
Seperti yang sudah di rencanakan, satu minggu setelah acara pertunangan di adakan. Jihan sekarang resmi menjadi istri Alviro. Ia menatap datar cincin emas yang melingkar di jari manisnya.
Acara pernikahan mereka terbilang sederhana. Karena yang me bha dirinya hanya kerabat dekat dan beberapa rekan bisnis dari kedua bela pihak.
Pernikahan ini tidak terlalu di umumkan. Sesuai seperti yang Jihan inginkan.
Tia berdiri di ambang pintu kamar hotel Jihan dan Alviro. Ia menatap putrinya yang sedang duduk sembari menunduk menatap jarinya. Tia tahu ini sulit bagi Jihan, namun bagaimana lagi. Semua ini di lakukan demi kebaikan kedua putri nya.
"Jihan... " Lirih Tia.
Jihan pun menatap bundanya, ia memaksakan bibirnya untuk tetap tersenyum.
"Eh bunda"
"Kamu lagi apa sayang, kenapa belum berganti pakaian? "
Jihan menggeleng pelan, ia menghela nafas berat. Tia semakin merasa kasian pada putrinya.
"Jihan baru aja mau ganti bun, cuma lagi lemes aja" kila Jihan beralasan.
"Sayang... " lirih Tia lagi.
"Udah bun, Jihan gak apa apa kok. Jihan udah menerima semua ini. Bunda gak usah khawatir" ucap Jihan yang mengerti apa yang akan bundanya katakan.
"Kamu memang anak yang baik kak, Bunda bangga punya putri seperti kamu" ucap Tia, ia merengkuh tubuh Jihan dan memeluknya erat.
"Ya sudah, sekarang kamu ganti baju. Lalu istirahat" ucap Tia, lalu beranjak keluar dari kamar Jihan.
Tak lama kemudian, setelah Tia keluar dari kamar putrinya. Alviro pun masuk ke dalam kamar. Ia cukup kaget melihat Jihan termenung di depan meja rias.
"Lo kenapa? " ujar Alviro, namun tak di respon oleh Jihan.
Alviro mendekati Jihan, ia berniat hendak mengerjai Jihan. Tapi, niat itu kembali ia urungkan setelah melihat tetesan air mata, mengalir di pipi mulus yang masih di baluti oleh make up.
"Jihan... " panggil Alviro.
Jihan pun kaget merasakan sebuah tangan memegangi bahunya.
"Ngapain lo! " serga Jihan menatap pria yang kini berstatus sebagai suaminya.
"Lo yang kenapa. Duduk di depan kaca, tapi malah melamun! " gerutu Alviro.
"Udah deh sana, gak usah ganggu gue! " hardik Jihan.
Mata Alviro melotot, tega teganya Jihan mengusir dirinya yang baru beberapa jam menjadi suami sah nya.
"Lo ngusir gue? mau jadi istri durhaka lo? " balas Alviro berkacak pinggang.
"Udahlah, gue capek mau istirahat" putus Jihan beranjak ke kamar mandi untuk berganti pakaian dan juga membersihkan tubuh terlebih dahulu.
"Eh tunggu" cegat Alviro.
"Mau apa lagi sih! " dengus Jihan berbalik menatap Alviro yang menahan lengannya.
Dengan senyum mengembang, Alviro lebih mendekat pada Jihan.
"Ap-apa yang lo mau? " Jihan mulai gugup.
"Mari mandi bersama! " ajak Alviro.
Mimik wajah Jihan langsung berubah, yang awalnya gugup, kini berubah menjadi kesal.
"Mandi aja sama nenek gayung sono! " decak Jihan, kemudian berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Yahhh, masa sama nenek gayung sih. Kan nikahnya sama lo" balas Alviro setengah berteriak. Ia merasa senang berhasil mengerjai istrinya. Yah, istrinya. Alviro merasa lebih lebih bahagia. Karena sekarang, Jihan sudah menjadi istri sah nya.
Sementara itu, di kamar sebelah kamar Jihan dan Alviro. Yaitu, kamar Arvan dan Lea. Sangat berbeda dengan suasana kamar Jihan dan Alviro.
Lea tampak bahagia berbaring dalam pelukan Arvan.
"Gue seneng, sekarang kamu udah jadi istri aku" ujar Arvan.
Lea agak merasa aneh mendengar ucapan Arvan yang merubah panggilan mereka menjadi aku kamu. Bukan lo gue lagi.
"Aku juga seneng, yah walau pun sempat kasar sama l-, Kamu" balas Lea yang masih belum terbiasa dengan panggilan aku kamu.
Arvan semakin mengeratkan pelukannya, Lea menjadi kaku. Ini pertama kalinya ia berada sedekat ini dengan pria. Tubuhnya terasa kaku dan bingung ingin melakukan apa.
Sementara Arvan kini sudah berada di atas tubuh Lea, wajahnya terus mendekat mengikis jarak di antara keduanya.
"Arvan... " cicit Lea.
"Kenapa sayang? " tanya Arvan. Jarak wajah mereka tinggal 3 cm lagi.
"Ehm gue, bel. -" ucapan Lea terpotong. Arvan langsung menyerangnya dengan kecupan lembut di bibirnya.
Lea pun tak dapat melakukan apapun lagi, ingin rasanya ia menolak Arvan. Namun, ia juga sudah terbuai dalam permainan suaminya.
Teg.
Dengan menghilangnya pencahayaan di kamar pengantin baru itu, di saat itu pula Lea dan Arvan sah menjadi suami istri yang sempurna. Malam itu, Lea menyerahkan harta yang paling berharga nya pada pria yang 8 jam yang lalu menjadi suaminya.
"Aku merasa senang dan ke ga sekarang" kata Leni. Tia pun mengangguk setuju dengan ucapan sahabat nya. Mereka sekarang berada di ruang tamu yang di sediakan oleh pihak hotel untuk tamu VVIP.
"Sekarang kita bukan hanya sahabat lagi, tapi ada hubungan yang mengikat kita semakin dekat" sambung Tia.
"Sekarang kita bisa tenang" imbuh Brian.
"Aku berharap, masalah tak ada lagi. Keluarga kita bisa hidup bahagia dan damai" ucap burhan.
"Aku khawatir nya, Jihan marah besar jika nanti, dia tahu segalanya" gumam Tia.
"Kita akan mencoba menjelaskan padanya, tapi kita cari waktu yang tepat" balas Brian.
Leni dan Tia menghela nafas, setidaknya untuk saat ini mereka bisa tenang.
"Baiklah, sebaiknya kita beristirahat sekarang. " ujar Brian.
"Iya, aku juga udah sangat mengantuk" sahut Tia.
Mereka pun beranjak ke kamar masing-masing. Kamar para orang tua berada di lantai 1 tingkat di bawah kamar pengantin.
"Seperti nya kita butuh malam pertama juga" canda Burhan sebelum mereka berpisah di depan kamar masing-masing. Brian tertawa renyah seraya merangkul istri nya.
Sekarang beralih kembali ke kamar Jihan dan Alviro. Jihan sudah selesai mandi, kini Ia sudah mengenakan baju tidurnya.
"Sayang, aku mau mandi dulu ya" ujar Alviro sera meraih handuk.
"Lo gue aja" ujar Jihan tanpa menoleh pada Alviro.
"Suka suka akulah, sekarang kita sudah sah menjadi suami istri. Aturan yang di pake, adalah aturan dari gue. Karena gue adalah suami lo, dan juga kepala rumah tangga kita" jelas Alviro panjang lebar.
"Gue gak peduli, pernikahan ini terjadi karena paksaan kedua orang tua. Bukan karena keinginan! " balas Jihan.
Deg.
Jantung Alviro seakan berhenti sejenak, perkataan Jihan seakan menyayat hati. Namun, Alviro harus menahannya, ia harus tetap sabar dan membuat Jihan kembali mencintainya. Ia tahu, jika Jihan sebenarnya merasakan beni beni cinta yang sama dengannya. Hanya saja, saat ini hati dan pikiran nya merasa tertekan.
Sebelum pernikahan, Hubungan Alviro dan Jihan baik baik saja. Ia tidak menyangka, setelah menikah, membuat Jihan tertekan dan berubah. Ia semakin dingin pada semua orang.
seperti apapun sikap lo, gue tetap mencintai lo. Lo adalah segalanya bagi gue ji. Sudah cukup selama ini lo menderita karena gue.
Alviro masuk ke dalam kamar, mandi, ia akan membersihkan diri.
Setelah mandi, Alviro keluar dari kamar, mandi dan mendapati Jihan sudah berbaring di atas ranjang dengan kedua kaki dan tangan membentang lebar. Sehingga seluruh sisi ranjang di penuhi oleh tubuhnya.
"Geser dikit ji, aku mau tidur" ujar Alviro sedikit mendorong tubuh Jihan untuk memberi ruang bagi dirinya tidur.
"Aduh!! sempit. Li tidur di bawah ajah! " Jihan mendorong tubuh Alviro kuat.
Bruk.
"Awh... "
Alviro meringis kesakitan di bokong nya., sungguh tega Jihan menyuruhnya tidur di bawah. Alviro merasa ini sungguh malam pertama yang terburuk di seluruh dunia.
"Malam pertama itu,enak enak. Bukan terhenyak " gerutunya. Alviro memilih tidur di sofa. Jihan sudah menguasai ranjang sesuka hatinya.
...----------------...
Ria baru saja tiba di rumah nya, ia menghadiri acara pernikahan Jihan dan Alviro bersama Albi.
Ckingt~
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Ria langsung mengeluarkan dompetnya dari dalam tas.
"Kenapa Fela chat gue malam malam begini? " tanya Ruang tanpa ada yang menjawab. Ria langsung membuka dan melihat isi pesan dari sahabat nya itu.
Fela π
[Gimana yah, malam pertama Jihan sama Alviro? ]
Ria bergidik ngeri membaca isi pesan singkat dari Fela.
"Ni bocah, kalo untuk hal hal positif aja, lola. giliran yang melenceng gini, cepet banget ngertinya" gerutu Ria mengimani Fela yang sudah dewasa, tetapi tingkah sama seperti anak anak.
Ria π
[Ya elah kodok rebus, giliran yang begini aja, lo cepet banget nangkepnya]
Felaπ
[Yah haruslah, nama yang juga te tot te tot. Semua orang pasti ngeh lah.]
Riaπ
[Aneh lu]
Mereka saling mengirimi pesan di dalam grup. Sementara Jihan tidak memperdulikan ponselnya, ia sudah terlelap dengan pemikiran yang berlimpah.
...----------------...