
Jihan dan semua teman temannya berjalan menuju parkiran. Setibanya di parkiran Jihan di kagetkan oleh kedatangan abang sepupunya.
"Zidan?? " ujar Jihan girang. Ia langsung menghampiri Zidan.
Alviro menatap tidak suka, kedua tangannya mengepal menahan emosi.
"Kak Zidan" gumam Ria dan Fela. Mereka ikut menghampiri pria itu. Hal itu semakin membuat Alviro merasa sangat kesal.
Ringgo dan yang lain mendekati Alviro. Babas dan Albi merasakan hal yang sama dengan Alviro. Pria itu mampu mencuri perhatian para gadis mereka.
"Siapa dia? " tanya Babas geram.
"Dia sahabat Jihan di Amerika" jawab Alviro datar.
"Sahabat Jihan, berarti sahabat nya Ria dan Fela" sambung Liem.
"Astaga, ini tidak bisa di biarkan! " geram Babas.
Sementara di seberang sana, Zidan menjelaskan kepada kedua sahabat Jihan tentang rencananya ingin menguji Alviro. Ia sudah tahu pokok permasalahan yang membuat Jihan dan Alviro bertengkar di masa lalu. Awalnya Zidan sangat marah pada semua orang ketika tahu bahwa Alviro adalah pria yang sudah menyakiti Jihan di masa lalu. Tapi, setelah Lea dan keluarga lainnya menjelaskan, Zidan bisa memahaminya.
"Wah, seperti nya bakalan ada perangkat dunia ke lima nih" ujar Fela.
Peletak!
"Awh... Ria! kebiasaan deh lo menjitak kepala gue. kalo otak gue geger lo mau bertanggung jawab! " sungut Fela menggerutu.
"Lo sih, mana ada pernah dunia kelima. Dasar bloon" balas Ria.
"Yah kan itu cuma imbuhan kata doang Ria, kenapa lo jadi sensi begitu sih"
"Ah sudah sudah, kalian ini selalu saja bertengkar" lerai Zidan.
Jihan tersenyum manis pada kakak sepupu nya, membuat Alviro langsung mendekati mereka. Di ikuti oleh babas, Albi dan ketiga anak wolf lainnya.
"Jihan ayo pulang" ajak Alviro menarik tangan Jihan.
"Maaf Bro, tapi gue mau ajak Jihan menemani gue mengelilingi kota ini" Zidan menarik tangan Jihan yang berada di genggamannya.
"Gak, Jihan sudah janji akan pulang bareng gue! " Alviro kembali meraih tangan Jihan, namun Zidan kembali menarik tangan Jihan.
"Maaf yah Alviro, tapi Jihan sudah lebih dulu berjanji sama gue, iya kan Jihan" ucap Zidan.
Alviro melirik Jihan, mereka semua melirik pada Jihan untuk menunggu jawaban dari nya.
"Uhm.. Maaf Alviro, tapi Zidan hanya sesekali datang ke sini, dan dia juga tidak terlalu hafal dengan kota ini" jawab Jihan mematahkan harapan Alviro.
"Ji.. Lo itu istri Alviro" ujar Eldi.
"Siapa bilang dia istri gue, umm... Mungkin suatu hari nanti" ucap Zidan.
Melihat akan terjadinya peperangan, Ria langsung mengalihkan perhatian mereka.
"Sudah mulai sepi nih, yuk pulang" ujar Ria.
"Iya, yuk" sahut Fela mengerti maksud Ria.
Alviro langsung menarik tangan Jihan, ia tidak mengijinkan Jihan ikut dengan Zidan.
"Kamu pulang sama gue! " ujar Alviro.
"Tapi.-"
"Mau jadi istri durhaka? " ucap Alviro. Jihan langsung menggeleng cepat. Mana mungkin ia mau jadi istri durhaka.
"Yah, di bawa kabur" gumam Zidan dengan ekspresi menyedihkan. Namun, di dalam hatinya Zidan tertawa terbahak bahak melihat sikap Alviro yang terlihat sangat posesif pada Jihan.
"Lo harus tahu gimana rasa sakit yang selama ini Jihan rasakan! " batin Zidan.
Zidan masuk ke dalam mobilnya, kemudian berlalu dari sana. Ia merasa sangat senang sekarang.
Sementara di dalam mobil Alviro, Jihan di masukkan ke dalam mobil dan langsung di pasangkan sabuk pengaman. Seolah olah Jihan akan kabur dan memilih ikut bersama sahabat nya itu.
Mobil Alviro mulai melaju, keheningan pun melanda mereka berdua.
"Kamu marah? " tanya Jihan.
"Tidak" jawab Alviro singkat.
"Kesal? "
"Tidak" lagi lagi Alviro menjawab dengan jawaban yang sama.
Mobil Alviro melaju menuju ke apartemen nya, ia akan mengurung Jihan seharian ini bersama nya.
...----------------...
Lidia mendatangi sebuah Restauran yang cukup jauh dari kotanya, ia tidak mau satu orang pun yang mengenal dirinya bertemu dengan sang kakak.
"Kenapa kakak malah datang dan memanggil ku! aku tidak mau semua rencana ku gagal!! " bentak Lidia pada Mirna.
"Diam kau anak nakal, aku hanya ingin memastikan dirimu baik baik saja. Aku tidak mau mereka melukai mu atau malah menghabisi mu! "
"Itu tidak mungkin, mereka tidak akan melakukan hal itu pada ku! " bantah Lidia.
"Terserah kau saja, percaya atau tidak. Sekarang katakan, apa yang akan kamu lakukan untuk memecah bela mereka! " tanya Mirna.
Lidia tersenyum miring, sebuah rencana sudah tersusun di benaknya.
"Pokoknya kakak tidak mau tahu, kamu harus berhasil dan membuat mereka hancur sehancur nya!!! "
"Kakak tenang saja, aku tidak sama seperti kakak. Rencana ku pasti berhasil" balas Lidia melirik kakaknya dengan tatapan mengejek.
"Kau ini, masih sempat saja mengejek ku" sungut Mirna.
Meskipun mereka terlibat perdebatan setiap kali bertemu. Namun, Lidia sangat menyayangi kakaknya, begitu juga sebaliknya. Mereka saling membantu di setiap kali mengalami kesulitan, karena mereka hanya saling memeiliki satu sama lain.
"Terkhusus Alviro dan Jihan. Silakan nikmati kehidupan indah kalian sekarang. Karena sebentar lagi, bencana besar akan menghampiri kalian" ucap Lidia.
"Apapun rencana mu, kakak tetap mendukung mu. Dan akan selalu melindungi mu" ujar Mirna. Lidia langsung bangkit dari duduknya dan beranjak memeluk kakaknya.
"Kau tenang saja, ayah dan ibu pasti bangga pada kita" balas Lidia.
Drrt....
"Ponsel mu berkedip" ujar Mirna memberitahu adiknya, ketika ia tidak sengaja melihat cahaya menyala dari ponsel Lidia.
Lidia melepaskan pelukannya dari tubuh kakaknya, ia meraih ponselnya dan langsung membuka pesan yang di kirimkan oleh anak buahnya.
"Hahahaa.... Bagus, sekarang hanya menunggu v waktu saja" Lidia tertawa keras, Mirna yang mendengarnya menjadi merinding. Ia merasakan jika sesuatu yang besar akan terjadi.
"Ya susah Kak, aku harus pergi. Sebentar lagi aku akan bertemu dengan dengan anak buah ku"
"Baiklah, kau boleh pergi. Tetap berjaga jaga dan jangan gegabah" peringatan Mirna mengingatkan adiknya.
"Oke"
Lidia keluar dari restauran itu dengan wajah tertutup masker. Jika seseorang melihatnya, maka mereka tidak akan tahu bahwa itu adalah dirinya.
Ketika baru saja masuk ke dalam mobil, tidak sengaja Lidia melihat sosok yang teramat ia kagumi. Lidia sampai membuka kaca mata hitamnya untuk memastikan apa yang ia lihat barusan tidak salah.
"Benar, itu dia! " gumam Lidia, ia keluar dari mobilnya dan berlari mengejar pria itu. Namun ia kalah cepat, pria itu sudah tidak ada di tampat. Lidia mencarinya di sekitar tempat itu. Ia yakin jika pria itu belum jauh dari sana.
"Apa aku salah lihat? " pikir Lidia mulai ragu dengan penglihatan nya tadi.
"Apa aku terlalu merindukannya? atau karena aku yang sedang tidak fokus? "
Lidia kembali ke mobilnya, ia berpikir jika dirinya hanya salah melihat saja.
Sementara itu tak jauh dari posisi mobil Lidia, seorang pria tersenyum miring melihat Lidia mencari dirinya seperti orang kebingungan. Ia merasa sangat senang melihat keputusasaan Lidia yang tidak bisa menemukan nya.
"Kau harus jatuh kedalam pesona ku, dengan begitu. Rencana ku akan berjalan dengan baik" Gumam pria itu. Ada yang membuatnya lebih senang lagi, pria itu mendengar semua percakapan Lidia dengan kakaknya.
...----------------...
Alviro dan Jihan sudah berada di dalam apartemen nya. Mereka sedang susuk di sofa dengan Alviro yang masih merajuk karena Jihan malah memilih sahabat nya dari pada dirinya yang berstatus sebagai suaminya.
"Mau kemana? " tanya Alviro ketika Jihan beranjak dari sofa.
"Mau ganti baju lah" jawab Jihan menunjuk kamar dengn dagunya.
"Hemm.. " Balas Alviro. Jihan kembali melanjutkan langkahnya.
"Dasar tidak peka! " maki Alviro setelah memastikan Jihan benar-benar sudah masuk kedalam kamar dan menutup pintunya.
"Enak saja dia lebih memilih sahabat nya dari pada aku! " gerutunya lagi, rasa kesal masih bersemayam dihatinya. Walaupun Jihan sudah pulang bersamanya.
Sementara itu, di kamar Jihan langsung membersihkan tubuhnya. Ia juga mengganti pakaian nya menjadi pakaian santai.
Setelah selesai membersihkan dirinya, Jihan kembali menghampiri Alviro yang masih duduk di tempat yang sama.
...----------------...