I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 15



Setelah dari toilet, Alviro langsung kembali ke kelas. Bel masuk juga sudah berdering nyaring. Alviro sebenarnya sangat malas masuk, ingin rasanya Alviro bolos hari ini. Tapi, kalimat peringatan dari papa nya kembali terngiang di telinganya.


" Baby Alviro!!! "


"Ehh baby Alviro tunggu!!! " teriak Lika lagi, ia berlari menghampiri Alviro yang berjalan semakin cepat.


"Aduh, cewe badut! ada apa sih"


"Ihhh Baby Alviro kok marah marah sih! " ucap Lika mengerucutkan bibirnya, lalu ia langsung bergelanyut manja di lengan Alviro.


"Apaan sih Lo" Alviro menatap Lika kesal.


"Astaga!!!!!! baby!!!!! " teriak Lika mencak mencak di tinggal oleh Alviro.


"Yang sabar yah Lika" Lilie mengusap bahu lika


"Itu karena Alviro pengen masuk kelas. kan udah Bel" bujuk Jejei.


"Hiksss... Hikss. Ini semua pasti karena anak baru itu!!! " gumam Lika.


Lilie dan Jejei hanya saling melempar pandang. Mereka sebagai pengikut Lika, hanya bisa mengikuti apa yang Lika perintahkan.


"Yokk guys kita masuk"


Setibanya di dalam kelas, Alviro langsung masuk ke dalam kelasnya. Meskipun bu mirna sudah ada di dalam.


"Dari mana kamu Alviro! " tegur bu Mirna. Namun Alviro tidak menjawab, ia terlihat acuh pada bu Mirna.


Bu Mirna hanya bisa menghela nafas, ia tidak bisa berbuat apa apa. Meskipun terasa sangat sakit, ketika anak murid tidak menghargai sebagai seorang guru.


Seluruh murid menatap iba kepada bu Mirna, namun mereka tidak bisa berbuat apa apa.


"Heh! Alviro yang terhormat! " panggil Jihan dengan lantang. Ia berdiri dari tempat duduk nya, kemudian menatap Alviro dengan tatapan yang sulit di artikan. Semua yang ada di sana cukup kaget, termasuk bu Mirna.


"Jihann... " Lirih Ria. Jihan hanya melirik nya sebentar, kemudian kembali menatap pada Alviro.


"Apa? " jawab Alviro dingin. Ia pun ikut berdiri dari duduknya. Menatap lurus kearah Jihan.


"Lo, bisa gk sih. Hargai bu Mirna sebagai seorang guru!! "


"Sejak tadi bu Mirna bertanya, tapi lo. Gak ada respon sama sekali! "


"Apa urusannya sama lo! gak usah sok peduli deh, gak usah sok jadi pahlawan. " Balas Alviro.


"Jihan! Sudah! " lerai bu Mirna. Ia tidak mau terjadi apa apa lagi di kelas ini.


"Tidak bu, murid kurang ajar ini harus di beri sedikit pengajaran" sahut Jihan.


"Cih" Alviro berdecih, ia tertawa pelan.


"Lo anak baru di sini, jadi lo gak usah ikut campur. Paham kan" ucap Alviro penuh penekanan pada Jihan.


"Apapun itu, tetap saja. Bu Mirna seorang guru!! bukan budak yang berkoar memberi lo pelajaran!!! "


"Benar, dia memang budak!! " sahut Alviro cepat.


"Alviro!!! " Bentak Jihan lagi. Emosinya semakin memuncak. Pria itu semakin menjadi jadi. Jihan tidak akan membiarkan Seorang murid, meremehkan seorang guru.


Semua murid menahan nafas, mereka tidak sanggup melihat semua ini. Jihan, si anak baru berani sekali melawan Alviro. Bu Mirna sudah terisak di depan, Ria dan Fela berinisiatif mendekati bu Mirna, mencoba menenangkan bu Mirna.


Kini Jihan sudah berdiri di depan Alviro, Ringgo ,Eldi dan liem juga ikut berdiri.


"Gue bingung yah, sama sekolah ini. Terkenal paling unggul, tapi isi Nol! " decak Jihan. Ia tidak menyangka, siswa seperti Alviro bisa di letakkan di kelas unggulan. Seharusnya, Alviro di letakkan di kelas yang paling bawah, seperti IPS 6,tidak cocok masuk IPA.


"Seharusnya lo gak ada di sini" ucap Jihan datar.


"Seharusnya, Siswa yang memiliki otak kodong seperti lo, tidak masuk sekolah unggul seperti kita! " lanjut Jihan lagi.


Alviro menatapnya lekat, berani sekali anak baru ini kepadanya.


"Lo berani sama gue? "


"Huh, apa yang membuat gue takut sama lo? apa lo anak pejabat, atau pemilik sekolah ini sekalipun"


"Dia memang anak pemilik sekolah ini Jihan" sahut siswa lain.


"Oh, benarkah? "


Jihan tersenyum miring, ia menepuk bahu Alviro pelan. Membuat pria itu langsung menepis nya.


"Gue mau tahu, gimana perasaan kedua orang tua lo. Memiliki anak banci seperti lo" ucap Jihan tepat di depan wajah Alviro.


Rahang Alviro mengeras, Jihan benar-benar sudah terlampau batas. Ia sudah membuat seorang Alviro malu di hadapan semua orang. Alviro juga melirik bu Mirna yang sudah di tenangkan oleh Fela dan Ria.


Brak!


Alviro menendang meja, kemudian pergi begitu saja dari dalam kelas. Untuk saat ini Alviro tidak bisa berbuat apa apa.


Sementara anak anak Wolf lainnya hanya bisa menghela nafas, mereka tahu mengapa Alviro bersikap seperti itu. Namun mereka tidak bisa membantu Alviro, karena sikap Alviro benar benar salah. Walau bagaimana pun, bu Mirna adalah seorang guru di sini.


"Iya bu, Alviro pasti bakal ngehargai ibu" ucap Fela dan Jihan menenangkan bu Mirna.


"Terimakasih yah Jihan, tapi tidak seharusnya kamu melakukan ini untuk ibu. Kamu masih baru, jangan membuat masalah yah. "


Jihan hanya mengangguk pelan, ia bukannya sok mau membela bu Mirna. Tapi Seorang guru memang harus di hargai, tanpa seorang guru apalah arti anak anak murid. Guru adalah sumber ilmu. Meskipun banyak tempat yang menjadi sumber ilmu. Tapi, anak murid tidak akan langsung paham tanpa di jelaskan oleh seorang guru.


Pelajaran hari itu tidak bisa di lanjutkan, bu Mirna masih drop. Siswa siswi kelas 2 IPA 1 di kosongkan, namun tidak di ijinkan pulang sebelum jam pelajaran habis.


Kelas IPA satu mulai riuh, banyak siswi membentuk kelompok sesuai dengan teman akrabnya. Mereka bergosip tentang Jihan yang berani pada Alviro dan juga Lika. Sebelumnya tidak ada yng berani menantang Alviro. Karena akhir ujung dari kisahnya adalah keluar dari sekolah karena stress di bully dan di tindas oleh mereka.


Geng wolf pun membentuk kelompok di meja Ringgo, mereka bermain gitar dan bernyanyi bersama. Liem bermain gitar, sedangkan 4 lainnya bernyanyi bersama. Suara anak Wolf tidak terlalu buruk, bisalah di bilang setara dengan boyband Korea.


"Gue penasaran deh, kok bisa Alviro bersikap seperti itu pada bu Mirna" gumam Ria.


"Gue rasa ada sesuatu di antara mereka" sahut Fela. Jihan hanya diam saja, sejujurnya Jihan merasa terlalu berlebihan pada Alviro tadi.


"Ji... " panggil Ria, membuat lamunan Jihan buyar.


"Ada apa? "tanya Jihan.


"Lo melamun? "


Jihan tak menjawab, ia hanya menghela nafas berat. "Gue terlalu berlebihan gak sih? "


"Gue rasa gak sih Ji, tapi gue malah merasa ada hal lain" Gumam Fela.


"Udahlah gak penting" ujar Jihan acuh.


"Jihan, Fela, Ria!! "panggil Eldi.


Jihan dan kedua sahabat nya pun menoleh pada mereka.


" Mari gabung sini, dari pada cemberut di sana"


Jihan melirik Fela dan Ria, mereka mengangguk pelan. Tidak ada salahnya berbaur dengan teman teman sekelas.


Mereka pun bangkit dari duduknya, kemudian menarik bangku masing-masing untuk bergabung dengan geng Wolf.


"Hai, gue Liem" ucap Liem mengulur kan tangan pada Jihan.


"Oh hai, gue Jihan. Gak perlu lagi kan memperkenalkan secara rinci? " sahut Jihan. Liem langsung menggeleng cepat.


"Weehhh Kita gak kenalan nih? " sindir Eldi.


"Sebutin aja nama lo" balas Jihan datar. Membuat mereka semua tertawa kecuali Eldi yang cemberut.


"Benar benar cewe datar" gerutu Eldi.


"Apa lo bilang? "


"Ehh gak gak, lo cantik" kekeh Eldi takut, Jihan benar garang.


"Makanya El, pake trik dong" celetuk Babas.


"Trik apa? dengan cara langsung merayu? " sahut Fela mencibir.


"Rasain" cibir Eldi.


"Jihan" panggil Ringgo pelan. Jihan melirik pada pria yang terlihat paling tenang dan kalem. Jihan yakin, diantara semua teman teman Alviro, Pria ini yang paling dewasa.


"Ada apa? "


"Lo jangan terlalu ambil hati atas sikap Alviro, dia tidak seperti yang lo kira" jelas Ringgo.


"Benar Jihan, Alviro gak sejahat itu" sambung Eldi, yang di angguki oleh anak wolf yang lain.


"Tapi, dia yang selalu mencari masalah sama Jihan" sahut Fela.


"Mungkin karena kesalahan di awal pertemuan saja tu" celetuk Albi.


"Maksudnya? " Ria penasaran.


"Di awal pertemuan Jihan dan Alviro, mereka terjebak sebuah insiden. Karena karakter mereka sama sama keras, makanya jadi musuhan! " jelas Babas.


Liem sejak tadi hanya diam saja, ia menjadi pendengar setia. Matanya menatap lurus pada Jihan.


"Ah mau gak kek, mau iya kek. Gue gak peduli" sahut Jihan sembari mengambil alih gitar di tangan Ringgo.


"Lo bisa main gitar? " tanya Liem, mereka menatap Jihan yang sudah memposisikan tangannya, dan bersiap ingin memetik senar nya.


"Jihan punya suara dan gaya main yang unik" jelas Ria pada anggota wolf.


"Kalian pasti akan menyukainya" sambung Fela.


...----------------...