I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 59



Drrrrtttt....


Drrttttt.....


Alvido yang sedang menyetir melirik ponselnya yang tergeletak di kursi penumpang di samping nya. Nama Babas terpapar di layar ponselnya.


"Ada apa sih, tumben banget ni bocah nelfon gue! " gerutu Alviro sembari berusaha meraih ponselnya. Setelah mendapat kan ponselnya, Alvido langsung, menempelkan ponselnya ke telinga setelah menggeser tombol hijau.


"Halo, ada apa? " ucap Alvaro tanpa basa basi.


"Ampunnn deh yah, sama ni bocah. Salam dulu kek, atau basa basi dulu. "


"Gak penting" gumam Alvaro hendak memutuskan sambungan telfon dengan Babas.


"Ehh iya iyaa... Jangan di matiin dulu. Gue ngomong sekarang" balas Babas cepat.


"Cepetan, gue gak punya waktu" ketus Alvaro, matanya masih fokus menatap jalanan.


"Hari ini, kita mau ke rumah Jihan. Lo ikut gak? " tanya Babas di sebrang sana.


"Ngapain? "


"Udah, gak usah banyak tanya. Pokoknya lo harus ikut, karena semua ini kita rencanain buat lo dan Jihan" jelas Babas.


"Baiklah"


Klik. Sambungan telfon terputus oleh Alvaro secara sepihak. Ia tidak peduli dengan kekesalan Babas di sebrang sana.


Sejujurnya Alviro sangat penasaran, rencana apa yang Babas dan teman-temannya yang lain di rumah Jihan. Apa mereka sudah tidak takut lagi dengan Lea? atau, apa mereka tidak tahu jika Lea itu sangat ketat dalam mengawasi Jihan. Ah bodo amat, Alviro menambah kecepatan mobilnya sedikit lebih tinggi. Agar ia segera tiba dan menemui Babas.


Sementara itu, Jihan tiba di rumah bersama Lea. Jihan langsung turun dari mobil dan berjalan cepat tanpa memperdulikan Lea yang juga turun dari mobil.


"Jihan!! " panggil Lea. Namun Jihan tidak mau mendengarkan, Jihan semakin mempercepat langkahnya dan langsung menutup pintu kamarnya setelah masuk kedalamnya.


"Dasar cewe manja" gerutunya Lea.


Sebenarnya, Lea tidak tega melakukan semua ini pada Jihan. Namun Lea tidak mau jika kejadian kejadian yang sudah pernah terjadi dan menimba Jihan terulang kembali. Lea tidak akan memberikan cela sedikitpun pada mereka yang berniat jahat pada adiknya. Bahkan Lika dan kedua teman temannya sudah keluarkan dari sekolah. Atas kekuasaan ayahnya, dan juga atas permintaan Lea yang menggunakan kata keselamatan Jihan. Brian mengabulkan permintaan Lea dengan sangat muda.


Lea berjalan memasuki dapur, terlihat Tia sedang sibuk menyiapkan makan siang.


"Eh anak bunda udah pulang? " tanya Tia tersenyum hangat ala seorang ibu. Ia berjalan mendekati putri sulung nya. "Lah, kok cemberut sih"


"Ih bunda, Lea tu lagi kesel sama Jihan" sungut Lea cemberut.


"Memangnya, Adik kamu kenapa lagi? hm.. " tanya Tia lembut. Lea memiringkan posisi duduknya menghadap ke bundanya.


"Bun, masa yah. Jihan marah sama Lea karena Lea mau ikut sama dia kerja kelompok. Padahalkan, Lea gak ganggu. Lea cuma mau ikut" jelas Lea dengan berbagai ekspresi kesal dan juga merajuk.


Tia tersenyum, ia mengusap pipi putrinya. "Sayang, kamu itu gak boleh terlalu over. Adik kamu jadi risih jadinya"


"tapi bunda, Lea gak mau ada yang nyakitin Jihan lagi" balas Lea.


"Iya sayang, bunda tahu, bunda juga ngerti apa yang kamu maksud. Tapi gak gini juga sayang. Kamu terlalu berlebihan" jelas Tia, membuat Lea semakin mengerut, ia merasa bundanya malah membela Jihan


"Tuh kan, bunda aja ngerti. Kalo kakak itu berlebihan. Kakak gak sayang sama Jihan, tapi ngekang Jihan!! " ucap Jihan panjang lebar mengungkapkan kekesalan hatinya. Membuat Lea dan Tia langsung berdiri menatap Jihan.


"Sayang" Tia mendekati Jihan.


"Bunda, lihat lah kakak. Dia selalu saja berpikir sempit. Dia berkata seolah olah Aku selalu dalam bahaya"


"Tapi kak, semuanya sudah selesai. Kaka tidak perlu bersikap seperti ini! " bantah Jihan.


"Sayang" Tia berusaha menenangkan Jihan, namun Jihan menepis nya. Ia sudah terlanjur emosi pada kakaknya. Lea sudah terlalu melampaui batas.


"Tidak bunda, kak Lea sudah terlalu berlebihan!! aku sudah muak bunda!!! " Jihan menatap kakaknya dengan tatapan marah, kemudian berlalu dari sana dengan langkah cepat.


"Jihan!!! "


"Jihan!!!" panggil Lea, namun Jihan tidak mendengarkannya, ia terus berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.


"Lea, kamu ini juga terlalu berlebihan" seru Tia kesal pada putrinya.


"Tapi bunda, ini demi Jihan juga" jelas Lea.


"Terserah mu saja, hum.. " Tia malah ikut merajuk pada Lea, ia pun ikut pergi meninggalkan Lea sendiri di ruang makan.


"Lihat kan, mereka tidak mengerti apa yang sedang aku pikirkan. Setelah semua hal buruk terjadi, barulah menyesal" Lea terus menggerutu, tidak ada satu orang pun yang mengerti dengan perasaan dan ketakutannya.


...----------------...


"Lihatlah, dia selalu berkata semua ini demi lo, demi lo. Tapi dia tidak memikirkan bagaimana perasaan gue yang merasa tertekan karena nya" gerutu Jihan, ia memasuki kamarnya dan langsung menguncinya dari dalam.


Jihan meraih ponselnya yang ada di atas nakas, kemudian membawanya ke sofa yang terletak di balkon. Jihan akan bersantai di sana sekarang.


"Aku harus menenangkan diri, dan hal itu hanya bisa di lakukan oleh kyungsoo oppa" gumam Jihan, moodnya seketika membaik ketika melihat foto foto kebersamaan nya bersama idolanya ketika konser di cafe cuanlo.


"Gue benerkan, mood gue semakin membaik" Gumam Jihan lagi, ia kini beralih menonton drama Korea yang belum sempat ia tonton.


...----------------...


Tentt!!!!!!!!!


Tent!!!!!!!!


Babas dan keempat anak wolf langsung berlari keluar dari rumah Albi. Mendengar Clarkson mobil Alviro yang keras dan terdengar tidak sabaran. Mereka tidak boleh berlama lama lagi, sebelum Alviro mengamuk.


Tent!!!!!!


Tent!!!!!!


"Opp.. opp.... Sabar Boy, kita udah siap kok" ucap Eldi, mereka masuk ke dalam mobil Alviro. Dua di kursi belakang, dua di tengah dan satu di samping Alviro. Kalian tahu siapa yang ada di samping Alviro??.


Sudah pasti Ringgo, tidak ada yang berani menduduki tempat dimana Alviro dengan leluasa memberikan pukulan atau tatapan tajam.


"Jalan bro!!! " sorak Albi dan Babas bersorak dari bangku belakang. Alviro pun melajukan mobilnya menuju ke rumah Jihan. Babas mengatakan padanya jika mereka akan bergabung dengan Fela dan Ria di depan rumah Jihan. Entah apa yang sedang mereka coba lakukan, yang pasti Alviro mencoba untuk mengikuti nya saja. Paling penting bagi Alviro, yaitu bertemu dengan Jihan.


Sama hal nya dengan geng Wolf, Fela dan Ria terlihat buru buru mempersiapkan beberapa buku dan peralatan lainnya yang akan mereka gunakan untuk bertemu dengan Jihan.


"Apa semua sudah siap Fela? " tanya Ria. Mereka sekarang berada di rumah Fela.


"Sudah Ria, gue udah menyiapkan semuanya. Sekarang kita tinggal menjalankan nya saja" ucap Fela dengan senyum mengembang.


"Aku tidak yakin dengan apa yang akan kita lakukan nanti, yang jelas, gue bakalan melakukan apapun demi membuat Jihan senang" ujar Ria membalas ucapan Fela. Mereka bergegas pergi menuju ke rumah Jihan, karena Geng wolf sudah menunggu mereka di sana.


......................