
Lika dan kedua kacung nya masuk ke dalam kelas IPA 1 tanpa rasa malu. Mereka langsung menuju ke meja Jihan. Namun mereka melihat meja Jihan kosong.
"Heh, Si Jihan sialan mana? " tanya Lika pada Ria dengan nada suara sedikit membentak.
Tentu saja Ria tidak Terima di perlakukan seperti itu. Ria bangkit dari duduknya dengan mata menatap Lika tajam.
"Apa lo,Jawab cepat! " desak Lika tanpa memperdulikan wajah Ria yang sudah memerah menahan emosi.
Brak~
Ria mendorong Lika hingga jatuh ke lantai, seketika para siswa lain langsung memperhatikan mereka. Lika bangkit dengan emosi yang memuncak.
"Lo berani sama gue! "
"Apa yang harus gue takutin dari lo? " balas Ria dingin, matanya mengkilap seperti seekor singa menatap mangsanya.
"Cih, lo salah nantang orang" cibir Fela santai, ia duduk di kursinya tanpa peduli dengan keributan yang sedang terjadi. Anak anak wolf yang baru datang juga ikutan kaget. Albi langsung berdiri di samping Ria.
"Ada apa ini? " tanya Albi menatap Ria dan juga lika.
"Lo berani sama Lika? " ujar Lilie. Membuat Ria tersenyum miring.
"Lo bisa di keluarin dari sekolah ini! " sambung Jejei menakut nakuti Ria. Bukannya takut, Ria malah tertawa keras. Membuat mereka yang melihatnya menatap heran.
"Keluarin?? hahahaha.... Lo pikir seorang kepala sekolah se berkuasa itu? " ucap Ria di sela sela tawanya. Kemudian dalam sekejap tawa itu berubah menjadi seringaian yang menakutkan.
"Ini sekolah swasta, Bokap lo yang tidak berguna itu bisa di keluarin kapan saja. Lo makan, karena kami yang membayar bokap lo untuk mengurus sekolah ini" ucap Ria sinis.
"Lo gila? " bentak Lika.
"Kenapa? bukankah begitu? jika bokap lo di pecat, lo hanya kerikil kecil yang tak berguna! "
"Lo!!! " geram Lika tertahan.
Kringgg!!!! bel pun berdering keras, menahan gerakan Lika yang ingan membalas Ria.
"Awas lo! " ancam Lika menunjuk wajah Ria, kemudian berlalu keluar dari kelas IPA satu begitu saja.
"Lo beneran Ria? " gumam Babas tidak percaya. Ia tidak pernah menyangka, gadis sekalem Ria bisa terlihat sangat menyeramkan seperti itu. Bahkan mata sipitnya tidak terlihat, yang ada malah mata bulat besar.
"Ceh, pantes saja Jihan begitu kuat. Ternyata teman temannya juga sangat kuat" ujar Albi menatap Ria bangga. Ia semakin jatuh ke dalam pesona Ria.
"Jika Ria yang kalem sebegitu menyeramkan, bagaimana dengan Fela yang terlihat bar bar" gumam Eldi yang langsung mendapat pelototan dari Fela.
"Gue selembut ini, lo bilang bar bar. Mau mati huh? " serga Fela.
Fela bersiap untuk memberikan tendangan maut pada Eldi. Tapi Babas langsung berdiri di hadapan Fela.
"Ets... Gak usah di ladenin sayang, Eldi emang begitu orang nya" ucap Babas menenangkan Fela.
"Ajarin tu teman lo! " balas Fela melirik Eldi tajam. Membuat Eldi bergidik ngeri, seperti dugaannya, Fela lebih sangar dari Ria.
"Udah udah, tu bu Mirna udah masuk" lerai Ringgo yang sudah duduk di bangkunya. Fela dan Ria kembali duduk ke kursi mereka masing-masing.
"Selamat pagi anak anak! " ucap Mirna dengan senyum tipis menyapa anak anak muridnya. Wanita itu tampak sedikit lebih cerah, ia merasa senang melihat Jihan tidak ada di kursinya. Tanpa banyak mukadimah, Mirna langsung memulai pembelajaran nya.
Sementara di luar sana, Alviro melaju menuju rumah Jihan. Ia sengaja tidak masuk sekolah karena mendapat kabar dari teman temannya, bahwa Jihan tidak masuk sekolah. Jadi Alviro memutuskan untuk datang ke rumah Jihan. Sejak semalam ia menahan rasa rindu yang mulai bersarang kembali di hati.
Tadi malam, Alviro mengunjungi Rendi. Seperti yang sudah ia bincangkan dengan Rendi sebelum nya. Apakah kalian ingat? ketika Alviro baru saja menang dari balapan liar melawan Anji?. Ketika di Cafe, pelayan meminta Alviro untuk menemui bosnya.
Flashback on.
Geng Wolf memasuki cafe Cuanlo, mereka duduk di meja sudut tempat biasa mereka nongkrong. Rendi yang kebetulan baru keluar dari ruangannya, tersenyum lebar ketika melihat anak anak wolf. Ia ingin menyapa mereka, namun mata Rendi menangkap sosok Jihan di antara geng Wolf.
"Jihan gabung sama Alviro? apa yang terjadi? " gumam Rendi penasaran. Ia tahu betul permasalahan di antara Jihan dan Alviro. Karena, orang yang tahu tentang mereka hanya Rendi, sebelum Lea mengetahuinya.
Rendi mengurungkan niatnya untuk menghampiri anak anak Wolf, ia mencari sosok Alviro, namun tidak terlihat di antara mereka semua. Rendi kembali ke dalam ruangannya, ia menitip pesan pada pelayannya Jika Alviro datang, maka suruh dia menemui Rendi. begitu isi pesannya pada pelayannya.
Sesuai pesan yang Rendi titipkan, setelah menunggu beberapa menit. Alviro memasuki ruang kerja Rendi.
"Ada apa? kok tumben manggil gue private gini? " tanya Alviro seraya duduk di kursi di depan meja kerja Rendi.
"Al, lo udah ketemu icha? " tanya Rendi to the poin.
"Aduh, yang jelas dong. Udah ke temu belum! " desak Rendi.
Alviro menghela nafas, ia membuang muka ke samping. "Entahlah Kak, gue bingung. Gue berharapnya itu dia"
Rendi mengerut, sejujurnya ia masih bingung maksud Alviro apa.
"Sejujurnya gue bingung, tetapi satu hal yang mau gue kasih tahu sama lo. " ujar Rendi menjeda ucapannya. Ia menyempatkan untuk meneguk kopi yang hanya tersisa sedikit di dalam gelasnya.
"Sempat sempat nya aja lo gantungin ucapan lo" dengus Alviro kesal.
"Haus gue" kekeh Rendi.
"Oke serius lagi" ujar Rendi dengan wajah yang serius.
"Salah satu gadis yang bergabung sama teman teman lo itu, adalah icha" ucap Rendi.
"Apa? lo serius? Jadi, Jihan itu beneran icha? "
Rendi mengangguk membenarkan tebakan Alviro. "Gue sejak 1 bulan yang lalu ingin memberitahu lo. Tapi karena kesibukan Menyiapkan acara bulanan cafe, gue jadi lupa" jelas Rendi panjang lebar.
"Jadi, tadi gue kaget banget melihat icha berada di antara geng lo. Kalian dah Damai? " tanya Rendi penasaran.
Alviro menggeleng, membuat Rendi semakin bingung.
"Icha tidak mengenali gue, mungkin karena perubahan yang terjadi pada wajah gue, makanya Jihan tidak mengingat gue" lirih Alviro.
"Ada baiknya dia tidak mengenali lo" ujar Rendi.
"Emang iya, tapi tetap aja, gue pengen icha mengingat gue" balas Alviro menghela nafas berat.
"Ohiya, BTW gimana tu si nenek lampir? apa dia masih melakukan hal hal yang mencurigakan?. " tanya Rendi penasaran.
"Untuk sekarang tidak, pokoknya pantau terus, jangan sampai lengah. " gumam Alviro dengan rahang mengeras. Sejak kejadian, dimana Alviro membentak dan mendorong tubuh icha, sejak itu Alviro mulai menyelidiki semuanya. Ternyata bu Mirna lah yang memfitnah Icha pada Alviro , Ia juga yang sudah membocorkan semua kepada musuh Alviro. Sehingga Anji, si musuh bebuyutan itu bisa mengalahkan Alviro dalam lomba musik dan sains.
Flasback off.
Malam itu Alviro membicarakan pada Rendi, bahwa ia mencurigai Mirna dalam insiden mengurung Jihan di dalam toilet. Karena seperti dulu, Mirna dan adiknya pernah mengurung Jihan di dalam peti. Semua itu terbongkar oleh Alviro setelah Jihan pergi dari kehidupan Alviro dan juga semua orang.
...----------------...
Alviro tiba di kediaman keluarga Rafier. Ia langsung menyelonong masuk ke dalam rumah seperti rumah nya sendiri.
Setibanya di ruang tengah rumah Jihan, Alviro di kaget kan oleh kehadiran papa dan mama nya yang duduk bersama kedua orang tua Jihan di sofa.
"Loh Alviro? " ujar Leni tak kalah kagetnya dari Alviro.
"Mama, papa. Kok ada di sini? " gumam Alviro berjalan mendekati mereka.
"Dasar anak nakal, masuk ke rumah orang tidak ucap salam ataupun permisi! " gerutu Brian. Alviro hanya melirik nya sekilas.
"Nak Alviro, kan? " tanya Tia tersenyum pada Alviro.
"Iya tante" balas Alviro tersenyum kikuk.
"Kamu tidak sekolah Alviro? " ujar Burhan seraya melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya. Masih jam 9 pagi, seharusnya Alviro masih di sekolah sekarang.
"Umm... Alviro ke sini mau jenguk Jihan om, tadi malam Alviro tidak sempat menjenguk Jihan" jelas Alviro, ia duduk di samping mamanya.
"Oh, Jihan di dalam kamar nya nak" sahut Tia.
"Dasar anak nakal, selalu saja bolos, entah apa yang di pikirkan anak bodoh itu." omel Brian.
"Udah pa, anak kita tidak akan bodoh jika bolos sekali" sahut Leni menenangkan suaminya.
Bolos sekali??? Leni hanya tidak tahu bagaimana perangai putranya yang sebenarnya. Mungkin guru BK sudah bosan mencatat nama Alviro di buku anak yang bolos setiap hari. Dan dalam 2 bulan ini, Alviro baru sekali ini membolos. Suatu kehormatan bagi dirinya bisa bolos kembali
"Ya sudah, ma pa, tan, om. Alviro mau lihat alihan dulu" pamit Alviro.
"Dasar anak nakal! " dengus Brian.
Burhan dan istrinya hanya ikut tersenyum melihat tingkah ayah dan anak itu.