
Alviro bersiap untuk keluar malam ini, namun tiba tiba Arvan masuk ke kamarnya dan mengunci pintu kamarnya.
"Ngapain lo di sini? " ketus Alviro menatap Arvan sinis.
"Santai aja adik ku tersayang, tadi papa tidak sengaja mendengar lo sedang nelfon dengan teman lo" ujar Arvan santai.
"Truss hubungan lo di sini apa? "
"Yahhh, seperti biasa. Jadi pengawal lo"
"Gue gak butuh pengawal. Apalg seperti lo! " ketus Alviro mendorong tubuh Arvan yang berdiri di hadapannya. Arvan menghalangi Alviro agar tidak keluar dari kamar nya.
"Lo, dilarang keluar malam ini! "
"Aduhhh udah deh, jangan kaya anak kecil aja" bentak Alviro kesal.
"Emang nya lo mau kemana? "
"Bukan urusan lo! " balas Alviro cepat.
"Yaudah, sampai kapan pun lo gak bakal bisa keluar dari kamar ini" sahut Arvan santai.
Alviro menarik nafas dalam, ia memejamkan matanya memikirkan bagaimana cara melarikan diri dari Arvan. Si abang sepupu yang paling menyebalkan di dunia. Jika Alviro adalah cowo dingin dan jutek. Maka Arvan adalah orang lebih dingin dari pada Alviro. Hanya dengan tatapannya saja, bisa membuat jantung mereka yang melihatnya berhenti berdetak. Apalagi ketika di dekati oleh seorang Arvan.
Namun, Arvan sangat berbeda dari Alviro. Arvan memiliki sifat yang sangat berbeda dari Alviro. Jika bersama keluarganya sendiri, Arvan akan bersikap sangay hangat. Namun, ia akan bersikap dingin jika berada di hadapan orang lain selain keluarga dan orang orang tertentu.
Setelah Ayah dan ibu Arvan meninggal akibat kecelakaan mobil, Leni dan Brian memutuskan untuk mengasuh dan membesarkan keponakan mereka. Telebih lagi, Leni hanya dua bersaudara. Jadi jika kakaknya tidak ada, hanya dirinya yang Arvan miliki.
Alviro melirik jam tangannya, sebentar lagi pertandingan akan di mulai. Ia tidak mau jika musuhnya menganggap dirinya takut, hingga tidak berani datang setelah menerima tantangan itu.
...----------------...
Sementara di cafe cuanlo, Lea dan Jihan masih terpana dengan penampilan idola masing-masing. Mereka masih belum bisa mempercayai semua ini. Jihan berhasil berjabat tangan langsung dengan Do Kyungsoo, bahkan ia mengabadikan beberapa momen bersama.
"Ya ampun kak!!!!! gue gak nyangka banget!!! " teriak Jihan histeris. Ia terus memeluk switer yang ia gunakan ketika Do Kyungsoo memeluknya.
"Apa gue bilang, lo gak bakal nyesel" sahut Lea, ia juga melakukan hal yang sama. Lea adalah penggemar IU.
"Wahhhh pasti grup kpop gue heboh banget hari ini" kekeh Jihan senang. Ia merasa betapa beruntung nya dirinya hari ini. Bisa memeluk idola yang sudah lama ia impikan.
"Jangan lupa kirim ke gue hasil jepretan lo tadi" peringat Lea.
"Siap!!! "
Lea dan Jihan berjalan menuju ke parkiran. Acara konser telah usai, terlihat penonton yang tadinya sangat padat sudah mulai berangsur pergi.
Lea dan Jihan fokus pada ponsel masing-masing, mereka tidak memperhatikan jalan nya, karena mereka merasa mobilnya sudah dekat dan tidak mungkin ada seseorang yang lewat di hadapan nya.
Bruk~
"Awh... "
Lagi lagi Jihan merasakan nyeri di bokongnya, entah sebuah kutukan atau memang kesialan. Seperti nya bokong Jihan tidak boleh sembuh.
"Lo gak papa dek? " tanya Lea membantu adik nya untuk bangkit.
"Lo!! kalo.... " suara Lea melemah, ketika melihat siapa yang tengah berdiri di samping orang cyank telah menubruk adik nya hingga terjatuh.
"Lo!!! " tunjuk Jihan kaget. Alviro dan Arvan berdiri menatap keduanya dengan tatapan sama sama dingin.
"Duo es Batu" pikir Lea.
"Lo bisa gak sih, sekali aja gak cari masalah sama gue!!! "bentak Jihan, sembari mendorong tubuh Alviro kesal.
Sementara Lea hanya bisa menunduk tak berani menatap Arvan yang masih menatap lurus padanya.
" Kok lo nyalahin gue sih! "
"What? lo gila yah? sudah jelas lo yang jalan gak lihat-lihat ke depan! malah nyalahin orang! " ujar Alviro kesal, kemudian beranjak dari hadapan Jihan dan sengaja menubrukan bahunya ke bahu Jihan.
"Ihhhh dasar cowo menyebalkan!!!! " teriak Jihan mencak mencak melampiaskan kekesalannya.
Jihan beralih menatap kakaknya yang sejak tadi hanya diak saja, Lea masih setia menundukkan kepalanya.
"Heh kak, kenapa menunduk gitu!!! " sanggah Jihan, ia masih belum menyadari jika Arvan masih menatap ke arah Lea. Walaupun Lea sudah memberikan kode pada Jihan.
"Lo kenapa sih, komat kamit gitu"
"Ekhem... " dehel Arvan. Barulah Jihan menoleh padanya, Jihan sedikit kaget. Namun dengan cepat ia mengendalikan ekspresi keterkejutan nya memjadi datar.
"Ngapain masih disini?? " serga Jihan ketus pada Arvan. Ia tidak takut pada Arvan, karena pria ini hanya bisa mengasih hukuman padanya ketika di sekolah saja. Dan ini, mereka sekarang tidak berada di sekolah.
"Udah pergi sana!! " usir Jihan, ia mendorong tubuh Arvan agar segera pergi dari hadapannya. Sehingga mau tidak mau, arvamharus rela kehilangan ekspresi salah tingkah dan ketakutan Lea.
"Udah, gak usah nunduk. Si ketos kejam itu udah pergi" ucap Jihan pada kakaknya. Barulah Lea mengangkat kepalanya.
"Udah yuk balik" ajak Lea menyeret tangan Jihan masuk ke dalam mobil, sebelum Arvan kembali dan membuat mereka tidak jadi pulang.
Di dalam mobil, Jihan menatap lekat wajah kakaknya. Ada apa dengan Lea yang garang dan judes, Lea yang sulit di bantah ketika marah. Semua nya tidak di lihat ketika Lea bertemu dengan Arvan. Lea berubah menjadi gadis pemalu dan penakut.
"Kak... " panggil Jihan. Matanya masih menatap intens kakanya yang sibuk menatap layar, ponsel nya.
"Hmm" sahut Lea.
"Jawab jujur deh, kakak suka sama Ketos itu? "
Deg. Tubuh Lea menegang seketika, ia pura-pura fokus dan mengabaikan pertanyaan Jihan.
"Kak..... " rengek Jihan lagi, ia merebut ponsel dari tangan Lea, agar kakaknya fokus dan menatap wajahnya.
"Aduhh Jihan, apaan sih lo, kembalikan ponsel gue?! "
"Enggak, sebelum kakak jawab pertanyaan gue! " tolak Jihan, ia menyembunyikan ponsel Lea ke dalam saku celananya.
Hufff... Lea menghela nafas dalam, kemut menghembuskannya perlahan. Melawan Jihan sama saja melawan batu. Tidak akan mau mengalah jika apa yang ia inginkan tercapai.
"Oke, gue ngaku. Gue gak tahu entah suka atau tidak. Tapi Tu cowo nyebelin banget. Dan lebih menyebalkan gue gak bisa berbuat apa apa sama tu cowok."
"Kenapa? "tanya Jihan penasaran.
" Gue gak tahu, setiap gue ingin melawannya, selalu saja tubuh gue kaku. Cowo itu paling pintar, membuat gue tidak bisa berkutik lagi" jelas Lea apa ada nya. Lea menghempaskan tubuhnya dengan lesuh ke jok mobil.
"Jadi begitu, makanya lo gak bisa belain gue" gumam Jihan, Lea mengangguk pasrah.
"Udah ah, gak usah bahas lagi. Pusing gue bahas tu cowo mulu" kelu Lea, kembali fokus pada ponselnya yang sudah Jihan kembalikan.
...----------------...
Di lapangan bola basket, terletak tidak di samping cafe Cuanlo. Hal ini adalah salah satu alasan banyak yang mengunjungi cafe ini. Selain berbagai kejutan, Cafe Cuanlo juga di kelilingi oleh berbagai lapangan olahraga yang sering di gemari oleh pemuda atau orang tua sekalipun.
Alviro bergabung dengan kelima sahabat nya. Mereka berdiri berhadapan dengan 5 orang musuh bebuyutan Alviro. Kelima pria itu berasal dari sekolah yang berbeda dengan Alviro, namun mereka sama-sama berasal dari keluarga kaya.
Anji Gunawan, pria tampan yang berasa dari keluarga pengusaha seperti Alviro. Anji merupakan ketua geng dari A clup. Kelompok yang tidak pernah merasa senang jika melihat Alviro dan teman temannya merasa senang.
Anji pernah melakukan sesuatu kesalahan dalam balapan liar, namun ia menggunakan nama Alviro agar terhindar dari amukan ayahnya. Sehingga Alviro lah yang tertuduh dan membuat malu keluarga nya.
"Udah siap kalah lo? " cibir Alviro.
"Cuih.... Jangan belagu lo. Buktikan aja sekarang!?! " tantang Anji.
"Siapa takut! " balas Alviro melirik semua teman temannya. Mereka tersenyum miring, dan bersiap membuat Anji kembali menanggung malu karena kekalahannya.
...----------------...