
Kringgg!!!!
Bel istirahat pun berbunyi. Raut kelegaan terlihat jelas di wajah setiap siswa siswi Arya Jaya. Mereka bisa bernafas lega setelah di sesakkan oleh berbagai materi pelajaran yang guru mereka berikan.
"Yuk ji, ke kantin" ajak Ria, ia dan Fela sudah selesai menyimpan buku pelajaran mereka ke dalam laci. Mereka berdiri menatap Jihan yang masih sibuk menyusun buku bukunya. Jika dalam belajar, Jihan paling banyak mengeluarkan buku. Ia harus fokus dan bisa memahami pelajaran dengan sangat baik.
Jihan berdiri dari duduknya, ia hendak menjawab ucapan Ria. Namun, belum sempat bibirnya terbuka, Alviro sudah memotong ucapannya.
"Kalian duluan saja, ada yang perlu gue bicarakan dengan Jihan" ucap Alviro dan langsung menarik tangan Jihan berlalu pergi.
"Yahhh, malah di bawa " lirih Fela menatap kepergian Jihan dan Alviro.
"Ups.Tidak masalah bebeb ku sayang. Ayang babas akan menemani mu makan di kantin" Babas merangkul bahu Fela, kemudian tampa bisa menolak mereka pergi ke kantin bersama. Ria, Albi dan anak wolf yang lain hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Tom and Jerry yang sedang akur.
Sementara itu, Jihan terus melangkah mengikuti langkah besar Alviro. Mereka tiba di atap sekolah. Agar tidak ada yang mengganggunya, Alviro mengunci pintu, membuat Jihan melotot kaget.
"Hei, apa yang lo lakukan?, Sekarang sedang istirahat Alviro. Gue mau ke kantin! " protes Jihan berusaha untuk membuka pintunya kembali. Namun Alviro mencegahnya.
"Jihan, tenang!! gue cuma mau bicara sama lo! " Alviro menarik Jihan ke tempat biasa mereka duduk. Lalu, Alviro langsung memeluk Jihan.
"Alviro. Lo ngapain sih! " protes Jihan mendorong dada Alviro dan berjalan kearah pintu. Tapi, Alviro mencegahnya, ia harus berbicara dengan Jihan.
"Gue butuh bicara sama lo Jihan, gue gak mau jauhin lo, gue mau lo jadi pasangan gue!! " ujar Alviro cepat.
Jihan tertegun, ia membalikkan tubuhnya menatap Alviro.
"Jihan, gue bersungguh-sungguh" ucap Alviro meyakinkan Jihan.
Jihan mendekati Alviro dengan wajah tidak memiliki ekpresi apapun, tangan nya terangkat untuk membelai pipi Alviro. Kemudian tawanya pecah di depan wajah Alviro. Jihan tidak mengerti, mengapa Alviro terlihat ketakutan seperti ini.
"Lo nembak gue? dengan cara seperti ini? " Jihan masih tertawa, menurut nya ini benar-benar sangat lucu.
"Jihan!! Gue serius. Tapi kenapa lo malah tertawa? "
"Alviro, jika lo menyatakan cinta sama gue, gak seharusnya dengan cara se misterius ini" Jihan berusaha untuk mengontrol dirinya. Namun, Jihan kesulitan melakukannya. Apalagi ekspresi bingung Alviro benar-benar membuat nya sakit perut.
"Jihan... "panggil Alviro. Membuat Jihan mengangguk dan berdehem agar tawanya berhenti.
"Iya Alviro, gue akan berhenti" gumam Jihan.
Setelah berhasil menghentikan tawanya, Jihan kembali menatap wajah Alviro lekat. Menatap wajah tampan Alviro yang juga menatap padanya.
"Lo itu, benar-benar lucu, menembak cewe tapi malah seperti ini. Gue pikir, cowo tampan dan dingin seperti lo, akan melakukan hal yang romantis ketika menyatakan cinta" Jihan mengelus pipi Alviro pelan, kilasan maaa lalu tiba-tiba menghantuinya. Jihan mengerutkan keningnya menahan rasa sakit yang tiba-tiba datang.
"Jihan, lo kenapa? apa kepala lo sakit? " tanya Alviro khawatir. Jihan memegangi kepalanya sendiri, ini benar-benar sakit.
Kenapa ini tiba-tiba datang? di saat gue sudah melupakan dan menguburnya dalam dalm.
Jihan masih memegangi kepalanya, Alviro membawanya duduk di bangku yang tak jauh dari mereka berdiri.
Jihan duduk dan Alviro berlutut di hadapannya, ia benar-benar khawatir melihat Jihan Meringis kesakitan. Alviro berpikir akan membawa Jihan ke UKS.
"Jihan, apa gue perlu bawa lo ke UKS? "
"Kak yen, aku akan selalu menunggu mu. Ketika kita sudah dewasa nanti. Kita akan menikah dan menjadi orang yang sukses" ucap anak remaja di dalan ingatan Jihan. Posisinya sama persis seperti yang Jihan lakukan pada Alviro tadi. Jihan merasa, untuk kedua kalinya ia merasakan posisi dimana ini pernah terjadi. Ia merasa mengulang kejadian itu.
Alviro semakin khawatir, Jihan menggeleng dan terlihat aneh. Alviro pikir kepala Jihan sangat sakit, makanya Jihan bersikap seperti itu.
Tanpa berpikir lagi, Alviro langsung mengangkat tubuh Jihan dan menggendong nya menuju ke UKS.
"Eh Apa yang lo lakukan Alviro!! turunkan aku!! " teriak Jihan memukul bahu Alviro agar dirinya segera di turun kan.
"Tidak Jihan, lo seperti nya sakit. Gue harus membawa lo untuk di periksa ke UKS. " jelas Alviro tetap akan membawa Jihan ke UKS. Namun, Jihan tetap memberontak dan mengancam jika Alviro membawanya ke UKS, Jihan akan melompat dan terjatuh.
Tentu saja Alviro tidak mau Jihan terjatuh, akhirnya ia menurunkan Jihan kembali.
"Jihan, gue khawatir jika lo kenapa kenapa"
"Tenang Alviro, gue baik baik sajaGue hanya sedikit pusing karena merasa pernah melakukan memonopoli seperti ini ketika bersama seseorang." Jelas Jihan jujur.
Deg.
Alviro terdiam, ia mulai berpikir jika yang di katakan Jihan adalah moment bersamanya di masa lalu.
"Jihan.. Maksu lo-_"
Drrrtt... Ponsel jihan berdering, menghentikan Alviro berbicara.
"Sebentar al, kak Lea menghubungi gue" ujar Jihan memperlihatkan layar ponsel nya pada Alviro.
Setelah Alviro mengangguk, Jihan langsung mengangkat panggilan dari kakaknya.
"Halo Jihan, lo dimana?. Gue di kantin dan mendapati lo tidak bersama teman teman lo! " ucap Lea di sebrang sana. Jihan melirik Alviro, kemudian menggeleng pelan sebelum menjawab pertanyaan kakaknya.
"Gue lagi di perpus kak, sebentar lagi tiba di kantin" balas Jihan berbohong. Ia tahu jika Lea masih sangat tidak suka dengan Alviro. Jihan sangat tahu jika Lea masih trauma dengan kejadian beberapa minggu yang lalu.
Alviro cukup kaget, Jihan berbohong pada Lea
"Dah yah Kak, gue ke sana sekarang"
Klik.
Jihan kembali mendekati Alviro, ia tersenyum lebar.
"Maaf, gue harus berbohong pada kak Lea. Gue gak mau kak Lea semakin membenci lo, jadi gue harus menjauh dengan lo ketika di hadapan kak Lea" jelas Jihan tersenyum tipis.
Alviro tak bereaksi, ia terdiam mendengar penuturan Jihan. Terbesit luka di hatinya, ia menyesali sudah pernah melukai hati Jihan. Melukai hati seorang gadis yang mencintainya sangat tulus.
"Alviro, gue harus pergi" ujar Jihan, membuyarkan lamunan Alviro mengingat kesalahan yang telah ia lakukan pada Jihan.
"Hm, tapi Jihan-" belum sempat Alviro menyelesaikan ucapan nya, Jihan sudah berlalu pergi dari atap sekolah. Ia pergi menuju kantin.
"Maafin gue Ji, gue udah jahat sama lo. Gak bisa gue bayangkan, jika suatu hari nanti lo tahu siapa gue. Gue gak sanggup membayangkan ketika hari itu datang ji" batin Alviro. Ia terlihat sangat rapuh sekarang, jika seseorang ingin melihat Alviro larut dalam kerapuhan. Maka lihat lah dirinya saat ini, bahkan Alviro meneteskan air matanya.
...----------------...