I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 89



Setelah cukup lama Alviro membiarkan Jihan sendiri di kamar, akhirnya Alviro kembali dengan membawa air hangat dan juga cemilan.


Alviro menatap Jihan yang masih terbaring di ranjang. Posisinya masih sama seperti tadi, tetapi bedanya saat ini Jihan tidak terdengar menangis.


"Jihan, kamu udah enakan? " Tanya Alviro duduk di sisi ranjang di samping Jihan.


Tak ada jawaban dari Jihan, namun gadis itu bergerak seperti orang akan duduk. Alviro cukup senang melihatnya, meskipun Jihan tidak menyahuti ucapannya.


Mereka duduk bersebelahan, Alviro langsung memberikan segelas air hangat untuk menetralkan suara Jihan yang pasti akan serak setelah menangis selama 3 jam.


"Minumlah, biar tenggorokan nya tidak kering" Ujar Alviro.


Jihan pun menerima gelas berisi air hangat itu, kemudian menegurnya hingga air hangat itu tersisa setengah dari gelasnya saja.


Sempat terlintas di pikiran Jihan, mengapa suaminya tidak bertanya dan heran ketika melihat dirinya tiba-tiba menangis.


"Aku tidak akan bertanya, bukan berarti aku tidak perduli" Ucap Alviro seakan menjawab ucapan yang baru saja Jihan pikirkan. Ada raut terkejut di wajah Jihan, namun dengan cepat ia bisa mengendalikannya.


"Aku tahu itu" Jawab Jihan pura-pura tenang. Ia meletakkan gelas berisi setengah dari air hangat itu ke atas nakas.


"Aku hanya memberimu ruang untuk menenangkan diri, agar kamu bisa lebih santai ketika membicarakan masalah ini bersama ku sweetie" Ujar Alviro mencolek dagu Jihan.


"Apaan sih" Dengus Jihan. Menghindari tangan Alviro yang akan menyentuh dagu nya lagi.


"Baru di colek aja udah seperti itu" Cibir Alviro seolah olah merajuk, namun Jihan tidak ambil pusing dengan cibiran Alviro yang ia tahu hanya sebuah candaan. Tapi, Jihan saat ini sedang tidak mau bercanda


"Aku tadi teringat dengan seseorang, dia pernah sangat berarti dalam hidup aku. sangat berarti malahan, karena dia adalah penyemangat hidup aku" Lirih Jihan mulai menceritakan kisah hidupnya, Alviro yang mendengarnya dan mengetahui apa yang Jihan rasakan, merasa hatinya seperti tercabik cabik dan jantung nya terasa seperti di remas.


"Aku tidak tahu salah ku apa, dia membuangku begitu saja. sehingga aku, pergi dan tidak mau tinggal di sini" Sambung Jihan, sesekali tangan Jihan terangkat untuk menghapus air mata yang terus mengalir dari sudut matanya.


Alviro sungguh tidak tahan mendengar cerita Jihan, ia langsung menarik Jihan dan mencium bibir Jihan untuk membungkam mulut Jihan dan membuat gadis itu berhenti berbicara.


Mata Jihan semakin melebar, ia sangat kaget dengan serangan mendadak dari suaminya. apalagi dengan kondisi Jihan yang sedang rapuh ini, Alviro malah mencuri kesempatan, pikir Jihan.


bukannya menolak, Jihan malah merasakan sesuatu yang aneh setelah menikah dengan Alviro. Jihan merasa selalu ingin di bekasi dan di manja oleh suaminya. Bahkan Jihan selalu merindukan masa masa suaminya mengecup bibirnya. jika setiap kali Alviro akan melakukan ritual suami istri, Jihan selalu mengatakan belum siap


Namun sebenarnya hati dan tubuhnya meminta untuk di perlakukan seperti itu.


Alviro terus menciumi bibir Jihan sampai turun ke leher, ia terus mencumbu hingga Jihan mendesah nikmat. Alviro pun tersenyum puas, ia sangat menyukai setiap kali Jihan mendesah karena dirinya.


Jihan merasakan dua gunung kembarnya di remas remas oleh Alviro yang berstatus sebagai suami sahnya. Satu persatu kancing baju tidur Jihan di buka oleh Alviro.


Nafsu Alviro semakin tak terbendung lagi, apalagi ketika tarikan nafas memburu Jihan membuat dadanya turun naik dan membuat gunung kembar bergoyang bak terjadi gempa bumi. Hal itu membuat Alviro semakin menggila.


Kecupan demi kecupan dan sentuhan hangat yang Alviro berikan padanya, membuat Jihan semakin menginginkan sesuatu yang lebih. Namun ia tidak tahu apa itu.


Kini Jihan hanya mengenakan celana tidurnya saja, sementara Alviro entah sejak kapan ia sudah tidak memakai sehelai benang pun.


"Aku tidak bisa membendung nya lagi, aku sungguh ingin melakukan nya" Bising Alviro ke telinga Jihan yang sedang ia kecupi dan jilati. Membuat Jihan menggelinjang hebat.


Awalnya Jihan merasa sangat kaget mendengar permintaan Alviro, mereka terdiam untuk beberapa waktu. Lalu tiba-tiba Jihan memeluk dan mencium bibir Alviro sebagai pertanda setuju dengan oeemjntaan Alviro.


Alang kapalang senangnya, Alviro langsung kembali menyerang Jihan ke bagian titik yang paling sensitif bagi Jihan. Hanya beberapa kali bercumbu dengan istri nya, membuat Alviro tahu dimana letak daerah sensitif Jihan.


Setelah mendapatkan sinyal positif, Alviro langsung menggarap kembali tubuh jihan yang tidak puas puasnya ia cumbu. Alviro mulai menggesekkan pusakanya ke surga dunia yang di idam idamkan oleh setiap pria. Hal itu membuat Jihan bergerak tidak karuan, ia sama sekali tidak melakukan apapun selain menikmati apa yang sedang suaminya lakukan.


Di tengah asiknya menggesek gesek, tiba-tiba bel apartemen mereka berbunyi. Alviro mengabaikan nya saja dan melanjutkan aktivitas nikmat yang tertunda. Namun bel itu terus berbunyi dan terlihat orang yang menunggu di luar sana mulai tidak sabaran.


Dengan kesal Alviro berdiri, ia terpaksa kembali membiarkan sorga dubia itu.


"Kamu pakailah pakaian nya, lalu buka pintu. Aku ingin ke kamar mandi dulu" Kata Alviro dengan nada kasar. Ia harus menuntaskan semua ini sendiri lagi.


Jihan yang masih loading hanya mengangguk pelan, tubuhnya mendadak kaku melihat pusaka Alviro yang menggelantung diantara kedua sisi paham Alviro.


Jihan menepuk pipinya pelan, lalu sesegera mungkin ia memakai baju tidur nya. Saking mau cepatnya karena bek di tekan dengan tidak sabaran, Jihan tidak memakai bra dan juga cd nya. Lalu kemudian Jihan keluar dari kamarnya dan berlari untuk membukakan pintu.


Ketika Jihan membuka pintu, ia kaget mendapati kakaknya dan juga suaminya berdiri di depan pintu apartemen nya.


"Loh, kak Lea sama kak Arvan kok di sini? " Tanya Jihan.


"kenapa? Apa kita mengganggu? " Tanya Lea menyelonong masuk ke dalam apartemen Jihan dan Alviro tanpa dipersilahkan terlebih dulu olehnya.


Arvan mengikuti kemana istrinya melangkah, mereka terlihat seperti orang yang tidak tahu malu. apalgi Jihan berdiri dengan kedua tangan yang bertumbu pada pinggang nya.


"kalian ini apa sih, kok gak ngerti apa yang gue katakan!!! " Sungut Jihan semakin kesal. Namun Arvan dan Lea malah acuh tak acuh sembari memakan cemilan yang ada di atas meja ruang tamu.


Jihan rasa hilang akal, entah kenapa ada dua orang kakak yang terlahir seperti Lea dan Arvan. Mereka sangat menyebalkan dan membuat Jihan semakin marah.


...----------------...