I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 61



"Kenapa Al? " tanya Liem dan yang lain menatap heran pada Alviro yang kembali menuruni anak tangga. Kemudian ia kembali naik ke atas dengan membawa anak kunci.


"What? lo punya kunci ganda nya? " kaget Ria.


"Gue makin penasaran dengan hubungan mereka" bisik Eldi pada Liem.


"Kalian lupa? keluarga mereka sudah deket sejak ono" jawab Liem. Membuat mereka mengangguk mengerti.


Alviro langsung membuka pintu kamar Jihan, kemudian masuk dan menutup pintu setelah semua teman temannya masuk.


"Loh,Jihan nya mana? " kaget Albi yang sejak tadi hanya diam saja, ia di sibukkan oleh beberapa barang yang dibutuhkan oleh mereka untuk meyakinkan Lea.


"Dia di balkon " jawab Alviro, ia sudah sangat hafal dengan kebiasaan Jihan.


Mereka langsung bergerak menuju balkon kamar Jihan. Benar saja, Jihan tengah tertidur di atas sofa dengan ponsel yang masih menyala di tangannya.


"Ya ampun, Jihan tidur. Pantes aja dia gak dengar kita manggil dan menelpon nya" decak Fela.


Engg.....


Jihan menggeliat, ia masih belum sadar dengan kehadiran teman-temannya yang sedang memperhatikannya tidur.


"Aduhh,, udah jam berapa yah? " gumam Jihan mencari cari letak ponselnya tanpa membuka matanya.


"Sekarang pukul 2 siang" jawab Ria.


"Ahhh, gue pikir udah sore" Gumam Jihan, masih belum ngeh dengan sahutan Ria.


1


2


3


Mata Jihan terbuka dengan sangat lebar, ia bahkan langsung duduk di sofa. Matanya melebar melihat kehadiran ke delapan teman sekelasnya.


"Kok kalian ada di sini??. Gak, gak gue pasti lagi mimpi" Gumam Jihan menggelengkan kepalanya, ia masih belum percaya jika teman temannya benar-benar ada di dalam kamarnya. Ia mengulurkan sebelah tangan nya untuk menyentuh Alviro yang lebih dekat dengan dirinya.


"Eh kok bisa di sentuh, ini beneran lo? " tanya Jihan menatap kaget pada Alviro yang tiba-tiba duduk di samping nya.


"Jihan, lo gak lagi mimpi" ujar Fela langsung mencubit pipi Jihan, membuat gadis itu berteriak kesakitan.


"Aww... Sakit fela. Lo beneran nyubit gue" serga Jihan mengusap pipinya bekas cubitan tangan Fela.


"Lo sih bego, udah tahu nyata. Masih saja bilang mimpi" sahut Babas.


Bug.


"Jangan ngatain sembarangan! " ujar Alviro menatap sinis pada Babas, ia tidak terima jika Jihan di katain.


"Sorry boss" balas Babas nyengir.


"Ihhh kalian apaan sih, malah berisik! " gerutu Jihan! ia masih belum bisa memikirkan bagaimana cara semua temannya bisa masuk ke dalam kamarnya yang terkunci dari dalam. Eh malah mereka bertengkar di depannya.


Mereka akhirnya menjelaskan pada Jihan, apa maksud ke datang mereka ke rumah Jihan. Bahkan mereka mengakui telah berbohong pada bunda Jihan.


"Tapi gue bingung deh, kok kak Lea gak marah setelah menghubungi pak johan" ujar Fela bingung. Ia berpikir jika mereka akan ketahuan setelah Lea menghubungi pak Johan.


"Gue juga mikir bakalan di usir kak Lea tadi. Emang lo rencanain apa si bas? " tanya Ria penasaran.


"Sebelum pulang, gue nemuin pak johan dulu tadi. Kalian gak tahu kan, otak secuil gue bisa rencanain rencana sematang ini kan? " ucap Babas menaik turunkan alisnya dengan bangga.


"Makasih yah guys, kalian udah mau lakuin semua itu untuk gue" Jihan terharu.


"Lo tenang aja, kita ada untuk lo" seru Alviro memeluk Jihan dari samping.


"Eits.... Gak boleh peluk peluk di depan kita!!! " serga Fela.


"Lo cemburu yah beb, sini aku peluk!! " sahut Babas langsung bergerak mendekati Fela.


"Ihh Babas, lo apa apaan sih Ganjen deh" sungut Fela mencubit perut Babas agar menjauh darinya.


Semoga ini merupakan bagian dari bahagia lo ji, gue sangat berharap lo gak marah sama kita nantinya. Maaf jika kita buat lo seperti orang bodoh, maaf tidak memberitahu siapa Alviro sebenarnya. Maaf. Batin Ria sembari menatap Jihan dalam.


Merasa ada yang memperhatikannya, Jihan menoleh ke samping. Benar saja, Ria sedang menatap lekat padanya.


"Ada apa Ria? kenapa lo natap gue seperti itu? " tanya Jihan heran. Ria hanya tersenyum dan menggeleng pelan.


"Mungkin dia masih gregetan hadepin Kak Lea" sahut Albi.


Untuk sementara waktu, suasana di kamar Jihan mendadak senyap. Mereka terdiam dengan pemikiran masing-masing. Rata rata mereka memikirkan hal yang sama, kecuali Alviro dan Jihan.


Alviro memikirkan bagaimana cara meyakinkan Lea dan membuat Jihan selalu tetap aman. Bahkan Alviro kemarin meminta pada papanya untuk melatih nya ilmu bela diri yang lebih dalam lagi. Sehingga Alviro bisa melindungi Jihan lebih kuat lagi.


Prok~


Tiba-tiba Jihan menepuk tangannya di udara, membuat mereka semua kaget.


"Hahahah, kalian kenapa sih. Malah begini begitu" ujar Jihan tertawa melihat reaksi kaget semua temannya.


"Ih Jihan, lo bikin jantung gue hampir copot tahu! " gerutu Fela mengusap dadanya.


"Lemah jantung yah bebeb? sini babang Babas kuatin" kekeh Babas kembali mencoba mendekati Fela, membuat gadis itu kembali menyerangnya dengan cubitan.


"Oh iya, kita harus membuat kerja kelompok sesuai alasan kitavtafi. Jika tidak, Kak Lea pasti akan mengamuk dan tidak mempercayai kita lagi" ujar Ringgo mengingatkan.


"Oh iya, yuk segera di kerjakan" sahut Albi, ia langsung mengambil semua peralatan yang tadi ia letak di atas ranjang Jihan. Kemudian membawa semuanya di hadapan teman temannya.


"Jadi apa yang akan kita buat dengan semua ini? " tanya Jihan menatap bingung pada benda benda aneh yang ia sendiri tidak tahu apa fungsinya.


"Kita akan membuat sebuah praktek. Menyalakan lampu dengan Aki. Kita membuatnya secara paralel dan seri" jelas Liem.


"Huh? gimana sih. Gue gak ngerti" ujar Fela bingung.


"Udah deh, lo dengerin aja. Di jelasin juga lo gak bakal ngerti. " Sela Ria.


"Ihh Ria, lo kaya gak tahu gue aja. Gue tu pinter, cuma lola aja Ria" cemungut Fela mulai memanyunkan bibirnya.


"Nah, karena gue tahu lo. Makanya gue bilang begono, ogeb" balas Ria lagi.


"Ihhh udah deh, gak usah ribut lagi. Kapan mulai nya coba! " serga Eldi.


"Iya beb, kita lihat aja dulu. entah bakalan ngerti kok" ujar Babas, membuat Fela memutar matanya jengah.


Mereka mulai membuat rangkaian lampu, dan memasang beberapa dinamo ke dalam rangkaian. Sebenarnya yang bekerja hanya Liem, Ringgo, dan juga Eldi. Selain itu mereka hanya sibuk bertengkar atau malah bermesraan seperti Fela dan Babas, dan Juga Alviro dan Jihan. Keduanya sangat tumben akur dan mesra seperti saat sekarang ini.


Sementara itu Ria dan Albi sibuk membuat laporan. Sebenarnya ini tidak perlu di lakukan, karena semua ini hanya pura-pura. Tetapi, Babas bersikeras menyuruh mereka untuk membuatnya. Ia menjelaskan bahwa pak Johan akan memintanya. Ia sudah berjanji pada pak Johan agar mereka tetap melaporkan apa yang sudah mereka buat. Jika tidak, pak Johan akan membongkar semuanya. laporan ini adalah sebagai syarat untuk pak Johan.


...----------------...