I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 43



Sangat pagi sekali. Masih pukul 6 pagi. Alvido sudah berada di depan rumah jihan. Untung Tia selalu bangun pagi, jadi Alviro tidak perlu menunggu lama di luar.


"Wah pagi sekali Al, Om aja baru selesai mandi ini" kekeh Burhan menggoda Alviro.


"Iya om, mesti gercep" balas Alviro.


"Hahaha, bisa aja kamu" balas Burhan lagi. Mereka sekarang berada di ruang makan.


Tak lama kemudian Lea pun datang, wajahnya terlihat sangat kesal.


"Kenapa Lea, mukanya bete gitu? " tanya Tia.


"Ih bunda, lihat tu Jihan! udah sejak tadi di teriaki, gak bangun bangun." adu Lea.


"Hmmm, mau gimana lagi. Adik kamu itu memang begitu" sahut Burhan.


Alviro tersenyum menyeringai, sesuatu yang jahil terlintas di benak nya.


"Kenapa lo senyum senyum gitu? " ujar Lea menangkap wajah Alviro yang sedang tersenyum aneh.


"Bun, Al boleh gak bangunin Jihan? " pinta Alviro dengan tatapan memohon.


"Yes" sorak Alviro melihat Tia mengangguk menyetujui permintaan nya.


"Kunci cadangan ada di sudut situ yah"


"Oke bun"


Alviro bergegas beranjak dari ruang makan menuju kamar Jihan, tak lupa Alviro juga menyambar kunci cadangan yang Tia tunjuk tadi.


Dengan langkah cepat, Alviro tiba di depan kamar Jihan. Awalnya ia ingin mengetuk pintu kamar Jihan, tetapi tangan Alviro mengambang di udara ketika matanya menangkap kunci cadangan kamar Jihan.


"Kenapa harus di ketuk? gue kan bisa langsung masuk" gumam Alviro tersenyum penuh arti.


Ceklek.


Alviro menyelipkan kepalanya masuk ke dalam kamar Jihan. Terlihat di atas ranjang seorang gadis masih bergelung di bawah selimut tebalnya.


"Dasar kebo" gumam Alviro masuk kedalam kamar Jihan, kemudian menutup pintu dengan pelan.


Jihan masih tidak sadar, ia masih larut dalam mimpi indahnya.


"Jihan" panggil Alviro pelan, namun Jihan tetap tidak bergeming.


Alviro semakin tersenyum lebar, ia akan melancarkan aksinya. Dengan pelan Alviro menyibakkan selimut tebal Jihan, hingga seluruh tubuh Jihan terlihat.


"Aduhhhh Dingin banget" lenguh Jihan meringkuk. Matanya masih enggan untuk terbuka.


"Tidur lah sayang, sebentar lagi kau akan merasakan sensasi tidur di dalam air" bisik Alviro. Dengan sangat pelan, Alviro mengangkat tubuh Jihan ala bridal style. Bukannya terbangun, Jihan malah mengalungkan tangannya ke leher Alviro dan memeluknya erat, seolah olah leher Alviro adalah bantal guling.


Alviro membawa tubuh Jihan ke dalam kamar mandi. Ia tersenyum menyeringai menatap wajah Jihan yang masih terlihat sangat pulas.


"Maafkan aku Sayang" bisik Alviro pelan, namum senyumnya melebar kuat.


1


2


3


Byurrrrr.


"Aaakkkkk Banjir!!! Bunda!! tolong Jihan tenggelam!!!!!! " Teriak Jihan seperti orang akan tenggelam di dalam kolom berenang, padahal dirinya hanya berada di dalam Bathtub.


"Hahahahahaha..... "


"Alviro? " batin Jihan, ia menghentikan teriakannya. Jihan membuka mata lebar dan melihat Alviro yang tertawa keras sembari memegangi perut nya.


"Lo! kenapa bisa masuk ke dalam kamar gue!!! "


"Aduh Sayang, lo kok lucu banget sih" Alviro masih tertawa keras.


Jihan bangkit dari bathtub, ia berdiri di depan Alviro yang masih tertawa keras. Di tatapannya wajah cowo yang sudah rapi dengan seragam sekolah nya.


"Lo sih, udah jam setengah 7 tapi masih ngebo! "


"Ihhh itu kan bukan urusan lo!! " ketus Jihan.


"Ehhh ehhh, mau ngapain??? " ucap Alviro was was pada Jihan yang sekarang malah mengambil gayung beserta dengan air.


"Lo mau tahu? hm... "


"Ehhh Jihan!!! berhenti!! Jangan mendekat!!!! " Alviro berusaha menjauh dari Jihan.


Jihan semakin menyeringai, ia semakin mendekat pada Alviro yang terus menjauh darinya.


"Sayang...... Mari kemari!!! "


"Jihan, lo tahu kan. Gue udah pake seragam sekolah, lo gak mau gue bolos kan? " bujuk Alviro seraya melangkah mendekati Jihan dan merebut gayung nya.


"Ehhh Alviro!!! ihhh lo yah!! " geram Jihan kembali berusaha merebut gayung nya. Alviro pun berusaha menahan agar gayung itu tetap tidak tumpah ke tubuhnya. Aksi rebut merebut pun terjadi, tanpa mereka sadar tangan mereka menyenggol sabun dan terjatuh ke lantai.


"Eh... Eh"


Kaki Jihan terpeleset karena menginjak sabun, karena kekurangan keseimbangan, Jihan menarik tangan Alviro.


Byur!!!!!


Untuk beberapa saat, Alviro dan Jihan saling menatap. Posisi tubuh Jihan jatuh tepat di atas tubuh Alviro. Jantung keduanya berdetak kencang saling bersahutan. Alviro menatap lekat mata Jihan, kemudian turun ke bibirnya.


"Ihhh Ngapain lo! " ucap Jihan mendorong tubuh Alviro, ketika pria itu semakin memajukan wajahnya mendekat pada wajah Jihan.


"Yah, basah" ujar Alviro.


"Rasain, makanya jangan usil sama gue! " cibir Jihan. Ia berusaha untuk bangkit dan keluar dari dalam Bathtub, namun tangan kekar Alviro menahan pinggang nya.


"Lo pikir bisa kabur semudah itu? "


"Eh mau ngapain lo?? " pekik Jihan. Alviro malah menarik tubuhnya hingga tubuh mereka semakin menempel dan tenggelam di dalam bathtub yang terisi hampir penuh.


"Alviro!!! " pekik Jihan ketika Alviro kembali hendak menarik tubuhnya dan tenggelam bersama.


"Kenapa sayang? bukannya lo mau kita mandi bareng? "


"Ih ogah!!!. udah deh minggir minggir! gue mau keluar" ucap Jihan.


"Eiitssss gak semudah itu" tahan Alviro.


"Ihh mau lo apa lagi sih! " ketus Jihan mulai jengah dengan sikap Alviro.


"Kiss gue dulu" ujar Alviro menggerakkan kedua alisnya naik turun.


"Mimpi!! " ketus Jihan, ia mendorong tubuh Alviro lagi.


"Keluar sekarang dari kamar gue!!! atau lo!! " Jihan berbalik menatap Alviro yang berusaha untuk bangkit dari bathtub.


"Apa? " tantang Alviro, ia juga sudah berdiri di hadapan Jihan.


"Atau lo bakalan terlambat masuk ke sekolah" lanjut Jihan dengan suara yang sangat pelan. Jihan juga langsung membalikkan tubuhnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Jihan kaget melihat wajah wajah Alviro. Rambutnya yang basah, membuat poni Alviro yang biasanya rapi ke atas, kini malah lurus kebawah. Jihan seakan akan melihat wajah seseorang di sana.


"Gue akan keluar sekarang" ujar Jihan melangkah keluar dari kamar mandi.


Sementara Alviro tercengang melihat perubahan ekspresi Jihan yang mendadak sendu.


"Ada apa dengannya? " gumam Alviro bingung. Ia mengambil handuk Jihan, kemudian mengganti pakaian nya. Alviro harus mengeringkan bajunya terlebih dahulu, baru ia bisa keluar dari kamar mandi Jihan.


Setelah selesai mandi di kamar kakak nya, Jihan kembali masuk ke kamarnya. Ia melihat Alviro berdiri sembari menatap bingung baju biasanya.


"Apa yang sedang kau lakukan? cepat pakai baju mu" ucap Jihan, namun ia tidak mau melihat ke wajah Alviro.


"Apa kau tidak lihat? baju ku masih basa! bagaimana aku bisa memakainya" balas Alviro ketus.


Jihan menghela nafasnya, ia mencoba memikirkan cara agar bisa mengeringkan baju basah Alviro.


"Peras baju lo di kamar mandi! setelah itu bawa ke sini" titah Jihan.


"Apa yang akan lo lakuin sama baju gue? " tanya Alviro.


"Udah deh, lakuin aja apa yang gue perintahkan! "ucap Jihan kesal.


Melihat Jihan sudah kesal, Alviro langsung bergegas memeras bajunya di kamar mandi.


" Ini! "


Jihan langsung mengambil baju Alviro yang masih basah, kemudian mengeringkan nya dengan hairdryer. Alviro hanya berdiri memperhatikan apa yang Jihan lakukan. Satu tangannya memegangi handuk.