
Di sebuah mall, terdapat satu cafe yang sering di jadikan oleh Leni dan Tia tempat untuk bersantai setelah memborong di mall.
Leni tampak lesu, sejak tadi yang Leni lakukan hanya mendengus dan menghela nafas berat. Ia terus memikirkan bagaimana cara agar putranya kembali seperti dulu.
"Kamu kenapa sih Len, kok lesu gitu. Cerita aja sama Aku" ucap Tia.
Leni menegakkan tubuhnya, kemudian menatap lurus pada Tia. Wajahnya semakin di tekuk.
"Aku bingung Tia, kelakuan putra ku semakin hari semakin kelewatan. Kemarin aja dia sudah di tampar sama mas Brian" keluar Leni, membuat Tia yang sedang makan cake tersedak saking kagetnya.
"What? Brian nampar anak Alviro? yang bener Leni?" ujar Tia kaget, ia tidak menyangka Brian berani melakukan hal itu. Padahal dulu waktu kecil Alviro sangat di manja.
"Nah kagetkan kamu?. Mas Brian dah kelewat emosi. Mendapat laporan laporan dari berbagai sumber tentang sikap Alviro" jelas Leni. Tia mengangguk pelan, ia mengerti bagaimana perasaannya Leni. Karena Tia juga merasakan hal yang sama ketika Jihan berada jauh dari nya.
"Emang Alviro gak pernah cerita sama kamu? kenapa dia bisa berubah gitu? "
"Enggak Tia, aku aja bingung. Tiba-tiba sikapnya makin parah gitu" jawab Leni menggeleng.
"Humm... Mungkin karena terlalu di manja kali"
"Mungkin juga Tia... Tapi... Gimana cara ngatasinnya Tia" lirih Leni lemah. Ia benar-benar sudah kehabisan akal menghadapi putra nya.
"Coba deh kamu ngomong baik baik sama Alviro, aku yakin dia mau cerita sama kamu. " usul Tia.
Leni tampak berpikir sejenak, mungkin apa yang Tia usulkan bisa di praktekan.
"Baiklah Tia, aku akan mencobanya. Meskipun menemui anak nakal itu sangat susah. Adaaaa aja alasannya, setiap kali aku memintanya untuk menemui ku" kelu Leni dengan ekspresi geram, seakan akan sekarang ia berada di depan Putra nya.
Cukup lama mereka mengobrol soal Alviro, hingga Leni teringat dengan putri Tia yang berada di Amerika. Ia menjadi penasaran dengan kabar gadis cantik yang sudah lama tidak ia temui.
"Oh iya, gimana kabar putri cantik kamu yang di Amerika? "
"Oh si Jihan? udah balik" jawab Tia sembari mengunyah bolu yang baru masuk ke dalam mulutnya.
"Oh yah?? kapan. Kok aku gak tahu? "
"Sorry, sorry. Aku lupa ngabarin kamu. Soalnya mas Burhan maksa Jihan balik" jelas Tia tersenyum kikuk.
"Aku kangen liat bocah kecil itu" ujar Leni.
"Ehh jangan salah, putri kecil ku itu sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik. "
"Benarkah? "
Tia mengangguk cepat, ia sangat antusias ketika membicarakan tentang Jihan. Apalagi perasaan senang karena kedua putrinya sudah berkumpul kembali masih menggelitik hati Tia.
"Wahhh kapan kapan ajak ketemu sama aku dong. Udah lama gak jumpa sama dia"
"Iya iya, nanti aku ajak ketemu kamu" jawab Tia mengangguk pelan.
Terakhir kali perkumpulan keluarga kedua sahabat itu, di lakukan 7 tahun yang lalu. Namun sejak Jihan berumur 5 tahun, ia mulai tidak suka ikut, dan lebih memilih bermain di taman bermain bersama seseorang.
...----------------...
Sementara di kantin sekolah, masih dalam keadaan yang sama. Situasi menegangkan masih terjadi.
"Aduhhh ini mah gawat, bisa bisa di rebus sama ketua OSIS"
"Bombi, mendingan sekarang kita bilang sama kak Lea, kemarin kan kak Lea yang misahin meraka"
"Oh iya, yuk Sis"
Siska dan Bombi berlari menuju ke kelas Lea, mereka harus membawa Lea ke kantin untuk memisahkan Alviro dan anak baru itu.
"Kak Lea!!! "
"Kak Lea!!!"
Lea yang sedang mengerjakan beberapa catatan untuk tugas yang baru saja di berikan oleh pak Husni. Ia terlonjak kaget, ketika adik kelasnya masuk sembari meneriaki namanya.
"Bombi, Siska, ada apa? kenapa kalian seperti orang habis di kejar hantu"
"Gawat kak,,, Gawat" ucap Bombi terputus putus karena deru nafasnya yang tidak beraturan.
"Ada apa? ngomong tu yang bener Bombi! " "
"Anak baru, temen nya kak Kea kemarin. Lagi berantem sama Alviro" jelas Siska setelah berhasil mengatur nafasnya.
Seketika Mata Lea membulat, "Dimana mereka sekarang? "
"Ada di kantin" jawab Bombi.
Lea langsung berlari keluar kelas menuju kantin, di ikuti oleh Bombi dan Siska yang berlari di belakangnya.
Benar saja apa yang di katakan Bombi dan Siska. Di kantin terjadi keributan, dan yang menjadi pusat perhatian adalah Jihan si anak baru sedang berdebat dengan Alviro sang Casanova.
"Jihan! " panggil Lea.
"Kak Lea" sahut Jihan. Belum sempat Lea menghampiri Jihan, suara bariton membuat langkah kaki Lea terhenti.
"Ada apa ini? " ujar seseorang dari arah pintu kantin.
Aduh... Ni anak muncul di saat yang tidak tepat. Batin Lea.
"Arvan" gumam Ringgo, dan anak Wolf lainnya mulai bergerak khawatir. Selain Alviro, Arvan adalah orang kedua yang mereka takuti di sekolah ini. Tanpa banyak kata, namun banyak hukuman.
"Makin kacau" gumam Babas.
Arvan Lexiandi, pria dingin yang memiliki wajah tampan. Tubuh tinggi dan kulit putih, membuat dirinya terlihat persis seperti remaja Korea.
Arvan adalah ketua OSIS di sekolah ini, semua murid takut padanya. Apalagi si Lea, dia adalah siswi yang berlangganan dengan anggota OSIS.
Arvan berdiri di samping Lea, melirik dengan sorot mata yang tajam. Lea merasa pria ini selalu saja mencari cari masalah dengan nya. Hanya karena dirinya seorang ketua OSIS, jadi ia bisa semena mena kepadanya.
"Lea!!! " suara bariton itu terdengar mengerihkan di telinga Lea.
"Bukan gue, kok malah manggil gue" protes Lea berusaha melawan rasa takutnya.
Fela maju satu langkah, menatap semua siswa siswi yang ada di kantin diam ketika pria itu masuk. Fela yakin jika pria itu orang berpengaruh di sekolah ini.
"Kak tampan, bukan kakak cantik ini yang membuat masalah. Tapi tu GTB" jawab Fela menunjuk Alviro.
"Eh maksud saya, itu si cowok tampan tapi banci" ulang Fela.
"Enak aja, dia tuh yang cari masalah sama gue! " sela Alviro tak mau di salahkan. Alviro semakin merasa kesal ketika mendengar julukan yang Jihan berikan padanya di sebut oleh orang lain.
"Lo duluan yang ngambil kursi gue!! " balas Jihan tak mau kalah.
"Loh duluan yang nyebelin! "
"Loh yang gila!!! "
"Diam!!!! "
"Alviro!!! Kamu" tunjuk Arvan pada Alviro dan Jihan.
"Ikut Gue! " titah Arvan tak terbantahkan. Lalu keluar dari kantin lebih dulu. Setibanya di ambang pintu kantin Arvan berhenti tanpa menoleh ke belakang.
Merasa situasi mulai tidak aman, Lea perlahan mundur, ia tidak mau ikut terlibat dalam masalah ini. Ia harus segera pergi sebelum Arvan melihatnya.
"Lea! kamu juga"
huff.. Pupus sudah harapan, Lea mendengus kesal, ia akhirnya mengikuti mereka menuju ke ruang OSIS.
"Tadi kan gue dah bilang, jangan buat masalah" gerutu Lea ketika ia berjalan bersejajar dengan Jihan.
"Mana gue tahu" balas Jihan acuh.
Bel masuk pun berbunyi, semua murid murid sudah mulai bubar dari kantin sejak kedatangan Arvan. Mereka tidak mau ikutan di hukum jika masih tetap berada di sana.
"He lo bedua! " bentak Lika pada Fela dan Ria yang hendak pergi dari kantin.
"Apa? mau aduh jotos? " balas Fela sembari mengambil ancang ancang. Lika dan kedua temannya bergidik ngeri. Tapi mereka bersikap seolah olah tidak takut.
"Jihan siapanya Lea? " tanya lika.
"Lea? hmm... Seperti nya lo pengen tahu banget"balas Ria mengulum senyum.
" Hei... Jawab saja. Kalian gak tahu apa, si lika ini anak Kepala sekolah! " sungut Lilie.
"Hahaha, emang lo pikir kita takut? " Fela dan Ria terkekeh pelan. Bisa bisanya ketiga siswi itu, menggunakan ancaman kuno seperti itu.
"Sudah lah Ria, males ngadepin cewe seperti mereka"
Fela dan Ria berlalu dari hadapan Lika yang mengepalkan kedua tangannya.
"Seperti nya kita harus beri mereka pelajaran " ujar Lilie.
"Benar" sahut Jejei.
...----------------...
Setibanya di Ruang osis, Arvan berdiri di hadapan Alviro, Lea, dan Jihan. Mereka dengan ekspresi yang berbeda beda menghadap pada nya.
"Siapa yang bisa jelaskan masalah ini! " ucap Arvan menatap satu persatu wajah mereka.
"Pria bego ini duluan yang ngambil kursi yang gue dan teman teman gue dapat lebih dulu" ucap Jihan angkat bicara.
"Itu meja khusus anak Wolf! " sahut Alviro.
"Lo pikir sekolah ini milik lo doang!"
"Kalo iya emang kenapa? " tantang Alviro.
"Lo gila!! "
Lea memejamkan matanya mendengar perdebatan dua insan yang tidak tahu diri. Sudah dewasa tetapi masih saja bersikap seperti anak kecil.
"Diam!!! sekali lagi bersuara! mulut kalian akan gue sampal dengan sepatu. " tegas Arvan.
"Sekarang, kalian keluar dari ruangan gue!! kelilingi lapangan 50 kali. Jangan berhenti sebelum gue yang memerintahkan! "
Jihan mendongak menatap ketos garang itu.
"Kak, gue gak salah" protes Jihan.
"Satu! Dua.. "
Alviro melirik Arvan tak suka, namun ia tidak bisa berbuat apa apa. Ia terpaksa melakukan apa yang Arvan perintahkan.
Alviro keluar dari ruang OSIS lebih dulu, kemudian di susul oleh Jihan yang memberi jarak sedikit jauh dari Alviro. Ia tidak mau berdekatan sama cewe sialan yang membuat hidupnya semakin sial.
Di ruangan osis kini tinggalah Arvan dan Lea yang berdiri menunduk di tempat. Lea tak berani menatap mata Arvan, sisi over dan judes nya hilang ketika berada di depan Arvan.
"Lo" ucap Arvan, membuat Lea seketika mendongak.
"Tadi telat kan? " tebak Arvan, ia semakin yakin ketika melihat ekspresi Lea yang mulai panik. Sebenarnya Arvan tidak mempermasalahkan, tetapi melihat ekspresi panik Lea menjadi kesenangan tersendiri baginya.
"Enggak, kok. Gue gak telat" sangkal Lea menunduk.
"Baiklah, gue bakal lupain. Tapi ada syarat"
"Apaa? " tanya Lea penasaran.
"Cium gue! " ucap Arvan tanpa rasa tahu malu. Ia bergerak semakin dekat dengan Lea.
Deg dig Dug. Jantung Lea mulai berpacu seiring dengan langkah kaki Arvan mendekatinya. Lea semakin panik, jarak diantara keduanya tinggal 2 langkah lagi, dan Lea tidak bisa bergerak karena sudah mentok pada dinding.
Bug~
"Dasar cabul" ucap Lea sembari menendang tulang kering Arvan, sehingga pria itu mengadu kesakitan. Lea menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri.
"Rasain! " ujar Lea mengejek Arvan dan berlari meninggalkan ruang OSIS.
...----------------...
Hai semua nya. Salam hangat dari Author. Jangan lupa tinggalin jejaknya. Komenyarnya yang buat aku makin semangat yah, maaf kalo ada typo. Aku akan terus review sampai tidak ada lagi typo.
🤗🤗🤗🤗