I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 16



Honja jujeo anja


Saeng-gagman keojyeoga


Eonjebuteo neon nal apeuge haessdeonga


Neo jochado moleujanha


Neodo apeujanha 'cause you're mine


I just want to blow your mind


Ileohge neon tto meol-eojyeo man ganeunde


Amuleohji anh-eunde


Geuleohge malhaneunde


Sasil-eun naega geuge aninga bwa


I want you to be your light, baby


You should be your light


Deoneun apeuji anhge


Nega useul su issge


I want you to be your night, baby


You could be your night


I bami neoege soljighal su issge


Neodo apeujanha 'cause you're mine


I just want to blow your mind


Ileohge neon tto meol-eojyeo man ganeunde


Amuleohji anh-eunde


Geuleohge malhaneunde


Sasil-eun naega geuge aninga bwa


I want you to be your light, baby


You should be your light


Deoneun apeuji anhge


Nega useul su issge


I want you to be your night, baby


You could be your night


I bami neoege soljighal su issge


Ijen naege yagsoghae oh oh


Halue myeoch beonssig oh oh


Honjala neukkyeodo oh oh


Neol beolijineun ma oh oh


Oh oh oh oh yeogi jamkkan meomchwoseo


Saekki songalag geolgo


Ijen naege yagsoghae oh oh oh oh


Prok!!!! Prok!!! Prok!!!


Penampilan Jihan di banjiri sorakan dan tepuk tangan dari siswa siswi seisi kelas IPA 1.Mereka berdecak kagum pada Jihan. Selain cantik, gadis itu juga memiliki bakat yang luar biasa.


"Wah, gak nyangka yah, suara Jihan bagus banget"


"Gue gak nyangka juga, Jihan ternyata gak se sombong itu"


"Iya, Kalo gini mah. Gue rela jika Jihan sama Alviro"


Jihan tersenyum kikuk, ia menatap seluruh teman temannya yang entah sejak kapan berkumpul, duduk membentuk setengah lingkaran di hadapannya.


"Wahh, suara lo bagus banget Jihan" puji Ringgo sembari bertepuk tangan.


"Gue sampai terlena mendengar nya" Eldi.


Liem semakin merasa kagum, Jihan semakin tampak sempurna di matanya.


"Benerkan, apa yang gue bilang" sahut Fela.


"Emang apa sih yang gak bener dari ayank Fela" ujar Babas.


"Ihhh apaan sih lo" ketus Fela kesal.


Sementara Ria dan Albi hanya saling pandang dan lempar senyuman. Sikap kalem Ria, membuat Albi tak berani mendekatinya.


Kring!!!!!!!!!!!!


"Udah bel tu. Yuk balik" ujar Jihan.


Mereka kembali menarik kursi masing-masing ke tempat semula. Dalam sekejap ruang kelas IPA satu langsung sepi.


Jihan dan kedua sahabat nya berjalan santai menuju ke parkiran. Senyum manis terukir dari ketiganya. Sejujurnya Jihan penasaran, ada apa sebenarnya Alviro dengan bu Mirna. Ria dan Fela menatap Jihan aneh, sejak tadi Jihan tampak melirik ke sana ke mari seperti mencari seseorang.


"Lo cari siapa ji? " tanya Ria penasaran.


"uh? gak kok, gue gak cari siapa siapa" jawab Jihan tertegun, ia menggeleng pelan.


"Trus mata lo, kenapa kelayapan gitu? " tanya Fela.


Jihan tak menjawab, ia malah mempercepat langkahnya ketika melihat Lea sudah menunggu di depan mobilnya.


"Yuk kak" ajak Jihan pada Lea yang terlihat fokus bermain ponsel.


"Kak Lea budek yah" kekeh Fela. Mereka ikut berdiri di samping Jihan, menata fela yang terlihat sangat tegang. Entah apa yang ia lakukan di ponselnya, membuat wajah Lea tampak semakin tegang.


"Woy, kak!!! " pekik Jihan lagi.


"Eh iya, apa? " kaget Lea. Saking kagetnya, ponsel yang ada di tangannya terlempar ke tanah.


"Ihhhh, Jihan. Lo kok ngagetin gue sih. Lihat kan...... Jatuh! "


Lea memunguti ponselnya, untung layarnya tidak pecah. Andaikan ini adalah Ponsel Kw, mungkin ponsel Lea sudah tidak berbentuk lagi.


"Yee, salah sendiri melamun. Dari tadi tahu gue manggil lo"


"Tau ih kak, emang ada apa sih di ponsel kakak. Serius banget" sahut Fela penasaran.


"Ihhh Kalian kepo deh, udah sana sana balik. Entar di cariin mama papa lo" usir Lea dengan ekspresi garang.


"Ihh, kak Lea pikir kita anak kecil, di cariin mama" balas Fela mengerucut kan bibirnya, namun ia tetap menuruti apa yang Lea katakan. Sejak tadi, Fela terus yang ngomong. Sementara Ria betah menjadi penonton setia.


Fela dan Ria membawa mobil sendiei, jarak sekolah dan rumah mereka lumayan jauh. Sekitar 45 menit, jika mengendarai dengan kecepatan sedang.


"Adek, gue kesel deh sama Arvan" gumam Lea ketika mereka sudah masuk ke dalam mobil dan mulai bergerak meninggalkan perkarangan sekolah.


"Kenapa? dia apain lo lagi? " tanya Jihan tanpa menoleh.


"Tadi dia maksa gue buat ikutan acara bansos, ngeselin gak tuh? "


"Lo, Mau? "tanya Jihan lagi, kali ini ia menoleh pada kakaknya.


" Lah kan tadi gue bilang, dia maksa gue. Gimana gue mau nolak coba "


"Lo kan tau, gue gak bisa melawan tu bocah" abung Lea lagi. Wajahnya mengeluarkan berbagai macam ekspresi, setiap kalo ia menceritakan sikap Arvan kepadanya.


"Gue rasa dia suka sama lo" ujar Jihan lagi.


Cittttt!!!!!!!!!


CITT!!!!!!!!!!


Seketika Lea mengerem mendadak, Jihan sampai terhuyung ke depan karena tidak mengenakan sabuk pengaman.


"Aduh kak Lea, lo mau bunuh gue? "


"Lo bilang apa tadi? " tanya Lea mengabaikan adiknya yang meringis kesakitan. Lea menarik bahu Jihan agar lebih dekat dengan dirinya.


"Lo gak ngerasa apa, Ka Arvan itu suka sama lo. Dia sengaja bersikap seperti itu sama lo, biar dia bisa deket terus sama lo! " jelas Jihan, ia masih merasakan nyeri di bagian bahunya.


"Gak, itu gak mungkin Jihan" sangkal Lea. Mana mungkin Arvan menyukainya, sedangkan pria itu selalu saja membuat dirinya menderita. Lea menggeleng kuat, itu mimpi buruk baginya jika Arvan si ketua OSIS kejam menyukainya.


Lea kembali menjalankan mobilnya, pikirannya masih di penuhi oleh kata kata Jihan yang mengatakan Arvan menyukainya. Hingga mereka tiba di rumah, Lea tak bersuara lagi. Gadis itu langsung melangkah menuju kamarnya.


Rumah tampak sepi, seperti nya bunda mereka sedang tidak ada di rumah.


"Lah, bunda kemana yah? " Gumam Jihan, ia mencari cari keberadaan bundanya. Ke dapur, ke kamarnya, ke ruang baca, dan ke tempat yang tidak mungkin di kunjungi oleh bunda nya tengah hari begini.


"Seperti nya bunda tidak ada di rumah" Gumam Jihan, ia memutuskan untuk langsung mauk ke kamarnya saja.


...----------------...


Alviro duduk di atap sekolah, menatap langit biru yang terlihat bersih tanpa awan putih.


Sekolah sudah mulai sepi, tapi Alviro masih ingin berlama lama disana. Hembusan angin yang menerpa kulit wajahnya, membuat Alviro memejamkan matanya untuk menikmati.


"Di sini lo rupanya! " ucapan seseorang dari arah belakang. Alviro tahu itu siapa, ia tidak perlu membuka mata untuk melihatnya.


"Yuk cabut, kelas udah bubar" ajak Ringgo sembari melempar tas sekolah Alviro ke samping pemilik nya.


"Gue masih mau di sini" jawab Alviro tanpa membuka mata. Ia malah merebahkan tubuhnya di lantai atap sekolah. Ringgo hanya bisa menghela nafas, ia tahu Alviro sedang menenangkan pikirannya dari masa lalu yang membuat dirinya menjadi seperti ini.


"Jihan gak tahu apa apa, lo gak perlu ambil hati kejadian tadi"


Ringgo ikut berbaring di samping Alviro. Ia menatap langit biru, ia merasa sedikit lebih tenang. Hal ini Alviro yang mengajarkan padanya. Jika mereka merasa tertekan, maka mereka akan mencari tempat yang tinggi, kemudian menikmati pemandangan langit yang indah.


Alviro membuka matanya, kemudian menoleh pada Ringgo.


"Gue gak nyangka, lo bisa sedekat itu sama anak baru menyebalkan itu"


"Huh, bu Mirna "


"Jangan sebut namanya! " potong Alviro cepat. Membuat Ringgo memperbaiki kalimat nya.


"Wanita itu tidak melanjutkan kelas, ia masih syok dan memilih mengosongkan jadwal kita hari ini" jelas Ringgo.


"Hubungan nya apa sama gadis itu"


"Yah, kita ngumpul. Dan-" ucap Ringgo terhenti.


"Sudahlah, gue gak mau denger apa apa tentang gadis itu"


Alviro bangkit dari baring nya, ia meraih tasnya. Kemudian berdiri menatap Ringgo yang cengoh kepadanya.


"Katanya mau balik"


"Lo yakin, gak mau denger informasi yang gue punya? " ujar Ringgo lagi, ia ikut bangkit.


"Tentang gadis itu? " tebak Alviro, senyum miring tercetak di sana. "Gak penting bagi gue! "


Alviro berjalan lebih dulu, ia hampir menggapai ganggang pintu memasuki Atap. Namun terhenti ketika mendengar kalimat terakhir dari Ringgo.


"Dia memiliki teknik main gitar sama seperti lo! "


Alviro berbalik, ia kembali melangkah mendekati Ringgo.


"Jangan mencoba untuk menipu gue ring, Loh tau kan. Teknik itu hanya gue yang bisa dan icha! " tekan Alviro menatap ringgo dingin.


"Tapi gue serius Al, gue kaget!! tadi Jihan memainkan gitar gue dan bernyanyi di hadapan semua anak anak" jelas Ringgo meyakinkan Alviro.


"Gue gak percaya! hentikan omong kosong ini." tegas Alviro, kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Ringgo. Ia tidak akan pernah mengira jika Jihan adalah Icahnya, sungguh hal yang mustahil terjadi.


"Gue tahu, lo pasti memikirkan hal yang sama seperti gue, setelah mendengar nya Al. Tapi lo menyangkalnya." gumam Ringgo menatap kepergian sahabat nya.


Di antara anak Wolf, Ringgo lah yang paling dekat dengan Alviro. Ia yang paling tahu apa permasalahan Alviro dari yang terkecil sekalipun. Jika butuh pendapat, Alviro akan mencari Ringgo, setelah itu baru Liem dan Eldi. Kalau Babas dan Albi? mereka hanya ujung tombak yang siap bertempur. Pemikiran mereka terlalu singkat, jadi Alviro tidak bisa mengajak keduanya berunding.


...----------------...