
Terimakasih kepada setiap pembaca setia ku, kalian udah setia membaca dan memberi aku dukungan. i love you all.
Oh iya, jangan lupa ngintip ke karya author yang baru netas yah. Judulnya Terpaksa Menikah.
Kepoin aja dulu siapa tahu tertarik.
Oke Next. 😘
...----------------...
...Happy Reading...
...----------------...
Jihan terpaksa mengikuti Mama mertua dan Bundanya masuk ke dalam rumah. Tepatnya di ruang tamu yang di sana sudah ada seorang dokter wanita yang cantik dan masih muda. Kira-kira 4 atau 5 tahu di atas kak Zidan. Di sana juga ada semua anggota keluarga kecuali Papa mertua dan juga Ayahnya. Entah kemana perginya Jihan tidak tahu.
"Nah itu orang nya dok" kata Lea menyambut, kedatangan adiknya bersama mama dan bundanya.
Dokter cantik itupun menoleh, seulas senyum terukir di bibirnya.
"Wahh cantik yah calon mama muda" kata sang dokter bercanda, karena ia melihat Jihan cemberut.
"Coba periksa istri saya dok, siapa tahu berisi" desak Alviro dengan nada kesal. Bagaimana tidak kesal, Jihan membangunkannya dengan air yang di bawa dari kamar, mandi, kemudian menyuruhnya mengangkat kasur ke tengah halaman rumah. Sungguh istri yang sangat durhaka.
"Apaan sih, gue gak sakit kok malah di periksa! " sungut Jihan, ia menatap tajam ke arah Alviro.
"Lo tuh sakit bege! " balas Alviro.
"Gue gak sakit!!! lo kali yang sakit" Jihan tak mau kalah, mereka sudah berdiri saling berhadapan di depan semua orang.
Lea menepuk keningnya, adegan ini terjadi lagi. Ia menjadi semakin pusing setelah Alviro malah ikut ikutan bertingkah seperti anak kecil.
"Maaf yah dok, mereka memang selalu seperti vini" ucap Tia tak enak hati pada sang dokter.
"Tidak masalah bu, ini biasa kok terjadi sama anak anak dibawa umur yang menikah" Dokter tersenyum makluk, ia juga merasa minder sendiri. Sudah berumur pantas untuk menikah, eh malah belum menikah.
"Pokoknya gue gak mau di periksa!!! "
"Lo harus di periksa!, biar otak lo yang konslet itu bisa di benerin" ucap Alviro sembari bergerak ke belakang Jihan, lalu memeluk istri nya dari belakang agar tidak bisa bergerak.
"Eh eh, lo ngapain curut!! "
"Lepasin gue!! " Jihan meronta ronta minta di lepasin.
"Gak gue gak akan lepasin lo, sampai pemeriksaan selesai"
"Ihhhh... Bunda, kak Lea!! "
"Bantuin!!! " teriak Jihan sembari menendang nendang kan kakinya ke belakang. Ia menatap seluruh keluarga nya satu persatu, tidak ada satu pun yang bergerak untuk membantu dirinya.
"Lo pikir mereka akan membantu? " Alviro tersenyum menyeringai di belakang tubuh Jihan.
"Kak Zidan!!! awas lo, kalo lo gak mau bantuin gue!!! "
Dokter cantik itu menggeleng melihat sikpat anak muda zaman sekarang. Ia pun bangkit dari duduknya mendekati Jihan dan Alviro.
"Sudah dek, lepasin saja. Dia gadis cantik mana mungkin berontak ketika di periksa sebentar"
Dokter memberi kode pada Alviro agar pria itu yakin untuk melepaskan istri nya.
Alviro pun melepaskan pelukannya pada Jihan
Bug!
Bug!
Jihan membalas dendam! ia memukul mukul Alviro berkali kali. Ketika hendak membalas, sang dokter berdiri di hadapan Jihan.
"Sudah yah, kami mau melakukan pemeriksaan, jadi gak usah ganggu"
"Yuk! "
Dokter cantik pun menggandeng tangan Jihan yang menurut begitu saja pada sang Dokter.
"Wekkk kk" Jihan meleletkan lidahnya pada Alviro ketika melewati nya.
"Awas lo!! " ujar Alviro.
Dengan ekspresi kesal Jihan pergi bersama dokter cantik ke kamar tamu. Secara suka rela Jihan mau menuruti apa yang dokter itu katakan. Entah lah, tiba-tiba saja Jihan mendadak menjadi anak kecil seperti ini.
"Sekarang gunakan benda ini di kamar mandi" kata sang dokter memberikan benda panjang yang berbentuk seperti stik eskrim.
Wajah sang dokter terlihat sangat ceriah, pada tersenyum singkat pada Jihan. Dokter pun memeriksa tubuh Jihan.
"Aku gak sakit kan dok? " tanya Jihan setelah di periksa oleh dokter cantik itu.
"Kamu gak sakit kok, kamu sangat sehat" dokter tersenyum hangat melirik perut Jihan.
"Tuh kan bener, si bego itu gak percaya banget" gerutu Jihan mengingat suaminya yang bersikeras ingin memeriksa dirinya ke dokter.
"Ya sudah, yuk keluar" ajak dokter. Jihan pun mengangguk, ia keluar bersama sang dokter dengan gaya sengak.
Di luar kamar, terlihat seluruh anggota keluarga menunggu dengan tidak sabaran. Di sana juga sudah bergabung Brian dan Burhan. Namun Zidan yang tidak ada.
Ceklek.
Semua mata lamgsung tertutup pada pintu yang terbuka. Alviro langsung berdiri dan menghampiri sang dokter yang menggandeng Jihan berjalan ke arah mereka.
"Bagaimana dok? apa hasilnya? "
"Ihhh hasil apaan sih, lo pikir kita abis ngapain. Pake nanya hasil segala! " protes Jihan dengan tatapan sinis pada Alviro. Ia membawa dokter duduk ke sofa, semua mata masih tertuju ke pada mereka berdua.
"Umm... Hasilnya positif, sudah berumur 3 minggu"
Jihan menoleh pada dokter, ia tidak mengerti apa yang di bicarakan oleh dokter itu.
"Ya ampunnnn.... Selamat yah Tia.. "
"Selamat juga buat kamu!!! "
Tia dan Leni bersorak kegirangan. Sementara Brian dan Burhan hanya saling melempar senyum.
"Selamat yah dek" Lea memeluk Jihan yang masih terlihat bingung.
Alviro belum bereaksi, ia masih syok dengan berita yang dokter katakan.
"Bentar bentar, maksud nya apa sih? " tanya Jihan menatap mereka bingung.
Merasa ini bukan tempat bagi dirinya dokter pun mohon ijin pamit.
"Kalau begitu saya permisi" menatap Jihan dengan senyum hangat.
"Kamu harus jaga diri dan juga dia yah"
"Huh? " Jihan melongo. Ia semakin bingung dengan situasi ini.
Dokter pun berlalu pergi, Lea mengantar dokter sampai ke depan. Setelah itu ia kembali bergabung bersama keluarga nya.
Alviro menoleh pada istri nya, ia tidak tahu mau berkata apa apa lagi.
"Ji, kita sebentar lagi bakal jadi orang tua" kata Alviro dengan ekspresi yang bahagia.
"Huh? "
"Lo bilang apa? gak.. Gak mungkin" Jihan menggeleng pelan. Ia mendekat pada bunda nya.
"Bun, jelasin sama Jihan. Sebenarnya ada apa bun? "
Tia dan Leni saling menatap, mereka tidak tahu bagaimana cara menjelaskan pada Jihan. Dia adalah gadis belia yang mungkin belum siap dengan status ini. Bahkan ia tidak tahu kehadiran buah hatinya dengan Alviro di dalam tubuhnya.
"Nak... Sini deh, bunda jelasin" Tia membawa Jihan duduk di sofa.
"Sayang, dengerin bunda. Mungkin kamu belum terbiasa, atau bahkan kamu belum siap. Tapi semua nya harus kamu terima sayang"
"Bun, langsung aja, Jihan gak paham"
Tia menarik nafas, melirik ke suaminya lalu kembali menatap Jihan dengan senyum lembut khas seorang ibu.
"Nak, kamu hamil. Di sini ada nyawa yang baru berumur 3 minggu" tangan nya mengusap perut yang masih rata milik Jihan.
"Apa? jadi Jihan hamil? " kaget Jihan langsung berdiri dari duduknya.
"Jihan... " lirih Alviro, ia kaget melihat ekspresi Jihan yang terlihat sangat panik.
"Stop! jangan bicara!! " teriak Jihan menunjuk ke arah Alviro, membuat pria itu langsung berhenti di tempat.
Lea menutup mulutnya, Arvan mengusap bahu istri nya. Agar tetap tenang dan membiarkan Alviro dan Jihan menyelesaikan masalah mereka.
-