
Leni berjalan di lorong kantor suaminya, terlihat semua pegawai menunduk memberikan hormat ke padanya.
"Selamat siang nyonya"
"Selamat siang nyonya"
Leni tersenyum ramah, ia ikut menunduk pelan membalas sapaan dari semua pegawai yang berpapasan dengan dirinya.
"Halo bu Leni, apa kah gerangan sampai kemari" sapa Linda, resepsionis lantai 21,di mana Brian menjalankan tugas sebagai, pemimpin.
"Rindu membuat saya jauh jauh datang ke sini" balas Leni dengan mata dan bibir tersenyum centil. Ia sudah biasa bercanda dengan Linda. Selain sebagai pegawai, Linda juga adalah adik kelas Leni dulu semasa SMA. Jadi mereka sangat muda mendekatkan diri. Linda orang nya profesional, ia selalu bekerja dengan baik, meskipun pemilik perusahaan kenal dengan dirinya. Hal itulah yang Leni suka dari Linda.
"Apakah sang Arjuna ada di dalam? "
"Oh tentu ibu Ratu, Arjuna selalu ada untuk ibu Ratu"
Mereka tertawa bersama, setelah melakukan akting yang apabila orang lain melihat nya, mereka akan merasa geli. Umur sudah semakin tua, tingkah mereka masih seperti anak anak muda.
"Ya sudah, aku masuk dulu yah"
"Baik kak" balas Linda sembari memberikan hormat.
Leni membuka pintu, ia masuk dan kembali menutup pintu. Di lihatnya Brian tengah asik memeriksa laporan laporan yang hampir sama tinggi dengan wajah nya. Leni tersenyum, kemudian melangkah mendekati suaminya.
"Eh Mama, kok gak bilang bilang sama papa" kaget Brian. Ia langsung meletakkan pena nya, kemudian bangkit dari duduknya. Brian menghampiri istrinya, dan langsung, memeluknya.
"Mama kesini karena kangen papa" ujar Leni manja. Kening Brian mengerut, ia bisa menebaknya. Pasti ada seseorang yang ingin istri nya bicarakan. Makanya istrinya memilih untuk, mengunjunginya ke kantor.
"Aduh aduh.... Mama gombalin papa yah. " goda Brian. Ia menuntun istrinya duduk ke sofa.
"Sekarang katakan, apa yang ingin mama sampaikan sama papa"
"Heheh" Leni tercengir, ia sudah ketahuan sekarang.
"Ini soal Alviro pa, mama sudah tahu penyebabnya. "
"Penyebab apa ma? "tanya Brian bingung.
" Ya penyebab mengapa anak kita berubah seperti sekarang ini. "
Brian terdiam, sejujurnya ia juga sangat bingung, mengapa Alviro bisa menjadi anak berandalan seperti saat ini. Brian juga sudah memikirkan berbagai kemungkinan yang membuat anaknya berubah, bahkan ia juga sudah bertanya kepada ahli psikolog. Mana tahu anaknya terkena tekanan yang tidak ia ketahui.
"Apa penyebab nya ma? "
"Icha! " ujar Leni singkat.
"Icha? maksud Mama" Brian malah semakin bingung. Istrinya menjelaskan setengah setengah, sehingga otak Brian yang sudah kalut karena dokumen dokumen itu, jadi sulit mencerna yang berbelit belit.
"Adu papa, Icha lo. Teman masa kecil Alviro Gadis yang selalu Alviro ceritakan. Papa ingat gak? sejak 7 tahun yang lalu. Alviro tidak lagi menyebut nama anak itu. Dan sejak saat itu pula Alviro berubah. "
"Mama yakin? " tanya Brian memastikan, tapi memang benar sih apa yang di katakan istrinya. Putra mereka berubah sejak 7 tahun yang lalu. Ketika hujan deras, putranya pulang ke rumah dalam keadaan basah kuyup.
"Yakin banget pa, kemarin mama mendengar Alviro ngingau. Anak kita menyebut nama anak itu pa"
"Hemm... Masalahnya, kita gak tahu siapa anak itu ma" jelas Brian Bingung.
"Nah, itu dia. Mama mau memeriksa kamar Alviro anak kita. Walaupun dia jarang banget pulang, tapi mama yakin. Alviro pasti menyimpan sesuatu tentang gadis itu"
Brian mengangguk setuju, kali ini ia benar-benar menyetujui apa yang istri katakan.
"Baiklah sayang, lakukan apa pun yang ingin kamu lakukan. Demi putra, kita" gumam Brian tersenyum hangat, ia merengkuh tubuh istrinya dan memeluknya erat.
"Semoga putra kita kembali seperti dulu yah sayang"
...----------------...
Tuk!!! Tuk!!
"Masuk!!!!! " teriak Lea dari dalam kamarnya.
Ceklek.
Jihan melangkah masuk ke kamar kakanya, di rumah hanya ada mereka berdua. Ternyata Ayah sama bundanya pergi ke Surabaya, menjenguk salah satu saudara ayah nya ada yang wafat.
"Kak" panggil Jihan lirih.
Jihan yang sedang maskeran menoleh, ia menatap wajah bingung adiknya. Setelah selesai mengoleskan semua masker ke wajahnya, Lea mendekati adiknya yang duduk di tepi ranjangnya.
"Ada apa? "
"Kak... Gue mau nanya"
"Tanya aja langsung, gak usah pake mukadimah" balas Lea, ia kembali menatap kaca yang ada di tangannya karena merasa maskernya ada yang ingin meleleh.
"Soal Alviro! "
Cek.
Tangan Lea yang merapikan Maskernya terhenti, ia menoleh pada adiknya. Tumben banget Jihan menanyakan soal musuhnya sendiri.
"Kenapa? tumben lo menanyakan soal musuh lo sendiri"
"Yah bukan gitu kak. Gue hanya penasaran. Di antara sekian guru, kenapa Alviro sangat tidak menghargai bu Mirna. Padahal bu Mirna lembut, penuh kasih sayang".
" Jadi lo penasaran? " decak Lea tersenyum miring.
Jihan mengerucutkan bibirnya, ia sudah bisa menebak apa yang sedang di pikiran Lea. Ia pasti mengira dirinya tertarik pada Alviro.
"Lo mulai tertarik? "
"Ih apaan sih kak, gue cuma nanya doang. Buruan jawab!! " desak Jihan kesal.
"Oke oke fine. Sejujurnya gue juga gak tahu apa permasalahan nya. Tapi secara garis besar, bu Mirna telah melakukan sesuatu yang membuat seorang Alviro kecewa, marah dan juga tidak mau menghargai bu Mirna sebagai seorang guru. " jelas Lea panjang kali lebar.
"Yah tapi kenapa coba? " gumam Jihan bingung.
"Yah gue gak tahu. Isu isu yang gue denger bu Mirna udah bikin seseorang dari hidupAlviro pergi. Siapa itu gue gak tahu" lanjut Lea.
Jihan mengangguk paham, ia sedikit merasa bersalah. Walaupun apa yang ia lakukan tidak salah, Alviro memang tidak boleh mencampur adukkan masalah pribadi dengan sekolah.
"Kenapa muka lo gitu? " tanya Lea menatap Jihan penuh selidik. Jihan pun, cepat cepat merubah ekspresi nya menjadi datar kembali.
"Lahhh, malah tampang kaya jin yang di liatin" cibir Lea. Ia memilih merebahkan tubuhnya terlentang di atas ranjang. Sembari menunggu maskernya kering, Lea memutuskan untuk tidur.
"Lah, malah ngebo. " gerutu Jihan menatap kesal kakaknya. Kemudian Jihan memutuskan untuk keluar dari kamar Lea.
Jihan kembali ke kamarnya, jam baru menunjukkan pukul 6 sore. Jika tidur, alamat ia akan terbangun tengah malam dan tidak akan bisa bangun pagi. Mau keluar? temannya tidak ada. Ria sama Fela sedang ada acara keluarga.
"Huh, sepi banget hidup gue" gerutu Jihan melangkah, menuju balkon kamarnya.
Dari atas balkon, Jihan menatap jauh ke taman kanak-kanak yang hanya terlihat menara tempat orang orang duduk santai. Dulu Jihan sangat sering mengunjungi taman itu. Selain tempatnya yang dekat dengan rumah nya, taman itu sangat lengkap dan sangat bersih. Sehingga banyak yang ikut bermain di sana. Banyak juga orang berpacaran datang ke taman itu.
"Gimana yah sekarang bentuknya? " gumam Jihan, ia mulai penasaran dengan taman itu. Sejak pulang dari Amerika, Jihan belum sempat datang ke sana. Ia masih belum berani melihat tempat itu dari dekat.
...----------------...