
"Ini semua data datanya! " ucap Eldi, ia meletakkan beberapa lembaran kertas di atas meja. Ringgo dan Liem langsung menyambar nya.
"What, jadi beneran gadis ini? " Liem melihat foto yang sudah Eldi cetak. Mereka mengacungkan jempol dengan kehebatan Eldi yang bisa membobol keamanan data seseorang.
"Alviro harus tau hal ini" ujar Ringgo. Kedua sahabat nya mengangguk setuju.
"Gue gak nyangka yah, dia sama liciknya dengan Mirna" gumam Eldi.
"Namanya juga kakak adek" sahut Ringgo.
Mereka bertiga berkumpul di basecamp, hanya mereka bertiga. Albi dan Babas sibuk dengan pasangannya. Alviro malah sibuk dengan kepindahannya ke apartemen bersama Jihan.
Lagi pula, Ringgo dan Eldi ingin menyelidiki nya dulu, mereka harus memastikan kebenaran informasi nya dulu baru memberitahu pada Alviro.
***
Jihan berdiri di tengah tengah ruangan besar apartemen yang sudah di tata rapi. Jihan menatap Alviro bingung.
"Kita ngapain ke sini? " tanya Jihan bingung. Alviro tersenyum lebar, kemudian mendekati istrinya. Ia menuntun Jihan duduk ke sofa.
"Kita akan tinggal di sini sayang" ucap Alviro.
"Huh? maksudnya pindah dari rumah aku? "
Alviro mengangguk, ia ingin belajar mandiri bersama Jihan. Membina keluarga dari nol, agar kehidupan mereka semakin dekat dan saling melengkapi.
"Kenapa sayang? kamu kok kaget banget? kan kalo sudah menikah emang harus hidup mandiri kan? " kata Alviro.
Bagaimana ini, dekat dekat sama dia aja udah buat jantung gue mau meledak. Apalagi tinggal berdua doang.
"Jihan? " panggil Alviro. Ia malah heran melihat istrinya melamun.
"Eh iya, apa tadi? " tanya Jihan tersadar dari lamunannya.
"Kamu lamunin apa? " tanya Alviro.
"Gak ada kok, eumh. Gue mau ke toilet dulu" Jihan beranjak dari duduknya.
Alviro mengangguk, iya cukup heran melihat tingkah Jihan semenjak mereka menikah. Entah hanya perasaannya saja, Jihan berubah menjadi lebih pendiam, meskipun masih jutek dan dingin.
Setelah dari kamar mandi, Jihan kembali ke ruang tamu. Tapi Jihan tidak melihat keberadaan Alviro di sana.
Jihan memutuskan untuk mencari Alviro ke dalam kamar, di apartemen itu ada dua kamar. Satu kamarnya sudah sangat rapi dan siap di huni. Dan satu lagi, Jihan tidak bisa membukanya. Kamar itu terkunci.
Tuk!!
Tuk!!
"Al, lo di dalem? " panggil Jihan mengira Alviro yang di dalam, makanya pintunya terkunci.
"Aku di dapur sayang" sahut Alviro mendengar panggilan Jihan dari dapur.
Jihan pun langsung melangkah menuju dapur, ia kaget melihat penampilan Alviro.
"Lo bisa masak? " tanya Jihan.
"AKU bisa sayang" tekan Alviro di kata Aku, seakan mengingatkan Jihan untuk tidak pake lo gue lagi.
"Hemm.. " Jihan duduk di salah satu kursi yang ada di dekat meja. Dari sana, Jihan memperhatikan cara Alviro masak. Gayanya meniris bawang, menggoreng ayam. Semua tak luput dari pandangan Jihan. Matanya terus mengikuti gerak gerik Alviro.
Andai gue nikah sama kak Yen, pasti dia juga bakalan masakin buat gue. batin Jihan tersenyum lebar. Lagi lagi ia membandingkan Alviro dengan cowo di masa lalunya. Tanpa Jihan sadari, Alviro dan kak Yen nya tidak memiliki perbedaan.
Setelah berkutat 30 menit bersama bahan bahan masakan di dapur, akhirnya Alviro menyelesaikan masakannya. Jihan mencium aroma enak menyeruak ke dalam hidungnya. Tidak bisa di pungkiri, masakan Alviro sangat menggiurkan.
"Enak banget" gumam Jihan mencicipi daging ayam yang sangat lembut.
"Makanlah sayang" ujar Alviro.
Tanpa menunggu waktu lama, Jihan langsung melahab semua makanan yang Alviro masak. Ia sampai lupa menawari Alviro untuk makan bersama nya.
"Apakah seenak itu? " tanya Alviro tersenyum senang, ia sejak tadi memperhatikan Jihan makan.
"Eh, udah habis. Gu-hm.. Aku lupa menawari mu" cicit Jihan menunduk malu. Ia tidak berani menatap Alviro yang kini tertawa renyah. Pasti Alviro akan mengejeknya rakus. Pikir Jihan.
"Aku masak untuk mu sayang, dan aku senang semua habis" jawab Alviro mengusap pipi Jihan.
Deg.
Mengapa Alviro mendadak menjadi hangat dan begitu perhatian?. Jihan menggigit bibir bawahnya menahan sebuah gejolak yang semakin besar di dalam sana.
"Kenapa lo berubah seperti ini? lo buat gue takut! "cicit Jihan.
" Kenapa? kenapa kamu takut? " tanya Alviro menautkan alisnya.
"Berhentilah bersikap manis, atau lo akan membuat gue berhenti memiliki jantung" jelas Jihan lagi.
Alviro terdiam, ia mencoba mencerna ucapan Jihan. Kemudian, seulas senyum terbit di bibirnya.
"Jangan takut Jihan, aku hanya untuk mu. Aku tidak akan pernah meninggalkan mu lagi! " kata Alviro berjanji. Jihan mengangkat wajahnya menatap Alviro. Mereka saling menatap, namun tidak bertahan lama. Jihan memutuskan tatapan matanya Dati Alviro.
"Humm... Gue harus memikirkan nya dulu" jawab Jihan.
"Tidak masalah sayang, aku akan selalu menunggu mu" balas Alviro, ia langsung merengkuh tubuh Jihan, dan membawanya ke dalam dekapannya.
"Ayo, kita harus segera pulang. Pakaian kita masih di rumah" ujar Alviro melepaskan dekapannya dari tubuh Jihan, kemudian mengambil piring piring kotor dan membawanya ke dapur.
Jihan semakin tidak enak, sikap Alviro terlalu berlebihan menurutnya.
"Jangan bersikap seperti ini lagi! " ujar Jihan, membuat langkah kaki Alviro terhenti.
"Kenapa? aku sudah katakan. Aku akan berusaha dan terus menunggu kamu menerima ku lagi" balas Alviro tidak sadar dengan apa yang ia ucapkan.
"Lagi? " ulang Jihan.
"umh... " Alviro tersadar dengan ucapan nya. Ia memutar pikiran nya untuk mencari alasan.
"Yah, setelah aku menembak kamu dulu. Kita sudah sempat dekat dan kembali bermusuhan setelah perjodohan" jelas Alviro.
"Umh.. " Jihan menghela nafas, entah apa yang ia harapkan dari jawaban Alviro.
"Gue hanya tidak bisa mengendalikan sikap gue. Makanya gue acuh sama lo" kata Jihan.
"Tidak masalah, aku akan tetap berusaha" balas Alviro mengedipkan sebelah matanya pada Jihan, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju ke dapur.
Hufff
"Sungguh berat" pikir Jihan menarik nafasnya. Setiap kali ia berada di dekat Alviro, ia selalu teringat dengan pria di masa lalunya, bahkan Jihan membanding bandingkannya.
Apa ini semua? apa kehidupan mulai mempermainkan gue lagi? apa gue gak pantas bahagia?. Tolong lah, gue juga butuh yang namanya kebahagiaan.
"Yuk! " ajak Alviro. Jihan pun mengikuti Alviro dari belakang.
Setelah keluar dari apartemen nya, Jihan dan Alviro di kagetkan oleh kehadiran Lea dan Arvan yang baru saja keluar dari lift.
...----------------...