
Jihan berjalan sendiri ke taman belakang sekolah, kedua sahabat nya pergi ke kantin untuk membeli minuman.
"Lo sendirian? " tanya Lidia berjalan mendekati Jihan yang sudah duduk di bangku taman.
"Hem" jawab Jihan.
Lidia duduk di sebelah Jihan, ia memasang wajah polos, agar Jihan iba dan mau berteman dengan nya.
Jihan tampak acuh, ia lebih fokus ke ponselnya dan mengabaikan Lidia.
"Gue denger denger, lo anak pindahan juga di sini? "
"Huh? " Jihan menoleh padanya. Kemudian tersenyum.
"Yah, gue dan kedua sahabat gue anak pindahan. Sudah hampir satu semester" jawab Jihan kembali menatap ponselnya. Lidia merasa sedikit kesal, Jihan tampak acuh padanya.
"Lo kok bisa sih, akrab sama semuanya begitu cepat? " ujar Lidia lagi, ia terlalu banyak bertanya menurut Jihan. Tapi, its oke lah. Mungkin Lidia kesulitan beradaptasi di sekolah ini. Pikir Jihan.
"Gue gak tahu kenapa, tapi yah semuanya mengalir begitu aja. Selagi kita baik, pasti dapat temen yang baik kok! " kata Jihan tersenyum.
Lo pikir gue gak baik?. pikir Lidia merasa tersinggung.
"Lo sama Alviro pacaran? "tanya Lidia penasaran. Jihan tak langsung menjawab, membuat Lidia merasa tidak enak.
" Maaf jika gue terlalu lancang " ucap Lidia.
"Yah, gue dan Alviro pacaran" jawab Jihan singkat.
"Wahh, beruntung banget, yah" kagum Lidia.
"Oh tentu dong, kita bertiga satu satunya cewe yang bisa dekat sama anak anak wolf" jawab Fela. Ia berjalan mendekati Jihan bersama Ria.
"Fela" ujar Jihan.
"Hai Fela, Ria" sapa Lidia.
"Hmm" ketus Fela, Ria tidak menjawab.
"Kalian gak boleh gitu sama dia, Lidia ini baru di sekolah kita. Pasti ia kesulitan mencari teman" jawab Jihan, di ikuti senyum manis oleh Lidia.
"Tapi Ji. "
"Udah Fela, gak boleh milih milih temen" potong Jihan. Fela hanya mendengus kesal.
Kringgg!!!!!!!
Bel masuk pun berbunyi.
"Yuk cabut" kata Jihan. Fela dan Ria mengangguk pelan, kemudian mereka berlalu menuju ke kelas bersama. Lidia mengekor di belakang.
Lo masih se polos dulu cha. Kita lihat, bagaimana Ending dari kisah lo dan Alviro yang tertunda.
Sesampainya di kelas, Alviro dan kelima anak wolf bersiap dengan tas sudah berada di bahu masing-masing. Jihan, Fela dan Ria menautkan keningnya bingung.
"Kalian mau kemana? kok bawa tas semua? " tanya Ria.
"Pak johan memberi kita tugas, dan tugasnya boleh di kerjakan di luar" kata Albi menjelaskan.
"Wahh bagus dong. Bas, jalan yuk! " ajak Fela tersenyum manis pada babas. Ia sekarang sudah mulai merasakan nyaman pada Babas, ia juga merasa memiliki hoby yang sama dengan Babas.
"Mau banget!! " sahut Babas.
"Nih tas nya, yuk pulang" Ucap Alviro sembari memberikan tas ransel pada Jihan.
"Makasih" balas Jihan.
"Yuk" Alviro menggandeng tangan Jihan. Ada rasa greget di hati Jihan mendapat perlakuan seperti ini dari Alviro.
"Jihan" panggil Lidia. Ia berdiri di depan Jihan dengan ekspresi ragu.
"Ada apa Lidia? " tanya Jihan.
"Lo mau bantu gue gak? " tanya Lidia.
Babas, Albi dan Ringgo menatap tidak suka pada Lidia.
"Sorry, Jihan tidak punya waktu! " Alviro menarik tangan Jihan keluar dari kelas.
Fela dan Babas keluar paling terakhir, ia menatap Lidia tak suka. Fela memiliki Prasat jika Lidia ada niat terselubung.
"Lo jangan pernah bermimpi untuk mengacaukan hubungan mereka! " kata Fela mengancam.
"Bersikap baik lah Lidia, lo baru di sini" nasihat Babas.
"Gue semakin yakin, dia bukan gadis polos" gumam Fela menatap kepergian Lidia.
"Benar baby, gue paling tahu, mana cewe baik, mana cewe yang gak baik. Mata kelakilakian gue mengatakan, dia bukan wanita yang baik" sahut Babas.
"Iya kan? " ulang Babas lagi, ia tidak sadar Fela tengah menatap dirinya sinis.
"Jadi lo sering perhatiin cewe lain? "Fela mengintimidasi.
" hm, Ti-Tidak Sayang. Mak-su, Maksud gue" Babas tergagap, bingung ingin menjelaskan apa.
"Udah lah, gue kesel sama lo! "
Brak!
Fela memukul dada Babas, kemudian pergi meninggalkan Babas begitu aja.
"Fela!!! Fela!! "
"Aduhh, ni mulut kenapa gak ada remnya sih. Jadi ngambek kan Fela. " gerutunya Babas memarahi mulutnya sendiri.
"Mana dapetinnya sudah lagi. Fela!!... Sayang!!!! " Babas mengejar Fela.
Sementara itu di dalam mobil Alviro, Jihan kembali mendapat perhatian dan perlakuan yang sangat baik dari Alviro. Jihan tidak bisa menyembunyikan senyum dan rasa senang dari wajahnya.
Lihat lah, Sebelum menjalankan mobilnya. Alviro malah memasangkan sabuk pengaman yang lupa Jihan pasang.
"Setiap naik mobil, memakai ini tu penting sayang" kata Alviro setelah memakaikan untuk Jihan.
Deg
Dug
Dig
Jantung Jihan berdetak kencang, Alviro benar-benar membuat nya tak bisa bernafas. Apalagi kejadian pagi pertama yang sulit Jihan lupakan.
Alviro dan Jihan memang tidak melakukannya, Alviro hanya menggodanya dan mencumbu nya saja. Alviro memberikan waktu untuk Jihan hingga dirinya siap dan melakukan nya secara nyata dan penuh cinta.
Jihan tak bereaksi apapun, ia hanya diam dan menatap kurus ke depan. Perlakuan Alviro sedari tadi tak di respon sama sekali. Menoleh saja Jihan tidak sanggup. Alviro mengira Jihan marah padanya.
"Sayang" lirih Alviro menggenggam tangan Jihan.
"Iya? " sahut Jihan kaget, ternyata dirinya melamun sejak tadi.
"Kamu marah sama aku? " ujar Alviro.
"Tidak" Jihan menggeleng cepat. Jantungnya berpacu cepat. Dia tidak marah pada Alviro, tetapi ia tidak bisa mengucapkan kata apapun dan juga tidak bisa menatap wajah Alviro. Jihan merasa jantung nya akan meledak.
"Lalu, kenapa kamu diam saja sejak tadi? bahkan bicara ketus dan tidak mau melihat pada ku" kata Alviro.
"Hm.. Ma-maaf Al, tapi.. Gue.. " Jihan malah makin gugup, apalagi tangan Alviro masih menggenggam tangannya erat. Jihan merasakan ada sengatan listrik yang mengalir ke tubuhnya melalui tangan Alviro.
"Nanti kita lanjutkan" ujar Alviro menarik tangan Jihan dan mengecupnya.
"Hm.. " balas Jihan.
Alviro melajukan mobilnya semakin cepat menuju ke sebuah tempat. Ia ingin membuat surprise pada Jihan.
...----------------...
Drrrttt....
Lidia yang sedang, menyetir mengambil ponselnya, ia melihat nama kakaknya tertera di layar ponselnya.
"Halo, ada apa? " kata Lidia tanpa basa basi.
....
"Nanti akan aku jelaskan, sudah. Aku tutup" ujar Lidia langsung memutuskan sambungan.
"Menyebalkan! " dengus Lidia melempar ponselnya ke samping.
"Aku sudah sulit, di tambah lagi dengan omelan yang tidak jelas" gerutunya. Lidia membelokkan mobilnya masuk ke dalam perumahan elit. Ia sengaja menyewa salah satu bangunan mewah untuk menutupi identitasnya.
Tampa Lidia sadari, sebuah mobil hitam mengikutinya dari belakang.
"Jadi, di sini dia bersembunyi" seseorang dengan kaca mata hitam, bibirnya tersenyum miring.
"Kita lihat, apa yang sedang kau rencanakan Lidia! "orang itu kembali tersenyum. Semua dugaannya ternyata benar.
...----------------...