
Rasya menatap Lidia dengan tatapan tidak percaya. Lidia berani menipunya untuk yang kedua kalinya.
"Lo benar-benar jahat yah Lidia. Gue udah ngakuin lo sebagai sahabat, gue udah lupain semua yang lo lakukan. Gue udah nerima lo apa adanya sebagai teman gue" ucap Rasya sangat kecewa.
Lidia menggeleng kuat, ini bukan seperti yang Rasya pikirkan. "Sya, gue benar-benar gak tahu soal ini Sya. Gue di jebak sya" Lidia meraih kedua tangan Rasya, namun gadis itu langsung menepis tangan Lidia.
"Jangan sentuh gue! dan Ingat! gue gak mau kenal sama lo lagi! " Rasya pergi begitu saja, meninggalkan Lidia yang tertunduk sedih.
"Dasar pelakor"
"Udah bersyukur di maapin, tapi malah kembali melakukan kejahatan"
"Andaikan gue Fela, udah gue cabik cabik tu cewe. "
Seluruh orang menatap rendah Lidia, mereka sangat membenci Lidia.
"Rasya... Gue benar-benar udah berubah, percaya sama gue" lirih Lidia ambruk ke lantai. Tidak ada satu orang pun yang mempercayainya. Lidia benar-benar sendirian sekarang.
...----------------...
Jihan dan Ria membawa Fela ke UKS. Beruntung ujian telah selesai, sekarang mereka hanya menunggu pengungumannya saja. Semenjak pak Johan yang memimpin, SMA Arya Jaya semakin tertib dan disiplin. Tidak seperti dulu. Ayah Siska tidak pernah memperhatikan kebutuhan sekolah, ia hanya memperhatikan dirinya sendiri. Bahkan Kepala sekolah lama menyalahgunakan jabatannya dalam pengambilan keputusan.
"Fela.... Lo udah baikan? " ucap Jihan. Ia mengipas ngupasi Fela dengan lembaran buku.
"Fela.. " panggil Ria.
"Gue gak papa kok, kalian gak perlu khawatir" jawab Fela. Ia berusaha untuk duduk.
"Lo baring aja beb" cegah Babas, ia langsung menuntun Fela kembali berbaring.
"Gue gak papa kok... " Lirih Fela merasa Bahas dan teman temannya terlalu lebai.
"Ria, Jihan, dan semuanya. Gue boleh minta waktu sama Fela gak? " pinta Babas menatap teman temannya.
"Tentu aja Bas, lo boleh berdua sama Fela" sahut Eldi menepuk bahu Babas.
"Terimakasih" sahut Babas.
Mereka pun keluar dari UKS, meninggalkan Babas dan Fela berdua di sana.
"Lo mau ngomong apa sama gue? " tanya Fela setelah taman temannya pergi.
Babas menarik satu kursi dan membawanya ke samping Fela berbaring. Babas menatap Fela lekat, bibirnya memamerkan senyum indah. Melihat tingkah Babas seperti itu, membuat Fela merasa deg deg an. Apalagi ketika Babas menggenggam tangan kanannya dan membawanya ke bibirnya untuk di cium.
"Fela... " Lirih Babas.
"Gue mau ngomong sesuatu sama lo" lirih Babas serius.
"Yaudah ngomong aja, dari tadi juga lo gk ngomong ngomong" balas Fela ketus, hal itu sengaja ia lakukan untuk menghalau rasa gugupnya.
"Hihihi, lo masih aja ketus" kekeh Babas.
"Yaudah, buruan.... " desak Fela, ia juga merasa penasaran. Apa sebenarnya yang akan Babas katakan padanya.
"Oke ok gue bakalan serius" ujar Babas, Fela memutar mata jengah.
"Gue tahu ini sangat sulit buat lo, gue juga tahu lo masih berduka. Tapi, gue gak mau lo terus terusan merasa sendiri dan tidak ada yang menjaganya. "
"Fela" Babas menatap lekat manik mata Fela yang juga menatap ke arahnya.
"Menikahlah sama gue Fela, gue mau melindungi lo. Gue gak mau lo sendirian Fela. Gue sangat mencintai lo Fela" ucap Babas.
Fela tidak bisa berkata apapun lagi, ini sungguh mengejutkan dirinya.
"Bas.. Lo gak lagi mabuk kan? " lirih Fela.
"Gue serius Fela, gue benar-benar mau menikahi lo. Gue juga udah membicarakan hal ini dengan keluarga gue. Dan mereka setuju Fela! " ucap Babas meyakinkan Fela.
"Gue gak terlalu yakin Bas, tapi-"
Cup~
Babas langsung membekap bibir Fela tanpa persetujuan Fela sebelumnya.
"Babas.. " lirih Fela mendorong dada Babas pelan. Namun Babas kembali menempelkan bibir mereka, bahkan Babas menekan tengkuk Fela agar bisa lebih leluasa mengakses bibir pujaannya.
Sementara itu, di balik pintu terjadi kericuhan. Mereka berebut untuk mengintip apa yang tengah terjadi anatar Babas dan Fela.
"STT... Alviro, angkat lebih tinggi" titah Jihan pada suaminya yang sedang menggendong dirinya. Alviro semakin mendorong Jihan keatas.
Ria dan Albi juga berebut mengintip di loplbang pintu UKS.
"Minggir Albi, gue mau lihat juga" lirih Ria.
"Aduhh kalian jangan berisik dong!! " peeingat Eldi pada Ria dan Albi yang terus berisik.
"Omg, mereka ciuman!! " pekik Jihan kaget. Saking kagetnya Jihan melepaskan pegangannya, sehingga Alviro sulit mengimbangi tubuh Jihan dan terjadilah bencana.
Bruk.
Jihan dan Alviro menimpa tubuh Ria dan Albi, sehingga mereka terdorong ke depan dan menabrak pintu hingga terbuka lebar.
Fela dan Babas yang tengah menikmati hangatnya gairah berciuman di dalam ruangan UKS langsung kaget dan melepaskan pangutan mereka.
"Jihan! Alviro!! Ria, Albi, Eldi Liem!! " teriak Babas kesal.
"Apa yang kalian lakukan!! " sungut Fela, ia sedikit kesal karena teman temanya mengganggu waktu yang sangat Fela dambakan.
"Uhmm.. Tapi lo terimakan lamaran Babas? " tanya Ria mengalihkan pembicaraan. Membuat Fela menunduk malu.
"Malu pertanda iya!!! " sorak Jihan dan Ria bahagia.
"Jadi, Fela lo nerima gue? " tanya Babas tak percaya.
"Iya Babas, gue mau nikah sama lo" jawab Fela malu malu.
"Huaaaa gue seneng banget!!!! " teriak Babas memeluk semua teman temannya kecuali Jihan dan Ria.
"Makasih sayang, aku sangat senang! " Babas memeluk Fela erat, tiada bahagia selain hal ini.
"Yeeee..... Hari ini bakalan ada makan besar?!! " sorak Albi dan Ria.
Fela pun ikut tersenyum, ia memanjatkan berbagai ucapan syukur kepada yang maha Kuasa. Ia bersyukur di kirimkan orang orang naik seperti mereka semua. Bahkan Albi yang terkenal Playboy berubah menjadi pria yang baik demi dirinya.
...----------------...
Plak!!!
Bruk.
"Kakak!!! " teriak Lidia marah. Ia menatap kakaknya dengan tatapan tajam.
"Kenapa? apa kau mau melawan ku huh! " bentak Mirna. Dengan kejam Mirna menjambak rambut Lidia.
"Akh!! " pekik Lidia kesakitan.
"Kau bilang kau sangat pintar, kau mengaku jika kau bisa membuat semua orang menderita!! " bentak Mirna.
"Tapi apa!! kau malah berubah menjadi lemah!! kau bahkan meminta maaf"
Lidia tidak mengeluarkan sepatah kata pun, ia hanya menahan sakit di kepalanya. Lidia semakin tidak mengerti, mengapa kakaknya tega melakukan semua ini demi dendam Hanya karena sebuah dendam Mirna tega memperlakukannya seperti ini.
"Sebenarnya aku ini adik mu, atau hanya sebuah alat oleh mu!! " teriak Lidia, ia sudah tidak tahan lagi.
"Yah, kau bukan adik ku. Aku tidak pernah memiliki adik bodoh seperti mu!!! wanita lemah!!! "
Brak..
Tubuh Lidia ambruk di lantai, bahunya bergetar. Hidup yang hampa, tekanan yang harus memaksanya untuk membalas semua dendam ini. Awalnya Lidia memang sangat semangat, bahkan ia rela melakukan apapun untuk melakukan semua yang Mirna perintahkan.
Semenjak Rasya memberikan kehangatan dan kedamaian yang selama ini tidak pernah Lidia rasakan. Membuat gadis belia ini mulai membuka pola pikirannya. Ia mulai berpikir, dendam ini tidak memiliki landasan yang kuat.
"Lakukan semua yang sudah kita rencanakan. Jika kau masih ingin sahabat yang kau sayangi tidak mati di tangan ku! " ujar Mirna menunjukkan foto Rasya.
Mata Lidia melebar, ia berusaha untuk bangkit. Ia menatap tajam kakanya.
"Jangan sentuh Rasya!! jika kau berani melakukannya!!!!! kau akan menerima akibatnya!!! "
Plak!!!
Tamparan keras kembali mendarat di pipi mulus Lidia. Mirna benar-benar tidak suka ketika Lidia berani membentaknya.
"Aku sudah membesarkan mu dari kecil! apa ini balasan mu huh!!! " bentak Mirna tajam.
"Apa salah, seorang kakak membesarkan adiknya? " lirih Lidia, ia sudah tidak bisa memikirkan apapun lagi. Ia bahkan mulai ragu tentang keluarga nya.
"Aku bahkan menyesal memiliki adik seperti mu! " ucap Mirna, lalu ia pergi begitu saja.
Sungguh ini merupakan tamparan kuat bagi Lidia. Ia benar-benar sendiri, tidak ada satu orang pun yang berada di sisiNya. Mirna hanya membutuhkannya untuk membalaskan dendam. Ia merasa tidak pernah di perlakukan baik oleh Mirna jika ia gagal melaksanakan tugasnya.
"Arrkkkk!!!!" teriak Lidia frustasi. Ia memukul mukul kepalanya yang terasa akan pecah. Lidia sudah tidak sanggup lagi menjalani hidup seperti ini. Lidia benar-benar hancur!.
Rasya, satu satunya orang yang mau menerimanya sudah tidak percaya lagi dengan nya. Semua ini karena Mirna. Kakaknya dengan sengaja memakai ponselnya untuk membuat kekacauan di rumah Fela. Sehingga mereka semua memandang buruk pada Lidia.
"Mirna, kau akan mendapatkan akibat dari semua ini. Sudah cukup Mirna menghancurkan kehidupanku. Sudah cukup!! " teriak Lidia dalam hati. Ia tidak akan membiarkan Mirna kembali menghancurkan hidupnya. Sudah cukup! pria yang amat Lidia cintai pergi juga karena Mirna!.
...----------------...