I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 120



Alviro dan Zidan keluar dari dalam mobil, menatap rumah kosong yang terlihat sangat tua. Eldi, Ringgo, Liem, Albi, dan Babas ikut berdiri di belakang mereka.


"Gila, bu mirna memang hobi banget di pelosok sperti ini" celetuk babas.


Mereka mulai memasuki area, dari kejauhan anak buah Zidan sudah stanby. Sebelum tiba di lokasi ini, Mirna sudah mencium ke datang and mereka. Oleh karena itu Alviro bernegosiasi dengan mirna tentang permasalahan ini.


Beruntung, Mirna menerima permintaan Alviro. Mereka harus datang tanpa membawa pasukan. Dan Alviro menyanggupi larangan yang Mirna minta.


"Tetap waspada, dia merupakan ular yang sangat berbisa. Gue gak mau kalian kenapa kenapa" kata Alviro berbicara pelan. Mereka mengangguk mengerti.


Mereka sudah berada di dalam rumah itu, tidak ada siapapun di sana. Zidan cukup terkejut, seharusnya Mirna menunggu mereka di sana.


"Tidak ada siapapun" gumam Ringgo.


"Jangan gegabah," ujar Zidan.


Ceklek


Seorang pria berbaju serba hitam keluar dari salah satu ruangan. Pria itu berjalan kearah mereka. Setelah sedikit lebih dekat, pria itu memberikan isyarat agar Alviro dan yang lain mengikutinya.


"Ayo" kata Zidan.


Mereka pun di bawa oleh pria itu memasuki ruangan tempat pria itu muncul.


Ruangan ini terlalu baru untuk di katakan bangunan tua, karena kondisi rumah itu dari dalam masih sangat layak untuk di huni. Berbeda dengan penampilan nya dari luar.


"Boss, mereka sudah datang"


Alviro menatap lekat pada seseorang yang duduk di balik kursi yang membelakangi mereka.


Perlahan kursi itu pun berbalik dan terlihat lah Mirna dengan senyum liciknya.


"Lama tidak jumpa anak anak"


"Tidak usah banyak bicara kau! dimana Lidia? " teriak Zidan dengan suara tajam.


"Wahh, ternyata kita kedatangan tamu istimewa nih" Mirna beranjak dari kursinya, ia mendekat pada Zidan yang masih menatap tajam ke arahnya.


"Jangan terlalu khawatir ganteng, Lidia pasti aman bersama ku.


Aku kan kakaknya" bisik Mirna kemudian tertawa lepas. Alviro dan kelima teman temannya menggeram melihat sikap Mirna yang terlihat sangat menjijikan.


"Lepaskan Lidia! " ujar Ringgo. Perhatian Mirna teralih kan dari Zidan. Ia malah mendekat pada Ringgo, mantan muridnya dulu.


"Bu, seharusnya ibu taubat. Hari tua sudah menjemput ibu! " celetuk Babas.


"Diam kau bocah!. Kalian yang tidak tahu apa apa sebaiknya diam! jangan ikut campur! "


Mirna kembali ke kursi ke besaran nya, tapi ia tidak langsung duduk. Ia menatap ketujuh pria itu dengan tatapan penuh kelicikan.


"Seharusnya, bukan mereka lawan kau Mirna!!!!! "


"Brian! " kaget Mirna menatap ke arah pintu. Disana muncullah Burhan dan Brian dengan gagahnya memegang dua senja api masing-masing.


"Papa"


"Paman"


Mereka kaget melihat kehadiran dua pria itu. Namun, yang lebih mengejutkan lagi Arvan ternyata ada di sana. Ia terlihat sangat keren dengan stelan jas ala ala orang hebat seperti di film film detektif.


"Wahh... Kak Arvan keren yah! " puji Albi.


"Hooh, Alviro aja kalah" kekeh Babas. Alviro mendengar hal itu, ia sempat sempat nya melirik tajam pada kedua temannya.


"Sorry" cicit Babas dan Albi tercengir. Loe dan Eldi menggeleng melihatnya. Dalam keadaan seperti ini, masih sempat saja mereka bertingkah seperti ini.


"Kau seharusnya melawan kami, bukan anak anak kami! " kata Burhan.


"Kau salah! justru dengan aku menyiksa keturon kalian, maka kalian akan merasakan penderitaan yang selama ini aku rasakan! "


"Kau salah Mirna! justru kami yang menyelamatkan mu. Ayah dan ibu mu itu adalah pembunuh, perampas! " balas Burhan mulai terpancing emosi. Namun, Mirna jauh lebih marah ketika mendengar Burhan menghina keluarga nya.


"Biadab! kalian lah yang sudah menghancurkan keluarga ku!


"Tidak, Mirna. Harusnya kau sadar, ayah dan ibu mu bunuh diri karena ketakutan akan di tangkap. Semua sudah menjadi musuhnya. Mereka yang sudah ia rampas hartanya bersatu dan akan menghabisi ayah dan ibu mu. "jelas Brian.


Alviro dan teman teman nya hanya diam menyaksikan perdebatan sengit antar dua pria dan satu wanita.


" Cih. Kalian sungguh pandai berkelit. "decak Mirna, kemudian beralih menatap pada Alviro.


" Kau sudah melanggar perjanjian! " kata Mirna.


Alviro menggeleng cepat, ia tidak emg hubungi siapapun, ia sudah menepati janjinya.


"Mirna!!! Mirna!! " Zidan mengejar Mirna yang dengan cepat keluar dari ruangan itu. Zidan sedikit sulit menggapai wanita itu karena anak buahnya menghalangi.


Mereka semua langsung mengejar kemana Mirna pergi, hingga di sebuah lantai. Mirna hilang tak berjejak.


"Hati-hati" seru Brian. Mereka tentu harus tetap waspada was, karena Mirna orang nya sangat licik.


"Baik ayah, Pa" sahut Alviro.


Mereka menyebar, mencari kemana perginya wanita licik itu. Mereka sangat yakin jika Mirna masih ada di sekitaran gedung itu. Karena gedung ini sudah di kepung oleh orang orangnya Arvan.


Sementara dong sebuah ruangan Mirna menyusun siasat. Ia masuk ke ruangan rahasia tempat Lidia di sekap.


"Boss.. " Anonim menghampiri Mirna yang baru saja masuk.


Plak!!!


"Boss.. " Anonim tidak percaya dengan apa yang baru saja ia terima dari Mirna. Ia melirik Lidia yang menatap ke arah nya dengan tatapan mengejek.


"Kenapa boss menampar ku? " tanya Anonim takut takut.


"Dasar wanita tidak becus, kenapa kau malah lengah!! kau tidak memperhatikan sebagian anak buah ku sudah di lumpuhkan oleh Alviro dan teman teman nya!! " bentak Mirna menarik rambut Anonim kuat.


"Tidak boss, semuanya sudah dalam kendali"


Plak!!!


Mirna kembali menampar Anonim, ia paling tidak suka di bantah.


"Jadi, menurut mu aku yang ceroboh!


Plak!!!


Kau wanita yang tidak berguna!"


Anonim melirik Lidah, ia semakin merasa marah karena Mirna memperlakukan nya sangat hina di depan musuhnya. Lidia semakin tersenyum lebar.


Mirna beralih pada Lidia, ia menarik rambut gadis itu hingga tubuhnya berdiri.


"Kau!!? " Mirna semakin mejambak rambut Lidia semakin kuat.


Lidia tidak bereaksi apa apa, ia hanya memejamkan matanya menahan sakit di kepalanya.


"Kau sudah kalah Mirna, kau sudah tidak bisa berbuat apa apa lagi! " senyum penuh kemenangan terukir di bibir Lidia. Meskipun ia tidak jamin keselamatan nya setelah memancing emosi Mirna.


Plak!!!


Tubuh Lidia langsung tersungkur di lantai, ia sungguh tidak berdaya. Sejak ia di tangkap Mirna, ia tidak di beri makanan atau minuman apapun.


"Kau menghancurkan semua yang aku rencana kan selama ini!! kau membuat ku sangat marah.


Padahal tinggal sedikit lagi, aku akan menghancurkan semuanya! "


Plak!!?


Bugh.


"Ahk.. " Lidia menahan rasa sakit di tubuhnya setiap kali Mirna memberikan pukulan kuat. Melawan pun percuma, Lidia hanya bisa pasrah menerima nya.


Mirna terus memberikan siksaan kepada Lidia, hingga anak buah Mirna yang berjaga jaga di luar masuk dan melaporkan sesuatu yang membuat Mirna semakin marah!.