabar yah kak" kata Eldi mengusap bahu Zidan yang menatap Lidia dari kaca.
"Semua ini karena gue! " maki Zidan, ia masih menyalahkan dirinya.
"Paman mau urus administrasi Lidia dulu" kata Burhan, Zidan tak merespon. Ia terfokus pada Lidia yang terlihat sangat pucat dengan berbagai alat menempel di tubuhnya.
Sementara di ruangan labor, Rasya tengah berbaring di atas brankar. Rasya merasa sedikit pusing, satu Kantong sudah penuh.
Salah satu suster menyuruh Rasya untuk beristirahat dan memberikan asupan gizi yang cukup agar tubuh nya tidak ngedrop. Masih ada 2 kantong lagi yang di perlukan dari tubuh Rasya.
"Kamu istirahat dulu yah, nanti setelah kondisi kamu kembali pulih. Kita akan kembali melakukan pengambilan darah"kata suster yang sejak tadi bekerja mengambil darah Rasya dengan sangat hati hati.
" Baik lah Sus, terimakasih "balas Rasya tersenyum lemah, ia merasa sedikit pusing sekarang.
Suster keluar dari ruangan tempat Rasya beristirahat, kini tinggal lah rasya sendiri di sana.
" Sya... " panggil seseorang. Rasya yang baru saja menutup matanya kembali membukanya.
"Eldi? " gumam Rasya. Ia berusaha untuk bangkit dari tidurnya.
"Kamu baring aja" tangan Eldi menahan tubuh Rasya agar tetap terbaring.
"Kamu ngapain ke sini? " tanya Rasya kaget. Ia menatap Eldi yang juga menatap ke arahnya.
"Kamu, baik baik saja kan? " satu pertanyaan yang lolos dari bibir eldi setelah beberapa saat terdiam.
"Yah aku baik baik saja" jawab Rasa agak canggung, karena eldi terlihat aneh. Bahkan Eldi tidak menggunakan lo Gue.
"Apa sudah selesai pengambilan darahnya? " tanya Eldi lagi.
Rasya menggeleng pelan.
"Masih ada 2 kantong lagi. Tadi kondisi tubuh ku sempat drop, makanya di tunda" jelas rasya berusaha untuk tersenyum.
Eldi kembali terdiam, ia hanya berdiri di samping Rasya yang merasa sangat gugup dengan kehadiran Eldi.
"Kamu ngapain kesini? " ucapan Rasya kembali mengulang pertanyaan nya.
"Hmm.. Aku hanya ingin melihat kondisi mu saja" jawab Eldi lirih, hampir tidak terdengar oleh Rasya.
"Apa? aku tidak mendengar ucapan mu"
"Kau istirahat saja. Kondisi mu harus pulih. Agar Lidia cepat terselamatkan" kata Eldi, ia bergegas pergi dari sana.
"Huh? dasar pria yang aneh! " dengus Rasya menatap kepergian Eldi yang terkesan sangat aneh.
Rasya menghembuskan nafas gusar, kemudian kembali mencoba untuk menutup matanya sebelum suster kembali dan akan melakukan pengambilan darah lagi.
...----------------...
"Apa? obat perangsang? " Alviro melotot tak percaya mendengar apa yang baru saja Lea katakan.
"Jihan trauma, seperti nya mereka mencoba untuk melecehkan dirinya.
Setiap kali Jihan sadar, dan melihat pantulan tidak buahnya di cermin. Saat itu pula ia berteriak dan menangis. Bahkan Jihan berusaha untuk menyakiti dirinya sendiri"
"Kasian Jihan, dia pasti merasa sangat tertekan" gumam Alviro.
"Lo gak marah? " tanya Lea.
Alviro mengangkat wajahnya.
"Kenapa gue marah, semua itu bukan salah Jihan. Jika pun gue marah, gue akan marah sama bajingan itu! " ucap Alviro mengepalkan tangannya.
"Orang yang mengetahui detail kasus Jihan adalah Lidia, kita harus menunggu Lidia sadar agar semua nya jelas" kata Lea
"Kakak benar, semoga Lidia cepat siuman" balas Alviro.
"Aku tidak akan membiarkan orang yang sudah melakukan semua ini terhadap istri ku!!! " tekan Alviro, terlihat kilatan kemarahan di matanya meskipun saat ini ia dalam keadaan tenang.
"AAAA!!!!!!
PERGI!!!!
PERGI!!!!!"
Prang~
Lea dan Alviro langsung, berlari masuk ke kamar Jihan. Terlihat Jihan melempar semua barang barangnya ke sembarangan arah.
Tia terisak melihat kondisi putrinya. Tadi ia pergi ke kamar mandi dan kembali lagi ke kamar Jihan. Ia sudah berteriak seperti ini.
"Jihan... Bunda mohon, tenang sayang"
"Jangan seperti ini" lirih Tia menangis sembari memeluk dirinya melihat keadaan putri nya.
Jihan terdiam, ia melirik pada Alviro dan Lea yang berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Jihan... Are you Ok? " lirih Lea.
"Kau!! beraninya kau datang ke kamar ku.
Pergi!!??? Aku tidak mau melihat mu di sini!
Pergi!!! "
Jihan kembali histeris, ia melempar bantal dan semua yang ada di dekat nya pada Alviro. Ia melihat wajah Anji di wajah Alviro.
Jihan berlari mendekat pada Tia, memeluk tubuh bundanya dengan sangat erat.