
Lidia memacu mobilnya menuju ke sebuah arah. Sesekali ia menoleh kebelakang takut Mirna mengikuti nya.
Setibanya di sebuah perkarangan rumah seseorang, Lidia langsung turun dari mobilnya dengan tergesa-gesa.
Tuk!!! Tuk!!!!
Tuk!!!! Tuk!!!!
Lidia terus mengetuk pintu rumah seseorang hingga penghuni rumah keluar.
"Lidia.Lo ngapain ke sini? "
Rasya menatap sinis pada Lidia, ia sudah tidak mau lagi tertipu oleh ucapan manis Lidia.
"Eh" Rasya kaget. Lidia tiba-tiba berlutut di hadapan Rasya.
"Sya, maafin gue. Gue benar-benar gak berbohong sama lo Sya. Semua yang gue katakan sama lo itu benar sya. Maafin gue sya"
Rasya tak bergeming mengalihkan wajahnya agar tidak bertatap dengan Lidia.
Dari dalam mama dan papa Rasya keluar, ia kaget melihat seorang gadis seumuran dengan putri mereka berlutut di hadapan putri nya.
"Loh sayang, kok teman nya di biarkan seperti itu"
Mama Rasya membantu Lidia berdiri, sementara papa Rasya hanya menatap mereka.
"Ayo masuk dulu" Ajak mama rasya membawa Lidia yang terisak masuk ke dalam rumah.
Rasya pun dengan malas masuk ke dalam rumah mengikuti mereka. Ia sudah muak dengan drama Lidia, ia sudah tidak mau lagi termakan ucapan Lidia.
Mama Rasya mencoba menenangkan Lidia, entah apa penyebabnya mama Rasya tidak tahu, yang jelas ia berusaha menenangkan gadis itu.
"Sebenarnya ada apa ini Rasya, mengapa teman kamu berlutut sembari menangis di hadapan kamu? " Tegas papa Rasya meminta kejelasan pada putrinya.
"Maaf om, tante. Sebenarnya ini semua salah saya. Awalnya saya temannya Rasya, cuma rasya satu satunya orang yang membuat saya tahu arti penting nya sahabat"
Lidia menghela nafas dalam, kemudian melanjutkan ucapan nya.
"Namun saya menyia nyiakan nya. "
"Memang nya kamu kenapa nakal? " tanya mama Rasya kasihan.
"Saya seorang sebatang kara tante,-"
"Tidak ma, dia punya kakak namanya Mirna" Potong Rasya penuh amarah, ia tidak mau mendengar ocehan omong kosong dari Lidia lagi.
Terlihat dari wajah papa Rasya ekspresi terkejut mendengar nama yang sering di dengar olehnya di antara teman teman bisnisnya.
"Kamu serius sya, dia adiknya wanita itu? "
"Iya pa, Dia berusaha menutupinya dari aku tapi, Jihan dan teman temannya sudah membongkar semuanya. Aku pikir wanita ini" Tunjuk Rasya ke wajah Lidia, sorot matanya penuh kebencian.
"Salah satu gadis malang yang bisa aku jadikan teman"
Lidia bangkit dari duduknya, ia mendekati Rasya dan berlutut di hadapannya. Ia tidak tahu lagi mau bagaimana agar Rasya mempercayainya.
Lidia tidak peduli lagi dengan martabat yang dulu ia agung agungkan dulu.
"Sya, gue korban syah. Wanita kejam itu memperalat gue. Dia membunuh semua keluarga gue dan menjadikan gue ujung tombak"
Lidia mengeluarkan beberapa kembar dokumen yang sudah ia kumpulkan. Lalu ia menunjukkan pada Rasya dan keluarga nya.
"Ini Sya, semua bukti buktinya. Perusahaan yang sekarang di pimpin oleh Mirna adalah milik papa dan mama gue Sya. Please sya gue gak bohong"
Papa Rasya mengambil lembaran kertas itu, lalu memeriksanya. Rasya pun menatap sang papa, menunggu reaksi papanya.
"Benar Sya, ini dokumen asli"
"Libatkan sya, gue gak bohong sya. Gue juga baru tahu sya, selama ini Mirna memanfaatkan gue Sya. Hidup gue seperti kapar yang di terbangkan angin ketika hujan lebat. "
Lidia tertunduk di lantai, sejujurnya ia sangat merasa bersalah pada Fela. Mamanya stres karena dirinya. Bukan, itu bukan karena dirinya.
"Gue memang penyebab nya Sya, tapi tidak seperti yang terjadi. Gue di suruh Mirna untuk menemui papa Fela di sebuah Cafe. Lalu dia menyuruh gue untuk merayu pria hidung belang yang gue baru tahu kalo itu adalah papa Fela. "
Lidia kembali terisak. Dadanya kembali terasa sangat sesak setiap kali mengingat kejadian yang menimpa mama Fela.
"Tapi gue gak pernah melakukan apapun dengan papa Fela. Gue hanya bertemu dengannya sekali Sya. Semuanya di jarang oleh Mirna dan di kirim ke mama Fela. "
"Sayang... " Mama Rasya kembali mendekati Lidia, kemudian memeluknya erat. Sementara papa Rasya masih terdiam menatap lembaran lembaran bukti yang Lidia bawa.
"Gue di jebak Sya, Mirna sengaja melakukan semua ini. Agar tidak ada orang yang mau mendekati gue. Agar gue tidak terpengaruh dan terus mengikuti apa yang ia katakan. Ia terus menanamkan kebencian di hati gue. Bahkan wanita itu melarang gue berteman sama lo, dia merencanakan sesuatu yang jahat buat lo"
"Kasihan sekali dia" Mama Rasya terus mengusap usap bahu Lidia sembari memeluk sayang Lidia.
"Gue gak tahu harus bilang apa, gue gak tahu harus percaya atau gak sama lo" Lirih Rasya dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di tebak.
Papa Rasya menghembuskan nafas pelan, air mata menetes dari pelupuk matanya.
"Sya.. "
Rasya pun menoleh mendengar panggilan papanya.
"Dia tidak berbohong, dia adalah putri paman mu yang kecelakaan 15 tahun yang lalu. Saat itu umur nya masih sangat kecil"
Rasya tertegun, begitu juga dengan Lidia yang langsung berhenti menangis.
Apa yang di katakan oleh papa Rasya membuat mereka kaget.
"Maksud papa apa? " Rasya mendekat pada papanya meminta penjelasan.
"Gadis ini adalah anak dari Utomo Rasya, paman kamu yang meninggal bersama istri nya karena kecelakaan. Kecelakaan itu pun di sengaja oleh seseorang yang sampai saat ini belum di ketahui pelakunya. "
"Jadi, semua itu bener? Keluarga gue sudah musna semua" Lidia semakin terisak, ia sudah tidak memiliki siap siap lagi.
Piluan tangis Lidia membuat hati Rasya tersentuh.
"Gak Lidia, lo masih punya gue. Kakak sepupu lo" Rasya langsung memeluk Lidia. Mereka menangis dalam pelukan satu sama lain. Mama Rasya pun menyingkir, ia mendekati suaminya dan berpelukan. Mereka tidak menyangka putri dari adik papa Rasya bisa di temukan.
Kejadian haru terjadi di rumah Rasya, berbeda dengan rumah keluarga Rafier.
Saat ini Jihan duduk sendiri di taman belakang rumah bundanya. Wajahnya terlihat menekuk, ia merasa kesal pada Alviro. Setelah mengecewakan berulang kali, pria itu dengan tidak tahu malunya bertingkah seolah olah sebelumnyavtidak terjadi apapun.
"Awas saja dia, aku tidak akan mau mendekati dia lagi!!! " Gerutunya dengan emosi yang menggebu gebuh.
Dari arah belakang, bundanya dan mama mertuanya keluar dari rumah dan menghampirinya.
"Loh, anak bunda kok duduk sendiri sih"
"Gak tahu ih, mukanya juga cemberut"
Tia dan Leni berbicara sangat lembut dan penuh kasih sayang pada Jihan. Gadis itu pun menaruh curiga kepada sikap yang tidak biasa ini.
Entahlah, Jihan akhir akhir ini tidak bisa mengontrol perasaan nya sendiri.
"Gak ada bun, ma. Lagi pengen sendiri aja" Ujar Jihan.
"Ihhh kok ketus sih, kita kedalem yuk. Seperti nya kamu keringatan"
"Gak kok ma, Jihan gak keringatan" Jawa Jihan sembari mengusap pelipisnya mencari cairan yang di maksud oleh mertuanya itu.
"Ada itu Jihan, aduhhh bunda rasa kamu sakit deh"
"Makin aneh" Gumam Jihan mencebik.
"Udah ah yuk yuk, mama sama bunda udah manggilin dokter buat kamu" Ujar Leni menarik paksa tangan Jihan ke dalam rumah, di bantu oleh Tia. Jihan tampak menolak, namun mama dan Bunda nya terus saja memaksa dirinya.