I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 48



Dengan ragu ragu jihan masuk ke dalam mobil Mirna, ia terpaksa melakukan ini agar ia bisa terlepas dari pak satpam.


Setelah Jihan masuk, bu Mirna langsung melajukan mobilnya. Entah kemana ia akan membawa jihan.


"Umn... Bu, saya berhenti di depan sana yah! " ucap Jihan membuka suara, ia tidak akan benar-benar ikut dengan Mirna.


"Maaf Jihan, tapi mau kah kamu membantu saya sebentar? " tanya Mirna dengan nada lembut, ia menatap jihan dengan tatapan hangat, sehingga Jihan tidak menaruh curiga pada nya.


"Kemana? " tanya jihan.


"Saya ingin menemui ibu saya, tapi tempat nya sangat sepi, saya takut sendirian" jawab Mirna.


Jihan terdiam, hatinya tengah bimbang. Antara takut dan juga kasian.


"Baiklah" jawab Jihan menyetujui permintaan Mirna.


"Makasih Jihan, dari awal saya bertemu dengan kamu, saya tahu kamu murid yang baik" puji Mirna tersenyum pada Jihan.


Bagaimana ini, apa dia benar-benar baik? Jihan mulai khawatir. Selama perjalanan ia hanya diam saja dan memperhatikan keluar jendela mobil.


Tanpa sepengetahuan Mirna, tangan jihan masuk ke dalam saku rok nya. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghidupkan GPS nyaa, lalu jihan mematikan nada dering ponsel nya agar ketika ada yang menghubungi nya tidak terdengar. Sehingga Mirna tidak tahu bahwa Jihan tidak membawa ponsel.


Jalanan semakin sepi, jihan merasa sangat khawatir. Ia mulai meragukan kebaikan Mirna.


"Em bu, kita akan pergi kemana? " tanya Jihan membuka suara.


"Kita akan pergi ke rumah ibu ku" jawab Mirna singkat, nada suaranya juga mulai berubah. Jihan bukanlah gadis bodoh yang tidak tahu perubahan walau pun hanya perubahan kecil.


"Maksud saya, nama daerah nya! " ulang Jihan menjelaskan maksud dari pertanyaan nya.


"Ke desa di pinggiran kota. Ini juga sudah hampir sampai" jawab Mirna sekenanya.


Jihan tak lagi mengeluarkan suara, ia hanya diam dan menatap ke luar.


Sementara itu, di sisi lain. Alviro berlari menuju ke gerbang sekolah. Ia menemui pak Satpam yang baru saja menutup gerbang.


"Pak, Apa jihan lewat sini tadi? " tanya Alviro terbesar gesah.


Pak Satpam mengerut bingung, apa lagi yang terjadi sekarang.


"Maaf den, non Jihan baru saja pergi bersama bu Mirna" jawab Pak satpam jujur.


"Apa?? "


Mata Alviro membola, apa yang Cio katakan benar. Mirna sudah mulai berani sekarang.


"Maaf den, ada apa yah? " tanya Pak satpam bingung. Ia tidak tahu apa apa sekarang, biasanya Arvan akan memberinya perintah barulah ia tahu.


Alviro tidak menjawab pertanyaan pak satpam, ia berlari cepat menuju ke parkiran.


Alviro segera masuk ke dalam mobilnya dan melaju pergi.


Tent!!!!!!


Pak satpam langsung bergegas membukakan gerbang untuk Alviro.


"Den.. " Panggil pak Satpam lagi, namun Alviro tidak mendengarkan. Ia terus melaju meninggalkan perkarangan sekolah.


Alviro mengeluarkan ponselnya, ia berusaha untuk menghubungi jihan.


"Masuk" gumam Alviro. Ia menempelkan ponsel ke telinga nya sembari fokus ke jalan.


Beberapa kali Alviro menghubungi Jihan, ia tetap tidak ada jawaban. Alviro semakin khawatir, ia takut terjadi sesuatu padanya.


"Ayolah jihan, angkat telfonnya"


Alviro terus mencoba menghubungi Jihan, namun hasilnya masih sama. Alviro beralih menghubungi Arvan. Ia meminta Arvan untuk segera membantunya mencari Jihan.


Setelah menghubungi Arvan, Alviro kembali menghubungi Jihan. Ia berharap Jihan segera menjawab panggilan dari nya.


"Astaga Jihan!!! lo kenapa sih gak angkat panggilan gue!! " gerutu Alviro.


...----------------...


"Sekarang, apa yang harus kita lakukan? " tanya Fela menatap satu persatu pria yang tampak sibuk dengan ponsel masing-masing.


Fela menjadi bingung, bukannya membantu Alviro, tapi mereka malah bersantai seperti ini.


"Sekarang kita hanya butuh panggilan dari Alviro, kita harus menunggu informasi dari dia dulu." jelas ringgo.


"Kenapa harus menunggu, lebih banyak yang membantu, lebih mudah untuk menemukan Jihan" ujar Ria.


"Tidak Ria, itu hanya membuat fokus menjadi pecah. Lebih baik kita bergerak sesuai satu arahan" sahut Albi.


Ria dan Fela pun menghela nafas berat, apa yang dikatakan Albi benar.


"Gue menemukan nya!!! " teriak Eldi. Membuat semua orang berlari mendekatinya.


"Apa yang lo temukan? " tanya Liem.


"Seperti nya jihan sengaja menghidupkan GPS nya, sehingga kita bisa melacak nya. " jelas Eldi.


"Hubungi Alviro Sekarang, share padanya dimana lokasi jihan sekarang" perintah Ringgo, Eldi pun mengangguk, ia segera mengirimkan lokasi Jihan pada Alviro, kemudian menghubungi nya.


Setelah menghubungi Alviro, Eldi langsung menghampiri teman temannya kembali.


"Alviro menyuruh kita untuk mengikuti kemana arah Jihan pergi! "


"Yasudah, ayo kita pergi sekarang" seru Fela tidak sabaran.


Mereka pun langsung bergegas masuk ke dalam mobil. Ringgo, Albi, Babas, Ria dan Fela satu mobil, sementara Liem dan Eldi berada di satu mobil pula.


...----------------...


Cling~


Lea dengan malas meraih ponselnya yang berada di atas ranjang sebelahnya. Sebuah pesan dari Arvan.


Apa lagi yang cowo itu inginkan, dia sudah mengkhianati nya. Setelah membuat nya baper dan dia malah bersama cewe lain. Lea merasa sangat kesal dan membenci Arvan.


Arvan!


[Bersiaplah, aku akan menjemput lo. Jihan dalam bahaya]


"What? jihan? kenapa adik gue dalam bahaya? "


Walaupun hatinya bertanya-tanya, namun Lea tetap bergegas untuk, bersiap siap.


"Loh Lea, mau kemana? " tanya Bunda Tia.


Lea tersenyum canggung, ia bingung mau menjawab apa pada bundanya. Apa dia harus memberitahu bundanya, atau tetap diam hingga masalah ini jelas. Ia takut ini hanya sebuah alasan bagi Arvan agar dirinya mau ikut dengannya.


"Umh, Lea mau pergi sama Arvan bunga" jawabLea.


Tia pun mengangguk, ia tersenyum pada putrinya. Memang lucu anak muda zaman sekarang, pulang sekolah bukannya istirahat, tapi malah rela keluar.


"Ya sudah sayang, kamu hati-hati yah. Jangan pulang telat"


Lea mengangguk pelan, "Iya bun"


30 menit setelah mengirim pesan pada Lea, Arvan tiba di depan rumah Lea. Karena sudah menunggu di depan, Arvan tidak perlu turun dari mobilnya.


Lea langsung masuk ke dalam mobil Arvan, ia mengerut bingung, Arvan langsung melaju tanpa mungucapkan sepatah kata pun.


Lihat saja nanti, Lea akan menghabisi cowo ijin jika ia berani menipunya. Lea tidak akan memberi toleransi lagi kepada cowo ini. Karena dia sudah menyakiti dan mengkhianati kepercayaan nya.


"Di mana Jihan? " tanya Lea tanpa menoleh.


"Lo tuli Atau bagaimana sih! " akhirnya Lea menoleh pada Arvan, karena cowo itu tak kunjung menjawab pertanyaan nya. Arvan tetap fokus menatap lurus ke jalanan.


"Huhhh... Gini susahnya jika ngomong sama tiang!! " gerutu Lea.


...----------------...