I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 32



Lea membawa Alviro ke taman rumah sakit, ia takut ada yang mendengar apa yang akan ia bicarakan sama Alviro nantinya.


Lea berdiri di hadapan Alviro yang langsung duduk di kursi taman. Lea menatap Alviro lekat, antara ingin mengatakannya langsung atau malah tetap menyembunyikan nya.


"Kak Lea mau ngomong apa? " tanya Alviro.


Lea menarik nafasnya, meyakinkan dirinya bahwa ini adalah jalan yang benar untuk ia lakukan.


"Lo bersikap seperti ini pada Jihan karena ada sesuatu kan? " tanya Lea. Ia ingin memastikan lebih dulu, apakah Alviro sudah mulai curiga jika Jihan gadis masa lalu nya atau malah Alviro menyukai Jihan tanpa adanya keikutsertaan masa lalu yang pahit itu.


Alviro tak langsung menjawab, ia masih diam dan menunduk menatap sepatunya yang entah sejak kapan terlihat menarik untuk di lihat.


"Jangan diam saja, jawab cepat! " desak Lea, ia sangat penasaran.


"Seperti nya kak Lea sudah tahu permasalahan gue sama Jihan di masa lalu"


Deg. Sepeeti dugaan Lea, Alviro sudah menyadari jika Jihan adalah icha. Pantes saja Alviro mulai bersikap baik pada Jihan. Tidak seperti di awal pertemuan mereka.


"Jadi lo sudah tahu jika Jihan adalah icha? " ujar Lea memastikan.


Alviro mengangguk pelan, ia mendongakkan kepalanya menatap wajah terkejut Lea.


"Sejak gue tidak sengaja bertemu dengan Jihan di taman bermain yang sering kami kunjungi dulu. Sejak itu geu sadar, wanita yang selama ini gue tunggu sudah kembali"


"Lo gak bilang sama Jihan kan? " tanya Lea lagi. Alviro kembali menggeleng, membuat Lea bernafas lega.


"Kenapa kaka merasa lega? apa salah jika gue memberitahu nya? " tanya Alviro heran.


"Bukan begitu" balas Lea cepat, ia tidak mau Alviro salah paham padanya. Selama ini hubungan diantara nya sangat baik, meskipun Alviro tidak tahu jika Lea adalah kakaknya icha.


"Gue mohon sama lo, bersikaplah seperti biasanya. Jangan kasih tahu Jihan dulu"


"Kenapa? "


"Karena gue mau menemukan titik terang dari permasalahan kalian. Gue gak mau Jihan pergi lagi, lo gak mau kan Jihan membenci lo lagi? "


Alviro menggeleng cepat, walau bagaimana pun. Alviro tidak akan melepaskan Jihan lagi Ia akan memiliki Jihan sampai kapan pun.


"Kalau begitu, lakukan apa yang gue katakan tadi. Gue dan keluarga udah punya rencana lain. Kita mendukung hubungan lo sama Jihan. Mama papa lo juga udah tahu" jelas Lea, membuat Alviro sedikit kaget.


"Gak usah kaget" kekeh Lea melihat wajah terkejut Alviro.


"Lo gak tahu kan selama ini Jihan adalah adik gue, lo kesulitan kan nyari icha lo sejak dulu, padahal lo sering di ajak mama lo ke rumah icha" jelas Lea di akhiri dengan tawa keras darinya. Ia merasa lucu perjalanan cinta adiknya dan Alviro.


"Apaan sih lo" ketus Alviro.


"Dasar durhaka lo" balas Lea karena Alviro tidak memanggilnya dengan embel embel kakak.


"Udah lah, gue mau lihat Jihan dulu." Alviro berlalu Dati hadapan Lea. ia melangkah menuju ruang pasien tempat Jihan terbaring.


Lea tersenyum lebar, ia merasa lega sekarang. Tinggal mengurus Jihan saja lagi. Lea harus membuktikan pada Jihan, bahwa permasalahan nya dengan Alviro hanya sebuah kesalah pahaman saja.


Alviro memasuki ruangan Umum pasien, kedatangannya di sambut oleh ringgo yang berdiri di depan pintu.


"Dari mana aja lo? " tanya Ringgo.


"Kenapa? "


"Tuh, Jihan ngingau sejak tadi " jelas Ringgo menunjuk Jihan dengan dagu nya.


Alviro mendekati Jihan, ia merapikan anak rambut yang berserakan di kening dan pelipis Jihan. Gadis itu menggelengkan kepalanya, ia bergerak gelisah. Keringatnya mulai bercucuran kembali.


"Kak.... Kak... Kak yen.. " gumam Jihan pelan, hampir tidak terdengar.


Alviro menggenggam tangan Jihan, hatinya seperti terasa teriris ketika melihat air mata mengalir di sudut mata Jihan yang masih terpejam. Entah apa yang sedang dirasakan Jihan di alam mimpi, namun Alviro yakin, itu semua karena dirinya.


Liem memalingkan wajahnya, ia harus mengubur perasaan nya pada Jihan. Ringgo yang mengerti apa yang Liem rasakan, menepuk bahu Liem pelan.


Liem menoleh pada nya, di balas senyum dan anggukan kecil dari Ringgo. Liem pun ikut tersenyum, mungkin ini memang yang terbaik.


"Jihan.... " Gumam Fela dan Ria, mereka berdiri di belakang Alviro, menunggu Jihan Sadar dari pingsan nya.


...----------------...


Lea memutuskan untuk pulang ke rumah, ia harus memberitahu bunda dan ayah nya. Karena seperti nya Jihan tidak bisa keluar dari rumah sakit hari ini. Lea sudah berbincang dengan dokter yang menangani Jihan tadi. Kata dokter, jika pasien masih lemas, alangkah baiknya pasien dirawat dulu untuk sementara waktu, menjelang pasien benar-benar pulih dari rasa tekanan yang membuat pasien drop.


"Nah akhirnya kamu pulang nak, mana Jihan? " tanya Tia, ia tidak melihat Jihan pulang bersama Lea.


"Kenapa Lea, bilang sama bunda. Jihan kemana nak? kenapa kalian tidak pulang bersama? "


"Lea masuk rumah sakit bunda"jawab Lea jujur.


Duarrrrr... Bagaikan di timpah oleh beban yang begitu berat, Tia terhuyung ke belakang setelah mendengar kabar dari Lea.


" Bunda... " Gumam Lea memegangi tangan bundanya yang sempoyongan.


"Apa yang terjadi sama Jihan Lea? kenapa adik kamu bisa masuk rumah sakit? " tanya Tia mulai kalut, air matanya mulai menetes. perasaan nya tidak salah, sejak tadi perasaannya sudah tidak enak, Apalg pikiran Tia terus saja tertuju pada Jihan.


"Seseorang mengurung Jihan di toilet, dan mematikan lampunya" jawab Lea.


"Apa? Jihan kenapa? "


Lea menoleh ke belakang, dimana ayah nya berjalan cepat mendekati mereka. Tampaknya Burhan sangat kaget mendengar penjelasan dari Tia.


"Iya ayah, seseorang dengan sengaja mengurung Jihan di toilet, kemudian mematikan lampu nya. Sehingga Jihan syok, dan merasa ketakutan yah. Sekarang tubuh Jihan sangat lemah. Seperti nya ia semakin trauma ayah" jelas Lea panjang lebar.


Tangan Burhan mengepal, siapa yang telah berani melakukan hal itu pada putrinya. Ia tidak akan melepaskan mereka begitu saja.


"Sekarang Jihan dimana? bunda mau lihat dia" ucap Tia pada Lea, bibirnya bergetar menahan tangis.


"Jihan udah gak papa kok bun, bunda jangan sedih yah" bujuk Lea menenangkan bundanya.


"Yaudah sekarang kita ke rumah sakit" ujar Burhan.


"Bentar Yah, Lea mau ganti baju dulu" jawab Lea Burhan dan Tia mengangguk. Lea langsung berlari cepat menuju ke kamar nya untuk berganti pakaian.


Setelah semua sudah siap, Lea dan kedua orang tuanya pergi kerumah sakit.


...----------------...


Arvan berjalan menyusuri sekolah, ia memutuskan kembali ke sekolah untuk memeriksa lokasi kejadian.


Dengan di temankan oleh pak satpam, Arvan mendatangi penjaga sekolah. Ia ingin tahu, mengapa kunci toilet bisa ada sama orang lain, tidak seharusnya penjahat sekolah melakukan hal itu. Kunci toilet harus di simpan baik baiknya oleh penjaga sekolah, agar tidak di gunakan oleh para siswa untuk mengerjai temannya.


"Maaf den, tadi pagi bapak memang tidak sengaja meninggalkan kunci di toilet, karena bapak sakit perut den. " jelas pak penjaga sekolah meyakinkan Arvan.


"Bukan maksud apa apa pak, saya hanya ingin memastikannya saja" jelas Arvan agar bapak itu tidak salah paham.


"Benar pak, karena tadi ada yang iseng, membuat salah satu siswa masuk rumah sakit. Bapak harus lebih hati hati yah" sambung pak satpam ikut menjelaskan.


"Oh pantes aja, tadi kuncinya tergeletak di depan pintu rumah jaga. padahal bapak yakin sekali, kalo kuncinya ketinggalan di toilet nya" jelas pak penjaga lagi


Arvan terdiam sejenak, ia semakin penasaran siapa yang melakukan semua ini pada jihan. Apa motif semua ini.


"Ya susah pak, terimakasih yah atas informasinya. Maaf sudah mengganggu" ucap Arvan sopan.


"Iya den, tidak apa apa. " balas pak penjaga.


Arvan dan pak Satpam kembali ke pos satpam.Hati sudah semakin malam. Arvan memutuskan untuk pulang.


"Ya sudah pak, saya pamit dulu. udah malam" ujar Arvan.


"Iya den silahkan, hati hati di jalan" balas pak satpam sopan. Bapak ini adalah kaki tangan Arvan. Setiap kejadian yang ada di sekolah ini, Arvan dan pak satpam akan menyelidikinya.


Setibanya di rumah, Arvan di kagetkan oleh kedua orang tuanya yang terlihat buru buru keluar dari rumah.


"Loh, ma. Pa. Mau kemana? kok buru buru? "


"Aduh, ini Van. Mama sama papa mau ke rumah sakit, tadi Tia menghubungi mama. Kalo Jihan masuk rumah sakit" jelas Leni dengan wajah yang kalut.


"Oh itu, Arvan baru saja dari sana tadi" balas Arvan.


"Yasudah, mama sama papa pergi dulu. Jaga rumah yah sayang" ujar Leni mengecup kening Arvan, kemudian masuk ke dalam mobil.


"Kita bicara nanti Arvan" ujar Brian sebelum masuk ke dalam mobil, kemudian melaju cepat keluar dari perkarangan rumah besarnya.


"Hufff...."


Arvan menghela nafas berat, menatap kepergian papa dan mama. Entah mengapa ia merasa sesuatu yang buruk akan menghampiri kehidupan keluarga nya. Padahal, papa dan mamanya adalah orang yang sangat baik, tetapi masih saja, banyak orang yang berniat jahat kepada mereka berdua.


...----------------...