
"Alviro!!!! Alviro!!! Alviro!!!! "
"Alviro!!! "
"Hhuuuuuuuuuuu"
Semua orang bersorak girang melihat kemenangan Alviro. Mereka berlonjak senang, lagi dan lagi Alviro yang memenangkan balapan ini.
Para penonton di buat heran, Alviro terus memacu mobilnya melewati garis Finish, ia tidak berhenti. Malah Alviro berlalu pergi.
"Eh, kok Alviro langsung pergi? " gumam mereka heran.
Anji keluar dari mobilnya, wajahnya kesal. Lagi lagi ia kalah dari Alviro. Sudah berulang kali Anji berusaha untuk mengalahkan Alviro. Tapi, lagi lagi pria itu menang darinya.
"Sial!! " umpat Anji menendang ban mobilnya.
iuuwwwuu.... wuuu.. (Suara sirinai mobil polisi. anggap aja begitu yah😅)
"Polisi? " kaget Anji.
Mereka semua kalang kabut, berhamburan melarikan diri.
"Kabur kabur..... " seru Anji pada teman teman. Mereka segera masuk ke dalam mobil dan akan melaju. Tetapi tiba-tiba mobil polisi menghadang mobil Anji dari depan. Ingin mundur tidak bisa, dari arah belakang polisi juga sudah memblok jalan.
"Sial! " umpat Anji. Mereka semua tidak bisa kemana mana.
"Pantas saja Alviro tidak berhenti" Gumam teman Anji.
"Gue rasa dia yang merencanakan ini" maki Anji. Mungkin hari ini ia sangat sial, karena terlalu tertarik dengan gadis tadi, Anji sampai tidak membaca gerak gerik Alviro.
Sementara Alviro dan Ringgo bertos riah, ia berhasil membuat Anji di tangkap oleh polisi. Hal ini bisa membuktikan kepada Papanya Alviro, bahwa selama ini bukan dia pemimpin balap liar ini. Alviro hanya menerima tantangan saja.
"Sekarang kita kemana? " Tanya Ringgo.
"Kita ke Cafe biasa, anak anak gue suruh nunggu di sana" jawab Alviro tanpa menoleh. Ia terlalu senang bisa memenangkan balapan ini, dan membuktikan kepada Jihan, bahwa dirinya tidak akan membiarkan Jihan jatuh ke tangan orang lain.
"Al" Panggil Alviro pelan. Ia ingin menanyakan sesuatu pada Alviro, dan memberitahu sesuatu juga.
"Hm.. " dehem Alviro.
"Lo sama Jihan udah Damai? Kok bisa sih? " tanya Ringgo penasaran.
"Hm.. Seperti yang lo lihat, gue dan Jihan memutuskan untuk memulai dari awal. Melupakan insiden insiden yang membuat kita jadi musuh" jelas Alviro santai.
"Kenapa tiba-tiba? bukannya lo kemarin tidak mau mengakuinya? bahkan lo tidak mau mendengar apa yang gue ucapkan sama lo"
"Ringgo, stop. Gue akui, apa yang lo bilang benar adanya. Sejak gue bertemu dengan Jihan di taman bermain, gue menyadari, ada kemiripan di antara mereka. Tapi.. "jeda Alviro.
" Tapi apa? "tanya Ringgo penasaran
"Gue masih ragu, dia beneran icha atau tidak"
"Lo harus pastiin Al, jika Jihan bukan icha. Lo harus buat pilihan" ujar Ringgo, membuat Alviro menoleh padanya.
"Maksud lo? " Alviro tidak mengerti apa yang di maksud Ringgo Mengapa ia harus membuat pilihan.
"Gue merasa Liem tertarik sama Jihan. Jika Icha bukan Jihan. Maka lo harus membuat pilihan, membuka hati untuk Jihan, atau malah membiarkan Jihan sama Liem.
Cittttytt Citttttttt..
Alviro menginjak rem kuat, sehingga mobil yang sedang ia kendarai berhenti mendadak. Untung Ringgo memakai sabuk pengaman, jika tidak. Maka akan di pastikan Ringgo sudah terhempas ke depan.
" Maksud lo apa? "
"Gila, lo hampir bunuh gue hanya untuk mengucapkan kata. Maksud gue?? " ujar Ringgo tak habis pikir, ia masih syok dengan apa yang Alviro lakukan. Meskipun dia seorang pembalap, tetap saja ringgo merasakan syok ketika mendapat tekanan seperti yang Alviro lakukan padanya.
"Lo tahu dari mana Liem menyukai Jihan? "
"Lo gak liat, gimana cara Liem menatap Jihan. Liem orang nya tidak terlalu peduli dengan cewe. Tapi Jihan? Liem sangat, memperhatikan gadis itu" jelas Ringgo.
Alviro mencengkram stir kuat, entah karena bingung dengan perasaannya, atau mungkin karena tidak rela Jihan di sukai oleh sahabat nya sendiri.
Alviro kembali menjalankan mobilnya, mereka melaju menuju ke cafe Cuanlo. Tidak ada lagi percakapan di antara keduanya. Alviro sibuk dengan pikiran nya sendiri, sementara Ringgo memilih untuk diam, ia memberikan ruang untuk Alviro berpikir.
Alviro dan Ringgo tiba di depan cafe Cuanlo. Mereka melihat mobil Fela dan Ringgo yang di kendarai oleh Eldi sudah terparkir di sana.
"Mereka sudah ada di sini" gumam Ringgo, Alvaro mengangguk pelan.
Mereka masuk ke dalam Cafe, Alviro dan Ringgo mengedarkan pandangannya mencari posisi teman temannya duduk.
"Mereka di tempat biasa" ujar Ringgo melihat ke arah sudut cafe, di sana terdapat Albi, babas, Liem, eldi dan ketiga cewe cantik.
Alviro dan Ringgo melangkah menghampiri teman temannya. ketika hampir mendekati meja teman temannya, seorang pelayan menghadang Alviro. Ia mengatakan jika bos nya ingin bertemu dengan Alviro.
"Guys, gue ke belakang dulu" ucap Alviro pada teman temannya.
"Dia sejak tadi kebelet" jelas Ringgo pada Jihan. Membuat gadis itu mengangguk pelan.
"Wahhh, pasti curut curut itu di tangkep" ucap Eldi dengan ekspresi senang.
"Oh pasti dong, berkat Ringgo kita kita gak jadi di bawa sama curut itu" puji Fela sengaja memanas manasi Babas.
"Ih, Ayang Fela. Gak boleh ngomong begitu. Kalo gue yang balapan, pasti menang juga kok" balas Babas menyombong kan diri.
"menang apaan? yang ada tu, lo nyungsep ke jurang" celetuk Albi. Membuat mereka semua tertawa. Kecuali Babas, ia mengerucutkan bibirnya merajuk.
Jihan tertawa renyah, matanya terus melirik ke arah dimana Alviro menghilang.
"Udah, bentar lagi Alviro bakalan balik kok" seru Eldi menggoda Jihan.
Liem melirik Jihan, ada raut kecewa ketika melihat Jihan seperti menunggu Alviro. Namun Liem berusaha untuk menyembunyikan ekspresi nya. Ia tidak tahu jika Ringgo memperhatikan nya.
"Lo bisa diem gak, dari tadi gangu aja!! " serga Jihan menatap Eldi tajam.
"Eh kok malah marah sama gue" gerutu Eldi.
"Yah sejak tadi lo ngeselin banget" balas Jihan.
"Yah lo sih, paling enak di usilin, sejak tadi gelisah mulu. Padahal Alviro sudah menang, takut banget di tinggal Alviro" kekeh Eldi di akhir kalimat.
"Ihhh tuh kan Ngeselin"
"Eh sudah sudah, Eldi berhenti! jangan menggoda Jihan lagi" lerai Liem. Mereka melirik ke arah Liem. Tumben sekali Liem mau bersuara hanya untuk hal sepele seperti ini. Liem itu sama seperti Ringgo, jika tidak penting, maka tidak akan bicara.
"Kenapa? " tanya Liem, membalas tatapan aneh dari teman temannya.
"Hah, gak ada" kekeh mereka pelan. Suasana di antara mereka seketika menjadi canggung.
...----------------...
"Sorry, gue kelepasan" lirih Arvan. Ia melangkah mundur, memberi jarak dengan Lea. Gadis itu tidak bereaksi apa apa. Lea hanya menunduk dengan pipi yang memerah seperti tomat.
Arvan sudah mengambil kesucian bibir Lea, selama ini belum ada yang berani mengambilnya dari Lea.
"Eum... Apa ini ciuman pertama lo? " tanya Arvan ragu ragu.
"Tidak, ini bukan yang pertama" jawab Lea cepat, ia tidak mau terlihat cupu di depan Arvan. Meskipun ini memang pengalaman pertamanya.
Bunda!!!!!! bibir Lea udah gak perawan lagi!!!!. Lea menangis di dalam hati, namun harus terlihat biasa saja di depan Arvan.
"Bagus lah kalo begitu" Gumam Arvan. Sejujurnya ada rasa kecewa di hatinya, karena Arvan juga melakukan nya pertama kali dengan Lea.
"Udah deh, cepetan keluar!!! " usir Lea mendorong tubuh Arvan keluar dari kamarnya. Kemudian menutup pintu kuat.
Setelah mengunci pintu, Lea melompat keatas ranjang nya. Kemudian bergolek ke sana kemari mengungkapkan ke gelisahannya.
"Huaaaa...... Bibir gue!!!! "
"Bunda!!!!!!! "
"Hiksssss"
Lea bergerak gelisah di atas ranjangnya, ia meraba raba bibirnya yang tadi di nikmati oleh Arvan. Bayangan Arvan mengecup bibirnya masih terlihat jelas di matanya.
Sementara Arvan kembali ke ruang tamu. Wajahnya tersenyum puas, meskipun Lea mengaku ini bukanlah yang pertama, tapi Arvan yakin Lea berbohong padanya. Cara berciuman saja Lea masih kaku.
"Lo Arvan, kenapa senyum begitu? " tanya Leni heran. Arvan tidak sadar jika dirinya masih tersenyum lebar sampai di ruang tamu.
"Gak ada ma, Arvan berhasil mengerjai Lea" kekeh Arvan.
"Kamu ini yah, nanti beneran di nikahkan sama Lea baru tahu" sahut Tia.
"Oh boleh tante, hm... Bunda" balas Arvan memperbaiki panggilan nya pada Tia. Membuat para tetua tertawa mendengarnya.
"Kamu ini yah, lucu sekali" ujar Tia.
"Arvan serius. Ma, pa, lamar aja sekalian malam ini, biar Lea gak di ambil orang"
Leni dan Brian berhenti tertawa, mereka menatap Arvan dengan tatapan yang berbeda
"Kamu serius? gak iseng kan?. Orang tua Lea denger lo" ujar Leni.
Arvan mengangguk cepat, ia sangat yakin dengan keputusannya. Ia sudah menyukai Lea sejak lama. Karena mereka sama sama sudah kelas tiga, Arvan ingin menikahi Lea setelah mereka lulus nanti. Jadi Arvan bisa menjaga jodohnya sendiri.
"Nanti kita bicarakan ya sayang" ujar Tia. ia tersenyum melihat keberanian Arvan, Burhan juga begitu. Semoijuga terpikir oleh nya untuk menjodohkan Lea dengan Arvan. Karena Burhan sangat menyukai cara Arvan berkerja di kantor. Masih mudah, tapi Arvan sudah sangat bertanggung jawab dalam membantu Brian di kantor.
...----------------...