
Pagi itu, Jihan merasa tidur nya sangat puas. Dengan malas ia menggeliatkan tubuhnya, tanpa membuka mata.
Huh?
Jihan merasa aneh, ia merasakan ada sebuah pergerakan di sisi tubuhnya dan sebuah tangan yang semakin mempererat pelukannya.
Dengan ragu ragu, Jihan membuka matanya dan melihat siapa yang sedang tidur bersama nya.
Syok! Jihan secara spontan langsung mendorong dada bidang Alviro menjauh dari tubuhnya. Hingga tampa adanya perlawanan bokong Alviro mendarat dengan sempurna di lantai.
"Aww... " Alviro meringis menahan sakit di bokongnya, mau tidak mau Alviro terpaksa bangun dari tidur panjang nya.
Sementara Jihan sibuk memeriksa tubuhnya, apakah masih berpakaian lengkap, atau malah sudah di lecehkan oleh Alviro.
"Huhh... Masih lengkap" lenguh Jihan bernafas lega. Seluruh pakaian nya masih utuh.
"Heh, Jihan. Lo kenapa sih, tiba-tiba langsung mendorong dan menendang gue! " sungut Alviro mengusap bokongnya yang masih terasa ngilu.
Jihan melirik sinis padanya, lalu Jihan pun turun dari ranjang dan berdiri di depan Alviro dengan kedua tangan di pinggang.
"Salah lo sendiri! ngapain lo tidur sambil meluk gue. " balas Jihan tidak merasa bersalah.
"Heh, namanya orang tidur mana ada yang sadar. Lagian, lo juga meluk gue tadi" balas Alviro tidak Terima, ia merasa Jihan juga menikmati tidurnya di dalam pelukan Alviro.
"Enak saja, malahan gue mengalami mimpi buruk karena lo berada di dekat gue! " seru Jihan dengan mata melotot. Keduanya sama sama tidak mau mengalah, bahkan kini mereka sudah saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.
"Gue gak mau yah, kalo lo tidur di dekat gue lagi! lo harus tidur di sofa! " peringat Jihan. Alviro menggeleng.
"Jika lo gak suka, kenapa gak lo aja yang tidur di sofa, gue gak mau! " tolak Alviro.
"Pokok nya gue gak mau, lo tidur di ranjang yang sama sama gue! "
Alviro mendecih, ia semakin mengikis jarak dengan Jihan.
"Kenapa gak mau? lo mau jadi istri durhaka? "
"Gak usah banyak bicara, pokoknya liat gak ada hak buat deketin gue! " Ucap Jihan dengan nada melemah di akhir kalimatnya, karena Alviro telah menyudutkan nya pada dinding.
Jihan merasa gugu, nyalinya mulai menciut.
"Gak ada hak yah! " Gumam Alviro menyeringai. Jihan semakin terpojok kan, ia tidak bisa berkata kata lagi. Satu tangan nya terangkat ke depan untuk menahan dada Alviro.
"Dulu mungkin gue gak ada hak sama lo, tapi sekarang. " Alviro menggantung ucapan nya.
Mata Alviro melirik dari ujung kaki Jihan, hingga ujung kepala, membuat Jihan merasa semakin gugup.
"Jangan kan ruangan kamar ini, tubuh lo aja hak gue! "
"Lo Be-_"
Cup.
Jihan melebarkan matanya, lagi lagi Alviro merebut kesucian bibirnya. Ingin rasanya Jihan memberontak, jika saja Alviro tidak menahan kedua tangannya.
"Kenapa? mau melawan? mau jadi istri durhaka? iya? " ledek Alviro.
"Lo benar-benar, Ba-_"
Cup~
Cup~
Alviro tidak membiarkan kata kata kasar, keluar dari bibir istri nya. Ia membungkam bibir Jihan yang awalnya hanya sebuah kecupan, kini berganti menjadi sebuah ciuman yang panas. Alviro merasa tidak rela untuk melepaskan bibir manis Jihan. Ia mau lagi dan lagi, bahkan menginginkan sesuatu yang lebih.
Awalnya Jihan memberontak, lama kelamaan ia mulai memejamkan matanya dan menikmati permainan Alviro.
Alviro semakin bersemangat, Jihan mulai terbuai, ia pun ikut membalas pangutan bibir Alviro.
Merasa pasokan oksigen habis di paru-paru nya, Jihan memukul mukul bahu Alviro agar memberinya waktu untuk bernafas.
Huhh..Hufff... Huhh...
Keduanya sama sama terengah, Alviro merasakan hembusan nafas Jihan di ceruk lehernya. Sementara Jihan merasakan hembusan hawa hangat menerpa kulit wajahnya.
"Dasar bajingan" maki Jihan di sela sela deru nafasnya.
"Lo juga menikmati nya" balas Alviro, membuat pipi Jihan seketika memerah karena malu.
"Itu karena lo! " tukas Jihan, ia mendorong tubuh Alviro menjauh darinya, namun Alviro tidak beranjak sedikitpun dari posisinya.
"Minggir!! " ujar Jihan lagi.
Jihan memberontak, tetapi kekuatan Alviro jauh lebih besar darinya.
"Alvirohmfff... Brengsekhmmfff" teriak Jihan di sela sela kebebasan menghindar serangan dari Alviro.
"Gue mau lo sekarang! " Gumam Alviro di sela sela aktivitas nya mencumbu Jihan. Nafsu sudah menguasainya.
Tuk!!! Tuk!!
Seseorang mengetuk pintu kamar dari luar.
"Ada orang" sorak Jihan bahagia. Ia sangat berterimakasih pada siapapun yang telah menyelamatkan dirinya.
"Siapa sih! " dengus Alviro kesal.
"Siapa??? " teriak Alviro dari dalam.
"Ini gue, bunda sama yang lain udah nunggu di ruang makan! " balas Lea dari luar.
"Makan saja dulu, gue lagi makan Jihan!!! " sahut Alviro jujur, membuat kedua mata Jihan melebar.
"Apa yang lo katakan! " serga Jihan melotot marah pada Alviro. Pasti kakak nya salah paham"
"Benarkah? tapi gue gak dengar suara apapun" balas Lea sembari menempelkan telinganya pada daun pintu untuk mencari sebuah suara *******.
"Ahh... " rintih Jihan. Alviro dengan sengaja meremas bukit kembar Jihan.
"Astga, itu beneran? " Gumam Lea terkejut plus bahagia.
"Ya sudah, kalian lanjutkan saja. Bikinin gue keponakan yang lucu yah!! " teriak Lea lagi dari luar.
Tuh kan, dia jadi salah kita. Jihan melotot marah pada Alviro yang sudah kelewatan.
"Lo kok gitu sih! "
Alviro tak menjawab, ia malah kembali mencumbui Jihan. Alviro benar-benar merasa kelimpungan sekarang.
Sementara itu, Lea dengan sangat semangat kembali ke ruang makan tempat keluarga nya berkumpul.
"Lea, kenapa wajah kamu terlihat sangat senang begitu? " tanya Keni heran. Mereka mengutus Lea untuk memanggil Jihan dan Alviro, tapi Lea hanya kembali sendirian.
"Di mana mereka? " tanya Arvan.
"Ayah, bun, pah, Ma" ucap Lea memanggil mereka semua dengan mata berbinar.
"Ada apa sayang? " Tia menjadi penasaran.
"Jihan sama Alviro tengah pagi pertama!! " ucap Lea Asal.
Tia dan Leni mengerut heran. Mereka tidak mengerti apa yang di maksud pagi pertama oleh Lea, yang mereka tahu hanya malam pertama.
"Aduhhh, itu lo Bun, ma. Seperti malam pertama" ucap Lea bingung hendak menjelaskan apa.
"Ooo ituu..." Tia mengangguk mengerti. Brian dan Burhan tersenyum bahagia.
"Kamu sih, ngomong gaji jelas gitu. Kami yang tua tua ini kan jadi bingung" Gumam Leni.
"Hehe maaf ma" lirih Lea. Arvan menggeleng melihat tingkah istri nya.
"Memang nya kamu tahu dari mana Nak? " tanya Brian penasaran. Lea pun menjelaskan detail apa yang terjadi ketika ia membangunkan Jihan dan Alviro tadi.
Semua orang tertawa geli, bisa bisanya Alviro bersikap seperti itu. Arvan jadi penasaran, bagaimana Alviro bisa menaklukkan Jihan yang anaknya menolak perjodohan ini dan terlihat membenci Alviro.
"Trus, kalian bagaimana? " ujar Leni tiba-tiba.
Lea tercekat, ia mendadak menjadi gugup. Pipi Lea berubah merona.
"Tenang saja ma, kita lagi usaha buat cucu untuk kalian" balas Arvan sekenanya. Lea merasa semakin malu. Ia tidak berani mengangkat kepala nya.
"Hahaha, rasain. Tadi ngejek adiknya, sekarang malah dia yang malu" kekeh Tia menggoda putri sulung nya.
"Ihh Bunda.. " Rengek Lea kesal pada bundanya yang terus terusan menggodanya.
Akhirnya mereka sarapan pagi tanpa pasangan pengantin satu lagi, yaitu Alviro dan Jihan. Entah apa yang mereka lakukan di dalam sana, hanya mereka dan Tuhan lah yang tahu.
Tetap dukung terus Jihan Dan Alviro yah guys. Berikan like, komen dan vote, jika kalian menyukai alur cerita nya. Jangan lupa share juga ke teman teman kalian sebagai apresiasi kalian pada karya author 😘
...Terimakasih...