
Pukul 2 dini hari, Jihan terbangun dari tidur lelapnya. Perutnya tiba-tiba terasa mules dan juga kebelet pipis
Jihan menyingkirkan tangan suaminya yang melingkar memeluk perutnya, lalu ia buru buru turun dari ranjang menuju ke kamar mandi.
"Eh kok darah?"
"Alviro!!!!!!!" teriak Jihan kuat. Suaminya yang sedang tertidur pulas langsung terbangun dan melompat ke kamar mandi.
"Ada apa sayang?" tanya Alviro dengan wajah linglung. Pikiran nya masih belum normal efek bangun terkejut.
"Berdarah?" ujar Jihan menunjukkan ****** ********. Setelah mengatakan hal itu, Jihan langsung merasakan nyeri di pinggang nya.
"Aduhhh, sakit... Ahw..."
Alviro panik, ia langsung menggendong istri nya keluar dari kamar mandi dan merebahkannya ke atas kasur. Lalu, ia berlari keluar dari apartemen nya tanpa memakai alas kaki.
Tuk!!! Tuk!!
BRAK!! Brak!!!
Alviro menekan bel rumah Arvan dan Lea berkali kali, bahkan dirinya menggendor gendor pintu mereka yang terdengar seperti seseorang sedang mendobrak pintu rumah.
"Arvan!!! Lea!!!"
Masih tidak ada sahutan, Alviro semakin mengedor pintu kakak nya.
Ceklek.
Lea dengan muka bantal nya menatap Alviro kaget
"Ada apa Alviro? istri Lo ngidam lagi?" Kata Lea menggaruk kepala nya yang tiba-tiba terasa gatal. Ia juga sudah jengah di tipu terus menerus oleh pasangan suami istri ini.
"Gak kak, seperti nya Jihan mau lahiran!"
"Apa?" kaget Lea.
"Lo gak lagi ngerjain gue kan?"
"Gak kak, ini beneran!!" kata Alviro meyakinkan Lea. Karena kebiasaan mengerjai, jadi susahkan meyakinkan orang lain.
Mendengar ada keributan di depan rumah nya, Arvan pun keluar.
"Ada apa sih?"
"Beb, Jihan mau lahiran. Cepat hubungi mama dan Bunda" kata Lea, ia langsung berlari pergi bersama Alviro ke apartemen sebalah.
Arvan masih bengong, kesadaran nya belum seutuhnya pulih.
"Jihan? Lahiran?" gumam Nya lingkung.
"Astaga!! Jihan mau lahiran????" Arvan langsung bergegas mencari ponselnya dan menghubungi keluarga nya. Lalu setelah semua keluarga di beritahu, ia langsung menyusul istrinya.
Jihan di bawa ke rumah sakit terdekat, kebetulan tempat biasa Jihan checkup tidak jauh dari apartemennya.
"Sabar yah sayang, kamu pasti kuat" kata Alviro menenangkan istri nya yang terus meringis kesakitan sembari memegangi perutnya.
Jihan di baringkan di atas brankar, lalu di dorong menuju ruangan persalinan.
"Siapa suaminya?" tanya suster ketika Jihan sudah masuk ke dalam, ia menatap Arvan dan Alviro.
"Saya sus" jawab Alviro mengacungkan tangan.
"Silakan masuk" kata suster.
"Baiklah" balas Alviro mengikuti sang suster masuk ke dalam ruangan persalinan.
"Sayang" Alviro langsung mendekati istri nya, lalu menggenggam tangan Jihan.
"Kamu yang kuat yah, aku bersama mu. Jangan khawatir kan apapun, Kamu dan anak kita pasti selamat" kata Alviro menenangkan istri nya.
"Sakit....Awhs .." Jihan berusah untuk tidak berteriak, ia berusaha menahan rasa sakit yang kian terasa.
Sementara di luar Lea dan Arvan bergerak gelisah, kedua orang tua mereka masih dalam perjalanan.
Tap tap..
Deru langkah terdengar menggema di lorong rumah sakit yang masih sangat sepi.
"Lea, bagaimana kondisi adik kamu?" Tia terlihat sangat cemas.
"Bunda, tenang yah Jihan pasti baik baik saja. Dokter sedang menangani Jihan. Alviro juga ada di sana" kata Lea menenangkan bunda nya.
"Iya sayang, kita berdoa yang terbaik buat putri kita" kata Burhan menghampiri istri nya dan memeluk istrinya.
Brian memeluk istrinya, mereka semua berdoa agar Jihan lancar dalam persalinan.
Sementara Jihan di dalam melakukan proses lahiran. Tangannya menggenggam erat tangan Alviro.
"Akkk!!! Sakit banget!" teriak Jiha. melampiaskan rasa sakit.
"Lepasin aja semuanya nyonya, siapkan tenaga anda untuk mengejan" kata dokter.
"Akh!!!!!! Alviro!!!" Jihan menarik rambut Alviro, ia mencakar cakar Alviro melampiaskan rasa sakit nya.
"Tenang yah sayang, lampiaskan aja sama aku. Tarik ini , ini yah kamu yang kuat" kata Alviro pasrah dengan perlakuan Jihan, malahan Alviro menyuruh istrinya untuk melampiaskan semua rasa sakit ke tubuhnya. Suster suster yang melihatnya malah ingin ketawa, namun mereka takut di marahin oleh bidan.
Tapi beneran, adegan Alviro dan Jihan benar benar lucu.
"Gila sakit banget!!! ini semua karena Lo!!"
"Lo dapat enak, gue sakitnya!!!" maki Jihan sembari menarik Rambut suaminya.
"Tapi kamu juga enak beb, masa cuma aku!!!" balas Alviro mengundang tawa dari dokter, namun segera di sembunyikan nya.
"Sedikit lagi nyonya, sedikit lagi!!"
Jihan mengatur nafasnya, ia terus mengikuti arahan sang dokter.
"Awas Lo yah!!! gak bakal mau lagi kalo minta!!!"
Mendengar teriakan istri nya Alviro langsung panik.
"Ja jangan dong, mana bisa beb. Nah, tarik rambut aku, cakar rambut aku" kata Alviro menyerahkan tubuhnya.
"Gak mau, arrgggggg!!!!!!!!"
Lea dan keluarga lain mengulum senyum mendengar teriakan Jihan.
"Dasra anak zaman sekarang" gumam Brian.
Jihan terus melawan antara hidup dan mati, berusaha melahirkan seorang bayi yang sudah 9 bulan 3 hari ia kandung.
"Aaahhkkkkkk!!!!!!!!!" satu teriakan dari Jihan, ia mengeluarkan seluruh tenaga nya untuk mengejan panjang.
"Oeekk...Oekk!!" tangisan bayi pun pecah menguasai sunyinya ruangan itu. Hingga keluar ruangan pun terdengar tangisan nyaring yang membuat hati mereka yang menunggu menjadi lega.
"Alhamdulillah, akhirnya"
"Selamat Leni"
"Selamat Tia"
Alviro mengecup kening istrinya, menghapus jejak air mata dan keringat yang bercucuran di kening Jihan.
"Alhamdulillah sayang, semuanya sudah selesai" bisik Alviro.
Jihan mengangguk pelan, ia sudha tidak bertenaga lagi. Nafas nya tersengal Sengal. Ini adalah pengalaman pertama yang luar biasa bagi Jihan. Ada rasa haru di hatinya yang menggelembung dan pecah ketika mendengar suara tangisan itu.
"Bayi ku" lirih Jihan pelan, hampir tak terdengar. Ia melihat bayi nya yang sedang di bersihkan.
Setelah bayinya bersih dan di bedung, suster memberikan bayi itu pada Alviro.
"Selamat yah tuan Alviro, bayi anda laki laki" kata suster.
"Putra ku" Senyum haru terbit di bibir Alviro, ia tak henti hentinya menatap putra yang seakan akan terasa mimpi.
Setelah mengumandangkan adzan pada bayi nya, Alviro membawa putranya mendekat pada istri nya.
"Lihat lah sayang, putra kita sangat tampan" kata Alviro, ia meletakkan bayinya ke sisi samping Jihan.
"Putra ku, malaikat kecil ku" gumam Jihan, ia mengusap lembut pipi putra nya yang memang sejak awal mereka sengaja tidak mau mengetahui jenis kelamin nya. Mereka ingin hal itu menjadi surprise.
Alviro keluar dari ruangan persalinan Jihan, ia menatap haru semua keluarga nya.
"Bagaimana sayang, apa jenis kelamin cucu kami" kata Tia.
"Aku memiliki seorang putra ma, Bun" jawab Alviro. Brian dan Burhan langsung memeluk putra mereka memberi selamat.
Sekarang Jihan sudah selesai di bersihkan, ia segera di pindah kan ke ruang rawat inap.
Ria mendapat kabar dari Fela, jika Jihan sudah lahiran. Mereka langsung bergegas menuju ke rumah sakit di pagi harinya. Bahkan mereka sengaja bolos hanya untuk menjenguk Jihan.
Liem tak ikut bersama teman temannya, ia beralasan akan menyusul nanti.
"Kenapa sih, Liem gak ikut?" tanya Fela curiga.
"Alah, kaya gak tahu aja tu cowo semenjak jumpa sama Cantika." celetuk Eldi.
"Jadi, maksud nya Liem jemput Cantika gitu?" kata Babas menyimpulkan.
"Nah itu Lo pinter" sela Albi.
"Ehh maksud Lo apa? bilang suami gue bodoh gitu?" sungut Fela membela suaminya.
Meresa di bela oleh istri nya, Babas menjulurkan lidahnya pada Albi.
"Maksud gue ,tebakan Babas bener" jelas Albi.
"Hati hati ngomong nya!" peringat Fela jutek.
"Udah, gak usah di ladeni" bujuk Ria menenangkan kekasihnya.
Setibanya di rumah sakit, mereka langsung menuju ke ruangan kamar inap Jihan.
"Jihannn" Fela dan Ria langsung berhamburan mendekat pada Jihan yang sedang menggendong bayinya.
"Uuu lucu banget" ujar Fela gemas.
"Selamat yah Bro, lu udah jadi bapak sekarang" kata Albi dan yang lainnya saling bergantian memberi selamat.
"Halo keponakan, ini aunty paling cantik udah datang" kata Fela menirukan suara anak kecil.
"Iya, aunty nya kapan yah punya debay?' jawab Babas yang berjalan mendekat pada mereka.
Fela jadi tersipu, entah mengapa ia merasa sangat malu mendengar balasan dari Babas.
"Hayolo,, udah di tanyain itu" goda Ria.
Jihan hanya tersenyum melihat tingkah teman temannya. Tubuhnya mulai sedikit bertenaga, tapi ia tetap tidak bisa sembarang bergerak. Karena saat ini Jihan dalam fase nifas.
Seluruh keluarga Jihan dan teman temannya berkumpul di sana. Anonim juga ada di sana.
Setelah beberapa saat mereka ngumpul, barulah datang Liem bersama Cantika.
"Tuh kan, bener apa yang gue bilang" ujar Eldi menyambut kedatangan Liem.
"Nah, sekarang semuanya udah ada pasangan nya yah, kapan nih kalian ngasih kita cucu" kata Tia dan di sambung oleh Leni.
"Biar makin rame"
"Bun, kak Lea dulu kali Bun. Kan dia yang tua" celetuk Fela mengalihkan sorotan mata mereka semua kearah Lea yang sedang bermesraan dengan Arvan, suaminya.
Merasa di tatap oleh semua orang, Lea dan Arvan membalas tatapan mereka.
"Kenapa?" tanya keduanya dengan nada dingin. Fela yang tadinya nyindir Lea langsung menutup mulut nya dan menggeleng pelan.
Cukup tahu aja, Lea dan Aravan adalah pasangan yang di satukan dari dua orang yang sama sama memiliki sikap dingin.
"Jangan cari masalah lu" peringat Babas berbisik pada istri nya.
"Ihhh kenapa malah hening sih, kak Fela bener lagi. Kak Lea juga harus punya anak" celetuk Cantika , ia tidak tahu bagaimana sikap Lea dan Arvan.
"Kok gak nyahut sih" bisik Cantika pada Babas, ia merasa konyol bersorak sendiri.
"Udah diem aja, kalo Lo gak mau di terkam" jawab Liem menakut nakuti Cantika. Karena memang gadis polos, Cantika langsung diam dan tak berani lagi membuka mulutnya. Ia juga melirik takut takut pada Lea dan Arvan.
"Mengerikan sekali" batin Cantika menyadari betapa dinginnya Lea dan Arvan.
Di balik suasana menegangkan itu terjadi, mereka tetap merasa bahagia dengan kehadiran pangeran kecil di keluarga Nugra dan Rafier.
Semua masalah berhasil di selesaikan, Lika dan Jasmin tak di hiraukan lagi. Mereka sudah berusaha untuk membuat Jihan dan Alviro berpisah. Namun tetap saja hasilnya nihil, malah Jihan dan Alviro semakin dekat dan banyak di kagumi oleh orang orang.
Sekarang adalah waktu untuk Jihan dan Alviro bahagia. Mereka sudah menjalani masa masa yang sulit sejak lama. Sudah sepantasnya mereka mendapatkan kebahagiaan.
...----------------...
Alhamdulillah semuanya, 1 novel berhasil di selesaikan. Author sekarang sedang merancang kisah anak dari Alviro dan Jihan.
Untuk sementara waktu, kalian bisa berkunjung ke karya Author yang terbaru. Sembari menunggu kisah putra Jihan dan Alviro.
Berikut novel terbaru Author yang udah jalan 18 episode.
Mohon dukungan nya yah sahabat ku semuanya.
Bukan hanya itu, ada kisah lucu juga nih dari author. Tapi, karya satu ini dalam bentuk chatstory, author coba ikut lomba gitu.
Mohon bantu support author yah, bantu like ,vote dan komen juga. Author sangat berharap dengan partisipasi kalian untuk selalu dukung author.
TERIMAKASIH , I LOVE YOU ALLπππ