
Waktu pun berlalu sangat cepat, kini tiba saatnya bagi anak kelas 1 dan 2 menjalani ujian semester genap. Terlihat siswa siswi duduk di kursi masing-masing dengan suasana yang menegangkan.
Bagaimana tidak, setiap sudut kelas diisi oleh pengawas. Mereka benar-benar tidak di beri kesempatan untuk berbuat curang.
Jihan duduk dengan santai di mejanya, sedangkan Alviro berusaha untuk mengingat ingat apa yang sudah di jelaskan Jihan tadi malam. Mereka sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian ini.
Sementara Ria melirik Fela yang masih terlihat murung. Sejak hari percekcokan dengan Lidia, Fela tidak seperti yang mereka kenal. Gadis itu berubah menjadi lebih pendiam, murung, suka menyendiri. Jihan dan Ria pun sudah mencoba untuk mendekati Fela, namun Fela menolak dan meminta agar Ria dan Jihan memberikannya ruang untuk menyendiri dan mengatasi semua masalahnya.
Lidia merasa semakin tertekan, ia sudah duduk sendiri di mejanya. Anak anak wolf sudah pindah ke meja lain. Ringgo, Liem dan Eldi pindah ke meja sebelah kanan Babas dan Albi.
Sejujur nya, Lidia sangat ingin memiliki kehidupan seperti Jihan dan teman temannya. Bebas melakukan apapun, terbebas dari beban yang harus ia pikul. Kakaknya selalu saja memberinya beban dan harus ia lakukan agar dendam keluarganya terbalaskan seperti yang kakanya jelaskan.
Lidia harus mengorbankan masa kecil hingga masa remajanya dengan memikirkan bagaimana cara bertahan hidup dan menghancurkan dua keluarga yang sebenarnya sangat Lidia kagumi.
Sekarang di sekolah nya, tidak ada yang mau berteman dengan Lidia. Gadis itu juga sering mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari teman temannya. Entah mengapa, Lidia merasa semua ini berubah total dari rencana yang sudah ia siapkan. Lidia merasa kehidupan nya sangat buruk dan kesepian. Bukannya kuat, Lidia malah berubah menjadi rapuh dan menyedihkan.
...----------------...
Setelah pulang dari sekolah, Jihan meminta ijin pada Alviro untuk pergi ke rumah Fela. Mereka tidak tahan lagi melihat Fela menjalani masa masa sulit sendirian. Bukan bermaksud untuk ikut campur dalam urusan keluarga Fela, tapi Ria dan Jihan hanya ingin menghibur dan membantu sahabat mereka.
Jihan dan Ria langsung menuju ke rumah Fela. Mereka membawa beberapa cemilan dan makanan kesukaan Fela. Jihan merasa tubuh Fela sedikit lebih kurus dari yang biasanya.
Ting~
Tong~
Beberapa kali Jihan dan Ria menekan bel, namun tidak ada tanda tanda pintu di buka.
"Fela gak di rumah? " gumam Jihan.
"Tapi, mobilnya ada " jawab Ria menunjuk mobil Fela terparkir indah di garasi.
Ting~
Ting~
Kembali Jihan dan Ria menekan Bel secara bergantian.
Ceklek~
Sosok wanita paru baya seumuran dengan Tia muncul di balik pintu besar rumah Fela.
"Halo tante" sapa Jihan dan Ria secara bergantian mencium punggung tangan wanita yang mereka duga adalah mama Fela. wajah wanita itu juga sangat mirip dengan Fela, hal itu menambah keyakinan mereka bahwa wanita itu memang mama Fela.
"Kalian siapa yah? " tanya Mama Fela bingung.
"Kami berdua temannya Fela tante, dan kami datang kesini buat ketemu sama Fela" jawab Jihan sopan. Mama Fela mengangguk mengerti, ia mempersilahkan Jihan dan Ria masuk ke dalam rumah, lalu membawa mereka ke ruang tamu.
"Kalian tunggu di sini yah, tante panggilin Fela dulu. Atau, mau langsung ke kamarnya? " tawar mama Fela. Ria dan Jihan langsung mengangguk cepat.
"Kami ke kamarnya saja langsung tan" jawab Ria.
"Baiklah" ujar mama Fela tersenyum lembut. Ada terbesit rasa sedih di hati Jihan melihat kelembutan mama Fela. Hatinya juga merasa sangat marah pada Lidia, meskipun Lidia bukan satu satunya wanita yang di kencani oleh papa Fela.
"Oh iya tante, ini. Kami cuma bawa ini tante" lirih Jihan tak enak hati, mereka hanya bisa membawa makanan yang mungkin bisa menambah nafsu mkn Fela.
"Aduh jadi merepotkan" Gumam mama Fela tak enak hati pada Tia dan Jihan.
"Gak kok tante, kita seneng bisa membawakan ini untuk Fela. " Jawab Jihan.
"Yaudah deh tante, kita ke kamar Fela dulu yah" pamit Ria membawa Jihan menaiki anak tangga menuju ke kamar Fela. Ria memang sudah terbiasa di rumah Fela, namun Ria tidak pernah bertemu dengan mama Fela ataupun Papa Fela.
Jihan dan Ria berdiri di depan kamar Fela, mereka bingung antara mau mengetuk atau malah langsung membuka pintu kamar Fela.
Ceklek.
Ria dan Jihan di kejutkan oleh suara pintu kamar Fela yang tiba-tiba terbuka. Fela pun muncul di hafalan mereka, ia kaget melihat kedua sahabat nya sudah ada di depan pintu kamarnya.
"Kalian? " kaget Fela.
"Hai Fela, kita datang kesini mau nemuin lo" jelas Ria tersenyum manis.
"Fela" lirih Jihan, ia langsung memeluk tubuh Fela, di ikuti oleh Ria.
"Aduhhh Kalian kenapa sih" lirih Fela, suaranya terdengar berat. Dalam hitungan detik, mereka sudah menangis berasama.
"Jangan nangis Fela, ini bukan Fela yang kita kenal. Lo harus tersenyum, lo harus kuat! " ujar Jihan menghapus air mata yang terus mengalir di pipi Fela.
Mereka pindah ke kamar Fela, mama Fela juga sudah mengantar cemilan yang Jihan dan Ria bawa untuk Fela.
...----------------...
"Halo bro, lama tidak datang ke cafe gue. Semenjak punya istri lo jadi sombong gini" cibir Rendi menyambut kedatangan Alviro.
"Tentu saja, lo bakal tahu gimana rasanya jadi gue setelah lo menikah" balas Alviro menyerang balik. Rendi langsung merengut kesal.
"Gimana mau nikah, gue di tikung abang lo" sungut Rendi.
"Salah lo lah, kenapa lo lembek dan kalah cepat! " balas Alviro.
"Huh, percuma gue cerita sama lo. Pasti lo belain abang lo" gerutu Rendi. Mereka duduk di meja biasa, Alviro memperhatikan pintu masuk.
"Lo nungguin siapa? Jihan? kok datangnya terpisah? " tanya Rendi bingung.
"Gue gak nunggu Jihan, kalo gue nunggu Jihan, gue gak bakal ajak Jihan ke sini, mendingan kita di kamar aja" jawab Alviro sekenanya.
"Gak sopan lo, masa ngomong begituan sama gue yang belum menikah" gerutu Rendi.
"Salah lo lah, kenapa udah tua belum menikah" cibir Alviro.
"Ah, capek ngomong sama lo! " balas Rendi, ia hendak beranjak dari meja Alviro. Namun seseorang memasuki cafenya, membuat mata Rendi membulat besar.
"Zidan?? " Gumam Rendi kesenangan, ia langsung berlari dan berhambur ke tubuh Zidan.
"Eh Eh... " Kaget Zidan terhuyung ke belakang karena dirinya tidak sempat mengimbangi gerakan mendadak Dati Rendi.
Alviro menggeleng melihat kelajuan Rendi, sudah tua, tapi masih saja bertingkah seperti anak anak abg lainnya.
"Dasar bocah" cibir Alviro.
"Biarin, yang penting gue seneng banget bisa ketemu sama sahabat lama gue" balas Rendi. Ia menuntun Zidan duduk di meja yang sama dengan Alviro.
"Duduk kak" ucap Alviro mempersilahkan Zidan duduk.
"Oh jadi, sejak tadi lo nungguin Zidan? " tanya Rendi, Alviro menjawab dengan anggukan kepala.
"Alviro, maksud gue ajak lo bertemu hanya berdua saja untuk membicarakan persoalan Lidia dan kakaknya" ucap Zidan.
"Kak Zidan juga tahu tentang mereka? " tanya Alviro kaget. Zidan pun mengangguk pelan, ia tahu semuanya, sifat Zidan tak jauh beda dengan Kea. Namun Zidan bisa mengendalikannya, ia lebih terlihat tidak mengekang Jihan di Amerika, namun ia mengirim berbagai anak buah untuk mengawasi kemana Jihan pergi.
"Gue juga tahu persoalan lo dan Jihan di masa lalu" balas Zidan.
"Lo gak tahu? Zidan ini memiliki sifat tak jauh beda dengan Lea" ujar Rendi. Alviro sedikit kaget mendengar nya, pantes saja Zidan terlihat sangat menyayangi Jihan.
"Maafin gue yang tidak tahu sebelumnya" sejak Alviro mengingat sifat posesif nya pada Jihan, bahkan Alviro sempat merajuk dan meminta Jihan untuk menjauhi Zidan.
"Tidak masalah, gue memng ingin melihat semua itu dari ki" jawab Zidan santai.
"Ok, langsung ke inti nya. Gue tidak memiliki banyak waktu. Pekerjaan gue sangat banyak" ujar Zidan. Selain mengurus semua tentang Jihan, Zidan juga harus mengurus perusahaan ayahnya di Indonesia. Perusahaan ayahnya terancam bangkrut karena pengelola yang di percaya Zidan dan ibunya tergoda oleh mirna, sehingga mirna sangat mudah mengacaukan nya.
"Gue sudah menyelidiki semua tentang Lidia dan Mirna, semua bukti ada di tangan gue. Tapi gue tidak mau membuat mereka masuk penjara." jelas Zidan membuat Alviro kaget. Bukannya mereka ingin menangkap orang orang yang sudah mengacaukan hidup mereka.
"Gue tahu lo bingung, tapi itulah yang gue inginkan. Gue hanya ingin mereka sadar dan mengakui semua kesalahn mereka! " sambung Zidan.
"Begitulah Zidan" kekeh Rendi yang sejak tadi hanya menjadi pendengar saja.
"Mereka hanya salah paham dari kelakuan kedua orang tua nya. Mereka tidak tahu jika kedua orang tua mereka hancur karena ulah mereka sendiri, namun ketika kehancuran itu tiba, tanpa di sengaja Keluarga Nugrah dan Rafier berdiri sembari berjabat tangan di depan mereka. Karena itulah mereka memburu dan ingin menghancurkan kita. " jelas Zidan panjang lebar.
"Sangat rumit, gue benar-benar tidak bisa memahaminya" lirih Alviro.
"Dasar bodoh" cibir Rendi
"Sudah diam lo, bujang lapuk! " ketus Alviro melirik kesal pada Rendi. Pria itu hanya bisa nyengir dan menggaruk kepala nya yang tidak gatal. Rendi sangat senang membuat Alviro kesal, apalagi ada Jihan.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan? " tanya Alviro mengabaikan Rendi.
"Sekarang selesai kan saja ujian kalian, akan ada rencana baru yang gue susun" jawab Zidan, Alviro semakin penasaran di buatnya.
"Apa salahnya, langsung jelaskan saja" batin Alviro.
"Jangan menggerutu di dalam hati" cibir Zidan, ia dengan santai meminum jus jeruk yang sudah di sediakan oleh pelayan Rendi.
Alviro mengatup rapat bibirnya, ia merasa horror dengan abang sepupu Jihan. Alviro merasa dia adalah pria yang aneh dan menakutkan.
"Gue hanya menebaknya" ucapan Zidan lagi, seakan akan tahu apa yang sedang Alviro pikirkan. Sementara Rendi hanya bisa menahan tawa melihat ekspresi terkejut Alviro, dan juga ekspresi bingung nya.
...----------------...