
Hari ini adalah hari terakhir ujian, semua siswa siswi di haruskan untuk hadir. Hal ini lah yang membuat Jihan dan Ria khawatir. Fela masih belum bisa hadir ke sekolah, ia masih sangat berduka karena kepergian mamanya. Ria dan Jihan lah yang membawa kertas ujian untuk Fela agar dikerjakan di rumah.
"Ji, gimana dong. Fela pasti belum dateng hari ini" gumam Ria khawatir.
"Udah tenang aja, pasti ada jalan kok" jawab Jihan menenangkan Ria.
Fela masuk ke dalam kelas, tanpa banyak bicara dan ekspresi datar. Ia langsung duduk di samping Ria. Jihan dan Fela saling melirik, tanpa mereka duga Fela datang kesekolah sesuai informasi yang mereka beritahu kemarin.
"Gue seneng banget lo bisa datang" gumam Ria tersenyum senang.
"Sst..., Fela, gue ada di belakang lo" ujar Jihan memberikan kode, agar Fela dan Ria menoleh ke belakang.
Aksi kocak Jihan dan Ria akhirnya membuat senyum manis terukir di bibir Fela. Terlihat aneh sih, yang biasanya Fela yang tukang hibur, sekarang malah dia yang di hibur. Memang roda itu selalu berputar. Kalo gak berputar gimana dong, 😅🙏.
"Makasih yah guys, kalian selalu memberikan semangat dan motivasi sama gue" lirih Fela.
"Fela gue yang manis, lo kenapa harus bilang makasih. Harusnya kita yang makasih sama lo, kita bersyukur udah miliki sahabat seperti lo! " ujar Jihan. Akhirnya mereka saling berpelukan.
"Ikuttt" rengek Ria langsung memeluk kedua sahabat nya.
"Ekhem! "
"Apa ujiannya bisa kita mulai sekarang? " Pak Cio berdiri di depan menatap ketiga siswinya yang tengah berpelukan. Ada rasa haru yang pak Cio rasakan, apalagi mendengar cerita tentang Fela.
"Eh pak Cio" kaget Jihan dan Ria langsung duduk di bangku masing-masing.
"Ayo silahkan di mulai pak" ujar Ria.
Pak Cio mengangguk, ia menatap Fela dengan senyum manis, bukan senyum iba.
"Bapak senang kamu kembali masuk Fela" ujar pak Cio.
"Makasih Pak" jawab Fela mengangguk pelan.
Ujian pun di mulai, Geng Wolf dan geng Jihan tampak santai menjawab setiap pertanyaan yang ada di kertas ujian. Tidak adalah anak Wolf yang bodoh, Jihan sudah memberikan kisi-kisi yang harus mereka pelajari dan harus mereka hafal agar bisa menjawab soal ujian dengan benar. Babas yang terkenal pemalas dan bodoh, kini sudah tidak bodoh lagi. Berkat kepintaran Jihan, ia mampu menciptakan mode yang pas untuk teman teman nya.
Para guru heran, bahkan mereka mengutus beberapa pengawas agar memperhatikan Babas Albi dan Alviro. Mereka selana tidak percaya melihat hasil ujian ketiga siswa terban dek di sekolah ini. Namun itulah hasilnya, Alviro dan kedua sahabat nya tidak mencontek ataupun membuat jimat. Ia menjawab setiap soal dengan pikiran mereka sendiri.
"Pak, saya sudah selesai" ujar Jihan.
"Saya juga" sahut Fela, Ria, dan semua anak Wolf.
"Wah kalian kompak sekali yah" ujar pak Cio.
"Tentu saja pak, kami akan selalu kompak" balas Bahwa bangga. Mereka tidak bisa berpikiran buruk kepada mereka semua, karena anak anak wolf dan juga geng Jihan mendapat pengawas khusus untuk mengawasi mereka ketika ujian.
"Bagus.Kalian benar-benar genius. Bapak salut melihat kemajuan kalian yang sangat pesat" puji pak Cio.
"Terimakasih pak"
Mereka pun bergegas keluar dari kelas, seketika kelas langsung tampal kosong dan sepi. Karena memang hampir setengah dari kelas IPA satu adalah anggota mereka.
"Akhirnya, kita bisa ngumpul lagi" ujar Ria senang.
"Baiklah, hari ini kita harus merayakannya. Kita mesti pergi ke mall dan belanja sepuasnya!! " sorak Jihan. Ria pun mengangguk setuju, sementara anak anak wolf hanya bisa pasrah mengikuti kemauan ketiga gadis itu. Tanpa bisa membantah mereka harus pasrah, karena ini adalah kemauan dari Jihan Syarat agar Jihan mau mengajari mereka sebelum ujian.
"Ayo kita ke kantin" ajak Ria.
"Ayokk" sorak Jihan. Sejak tadi yang berkoar hanya Ria dan Jihan. Sedangkan Fela hanya mengangguk dan mengikuti kemana kedua sahabat nya pergi membawanya. Tidak ada Fela yang dulu, Fela yang selalu ceria dan Heboh.
Fela terus terbawa suasana, ia masih belum bisa menerima kepergian mamanya yang begitu cepat.
Jihan menoleh pada Fela, ia mengerti jika Fela masih sangat sedih.
"Fela" lirih Jihan. Fela pun menoleh padanya.
"Lo harus bangkit Fela, jangan begini terus. Gue yakin kok, mama lo bakaln senang melihat lo ikut bahagia di sini. Tunjukin pada dunia, bahwa lo tidak selemah yang mereka kira." ujar Jihan terus memberikan semangat dan suport untuk Fela.
"Fela, lo gak boleh terus, Lo harus bangkit. Kita ada buat lo. Lo gak sendirian" sambung Ria.
Fela menatap kedua sahabat nya, tanpa terasa air matanya kembali mengalir. Membasahi pipi yang baru saja kering dari bekas airmatanya kemarin.
"Makasih yah guys, kalian benar-benar sahabt gue" Fela kembali memeluk Jihan dan Ria. Ia semakin bersyukur mendapat teman seperti Jihan dan Fela.
"Kita gak di ajak pelukan? " celetuk Babas.
"Ihh apaan sih, bukan muhrim" sungut Ria.
"Tapi gue udah Sah" sahut Alviro dengan bangga. Ia langsung menarik Jihan ke dalam pelukannya.
"Adehhhh Malah jadi kacang" ujar Ringgo dan Eldi malas. Mereka malah pergi meninggalkan Alviro dan Jihan yang saling berpelukan.
"Yah di tinggal! " gerutu Jihan.
"Gak papa, asal kita berdua" balas Alviro semakin mengeratkan pelukannya.
...----------------...
"Gue mau pesen minum dulu yah. Lo mau nambah gak? " tanya Lidia pada Rasya.
"Gak deh, ini udah cukup" tolak Rasya.
"Baiklah" Lidia bangkit dari duduknya, ia langsung berbalik.
Brak~
"Awh.. " Fela langsung menepis nepis rok dan bajunya. Kulit paha nya terasa melepuh terkena kuah bakso panas.
Tak jauh dari tempat Fela berdiri, Ria melotot kaget Ia langsung mendekati Fela.
"Ya ampun Paha lo!! " pekik Ria, ia langsung meletakkan nampan jus yang ia bawa. Lalu mengambil tisu untuk mengelap paha Fela agar tidak melepuh.
"Maaf Fela, gue gak sengaja" lirih Lidia ingin membantu membersihkan baju dan Rok Fela. Tapi, ada tangan yang menahan Lidia, tangan itu adalah milik Jihan. Mata nya menatap tajam pada Lidia.
"Jangan sentuh kan rangan busuk lo dari Fela! " ujar Jihan.
"Lo apaan sih, gue cuma mau bantu Fela" bantah Lidia.
"Gak usah sok deh Lidia, gue tahu lo sengaja kan? " tuding Ria di sela sela aktivitas nya membersihkan rok dan baju Fela.
"Kalian itu kenapa sih, selalu saja melihat gue dengan kesalahan! " ujar Lidia.
"Wahhh si Lidia gak tahu malu banget" ujar siswa yang menonton tragedi itu.
"Lo itu pelakor yang udah membuat mama Fela meninggal. Masih berani nanya begitu? " sahut yang lain.
"Lidia, " lirih Fela. Ia menahan tangan Ria agar berhenti membersihkan roknya. Lalu, Fela berdiri di depan Lidia.
"Gue benar-benar gak tahu Fela"lirih Lidia, ia berkata jujur dan tulis. Namun di mata Fela dan kedua temannya Lidia tetap gadis perbuat suami orang.
" Gue harap, gua gak ketemu lagi sama lo. Mau sengaja atau tidak. Pergilah sejauh nya dari kehidupan gue!! " ucap Fela penuh penekanan.
"Fela, lo kok seperti itu sih Lidia bukan pembunuh mama lo. Salah papa lo juga kali, karena sudah selingkuh" kata Rasya membela Lidia. Menurut Rasya kejadian ini tidak sepenuhnya kesalahan Lidia.
"Benarkah? apa lo mau bukti?. Gue bisa membuktikan siapa yang udah membuat gue kehilangan mama gue!! " ucap Fela, matanya mulai memerah menahan emosi dan kesedihannya.
"Silahkan" tantang Rasya. Ia yakin Lidia tidak bersalah, sesuai yang Lidia jelaskan pada nya. Lidia tidak sepenuhnya bersalah.
"Semua orang disini akan menjadi saksi. Jika bukti yang gue berikan terbukti mengarah pada gadis pelacur ini, gadis ini harus pergi dari sekolah ini! " teriak Fela. Ria dan Jihan hanya bisa diam dan membiarkan Fela melakukan apapun yang ia inginkan. Mereka juga penasaran tragedi apa yang terjadi di balik meninggal nya mama Fela.
"Mama gue memutuskan gantung diri setelah ia membaca sebuah pesan WA yang berisi sebuah foto" ujar Fela, ini sangat sulit untuk dirinya umbar. Namum ia harus membuktikan pada semua orang bahwa Lidia adalah orang yang jahat.
"Foto apa? " celetuk salah satu siswa yang penasaran.
"Foto seorang wanita muda tengah menikmati pergulatan nya dengan suami orang. Dan suami orang itu jauh lebih tua dari nya. Bahkan jika di bandingkan, mereka lebih persis terlihat seperti ayah dan anak. Wanita itu sangat hina dan keji!!? " teriak Fela di akhir kalimat nya.
Rasya dan Lidia masih setia mendengar setiap kata yang Fela lontarkan, meskipun semua itu terasa menyakitkan bagi Lidia. Ia merasa benar-benar tidak melakukan semua itu, jadi Lidia tidak merasa takut sedikitpun.
Kantin seketika di penuhi oleh siswa siswi yang penasaran dengan penyebab meninggal nya mama Fela. Wanita yang terkenal dengan kehangatan nya dan kecantikannya.
"Foto ini di kirim oleh seseorang. Dan gue bakalan menghubungi nomor whatsapp ini, jika ini bukan milik Lidia makan ponselnya tidak akan berdering" jelas Fela lagi.
"Ada apa ini? " tanya Lea dan Arvan yang baru saja tina di kantin. Begitu juga dengan Anak wolf yang baru saja mendapat kabar bahwa di kantin terjadi pertengkaran anatar Jihan dan anak baru.
"Itu kak, Fela sedang membuktikan siapa yang menyebabkan mamanya bunuh diri" jawab salah satu siswa.
Babas dan kelima temannya membela kerumunan. Mereka berdiri di samping Fela dan juga di samping Jihan dan Ria.
"Ini adalah ponsel mama gue, dan ini adalah pesan yang mama gue Terima" ucap Jihan memperlihatkan foto itu pada semua orang. Mereka langsung syok melihat siapa yang tengah berpelukan dengan om om.
Lidia kaget, mengapa foto dirinya ada di ponsel mama Jihan. Perasaan Lidia mulai tidak enak, kakaknya pasti sudah melakukan semua ini.
Mata Rasya pun ikut melebar, ia tidak menyangka jika Lidia kembali membohonginya.
"Gue akan menghubungi no nya! " ujar Fela. Ia langsung menekan gambar yang berbentuk seperti telfon di sudut layar whtsapp nya.
Dr RTTT!!!...
Drtttt....
Lidia kembali di kagetkan oleh suara dering ponselnya. Mereka semua menganga, ternyata memang benar Lidia yang melakukannya.
"Lihat!!! dia memang yang melakukannya. Gue sudah tahu ini sejak awal!! apa lagi fotonya sangat menjijikan!! " teriak Fela mulai isteris.
Prank!!!!
Fela melempar mangkok dan piring pada Lidia, untung tidak mengenai gadis itu. Jihan dan Ria langsung memeluk Fela, mereka langsung membawa Fela pergi dari sana.
...----------------...