
Jihan dan Alviro berangkat bersama ke sekolah. Mereka tidak lagi menjadi siswa dan siswi terlambat. Entah sebuah kebetulan atau memang keduanya sudah berubah. Pasangan suami istri itu datang lebih awal dari biasanya.
"Wah wah, ada berita bagus ni kaya nya" ucap Fela menyambut kedatangan Alviro dan juga Jihan yang saling bergandengan tangan.
"Apaan sih Fela, " balas Jihan memutar mata jengah melihat siapa Fela. Paling ujung ujungnya Fela mikir yang enggak engga tentang mereka.
"Lo kenapa sih Fela, bukannya seneng Jihan gak tekat lagi, ini malah mengejek nya" ujar Ria.
"Ihh Ria, gue tu gak ngejek tahu. Liat aja tuh, tangan pengantin baru" bisik Fela di akhir kalimat nya. Ria pun ikut melirik ke arah pandangan Fela, lalu mereka berdua senyum senyum.
"Duhh Gak sabar deh" gumam Ria. Ia malah ikut aneh seperti Fela.
"Kalian kenapa sih, aneh banget" Jihan beranjak menuju ke bangkunya, di ikuti oleh Alvaro yang duduk di samping nya.
"Kapan kita dapat keponakan? " tanya Fela menggoda jihan dan Alviro.
"Jihan" sapa Lidia, ia baru saja memasuki kelas dan langsung menghampiri Jihan. Fela langsung menatapnya sinis.
"Ngapain lo ke sini! " bentak Fela.
"Gue cuma mau ngomong sama Jihan kok! " jawab Lidia tersenyum lembut pada Jihan.
"Aduhhh Fela, lo itu kenapa sih. Sinis mulu sama Lidia, dia kan gak buat apa apa sama gue" ujar Jihan.
"Sekarang engak, tahu deh nanti" sahut Ria ikutan sinis seperti Fela.
"Kalian itu kenapa sih, gue gak pernah bersikap seperti itu. Jadi kalian juga tidak boleh bersikap seperti itu pada Lidia! " kata Jihan kesal.
"Gak apa apa kok ji, gue ngerti kok. Anak baru emang sulit cari temen" lirih Lidia berakting untuk mendapatkan simpati dari Jihan.
"Udah deh gak usah berakting, sana pergi lo ke meja lo! " usir Fela.
Kurang ajar banget ni cewe, untung aja gue lagi pura-pura lugu. kali tidak! abis lo gue bikin. Geram Lidia berusaha untuk mengontrol dirinya. Ia tidak mau karena kecerobohan nya membuat semua rencana yang sudah lama ia susun hancur berantakan. Lidia pun memilih untuk kembali ke meja.
"Kalian ini kenpa sih" kata Jihan heran melihat sikap kedua sahabat nya.
"Tau ah, kesel" ujar Fela, ia malah merajuk.
"Belain aja terus" Ria malah ikut merajuk seperti Fela.
"Mereka kenapa sih! " gumam Jihan semakin bingung melihat tingkah kedua sahabat nya.
"Lagi pms kali" sahut Alviro. Ya kali Fela dan Ria datang bulan barengan.
Selama pelajaran di mulai, Jihan dan kedua sahabat nya tidak ada terlibat komunikasi. Bahkan mereka sedikit pun tidak melirik ke belakang seperti biasanya.
Jihan semakin merasa aneh, tumben banget Ria dan Fela merajuk padanya.
Hingga jam Istirahat pun tiba, Ria dan Fela berdiri di depan meja Jihan. Mereka tidak tega mendiamkan Jihan yang sejak tadi berusaha untuk mengajak mereka bicara.
"Yuk ji, kita ke kantin" ajak Fela.
"Udah selesai merajuk nya? " balas Jihan dengan nada menyindir. Keduanya tersenyum lebar.
"Lo sih, ngeselin. Jadi pen jitak tahu gak" gerutu Fela.
"Yaudah yuk ke kantin, lo mau ikut gak? " tanya Ria pada Alviro.
"Duluan aja deh, gue ada urusan bentar" jawab Alviro bergegas keluar dari kelas. Sebelum itu, Alviro menyempatkan diri untuk mengusap kepala Jihan.
"Makan makanan yang sehat" ular Alviro.
"Aaa kok Alviro mendadak romantis yah" gumam Fela mencak mencak.
"Jihan yang dapat, lo yang kaya kucing kepanasan" cibir Ria.
"Mungkin mereka langsung ke kantin kali" jawab Ria.
"Yaudah deh, yuk susul mereka" sahut Fela.
Mereka pun bergegas ke kantin, selain penasaran pada anak anak wolf, mereka juga merasakan apartemen.
Setelah kepergian Jihan dan kedua sahabat nya. Lidia beranjak dari duduknya, sejak tadi ia hanya mendengar pembicaraan Jihan. Ia sebenarnya ingin langsung mencekik Jihan namun ia tidak bisa melakukan hal itu dengan muda.
"Gue akan pastikan, kalian menderita! " Gumam Lidia.
"Tidak! aku tidak akan membiarkan lo melakukan apapun untuk menyakiti Jihan! " ucap seseorang, Lidia tidak sadar, jika di dalam kelas bukan hanya dirinya saja. Tetapi, ada Cio yang ternyata mendengar semua perkataan nya.
"Tidak usah ikut campur! " ucap Lidia dengan nada mengancam.
"Gue akan tetap ikut campur, sudah cukup kakak lo yang membuat kehidupan seseorang hancur! " balas Cio berani.
"Hahahaha, lo yakin mau melawan gue? apa lo benar-benar sudah mempersiapkan nyali lo? " cibir Lidia menatap rendah pada Cio. Ia sudah tahu jika Cio adalah bekas kaki tangan kakaknya. Sungguh sangat bodoh, ia sangat tidak menyangka jika kakaknya bisa mempercayai pria bodoh seperti Cio.
"Gue gak takut sama lo, atau pun kakak lo! " balas Cio menantang. Ia benar-benar sudah tidak tahan lagi, Mirna yang berjanji akan menyekolahkan dirinya dan juga biaya perawat rumah sakit ibu Nya, ternyataa hanya sebuah iming iming saja. Sekarang wanita yang sangat ja cintai itu sudah tiada, Cio merasa tidak perlu takut pada siapapun lagi sekarang.
"Lo benar-benar membuat gue geram! " Lidia hendak memukul Cio, namun tiba-tiba Alviro datang dan menghentikan aksinya.
"Sudah cukup Lidia, jaga sikap lo! " bentak Alviro berjalan mendekati mereka.
"Wahhh Wahhh... Si pria tampan datang. Uhm...Gue merasa semakin mencintai lo Alviro" ujar Lidia tersenyum lebar.
"Hentikan omong kosong mu Lidia! Gue sudah mengetahui siapa diri lo sebenarnya! " ujar Alviro.
"Benarkah? " decak Lidia, bukannya takut, Lidia malah tersenyum menyeringai.
Alviro menatap heran padanya, bukanya takut tapi malah Lidia semakin terlihat mengerikan.
"Gue bingung, harus manggil lo Kak yen? atau Alviro? "
Deg.
Tubuh Alviro mendadak membeku, Lidia benar-benar licik.
"Tutup mulut lo Lidia!! " geram Alviro, tangan nya sudah melayang di udara bersiap untuk memukul Lidia. Namun, tiba-tiba segerombolan siswa siswi masuk ke dalam kelas, membuat Alviro mengurungkan niatnya.
"Kenapa tidak jadi memukul gue? " ucap Lidia semakin memancing emosi Alviro. Membuat pria itu menarik kasar tangan Lidia agar lebih dekat dengannya dan membisikkan sebuah ancaman.
"Awas saja sampai lo macam macam sama Jihan, gue gak akan ampuni lo lagi! " bisik Alviro, kemudian mendorong Lidia lebih jauh dari tubuhnya seakan akan ia mengusir Lidia yang berniat mendekat padanya.
"Jangan dekati gue! " bentak Alviro, membuat seluruh siswa siswi yang ada di sana menatap jijik pada Lidia.
"Kurang ajar, lo sangat pintar membuat orang orang membenci gue! " Maki Lidia menatap Alviro tajam. Ia tidak bisa berbuat apa apa sekarang. Sekuat isi kelas sudah membencinya.
"Dasar anak baru, belum apa apa aja dia udah memperlihatkan sikap aslinya"
"Mau merebut Alviro dari Jihan kali, seperti gosip kemarin"
"Parah banget yah"
Alviro tersenyum miring, kemudian berlalu Dati kelas meninggalkan Lidia yang terus di caci maki oleh teman-teman sekelasnya.
"Kau tidak akan menang Lidia, lebih baik kau berhenti sekarang sebelum semuanya terlambat" tegur Cio, ia tidak mau Lidia termakan oleh hasutan kakaknya.
"Diam lo!! gue gak butuh saran dari lo" bentak Lidia mendorong v tubuh Cio, kemudian berlalu beranjak keluar dari kelas.
...----------------...